
Aira pingsan dimeja kerjanya, tidak ada yang menyadari itu. Kebanyakan staff sudah pulang, hanya saja Aira berniat lembur untuk membereskan pekerjaannya yang belum selesai.
Manager Operasional Ibu Sulistya benar benar memberikan banyak tugas kepada Aira tanpa sepengetahuan Papa Aira. Dia juga sengaja merapatkan jadwal pekerjaan Aira dengan kuliahnya agar Aira bahkan tidak sempat beristirahat.
Namun Aira yang pantang menyerah justru merasa bersemangat hingga akhirnya dia tumbang. Dia jatuh pingsan karena keras kepala, tidak mau mendengarkan nasihat Meylani yang memintanya untuk beristirahat.
Ergy tiba di hotel dan meminta Resepsionis untuk menunjukkan ruangan Aira. Saat menuju ruangan Aira, Ergy berpapasan dengan Aris. Dan Aris ingat wajah Ergy. Lelaki yang menunggu Aira didepan kosannya malam itu.
"Anda mau kemana?" hadang Aris, Ergy mengerutkan dahinya kesal.
"Kami menuju ruangan Manager Operasional diujung lorong pak," Jawab Resepsionist sopan, Aris dan Ergy bertatapan seolah ingin baku hantam.
"Dia kan laki laki tua yang sering mengantar jemput Aira," Gumam Ergy dalam hatinya
"Dia kan laki laki yang berdiri didepan kosan malam itu," Gumam Aris dalam hatinya
Mereka bertatapan beberapa saat, karena tidak ingin terlibat, wanita resepsionist itu pamit.
"Pak, ruangan ibu Aira ada diujung lorong sebelah kanan, saya permisi." Pamit Resepsionist itu. Ergy segera berlari menuju ujung lorong namun Aris menahannya.
"Anda tidak boleh seenaknya, ini area khusus karyawan." Ucap Aris memegang erat lengan Ergy.
"Maaf pak, tapi saya tidak peduli itu," Ergy melepaskan genggaman Aris dan segera masuk ke ruangan Aira. Saat itu Aira sudah tergeletak dilantai, Ergy segera menghampirinya dan menggendongnya keluar ruangan.
Aris yang berdiri diluar terkejut melihat Ergy menggendong Aira, dan tampaknya Aira sangat lemah.
"Bapak bisa menuntut saya nanti, Nama saya Ergy Syahputra, saya tidak akan kabur," Tegas Ergy, dia segera berlari keluar dari hotel dan membawa Aira kerumah sakit menggunakan mobilnya.
Para karyawan yang melihat Ergy melintas berdecak kagum dengan kesigapan Ergy. Hingga itu menjadi gosip hangat yang sampai ke telinga Papa Aira.
Aira dirawap inap di rumah sakit karena tubuhnya benar benar drop, Ergy yang menjaganya bergantian dengan Meylani. Mendengar kabar putrinya dirawat inap, kedua orang tua Aira segera datang keesokan harinya.
Aira siuman dan mendapati Ergy tertidur disampingnya terduduk dengan kepala menyandar dekat lengan Aira. Disana juga ada Meylani yang tidur disofa.
"Ini dimana ya," Gumam Aira
Dia melihat sekeliling dan melihat jam dinding menunjukan pukul 02.00 pagi. Dia mengambil ponselnya yang ada dimeja disampingnya. Ada 45 panggilan tak terjawab dari orang tuanya.
Aira segera memberikan pesan singkat agar mereka tidak khawatir.
__ADS_1
"Pa, Ira baik baik saja, jangan khawatir." Isi pesan singkat yang dikirim Aira pada Papanya. Tak beberapa lama Papanya menelpon.
"Halo, Papa belum tidur?" Tanya Aira dengan suara lemas dan agak berbisik karena tidak mau membangunkan teman temannya
"Bagaimana bisa Papa tidur mendengar kamu pingsan dibawa ke rumah sakit, bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Papanya khawatir.
"Ira baik baik saja, hanya saja Ira merasa tubuh Ira kepanasan," Jawab Aira serak.
"Kamu tunggu, besok pagi Papa akan sudah ada disana, Papa bawakan bubur buatan Mama, Mama juga tidak bisa tidur dan membuatkan bubur untukmu saat ini," Ucap Papanya.
"Jangan Pa, Nanti siapa yang ngurusin disana kalau Papa dan Mama kesini." jawab Aira tidak enak membuat kedua orang tuanya repot.
"Papa tidak mau kamu sendirian disaat sakit begini," Ucap Papa Aira khawatir.
"Ira tidak sendiri, ada Ergy dan Meylani." Aira menenangkan Papanya.
"Pokoknya besok pagi Papa sudah ada disana. sekarang beristirahatlah, Papa akan bersiap ke bandara." Ucap Papa Aira mengakhiri pembicaraan di telepon dengan putrinya itu.
"Hmmm dasar Papa," Gumam Aira.
"Papamu kenapa?" Tanya Ergy membuat Aira terkejut.
"Gak kok, aku hanya haus makanya bangun." Jawab Ergy beranjak dari kursinya hendak mengambil minum namun tiba tiba dia mengaduh.
