Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
EPS 75


__ADS_3

Aìra masih menangis dipelukan Mamanya saat Ergy tiba, Ergy datang sendirian karena dia panik saat mendengar Aira masuk rumah sakit.


"Nak Ergy, tante titip Aira sebentar ya, tante mau cari Om dulu,"


"Baik tante,"


Tinggallah diruangan itu, Aira dan Ergy berdua, Aira menceritakan semuanya pada Ergy, dia juga berpamitan karena akan pergi keluar negeri bersama kedua orang tuanya.


"Kuliah kamu gimana Ra?"


"Aku juga gak tau, mungkin lanjut lain kali,"


Aira sangat murung, dia tidak ingin ikut dengan kedua orang tuanya, namun Aira juga tidak ingin melihat Aris hancur seperti itu. Setelah beberapa lama, Orang tua Aira kembali keruangan Aira.


"Papa dan Mama akan ke hotel dulu, kamu beresin barang barang di Apartement."


"Iya Pa,"


Aira menunduk dengan mata yang berkaca kaca, Ergy menyaksikan itu dan merasa tidak nyaman karena berada ditengah tengah masalah keluarga ini.


"Nak Ergy, tante boleh minta tolong lagi?"


"Tentu tante, apa pun,"


"Tolong temani Aira mengemas barang di Apartementnya, dan nanti tolong jaga Apartement. Aira akan pergi hanya sebulan."


"Baik tante,"


Aira pasrah dengan keputusan orang tuanya, dia faham betul bagaimana Papanya jika sedang marah, dia tidak segan segan menghancurkan hidup seseorang, menyiksanya hingga hampir mati jika mengkhianati Papanya. Aira tidak ingin itu terjadi pada Aris.


Akhirnya, Ergy menemani Aira dengan supir untuk mengemas pakaian Aira, sementara itu kedua orang tua Aira ke hotel. Didalam perjalanan ke Apartement, Aira tidak berhenti menangis. Dia sangat merasa bersalah membuat Aris babak belur. Bahkan sebelum pergi dia tidak sempat berpamitan pada Aris.


"Sudah Ra, mata kamu bisa sakit kalau nangis terus."


"Aku cuma bisa nangis Gy, gak ada lagi yang bisa aku lakukan,"


Ergy memeluk Aira, dia mengusap kepala Aira untuk sedikit menghiburnya. Setelah selesai mengemas pakaiannya, Ergy dan Aira segera menuju ke bandara sesuai dengan perintah Papa Aira.


Saat itu, ponsel Aira berdering, panggilan dari Aris.


"Mas Aris? Mas gak apa apa? Maafin Aira.."


"Maafkan Mas juga, Mas gak tahu kamu hamil. Mas akan bertanggung jawab. Mas akan nikahin kamu,"


"Ni-nikah?? Mas serius?? Tapi kan.."

__ADS_1


"Kamu dimana? Mas kesana sekarang!"


"Aku menuju bandara, Mama Papa sudah menunggu disana,"


"Tunggu Mas dulu, Mas mohon,"


"Iya Mas, aku tunggu, jangan terlambat ya,"


Aira memeluk ponsel itu didadanya sambil memejamkan mata, "Ya Tuhan, ku mohon, beri aku kesempatan untuk bersama Mas Aris," Doa Aira dalam hatinya.


Ergy yang duduk disamping Aira merasa sedih, membayangkan Aira menikah dengan laki laki bajingan yang sudah merusak Aira itu. Ergy mengepalkan tangannya. Tapi dia melihat wajah Aira yang begitu berharap bisa menikah dengan Aris.


Saat mobil yang di naiki Ergy dan Aira sampai di Lobby bandara, Aira enggan turun dari mobil karena ingin menunggu Aris. Namun sudah hampir 20 (Dua puluh) menit Aris tidak kunjung sampai.


"Kamu nunggu apa sih?"


"Nggak ko Ma,"


"Ayo kesana, Papa menunggu kita,"


Aira mengangguk dan berpamitan dengan Ergy. Dia berterima kasih karena Ergy sudah datang dan membantunya.


"Sampai ketemu bulan depan ya Gy, salam untuk Mey,"


Mereka berpelukan sesaat dan akhirnya saling melambaikan tangan. Tiba tiba saja, Aris datang dengan wajah yang penuh luka, tanpa basa basi langsung memeluk Aira erat.


