Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
SEASON 2 - EPS 3


__ADS_3

Sore hari yang cerah, semilir angin hangat menerpa rambut Aira yang sedang duduk termenung ditaman rooftop Hotel Air. Cuaca cukup cerah sore itu, sehingga matahari terbenam nampak begitu indah tanpa ada banyak awan yang menghiasi langit.


"Andai dulu aku tidak jatuh cinta sama laki laki beristri, apakah sekarang aku akan ada disini? Mungkin tidak, mungkin aku juga lulus bersama dengan Meylani dan teman teman yang lain. Mungkin saat ini aku hanya jadi salah satu pegawai di Hotel Papa." Batin Aira sambil menatap jauh ke ujung langit yang entah berada dimana.


"Dulu aku sangat menyukai Mas Aris, bahkan sempat terpikir, aku tidak keberatan jadi istri kedua saat aku mendengar Mas Aris akan bertanggung jawab dan menikahiku. Hahaha. Konyol sekali. Jika saja waktu itu aku lebih memilih Mas Aris, akan seperti apa ya kehidupanku saat ini?" Batin Aira lagi sambil tersenyum kecil diujung bibirnya, menertawakan kekonyolannya. Aira membetulkan rambutnya dengan menyisir menggunakan jemari, rambut Aira sedikit berantakan karena terpaan angin.


Segala sesuatu yang terjadi, pasti ada hikmahnya bukan? itu adalah hal yang saat ini Aira sadari, sesekali dia tersenyum meski memang hatinya juga getir.


Seorang wanita berjalan menghampiri Aira sambil menuntun Elisa, Gadis kecil itu berjalan dengan riang sambil melambaikan tangannya pada Aira yang tengah duduk dikursi taman.


Aira tersenyum dan membalas lambaian tangan putri kecilnya itu.


"Mama, Elisa mau pulang," Ucap Elisa saat Aira menggendongnya kepangkuan dan mencium pipi Elisa.


"Baiklah, tapi nanti malam Mama akan keluar bertemu teman Mama, Elisa mau ikut?" Tanya Aira mengajak Elisa pergi bersama menemui Meylani yang sudah berjanji temu jam 7 malam nanti.


"Elisa mau sepeda-an dengan Opa, Opa kan sudah janji sama Elisa," Jawab Elisa dengan tatapan ragu seolah tak ingin Mamanya kecewa karena menolak ajakan Mamanya. Tapi Aira tersenyum dan kemudian memeluk Elisa.


"Kalau begitu Mama pergi Elisa dirumah sama Opa dan Oma ya?" Ucap Aira setelah mengecup pipi Elisa yang bulat kenyal seperti mochi khas sukabumi.


"Iyaaaa," Jawab Elisa ceria, seorang wanita yang dari tadi berada disamping mereka menatap sambil tersenyum melihat keakraban ibu muda dan gadis kecilnya itu.


"Bu Martha, bisa tolong hubungi supir? Saya akan pulang sekarang." Ucap Aira pada Bu Martha yang merupakan Sekretaris pribadinya sekaligus teman main Elisa saat dikantor.


"Baik Budir, saya telepon terlebih dahulu." Ucap Bu Martha sopan sambil sedikit menjauh dan mulai menelpon supir.


Aira menggendong Elisa berjalan menuju lift untuk turun dan segera pulang. Aira takut Elisa masuk angin jika berlama lama berada dirooftop. Karena angin disana sangat kencang.


Aira segera pulang bersama Elisa diikuti oleh mobil Bodyguardnya mengikuti dibelakang mobil Aira. Hari sudah mulai gelap saat Aira menuju rumahnya.


Sesampainya disana, ternyata Opa dan Oma-nya Elisa juga baru saja kembali setelah berbelanja disuper market. Mereka masuk ke dalam rumah bersama sama, dan tentu saja, Elisa selalu ingin digendong oleh Opa-nya.

__ADS_1


"Elisa sayang, Opa sama Oma tadi beli strawberry kesukaan Elisa loh, nanti kita makan bareng ya," Ucap Opa menatap cucu-nya yang lucu. Elisa tersenyum girang memperlihatkan giginya yang kecil pada Opa.


"Ma, Pa, aku ada janji temu. Boleh aku titip Elisa sebentar? Tadi aku ajak Elisa, tapi dia ingin main sepeda dengan Papa," Ucap Aira saat duduk bersama didepan televisi.


"Janji temu dengan siapa?" Tanya Bos Adjie menyelidik.


