Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
EPS 53


__ADS_3

keesokan harinya Aris dan Aira bertemu sesuai janji, Aira bersiap siap dikamarnya, memilah milah pakaian yang pantas untuk berkencan dengan Aris. Senyum penuh bahagia terukir dibibirnya yang kemerahan seperti delima.


Dia bernyanyi dan menari nari diruangan yang luas itu. Rambutnya yang tergerai panjang ikut menari indah menambah kecantikkannya. Aira tersenyum lebih lebar melihat pantulan dirinya dicermin.


"Apa hari ini akan jadi hari yang special?" Gumam Aira


Kemudian pintu kamarnya diketuk dari luar.


Tok tok tok


"Sayang, mari makan malam bersama, Papa sudah menunggu dimeja makan." Panggil lembut wanita paruh baya yang merupakan Mama Aira itu.


"Iya Ma sebentar lagi Aku keluar," Jawab Aira menyeĺesaikan riasannya dengan blush on warna nude yang membuatnya terlihat semakin cantik.


Aira berjalan dengan riang menghampiri kedua orang tuanya dimeja makan. Papa Aira tertegun melihat putri cantiknya yang memakai gaun selutut tanpa lengan berwarna putih.


"Apa kamu akan pergi keluar?" Tanya Mama Aira melihat putrinya berdandan secantik itu.


"Iya, Apa boleh Pa?" Tanya Aira dengan manja bergelayutan di lengan Papanya yang kekar itu. Papa Aira tak segera menjawab. Dia menatap Putrinya dengan tatapan tajam. Aira merasa agak takut jikalau Papanya tidak mengijinkan, Namun kemudian Papa Aira tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Beneran Pa?" Tanya Aira memastikan. Wajahnya terlihat sangat senang.


"Iya, tapi jangan pulang terlalu malam. Apa kamu ingin ditemani ajudan?" Papa Aira khawatir putrinya keluar dimalam hari. Namun Aira menolaknya dengan gelengan kepala.


"Tidak Pa, ayolah Aira sudah besar. Bukan anak kecil lagi. Aira sudah dewasa." Gerutu Aira kesal.


"Baiklah, jaga dirimu baik baik, dan jika ada apapun segera hubungi Papa." Ucap Papa Aira membelai kepala putrinya. Aira mengangguk dan memcium pipi Papanya dan Mamanya. Dia berpamitan dan segera turun ke Lobby.


Malam itu bintang tak terlihat, sinar bulan pun temaram hingga malam terasa semakin gelap. Udara cukup dingin membuat Aira yang memakai gaun tanpa lengan itu sedikit menggigil.


"Sepertinya akan hujan ya," Gumam Aira sambil menatap ke langit yang gelap gulita, dia berjalan perlahan menuju taman. Dari kejauhan dia melihat Aris melambaikan tangannya didepan mobil. Aira berlari kecil senang sekali melihat orang yang dicintainya itu.


"Maaf membuatmu menunggu lama," Ucap Aira pada Aris.

__ADS_1


"Tidak, Mas juga baru sampai, Ayo masuk." Ucap Aris mengajak Aira masuk ke mobilnya. Aris membukakan pintu untuk Aira, membuat Aira tersanjung dan tersipu malu.


Mobil itu melaju dengan cepat, Didalm mobil Aira merasa lebih hangat karena ada pemanas didalamnya. Mereka saling diam, terasa sedikit canggung karena sudah cukup lama tak berjumpa.


Sesekali Aira melirik Aris yang sedang fokus menyetir. Sadar diperhatikan Aris tersenyum dan menggoda Aira.


"Jangan menatapku seperti itu, tatapanmu seperti laser yang bisa melelehkan aku," Goda Aris terkekeh.


"Ih apa sih Mas," Jawab Aira tersipu malu karena terpergok menatap Aris.


"Coba lihat dibelakang." Ucap Aris pada Aira,


"Belakang?" Tanya Aira heran sambil melihat ke kursi belakang yang ternyata ada buket bunga berukuran besar.


"Ini untukku? Indah sekali" Aira terkesima, meski sudah tidak aneh dnegan huket bunga besar, namun karena Aris yang memberikannya, Aira bahagia sekali.


"Tentu saja, untuk wanita tercantik," Rayu Aris.


Aira memeluk Aris dan menyandarkan diri dibahunya. Mereka berpegangan tangan sambil menyetir. Aris berniat mengajak Aira makan malam dihotel dan sudah melakukan reservasi.


