
Meylani menarik nafas panjang sebelum membukakan pintu untuk Ergy, dia melatih wajahnya agar berekspresi sebagaimana mestinya.
"Ya? Ada apa Ergy?" Meylani membukakan pintu dan tersenyum dipaksakan.
"Ikut aku," Ucap Ergy menarik tangan Meylani.
"Kemana?" Meylani mengikuti Ergy yang menuntunya menuju ke motor yang dia parkir didepan kosan. Ergy tak menjawab pertanyaan Meylani dan meminta Meylani memakai helm dan naik ke motor dibelakangnya.
Mereka melaju dengan mengendarai motor tua milik Papa Ergy itu. Mereka menembus lalu lintas jalanan entah menuju kemana, Meylani belum tau akan dibawa kemana oleh Ergy.
"Gy.. Kita mau kemana?" Teriak Meylani, suaranya terdengar samar karena beradu dengan suara lalu lintas yang padat.
Ergy tidak menjawab.
"Kenapa ya? Apa Ergy marah besar padaku?" Batin Meylani sedih. Dia bahkan merada ragu untuk sekedar berpegangan pada pinggang Ergy. Meskipun Ergy tidak mengebut, tapi rasanya waktu berjalan sangat cepat.
Mereka sampai disebuah kedai kopi,, Ergy memarkirkan motornya, mereka masuk ke dalam kedai kopi tersebut.
“Mbak, Kopi hitam untuk dua orang, “
“Baik, Silahkan ditunggu,”
Ergy memesan minuman tanpa bertanya apa yang Meylani inginkan untuk dipesan, Ergy segera duduk dan mempersilahkan Meylani duduk dihadapannya dan menatam Meylani tajam.
“Ada apa sih Gy, kamu serius banget,”
“Aku ingin kamu jelaskan,”
“Jelaskan apa?”
Meylani berdebar, dia sangat cemas apa yang akan Ergy tanyakan, ditambah dengan raut wajahnya yang sangat serius dan terlihat sangat marah, Meylani sedikit gemetar, namun dia berusaha untuk tetap tenang.
“Bagaimana bisa kamu tahu tentang kehamilan Aira, sementara dia sendiri kayaknya gak tahu,”
Meylani mengalihkan pandangannya dari wajah Ergy, dia merasa sangat gugup. Entah mengapa tapi rasanya wajahnya memanas seolah ingin menangis. Jelas saja, Meylani sedikit kecewa, karena yang dipikirkan Ergy selalu saja tentang Aira, padahal Meylani sudah mengungkapkan perasaannya.
“Baiklah, Aku akan memberitahukan semuanya padamu, tapi setelah itu, jangan pernah tanyakan apapun lagi tentang Aira padaku,”
Suara Meylani bergetar, dia menahan perasaannya agar tidak terlihat lemah. Ergy mengangguk setuju. Setelah menghela nafas Panjang, Meylani menceritakan secara keseluruhan bagaimana dia bisa akhirnya mengetahui kehamilan Aira. Ergy mendengarkan dengan seksama dengan tak melepaskan pandangannya dari Meylani.
“Silahkan minumannya kak,”
“Terima kasih ya,”
Seorang pelayan tersenyum mengantarkan pesanan 2 cangkir kopi hitam. Meylani telah selesai dengan ceritanya, Ergy meminum kopi itu, lalu pergi keluar café. Meylani menyandarkan tubuhnya dan menarik nafas Panjang, matanya berkaca kaca.
__ADS_1
Sementara itu, Aira diapartemen barunya Bersama dengan Aris sedang menonton televisi sambil saling bersandar, Aris merebahkan kepalanya dipangkuan Aira. Mereka menonton kartun yang Aira sukai dan tertawa Bersama.
Aira teringat dengan alat test kehamilan yang dia beli dan ingin segera mencobanya, dia yakin Aris akan senang dan mengajaknya menikah jika mengetahui Aira mengandung anaknya.
“Mas, ira mau mandi dulu ya,”
“Mandi? Mas boleh ikut?”
“Ih apasih Mas, Ira ingin berendam dulu,”
“Ayolah sayang,”
Aris menatap Aira dengan manja, namun Aira tetap bersikukuh untuk mandi sendiri, karena dia sangat ingin mencoba alat test kehamilan itu.
“Yasudah, tapi jangan lama lama ya,”
“Iya sayangku,”
Aira mengecup kening Aris dengan lembut dan kemudian segera menuju ke kamar untuk mengambil alat test kehamilan itu dari tasnya. “Aku harus mengetesnya sekarang juga,” Batin Aira. Dia segera masuk ke kamar mandi dan melakukan apa yang diinstruksikan dikemasan alat test kehamilan itu.
Setelah menunggu beberapa saat, hasilnya pun sudah keluar dan mata Aira terbelalak.
“Ini sungguhan? Dua garis? Aku…. Aku hamil?”