"Meylani, Papa masih inget kan? Teman kuliahku yang dulu dirawat dirumah sakit itu. Yang se-kos-an juga," Ucap Aira mengingatkan Mama dan Papanya akan Meylani. Kedua orangtuanya mengangguk anggukkan kepala sedikit mengingat Meylani.


"Apa kamu mau Mama temani?" Tanya Oma.


"Gak perlu Ma, Kan ada bodyguard yang jagain aku." Ucap Aira tersenyum


"Aku siap siap dulu ya," Ucap Aira segera berpamitan masuk ke dalam kamarnya dan bersiap mandi.


Aira masuk ke kamarnya, kamar yang besar yang biasa dia isi hanya berdua dengan Elisa. Aira duduk dipinggir tempat tidur yang terbuat dari kayu jati yang dicat berwarna coklat keemasan. Sangat mewah.


"Brughh"


Berkali kali Aira menarik nafasnya dalam dalam, dan menghembuskannya dengan berat. meski sudah berkali kali melakukan itu, entah kenapa hatinya masih terasa berat.


Suara jam dinding besar yang terpajang didinding kamar Aira terdengar cukup jelas, bersahutan dengan suara air dari keran yang berusaha memenuhi bak mandi. Aira bangkit dan segera menuju kamar mandi, dia menyalakan lilin aroma theraphy kesukaannya yang wangi rose.


"Relax Aira, kenapa tiba tiba aku merasa gugup akan bertemu Meylani. Padahal aku sangat merindukan dia," Gumam Aira sambil membalirkan busa sabun ke lehernya.


Setelah selesai mandi, Aira memakai rok pendek dan atasan tanpa lengan dengan kerah tinggi. Terlihat pantulan dirinya sendiri dicermin, Aira merias wajahnya dan memakai liontin kecik dilehernya. Terakhir, dia menyemprotkan parfum kesukaannya yang berharga jutaan rupiah ke tubuhnya.


Aira tampak cantik tak seperti wanita yang sudah punya anak. Elisa yang melihat Mamanya berdandan segera berlari meminta untuk digendong.


"Mama, Elisa mau ikut," Ucap Elisa pada Aira


"Yasudah, ganti baju dulu yuk," Ucap Aira pada Elisa, yang dijawab anggukan oleh Elisa.

__ADS_1


"Loh, katanya Elisa mau main sepeda sama Opa," Ucap Opa dengan nada kecewa, Mendengar itu, Elisa terlihat bingung, lalu kemudian mencium pipi Aira.


"Maaf ya Mama, Elisa sudah ada janji sama Opa, besok Elisa ikut Mama lagi ya," Ucap Elisa dengan polosnya. Seketika Aira dan kedua orangnya tertawa mendengae celoteh lucu Elisa yang ternyata punga rasa empati dan berusaha menepati janji pada Opa-nya.


"Iya sayangku, nanti mau Mama bawain apa?" Tanya Aira gemas mencium pipi Elisa.


"Emmmm Elisa mau Mama jangan lama lama pelginya, nanti main sepeda sama Elisa dan Opa," Ucap Elisa.


Aira tersenyum dan menurunkan Elisa dari pangkuannya. Aira pamit dan segera berangkat menuju Caffe Baba karena waktu sudah hampir jam 7 malam.


"Aira pamit ya Ma, Pa, titip Elisa sebentar." Ucap Aira pamit.


Diluar supir dan seorang bodyguard sudah menunggu dan mereka segera berangkat. Benar saja, Meylani sudah duduk didalam Caffe Baba menungu kedatangan Aira.


Meylani memakai kemeja berwarna biru tua dan jeans hitam panjang. Dia masih Meylani yang sederhana. Aira menatap Meylani dari kejauhan tanpa disadari oleh Meylani.


Aira segera berjalan masuk ke dalam Caffe Baba, namun seseorang menghadangnya. Seketika bodyguard yang menemaninya segera pasang badan.


"Ada perlu apa?" Tanya Pak Broto yang merupakan Bodyguard.


"Saya mau bicara sama Aira," Ucap Orang itu.


"Tapi Nyonya sedang ada janji, lain kali saja," Ucap Pak Broto tegas.


Aira belum sempat melihat wajahnya, karena laki laki itu segera ditarik oleh Pak Broto, dan Aira dipersilahkan masuk kedalam Caffe oleg Pak Salim yang merupakan supir pribadinya.


"Nyonya tidak apa-apa?" Tanya Pak Salim khawatir.


"Tidak, tolong urus orang itu, dan jangan buat keributan." Ucap Aira.


"Airaaa," Teriak Meylani, Aira menoleh dan segera menghampiri Meylani dan memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2