"Ayo kita keluar." Ucap Aris dan mereka keluar dari mobil.


"Parkiran nya cukup jauh ya," Ucap Aira.


Baru saja mereka keluar dari mobil hujan deras mengguyur. Mereka berdua berlari berpegangan tangan, namun sepatu high heels Aira tersangkut lantai kayu dihotel itu.


"Mas bagaimana ini," Aira kesusahan mengangkat kakinya yang terjebak. Ditengah guyuran hujan deras itu Aris berlutut dan melepaskan kaki Aira dari sepatunya. Kemudian dia melepaskan sepatunya itu dari sela sela lantai.


Berhasil mengambil sepatu Aira, Aris menggendong Aira dan berlari menuju lobby hotel. Mereka benar benar basah kuyup karena hujan begitu deras mengguyur.


Aira menggigil dan Aris memintanya untuk duduk mennggu. Aris menuju resepsionist dan beberapa saat berbincang. Setelah selesai, Aris menghampiri Aira yang tengah menggigil kedinginan karena pakaiannya yang basah kuyup.


"Disini ada loundry kering 1 jam, kamu tak mungkin pulang dengan keadaan begini, nanti Papamu akan marah." Ucap Aris

__ADS_1


"Iya Mas, tapi aku kan gak bawa baju ganti." Jawab Aira dengan penuh sesal.


"Mas sudah pesan kamar, disana ada handuk baju 2 buah. Kita bisa pakai itu saat pakaian kita diloundry. Ayo ikut Mas sebelum kamu demam lagi." Ucap Aris menggenggam tangan Aira yang sangat dingin.


Sesampainya dikamar hotel Aira segera berganti pakaiannya dikamar mandi.


"Bagaimana ini, pakaianku basah sampai ke pakaian dalam juga," Gumam Aira sedih. Setelah selesai melepaskan semua pakaiannya, Aira menggunakan handuk baju yang tersedia disana. Dia keluar dan ternyata Aris sudah menganti pakaiannya dan menyimpan pakaian basahnya didalam keranjang.


"Kamu sudah selesai?" Tanya Aris begitu melihat Aira keluar dari kamar mandi.


"Sudah Mas." Jawab Aira pelan.


Aris segera menelpon layanan kamar dan memanggilnya untuk mengambil pakaian mereka yang akan dilaundry. Aris juga memesan makanan. Tak memunggu lama, layanan kamar itu segera tiba dan mengambil pakaian mereka.


Setelah housekeeper itu pergi, Aris menghampiri Aira yang tertegun disisi tempat tidur. Dia membelai rambut Aira. Dan jujur saja, nafsunya mulai memanas melihat gadis cantik yang hanya memakai handuk baju saja.


"Ada apa?" Tanya Aris. Dia melihat kekhawatiran diwajah Aira.


"Papa bilang Ira harus kembali jam 10," Gumam Aira khawatir.


"Tenang saja, sebelum itu kamu akan Mas antarkan." Aris mengecup pipi Aira pelan.


"Tapi pakaiannya?" Aira menatap Aris dengan tatapan cemas.


"Akan selesai dalam 1 jam, sekarang masih pukul 19.45, masih banyak waktu sayang." Aris berusaka menenangkan Aira dengan memeluknya. Namun justru dia yang merasa tidak tenang. Dalam pelukan itu Aris bisa merasakan sesuatu didadanya yang mengganjal, Jantungnya mulai berdebar kencang. Nafasnya kembali memanas.


"Lalu makanannya kapan tiba?" Tanya Aira melepaskan pelukan Aris.


"Ah.. Itu..Itu mungkin sebentar lagi," Aris gugup dan gelagapan.


Aira mengambil ponselnya dan membuka media socialnya. Dia sudah lama juga tidak menghubungi teman temannya. Aris merasa sedikit kesal karena tidak diperhatikan. Dia mengambil ponsel Aira.


"Mas, kembalikan," Aira berusaha meraih Ponselnya yang diambil oleh Aris. Namun tangan Aris lebih panjang sehingga Aira cukup kesulitan.

__ADS_1


"Coba ambil sendiri." Tawa Aris mengejek


"Mas," Teriak Aira berusaha menggelitiki tubuh Aris. Mereka bercanda saling menggelitik dan berebut ponsel Aira hingga akhirnya tanpa sadar, Aris berada tepat dibawah tubuh Aira. Degupan jantung mereka terdengar jelas. Mereka terpaku beberapa saat.


__ADS_2