Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
EPS 45 - HAMIL


__ADS_3

Aris mondar mandir didepan ruang Unit Gawat Darurat. Dia menggigiti kuku jarinya dan matanya tidak fokus. Dia benar benar kacau. Sesekali dia mngepalkan tangannya.


"Kalau terjadi apa apa dengan Ressa, Kau akan mendapatkan balasannya Indah"


Pikirnya dalam hati. Aris sangat gelisah, sebelumnya dia melihat Ressa sangat lemas dan lebam dilehernya sangat jelas. Pasti Indah mencekiknya dengan sepenuh tenaga. Tubuh Aris gemetar menahan amarah dan rasa khawatir, matanya memerah berkaca kaca. Rasanya seperti dunianya ambruk.


"Sayang, bertahanlah ku mohon,"


Gumam Aris sambil menggigiti kuku jarinya gemetar. Dia sangat cemas. Tidak lama Dokter keluar dari ruang tindakan.


"Keluarga Ibu Ressa?" Panggil Dokter.


"Saya suaminya dok," Ucap Aris sigap menghampiri Dokter itu.


"Ibu Ressa sudah siuman, hanya saja masih lemas. Untung saja dia segera dibawa kerumah sakit dan mendapat pertolongan. Ibu Ressa dan bayinya baik baik saja." Ucap Dokter.


"Ba-Ba-Bayi?" Ucap Aris gelagapan.


"Iya Pak, Bu Ressa sedang mengandung 5 minggu, Tapi syukurlah bayinya kuat dan bisa bertahan meski kekurangan oksigen." Ucap Dokter itu seraya pamit undur diri meninggalkan Aris. Lutut Aris melemas hingga dia jatuh berlutut.


"Aku? Aku akan jadi ayah?


Aku akan jadi ayah?"


Aris segera bangkit dan menghampiri Ressa, Dia menciumi tangan Ressa yang masih lemas.


"Mas apa apaan sih?!" Ujar Ressa risih namun tak sanggup menarik tangannya yang digenggam Aris karena masih lemas.


"Kita akan menjadi orang tua sayang," Ucap Aris kegirangan mencium kening Ressa.


"Mas jangan becanda." Ressa tidak ingin mempercayai ucapan Aris.


"Mas gak sedang becanda, kamu hamil 5 minggu. Coba pegang perutmu, disini aja bayi kita." Aris mengarahkan tangan Ressa untuk mengelus perutnya sendiri dan merasakan janin yang berada diperutnya.


"Mas serius? Mas kata siapa?" Ressa mulai menangis, matanya berkaca kaca. Aris memeluknya dan menangis bersama. Ressa sangat bahagia akhirnya bisa mengandung. Terlepas dari semua yang terjadi. Ressa sangat bahagia akhirnya bisa merasakan menjadi wanita seutuhnya.


"Mas janji akan menjagamu dan bayi kita," Aris mengecup kening Ressa.


◇◇◇◇◇◇

__ADS_1


Pagi hari dikosan, Meylani berlari keluar dari kamarnya dan menggedor pintu kamar Aira.


"Ra, Ra, bangun Ra bangun," Meylani mengetuk pinti dengar keras membuat Aira terkejut dan segera membukakan pintu.


"Hmmm Ada apa sih Mey pagi buta begini. Hoamm" Aira membukakan pintu sambil menguap.


"Gawat Ra Gawat," Ucap Meylani segera masuk ke kamar Aira.


"Apanya yang gawat sih?" Aira menutup pintu dan kembali merebahkan dirinya disamping Meylani.


"Ra kayanya aku makin jatuh cinta." Gumam Meylani pelan.


"Apa?" Tanya Aira karena ucapan Meylani yang tidak jelas.


"Nggak ko, lari pagi yuk!" Meylani menarik tangan Aira untuk ikut dengannya berlari pagi ke taman depan.


"Males ah aku masih ngantuk tau," Aira menolak tapi Meylani justru menggelitiki Aira sampai Aira menyerah dan setuju untuk ikut lari oagi bersama Meylani.


Mereka menuju ke taman dimana banyak pedagang makanan kaki lima. Meylani menengok ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.


"Nyari apaan sih?" Tanya Aira heran.


"Oh disana!" Meylani menunjuk dan melambaikan tangannya ke arah lain, Aira mengikuti arah kemana Meylani melambai dna ternyata disana ada Ergy dan Steve.


"Hai Steve, Hai Ergy," Sapa Aira ramah.


"Yuk kita jajan dulu," Ucap Meylani.