Aira bergumam kegirangan, dia Bahagia sekali. Tanpa piker Panjang dia segera keluar dari kamar dan berniat ingin memperlihatkan hasil testnya kepada Aris. Namun saat dia keluar dari kamar mandi, justru Aris pamit buru buru pergi.
“Mas ada urusan mendadak, nanti Mas hubungi kamu ya,”
“Tapi Mas, aku… “
“Bye sayang,”
Aris mengecup kening Aira dan segera pergi tanpa mendengar apa yang ingin Aira sampaikan. Aira kecewa padahal ini adalah hal yang membahagiakan bagi Aira.
Aris segera pergi karena mendapat kabar kalau Ressa istrinya pendarahan karena terjatuh dikamar mandi. Bagaimanapun dia sedang bersama Aira, namun dia tetap saja merasa khawatir pada Ressa yang sedang mengandung darah dagingnya.
Aris mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia segera menuju ke rumah sakit Kasih Bunda, dimana Ibunya membawa Ressa untuk mendapat pertolongan.
Tidak lama berselang, ponsel Aris kembali berdering, Ibunya melepon lagi.
"Hallo Bu, bagaimana keadaan istriku?"
"Nak, kamu segera datang,"
"Iya Bu, aku hampir sampai, tolong jaga Ressa untukku ya Bu,"
__ADS_1
Aris menutup telepon Ibunya dan segera bergegas. Setelah beberapa menit perjalanan yang sangat terasa lama karena lalu lintas yang padat, akhirnya Aris sampai dirumah sakit dan segera ke ruang Unit Gawat Darurat.
Ibu Aris sedang duduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ibu Aris menangis sesenggukan. Aris segera menghampiri ibunya dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Bu..? Kenapa?"
Ibu Aris tidak menjawabnya, dia hanya menatap wajah putranya dan menangis tambah keras sambil kemudian memeluk Aris erat-erat. Aris merasa bingung dengan apa yang Ibunya lakukan. Namun Seorang Perawat menghampiri mereka dan meminta mereka menemui Dokter.
Aris dan Ibunya masuk ke ruangan Dokter spesialis kandungan. Dokter wanita itu terlihat cantik dengan jas putih yang dipakainya. Wajahnya teduh dan senyumnya yang tipis menambah kecantikannya.
"Bagaimana Istri saya Dok?"
"Bu Ressa mengalami pendarahan hebat, kami mohon maaf,"
"Maksud Dokter? Bagqimana keadaan menantu saya?"
"Bu Ressa kehilangan bayinya, dan kami harus segera melakukan operasi pembersihan pada rahimnya."
Aris tidak dapat berkata kata setelah mendengar apa yang Dokter Wanita itu sampaikan. Kakinya terasa lemas dan dia sangat sedih dan kecewa. Aris dan Ibunya segera menuju ruang ICU dimana Ressa tak sadarkan diri.
"Bagaimana ini bisa terjadi Bu?"
"Maafkan Ibu, Ibu meninggalkan Ressa untuk menjemur pakaian dihalaman rumah, dan tiba tiba saja Ressa sudah tergeletak dikamar mandi bersimbah darah Nak, ini salah Ibu, huhuhuuu,"
Ibu mertua Ressa menangis terisak, dia sangat menyesal meninggalkan Ressa sendirian didalam rumah, Aris merangkul dan menenangkan ibunya.
Ressa terbaring tidak sadarkan diri, Seorang perawat masuk dan mempersiapkan Ressa untuk dibawa ke ruang operasi. Janin nya harus diangkat.
Aris memeluk ibunya sambil duduk dikursi tunggu. Dia menepuk nepuk pundak ibunya agar merasa tenang.
Aris tidak menyadari bahwa Aira mengikutinya, Aira bersembunyi dan duduk dibelakang Aris dan ibunya diruang tunggu.
"Mereka ngobrol apa sih? Gak kedengeran, harus lebih dekat kayaknya."
Aira merayap mendekati Aris dan Ibunya, dia ingin mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. Setelah cukup dekat Aira bisa mendengar cukup jelas apa yang Aris dan Ibunya bicarakan.
"Sudah Bu, aku tau Ressa wanita yang kuat. Ibu jangan menangis lagi,"
Aris berusaha menenangkan Ibunya, "Oh iya itukan Ibu Ibu yang di Supermarket. Jadi itu Ibunya Mas Aris? Jadi Mbak Ressa yang ku tabrak itu Adiknya Mas Aris itu ya?" Batin Aira
"Tapi Nak, bagaimanapun Ibu merasa sangat bersalah, Kamu dan istrimu kan sudah ingin memiliki anak sejak lama,"
Ibu Aris terisak. Dan Aira mendengarnya membeku.
"A..Ap..Apaa?? I.. I-istri?"
__ADS_1
"Mas Aris punya istri?"