Tentu saja, Bos Adjie yang melihat dari jauh segera menghampiri dan mengintruksikan ajudannya untuk menjauhkan Aris dari Aira.


"Bos, saya minta maaf, saya akan bertanggung jawab."


"Iya Pa, kami akan menikah,"


Mendengar apa yang Aira ucapkan, Bos Adjie meminta ajudannya sedikit menjauh. Sementara itu, Ergy dan Mama Aira hanya melihat kejadian itu dengan wajah yang terkejut.


"Kamu bilang apa? Tanggung jawab?"


"Iya Bos, saya janji akan bahagiakan Aira."


 


1 jam sebelumnya, Ressa mendapat telepon bahwa Aris masuk rumah sakit. Setelah menerima telepon tersebut, Ressa segera menuju kerumah sakit menggunakan motornya.


Namun sebelum dia sempat menemui Aris, Ressa melihat Aris yang masih perawatan karena banyak luka lebam itu pergi dengan terburu buru menaiki taksi. Karena merasa penasaran, Resda mengikuti kemana Aris pergi.


Ressa mengikuti Aris yang berjalan pincang, Dia melihat Aris tiba tiba memeluk seorang gadis, dan mengatakan akan menikahinya. Amarah Ressa memuncak. Tanpa pikir panjang, dia segera menghampiri Aris dan gadis itu. Lalu menampar gadis itu didepan umum.

__ADS_1


Plakkk


Semua orang terkejut, Aira merasakan pipinya berdenyut, tamparan itu sangat keras hingga membuat Aira hampir terjatuh. Semua tatapan mata tertuju pada Ressa. Mereka bertanya tanya, siapa wanita yang berani menampar Aira.


"Ka-Kamu..."


Aira mengenali wanita itu, wanita yang tidak sengaja dia tabrak di supermarket, wanita yang mungkin adalah istri Aris.


"Kamu kan perempuan, harusnya kamu mengerti perasaan sesama perempuan," Isak tangis wanita itu usai menampar Aira.


"Kamu ini siapa? Berani beraninya menampar anakku?!" Mama Aira menjambak rambut Ressa tanpa ragu. Ressa kesakitan dan berusaha melepaskan diri.


"Aku istrinya Aris, lepaskan!" Teriak Ressa


"Istri? Kamu sudah beristri, dan berani beraninya merusak anakku," Balas Mama Aira tidak melepaskan genggaman tangannya.


Bos Adjie segera melepaskan tangan istrinya, lalu meminta Ajudannya untuk membawa Aira masuk ke bandara untuk segera terbang ke New York.


Aira meronta dan ingin tetap bersama Aris. Namun dia tidak bisa melawan ajudan Papanya itu dan segera meninggalkan Aris dan Ressa yang sedang saling tatap itu.


Setelah Aira dan keluarganya pergi, Ressa menampar Aris. Ressa menangis histeris membuat orang orang yang berada disana memperhatikan mereka.


"Kamu ini apa apaan, ayo pulang,"


"Cukup!! kamu keterlaluan Mas,"


"Sudahlah banyak orang melihat,"


Aris berusaha mengajar Ressa pergi dari bandara dengan menarik paksa tangannya. Namun Ressa menghempaskan genggaman tangan Aris.


"Siapa lagi wanita yang kamu tiduri? Indah? trus dia juga? Sampai hamil juga?" Teriak Ressa sambil menangis.


"Kamu bisa diam gak? Orang orang pada dengar!" Ucap Aris menutup mulut Ressa, Namun Ressa malah menggigit tangannya.


"Aku gak peduli lagi!! Sekarang, aku mau kita berpisah, Aku sudah muak!!" Teriak Ressa.


"Pisah?? Ya sudah pisah saja, Aku juga capek pura pura jadi suami yang baik! kamu pikir aku gak lelah berumah tangga sama kamu?" Jawab Aris dipenuhi Emosi.


"Apa kamu bilang?" Ressa terkejut.


"Kapan kamu melayaniku dengan baik sebagai istri? Kamu pikir dong," Ucap Aris melanjutkan kata katanya.


"Cukuuuppp!! Jangan kembali lagi kerumahku!!" Teriak Ressa, dia segera pergi meninggalkan Aris menuju kembali ke motornya. Aris mengejar Ressa dengan berlari terpincang pincang sambil mengumpat istrinya itu.


Ergy yang memperhatikan tingkah suami istri itu merasa heran. "Dasar, mereka stress ya?" Batin Erg6

__ADS_1


__ADS_2