
Aira berjalan lemas dengan kesedihan, dia membayangkan bagaimana bila yang terjadi pada Meylani juga dialami olehnya. Aira merasakan pipinya basah, terharu karena Tuhan sangat menyayanginya lewat kedua Orang Tuanya.
Meski saat ini terpisah cukup jauh, Aira banyak belajar tentang kehidupan. Dia mengerti betapa kebersamaan itu sangat berharga setiap detiknya. Waktu tidak bisa diulang.
Tiba - tiba,
"Airaaa," Suara seorang laki laki yang familiar di telinga Aira memanggilnya dari jauh, Aira menolehkan wajahnya yang masih basah karena air mata, pria itu Aris.
"Mas? kok ada disini?" Tanya Aira ketika Aris menghampirinya. Aris melihat pipi Aira yang basah dan mengusapnya pelan.
"Ada apa? kenapa matamu basah?" Tanya Aris segera memeluk Aira. Dalam pelukan Aris, Aira justru menangis lebih kencang menumpahkan semua rasa yang ada didalam hati.
Aris tidak bertanya lagi, dia membiarkan Aira menangis didalam dekapannya. Dia mengusap kepala Aira perlahan mencoba untuk menangkannya. Setelah beberapa saat, Aira merasa lebih baik dan melepaskan pelukannya dengan Aris.
Aris mengajaknya untuk duduk terlebih dahulu.
"Sudah lebih tenang?" Tanya Aris lembut.
"Iya Mas, setidaknya sekarang lebih baik." Jawab Aira tersedu pelan.
"Mau makan?" Tanya Aris tersenyum sambil mengelap pipi Aira yang masih basah.
"Kenapa makan?" Tanya Aira heran.
"Karena menangis itu butuh tenaga. pura pura baik baik saja juga butuh tenaga." Jawab Aris menggoda Aira.
Aira tertawa dan mencubit Aris. Mereka tertawa dan saling menggoda satu sama lain sambil berjalan menuju lobby dan segera keluar dari bandara.
Tanpa Aris ketahui, Ressa yang juga baru tiba dibandara saat itu melihatnya menunggu Aira. Ressa baru kembali setelah beberapa hari berjibaku dipabriknya yang mengalami masalah produksi.
Aris dan Aira membeli sarapan dekat kosan Aira. Namun Aira menolak untuk makan bersama karena dia harus segera bersiap untuk kuliah.
"Mas, lain kali kita makan bersama, Aira buru buru," Ucap Aira pamit pada Aris yang berada didalam mobil.
"Buru buru mau ketemu pria itu?" Tanya Aris tiba tiba. Aira terkejut dengan apa yang Aris katakan. Dan melihat kemana arah mata hitam Aris menatap. Ternyata disana sudah berdiri Ergy. Dia memakai hoodie berwarna merah tua dan jeans warna hitam. Rambutnya yang berantakan membuatnya semakin tampan.
__ADS_1
"Mas, dia itu teman kuliahku," Ucap Aira tertawa kecil.
"Yasudah, Mas ke hotel dulu." Jawab Aris ketus dan segera pergi memacu mobilnya dengan cepat. Aira tertegun beberapa saat melihat sikap Aris yang aneh, mungkinkah Mas Aris cemburu? Pikir Aira dalam hatinya. Pikiran itu membuat Aira tersenyum sendiri.
Ergy berjalan menghampiri Aira yang masih tersenyum senyum sendiri. Ergy hanya menatap Aira dengan tatapan heran, lalu memegang dahi Aira. Terkejut dengan apa yang Ergy lakukan, Aira menepis tangan Ergy dan berteriak.
"Apa sih, ngehancurin mimpi indah aja!!" Aira berteriak kesal, lamunannya buyar seketika.
"Wah bener gila ya kamu Ra, barusan kamu tidur berdiri?" Tanya Ergy yang justru menggodanya. Aira bertambah kesal dengan ucapan Ergy dan memukulnya. Ergy mengelak dan berlari menghindari Aira yang mengejarnya.