"Aduuhhh kakiku keram," Seketika dia membatu tidak bisa bergerak karena kakinya keram sebab ditekuk saat dia tertidur dikursi.
"Hahahaa makanya tidur sana dikasur, suruh siapa tidur disini," Aira cekikikan melihat tingkah Ergy yang sepertinya memang kesakitan.
"Aku takut kamu terbangun dan butuh sesuatu," Jawab Ergy, Aira berhenti tertawa saat Ergy mengatakan itu. Kata kata Ergy persis seperti apa yang diucapkan Papanya ketika menjaga Aira jika sednag sakit. Papanya sering begadang hanya karena takut Aira terbangun dari tidur dan menginginkan sesuatu.
Ergy tak menyadari perubahan diraut wajah Aira, dia fokus pada kakinya dan merangkak perlahan menuju sofa tempat Meylani tertidur.
"Bangun kau putri kebo, tidur mulu heran," Ergy mencubit hidung Meylani sehingga dia tidak bisa bernafas dan terbangun dari tidurnya.
"Apaaa sihh ihhh" Meylani kesal dan menendang kaki Ergy yang keram, Ergy pun kembali mengaduh dan mencubit Meylani untuk membalasnya. Aira tersenyum geli melihat tingkah kedua temannya itu.
"Sudah jangan berisik, sudah malam ini," Ucap Aira.
Setelah merasa lebih baik Ergy kembali tertidur dilantai yang dialasi karpet bulu yang dibawa oleh Meylani, dan Meylani juga tertidur kembali.
__ADS_1
Aira menatap langit langit, dia juga sudah mengantuk dan tertidur kembali.
Sementara itu, Aris juga tidak bisa tidur, Dia merasa gelisah. Biasanya dia tidak cemburu pada siapapun, meskipun pada Ressa. Tapi entah kenapa jika itu Aira, Aris merasa ada yang mengganjal dihatinya.
Dia berbalik menghadap Ressa, dia memandangi wajah istrinya itu. Ressa bercerita kalau dia merasa bosan setiap hari hanya diam dirumah, bahkan hanya berbaring diatas tempat tidur. Tapi apalah daya, Dia harus tetap melakukan itu karena itu demi menjaga janin yang saat ini tumbuh dirahimnya.
Aris mengusap rambut Ressa dan kemudian mencium keningnya. Ressa pun terbangun.
"Mas belum tidur?" Tanya Ressa melingkarkan tangannya ke pinggang Aris.
"Belum sayang, Ayo tidur lagi," Aris pun berusaha tidur karena dia tau besok akan mwnghadapi keributan.
Keesokan harinya Aira terbangun dengan suara yang familiar ditelinganya.
"Mama, kapan sampai?" Aira terbangun melihat Mamanya tengah duduk disampingnya.
"Baru saja, Badan kamu panas sekali sayang," Mata Mama Aira berkaca kaca.
"Aira tidak apa apa Ma, Papa mana?" Tanya Aira karena tidak melihat Papanya disana.
"Papa sedang bicara dengan teman temanmu diluar. Kamu pasti kecapekan karena bekerja sambil kuliah ya," Ucap Mama Aira khawatir.
"Tidak Ma, Ira cuma belum terbiasa saja. Jawab Aira.
"Yasudah, ini Mama bikinkan bubur, Mama suapin ya," Mama Aira membuka kota makanan yang dibawanya dan menyuapi Aira makan.
Sementara Papanya dan Ergy berbincang diluar.
"Kamu teman anak saya?" Tanya Papa Aira dengan nada tegas
"I-Iya Om," Jawab Ergy gugup, bagaimanapun Papa Aira memang jauh lebih tua, tapi badannya cukup kekar dan atletis. Cukup untuk membanting tubuh Ergy.
"Panggil saja Om Adji," Ucap Papa Aira ramah.
"Aira itu anak kesayangan saya, dari kecil dia dilimpahi kasih sayang. Jadi hatinya lembut. Dia tidak pernah terluka, makanya dia mudah sekali merasa iba. Meskipun saya memberikan banyak fasilitas tapi dia tetap sederhana dan hanya memakai apa yang dia butuhkan secukupnya. Dia tidak pernah butuh pacar, karena saya selalu ada untuknya dan bersedia melakukan apapun untuknya." Ucap Papa Aira. Ergy mendengarkannya dengan seksama.
"Saya menjaganya dengan sepenuh jiwa dan raga, karena dia mahkota berlian untuk saya, jika dia tidak ada, saya bukan apa apa. Jadi tolong, katakan, apa yang membuat Aira putriku jatuh pingsan. Ceritakan dan jangan ada yang terlewat." Papa Airq menatap Ergy tajam. Meylani yang sedari tadi berada disamping Ergy akhirnya membuka suara.
"Sebenarnya Om.. Ira sangat sibuk hingga sering bergadang, bahkan dia sering lupa makan. Tidak sempat sarapan. Dan pulang juga sering larut malam. Saya khawatir tapi Aira bilang dia baik baik saja dan menyukai apa yang dia lakukan. Menurut saya, pekerjaannya dihotel terlalu banyak." Kata Meylani pelan.
__ADS_1
Papa Aira menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia memijat ringan keningnya seolah tak habis pikir.