
Ressa berjalan menyusuri gang gelap, air matanya berlinang. Dia membawa tas ukuran sedang dan menggendongnya dipundaknya. Tidak banyak barang yang dia bawa, hanya beberapa helai baju dan makanan serta sedikit uang.
"Entah aku harus pergi kemana malam begini, tapi semoga saja aku bisa menemukan kontrakan lain yang cukup jauh," Batin Ressa dalam hatinya. Sesekali tangannya mengusap pipinya yang basah.
Hatinya masih sakit, dia pikir setelah bertahun tahun, Aris akhirnya akan melupakan Aira, namun ternyata tidak. Aris justru merencanakan sesuatu untuk Aira.
"Untuk apalagi aku bertahan disisinya, tidak ada gunanya. Seharusnya aku tidak bertahan bersama ornag yang tidak mencintaiku lagi," Lirih Ressa dengan air mata yang kembali berlinang membasahi pipinyam
Sekarang penampilan Ressa sangat lusuh, memakai rok usang dan kaos kebesaran milik Aris yang juga sudah usang. Rambut yang dipotong pendek agak tidak boros pakai shampo.
Setelah berjalan selama berjam jam, Ressa melihat tanda dikontrakan. Dia segera mencari tahu dengan bertanya pada warga sekitar yang sedang ronda.
"Maaf pak, saya mau tanya. Kontrakan itu punya siapa ya?" Tanya Ressa ramah.
"Oh kebetulan punya saya, Mbak mau ngontrak ya?" Tanya Bapak paruh baya yang memakai peci dan baju koko yang tengah duduk bersama 3 orang lainnya.
"Iya pak, kira kira ada berapa ya?" Tanya Ressa ragu, dia takut uangnya tidak cukup. Bapak itu tidak langsung menjawab, dia memperhatikan pakaian Ressa.
"Mbak sendiri?" Tanya Bapak itu memastikan
"Iya Pak, saya sendiri." Ucap Ressa agak merasa heran.
"150 ribu Mbak, cukup kalau untuk sendiri." Ucap Bapak itu tersenyum.
Namun teman temannya terlihat terkejut dengan apa yang mereka dengar. Belum sempat bertanya, Bapak itu pamit untuk mengantar Ressa terlebih dulu.
"Mas-Mas, saya antar dia dulu ya, Mas Syarif bisa temani saya?" Tanya Bapak yang bernama Pak Ruslan meminta salah seorang menemaninya.
Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju kontrakan Pak Ruslan. Dalam perjalanan, Pak Ruslan meminta fotokopi tanda pengenal milik Ressa untuk data. Setelah memberikan kunci rumah dan mempersilahkan Ressa langsung mengisi rumah kontrakan tersebut, Pak syarif fan Pak Ruslan kembali ke pos ronda.
__ADS_1
"Pak kenapa kontrakannya murah sekali? bukannya 500 ribu ya perbulan?" Tanya Pak Syarif heran.
"Iya memang, tapi saya gak tega. Kayanya dia udah jalan kali jauh banget Mas, kakinya kotor sekali," Ucap Pak Ruslan pada Pak Syarif.
"Ya kan tetep aja rugi Pak, gimana kalau dia menetap lama?" Pak Syarif menambahkan.
"Gak apa apa, itung itung sedekah, Pak," Jawab Pak Ruslan tersenyum.
"Kalau dia ternyata wanita gak bener gimana Pak? Kan kalau wanita baik baik gak mungkin nyari nyari kontrakan jam segini, sendirian lagi," Ucap Pak Syarif berusaha meyakinkan Pak Ruslan.
"Sudah Pak, jangan berburuk sangka, yang penting kita harus tetap berbuat baik, kalau ternyata dia bukan orang baik, itu bukan urusan kita." Ucap Pak Ruslan menepuk pundak Pak Syarif sambil kembali berjalan menuju ke pos ronda untuk bergabung dengan Bapak-bapak yang lain.
Sementara itu, Ressa yang sudah berada dalam kontrakan duduk diatas kasur. Didalam kontrakan itu sudah ada kasur dan lemari kecil. Kasur lantai itu bersih meski tidak baru.