"Ini sih bukan lari pagi, tapi nyari sarapan," Mereka tertawa dan mencari makanan yang ingin mereka makan. Setelah makan mereka kembali untuk bersiap ke kampus.


"Emangnya rumah kalian dekat sini?" Tanya Aira kepada Steve dan Ergy.


"Iya lumayan deket, kalau Niko agak jauh jadi dia gak ngikut," Jawab Steve.


Mereka berpisah dan bertemu kembali dikampus bersama Niko sekalian. Hari itu Aira tidak ke hotel, karena jam kuliahnya penuh hari itu.


Belajar dan bekerja sekarang adalah aktifitas Aira, setiap harinya dia bergantian ke kampus dan ke hotel. Bukan hal mudah tapi itu yang harus Aira lakukan demi masa depannya.


Kelak dia akan menjadi pewaris tunggal seluruh hotel milik Papanya. Jadi dia harus banyak belajar mengelola hotel sejak dini, sehingga nantinya dia bisa mengelola hotel yang didirikan oleh Papanya.

__ADS_1


Meski orang tuanya tidak memintanya untuk memadatkan jadwalnya, namun Aira sadar, dia harus jadi kebanggaan kedua krang tuanya.


"Ra, kamu gak capek?" Tanya Ergy yang duduk disamping Aira saat mata kuliah managemen hotel.


"Capek? Gak ko, cuman agak ngantuk aja," Jawab Aira datar.


"Maksudku kamu kuliah bukan kelas karyawan, dan juga bekerja dihotel sampai larut malam. Nanti kamu sakit Ra," Ucap Ergy khawatir.


Aira menatapnya sesaat, lalu menghela nafas.


"Bukan urusan kamu!" Ketus Aira.


"Tapi kan Ra," Ucap Aris.


"Sssttttt, itu dosen lagi ngomong kamu gak perhatiin?" Aira meyela ucapan Ergy. Akhirnya Ergy kembali memandang ke arah depan meski tatapannya kosong. Dia kesal karena Aira tidak mau mendengarkannya.


◇◇◇◇◇◇◇◇◇


Seminggu kemudian, Ressa sudab bisa pulang dari rumah sakit, Aris tidak menemaminya full time seperti saat Ressa masuk rumah sakit sebelumnya, karena semua jatah cutinya sudah dia ambil sebelumnya.


"Saya nunggu suami saya jemput dulu," Ucap Ressa pada penghuni kamar lain yang bersamanya selama seminggu.


"Beruntung banget ya bu punya suami perhatian, meski sibuk kerja tetep ngejagain disini setiap malam, mana ganteng lagi suaminya." Ucap Pasien wanita itu.


"Saya perhatikan sepertinya suaminya sangat sayang sama ibu, setiap malam dia menatap ibu tertidur lama sekali sebelum dia juga tertidur, benar romantis sekali, dari tatapannya terlihat dia sangat mencintai ibu loh" Ressa mendengarnya hanya tersenyum dan mengangguk.


"Seandainya kenyataan Mas Aris seindah itu," Ressa berkata dalam hatinya.


Tidak lama waktu berselang, Aris tiba dan menjemput Ressa pulang. Mereka segera pulang. Didalam mobil Ressa tidak banyak bicara, dia hanya terdiam memandangi laju mobil dengan tatapan kosong.


Aris juga tidak ingin salah bicara sehingga dia hanya memperhatikan Ressa sesekali. Setelah sampai, Aris membantu Ressa masuk dan merebahkan dirinya diatas tempat tidur.


"Dokter bilang kamu harus istirahat, jadi jangan dulu mulai lagi onlineshop kamu, biar aku carikan admin buat ngurusin itu. Kamu bedrest dan kalau ada apa apa, jangan sungkan minta padaku. Kamu butuh apapun bilang sama aku," Ucap Aris kepada Ressa yang menatapnya.


"Oh ya dan ini obat kamu dan juga vitaminnya harus kamu minum, apa aku sewa assisten rumah tangga juga untuk menjagamu ketika aku bekerja? Ya sepertinya harus begi-" Tiba tiba Ressa memegang tangan Aris


"Mas, sudah cukup, aku ingin istirahat." Ucap Ressa pelan.


"Oh ya, Mas minta maaf, beristirahatlah." Aris segera beranjak hendak meninggalkan Ressa, namun Ressa memegangi tangannya.

__ADS_1


"Boleh gak Mas peluk aku dulu, setidaknya sampai aku tertidur." Ucap Ressa.


Aris tertegun, Dia menatap Ressa dan mata mereka saling bertatapan.


__ADS_2