
Aris berangkat kerja disenin pagi, setelah hari minggu dia lewati bersama Ressa tanpa gangguan, Aris berangkat bekerja dengan bersemangat.
"Sayang, Mas berangkat kerja dulu, sampai bertemu nanti malam." Ucap Aris mengecup kening Ressa dan mengusap kepalanya.
"Iya Mas, Hati hati dijalan dan jangan pulang terlambat." Ucap Ressa mencium punggung tangan Aris.
"Tapi kenapa Mas ingin kembali ke kamar ya melihatmu masih pakai baju tidur itu?" Ucap Aris meraih pinggul Ressa yang ramping.
"Mas.. Nanti malam kita bertemu lagi, sekarang Mas kerja dulu ya" Peluk Ressa merayu agar Aris segera berangkat bekerja. Ressa berencana segera pergi ke salon untuk perawatan ratus lagi agar area intimnya tetap terawat.
"Baiklah Mas pergi dulu, kamu baik baik dirumah, kabari Mas jika perlu sesuatu." Ucap Aris melepaskan Ressa dari pelukannya. Dia menaiki mobilnya dan melambaikan tangannya saat mengendarai mobilnya meninggalkan rumah.
Ssat keluar komplek, Aris melihat Indah yang tengah mengayuh sepeda menuju ke kios bunga miliknya. Aris berniat menyapa namun Indah justru mengajaknya mampir.
"Mbak indah selamat pagi," Sapa Aris pada Indah.
"Mampir dulu pak, pesanannya sudah siap," teriak Indah ramah. Ari tertegun, dia tidak merasa memesan bunga pada indah, apa mungkin Ressa yang memesannya.
Aris turun dari mobil dan menunggu Indah yang sedang membuka kunci kiosnya.
"Pesanan apa Mbak?" Tanya Aris.
"Ada didalam Pak, mari masuk." Jawab indah mengajak Aris masuk.
Aris mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko bunga yang dipenuhi wangi harum itu. Memang ada beberapa buket besar, namun sepertinya itu bukan miliknya. Saat masih melihat lihat sekitar, Indah menarik Aris ke belakang lemari pajangan dan menciumi bibirnya.
Aris tidak menolak, justru menikmatinya meski terkejut karena dicium tiba tiba. Mereka berpagutan beberapa saat.
"Mas keterlaluan," Ucapnya manja dan kesal. Indah mengelus kerah baju Aris.
"Keterlaluan apa?" Jawab Aris heran.
"Entahlah, mungkin cuma Aku yang rindu." Indah kesal dan berbalik berjalan menuju meja kasir, namun Aris segera meraih pinggulnya dan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Aris menciumi tengkuk leher Indah perlahan, hembusan nafasnya membuat Indah mendesah. Tangan Aris tidak diam saja, tangan kiri mulai bergerilya meraba paha indah yang jenjang dibalik rok pendeknya.
"Mbak indah??" Terdengar suara memanggil dari pintu masuk, Dan suara itu adalah suara Ressa. Kegiatan itu segera terhenti. Mereka berdua terkejut dan segera merapihkan diri kembali. Indah segera keliar dari balik lemari dan menghampiri Ressa.
"Iya Mbak Ressa, kebetulan sekali," Ucap Indah menceracau karena masih terkejut.
"Aku melihat mobil suamiku didepan toko, apa dia ada disini?" Tanya Ressa melihat sekeliling namun tidak melihat Aris disana.
"Sayang, kenapa kamu kesini, ini sudah tidak suprise lagi." Aris tiba tiba keluar dari balik lemari.
"Mas sedang apa disini?" Tanya Ressa curiga, dia menatap Indah yang terlihat kikuk dan Aris yang terlihat biasa.
"Aku berniat memesan bunga special untuk ku berikan padamu malam ini, tapi sudah tidak menjadi kejutan lagi, karena kamu sudah mengetahuinya." Ucap Aris dengan nada kecewa.
"Mas, kan dirumah banyak bunga, masih ingin memberikanku bunga?" Tanya Ressa sumringah mendengar ucapan Aris yang merupakan kebohongan.
"Emm ya aku ingin memberikanmu sesuatu yang lain agar lebih special." Ucap Aris merangkul Ressa berjalan keluar dari kios. Namun Ressa terdiam wajahnya murung.