Ressa memutuskan pergi dari rumah meninggalkan Aris. Dia membaringkan badannya yang kelelahan berjalan jauh berkilo kilo meter. Terkadang saat sangat sedih, meski berjalan jauh pun tidak terasa lelah, kaki yang sakit juga tidak begitu terasa. Karena sakit dihatimu lebih mendominasi.
Kaki Ressa lecet, pundaknya juga berdenyut karena membawa tas. Air matanya berlinang, tapi bukan itu yang dia tangisi. Hatinya terlalu sakit hingga sakit dibadannya tidak begitu terasa.
Sementara Aris dirumahnya tertidur lelap dengan selimut hangat. Dia sama sekali tidak ingat Ressa belum pulang. Aris tertidur lelap setelah membeli bakso yang lewat didepan rumahnya.
________________________________
Suara anak anak berlarian, terdengar begitu jelas saat Ressa membuka matanya. Hari sudah pagi, aktifitas dikampung dimana saat ini Ressa tinggal ternyata cukup ramai. Ressa bangkit dan membuka pintu kontrakannya, udara cukup sejuk karena semalaman hujan deras.
Setelah itu Ressa duduk kembali diatas kasur lantai dan membuka dompetnya.
"Uangku tinggal 120 ribu lagi, kalau aku habiskan untuk makan, ini hanya akan cukup untuk beberapa hari saja. Aku harus gimana?" Batin Ressa sambil memejamkan matanya.
Tidak lama, seorang wanita mengetuk pintu kamar kontrakan Ressa.
__ADS_1
"Permisi," Ucap Bu Hanna
"Iya sebentar," Jawab Ressa segera membuka-kan pintu
"Mbak, ini sedikit makanan, dimakan dulu ya," Ucap Ibu Hanna ramah.
"Tapi bu," Tolak Ressa merasa canggung, dia tidak mengenal siapa Ibu baik hati itu.
"Saya Hanna istri Pak Ruslan, yang punya kontrakan. Kalau ada perlu apa apa, bilang sama ibu ya mbak, rumah ibu paling ujung gang warna coklat." Ucap Bu Hanna ramah, Ressa tersenyum menerima makanan dari Bu Hanna dengan senang hati.
"Terima kasih banyak ya Bu, maaf saya merepotkan," Ucap Ressa saat Bu Hanna pamit pulang kembali. Setelah Bu Hanna pulang, Ressa menutup kembali pintu kamar kontrakannya dan membuka kotak makanan yang diberikan oleh Bu Hanna.
Saat kotak makanan itu terbuka, aroma khas tumis ikan asin dan juga sambal segera keluar menyerang hidung Ressa, hingga dia tidak sabar untuk segera melahap makanan yang ada dihadapannya. Bu Hanna juga memberikan satu botol air mineral.
Ressa bersyukur sekali karena dia bertemu orang baik, dan itu membuatnya berurai air mata, dia menangis bahagia karena ternyata dia masih dipertemukan dengan orang orang baik.
Sementara itu, Aris terbangun dan membuka warung, Aris mengira Ressa pergi ke pasar seperti biasanya. Sampai matahari mulai naik, Aris menyadari kalau Ressa tidak kunjung kembali.
Aris mondar mandir dihalaman depan rumahnya yang kecil. Dia kemudian berlari ke kamar dan membuka lemari, ternyata benar dugaannya. Pakaian Ressa sudah tidak ada.
"Sialan!! kemana lagi wanita itu!! Memang gak becus jadi istri!!" Teruak Aris kesal. Dia melemparkan apapun yang dia gapai sehingga rumah kecil itu berantakan.
"Tok tok tok"
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Aris segera keluar dan ternyata Satrio yang datang.
"Oh Pak Satrio, silahkan masuk Pak,"
"Saya kesini bawa beberapa pakaian buat Pak Aris, semoga Bapak berkenan," Ucap Satrio membawa sebuah koper berisi beberapa setelan jas dan kemeja serta sepatu pantopel.
__ADS_1
"Wah terima kasih Pak Satrio, saya jadi tidak enak menerima ini semua dari Bapak." Jawab Aris membuka koper yang dibawakan oleh Satrio. Dan ternyata itu adalah pakaian bermerk.
"Jadi gimana? Bapak sudah memikirkan tentang rencana kita?" Tanya Satrio pada Aris, yang dijawab oleh senyum menyeringai Aris. Dia sudah merencanakan sesuatu.