"Kenapa?" Tanya Aris mulai takut Ressa melihat perbuatannya dengan Indah.
"Kalau begitu aku pulang dulu mengambil dompet, Mas berangkatlah." kata Ressa mendorong tubuh Aris pelan agar naik ke dalam mobil. Namun Ressa tidak menunggu Aris naik ke mobil dan melihatnya pergi. Ressa justru berlari terburu buru ke arah komplek dan tidak menengok ke belakang lagi.
Aris melihatnya berlari menjauh, lalu kembali masuk kedalam kios bunga milik Indah. Dia menghampiri Indah yang sudah menunggunya dengan nafas yang tidak beraturan. Mereka menyelesaikan apa yang belum selesai sebelumnya.
Setelah urusannya dengan Indah selesai, Aris segera berangkat menuju hotel dengan terburu buru. Dia khawatir Ressa melihatnya lagi dan menjadi curiga.
Aris memacu mobilnya dengan riang gembira. Jika saja tadi Ressa tidak menolak, aku tidak akan bermain dengan Indah, Ucapnya dalam hati. Dia menyalakan musik dalam mobilnya dan bersenandung ria.
Sesampainya dihotel dia segera menuju ruangannya. Pak Wisnu sudah menunggunya didalam ruanganya.
"Ada apa Pak Wisnu?" Aris terkejut melihatnya sudah berada didalam ruangannya.
"Ini benar benar gawat Pak," Ucap Pak Wisnu serius.
__ADS_1
"Apa yang benar benar gawat?" Tanya Aris heran.
"Bos Adji akan melakukan audit umum setiap departemen." Ucap Pak Wisnu berbisik.
"Lalu? Apa yang gawat?" Aris justru semakin heran karena tidak merasa melakukan kesalahan.
"Apa Bapak lupa?" Tanya Pak Wisnu, Mengingatkan Aris apa yang dia perbuat beberapa bulan yang lalu.
"Maksudmu proyek yang gagal itu?!" Teriak Aris teringat tentang proyek yang menghabiskan uang hotel beberapa miliar. Aris mondar mandir didalm ruangannya memikirkan solusi.
Jika sampai Bos Adji mengetahui dana taktis itu, Aris pasti akan dipenjarakan. Aris mondar mandir memikirkan solusi. Pikirannya buntu dia bingung apa yang harus diperbuat.
"Tok tok tok"
Jessica membuka pintu dan melihat ketegangan antara Aris dan Wisnu. Dia masuk ke ruangan Aris dan memberikan berkas yang harus Aris tinjau.
"Kenapa kalian tegang sekali? Mau party bersamaku malam ini?" Goda Jessica dengan kerlingan matanya yang manja. Namun Aris dan Wisnu tidak tertarik, mereka masih sibuk mondar mandir dan berpikir keras.
"Bisakah kamu keluar dulu Jessica, kami sedang menghadapi masalah." Ucap Aris ketus.
"Jangan galak galak dong say, serem tau," Ucap Jessica melengos pergi keluar dari ruangan itu.
Aris menyusun rencana bersama Wisnu untuk menutupi dana taktis yang mereka gunakan. Aris segera mematikan cctv yang terpasang diruangannya dengan mematikan saklar listrik, agar pembicaraanya tidak terekam di cctv.
◇◇◇◇◇◇
Sementara itu, Ressa duduk termenung dikamarnya, tatapannya kosong. Dia merasa hatinya terkoyak. Perlahan air matanya mulai mengalir, dia terisak sendirian didalam kamarnya yang sepi.
Ressa melihat semua perbuatan Aris dengan Indah ditoko tadi pagi. bahkan Ressa melihat Aris kembali masuk ke toko bunga itu dan keluar setelah sejam lebih berada didalam.
Ressa menangis tersedu. Dia mengambil sebuah bingkisan didalam laci. Kotak itu kecil, namun isinya sangat berharga bagi Ressa. Malam itu adalah Anniversary pernikahan mereka yang ke 4 tahun.
Dia berencana untuk memberikan suprise, namun ternyata dia justru mendapat kenyataan menyakitkan. Dia mendapati suaminya berselingkuh.
__ADS_1
"Aahhhhhhh huhuhuuu," Ressa berteriak mengeluarkan semua jeritan rasa pedih dihatinya. Dia menangis tanpa peduli siapapun mendengar suara tangisannya.