Mereka masuk kedalam kosan dan Aira meminta Ergy menunggu dibawah sementara dia mandi dan berganti baju. Setelah menunggu selama 1 jam, Aira kembali turun dengan menggunakan kulot berwarna abu tua dan crop top lengan panjang berwarna hitam, memperlihatkan sedikit bagian perutnya. Rambutnya dikuncir kuda dan menggunakan sepatu sneaker.
Ergy tertegun melihat kecantikan Aira. Terutama lehernya yang jenjang terekspos jelas dan membuat Ergy berdebar. Ergy segera berdiri dan membuka hoodienya.
"Diluar dingin, nih pakek," Ergy memakaikan hoodienya dengan paksa pada Aira. Meski memang cuaca agak mendung tapi Aira merasa udara tak begitu dingin.
"Ah gak mau," Ucap Aira menolak hoodie Ergy.
"Ra, kalau kamu sakit, siapa yang nanti jagain Meylani?" Tanya Ergy serius. Aira menghela nafas dan akhirnya setuju memakai hoodie Ergy yang sangat kebesaran ditubuhnya yang mungil.
Mereka berjalan bersama menuju Kampus yang berada didekat kosan. Dalam perjalanan Aira menceritakan apa yang terjadi pada Meylani kepada Ergy. Meski terkejut Ergy tidak menyangka Meylani yang begitu ceria dan humble memiliki keluarga yang seperti itu.
"Boleh, nanti kita sama sama kesana selesai kuliah. Kebetulan aku akan menginap." Jawab Aira tersenyum. Senyuman yang mampu membuat lutut Ergy melemas.
Sore hari selepas perkuliahan selesai. Ergy mengajak Niko dan Steve untuk ikut bersamanya menengok Meylani dirumah sakit. Mereka berjanji akan menjemput Aira pukul 19.00 setelah Aira pulang ke kosan terlebih dahulu untuk berganti baju dan mengambil beberapa narang milik Meylani.
Saat berada dikosan untuk mandi, Aira merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menghela nafas panjang. Tubuh dan pikirannya lelah, tugas kuliah yang menumpuk dan juga dia memikirkan Meylani yang masih terbaring dirumah sakit.
Aira memejamkan matanya berusaha menjernihkan pikirannya. Namun dering telepon berbunyi. Panggilan itu dari Aris.
"Aira, Mas diminta Papa kamu untuk belikan mobil, bagaimana kalau besok jika kamu tidak ada jam kuliah kita ke Dealer?" Tanya Aris dengan nada dingin.
"Boleh Mas, besok aku hanya ada perkuliahan pagi, jadi siang sampai sore aku senggang." Jawab Aira dengan senang.
"Baiklah, tuut," Jawab Aris singkat dan segera mematikan teleponnya. Aira yang merasa aneh dengan sikap Aris segera menelpon balik namun Aris justru tidak menjawabnya.
__ADS_1
Tidak mau ambil pusing, Aira segera mandi dan berganti baju untuk berangkat ke rumah sakit bersama Ergy, Niko dan Steve.
Sementara itu, Ressa yang baru saja terbangun dari tidur dirumahnya menunggu Aris pulang. Dia tertidur setelah beberapa hari tidak dapat tidur cukup selama berada dipabrik.
Tubuh Ressa terasa pegal pegal dan kepalanya pening. Dia memijat mijat keningnya pelan.
Ressa beranjak dari tempat tidur begitu mendengar suara deru mobil Aris diluar rumah. Dia menyambut Aris yang dia rindukan.
"Ceklek"
Aris masuk ke dalam rumah dan mendapati Ressa sudah ada didalam rumah. Ressa segera memeluk Aris melepas rindunya.
"Mas, maaf ya aku lama sekali." Ucap Ressa memeluk mesra suaminya itu. Aris merasa senang dan membalas pelukan Ressa lebih erat dan menciumi leher istrinya itu.
"Hahaha sudah Mas, sana mandi dulu, aku siapkan makan malam ya," Ucap Ressa menghentikan aksi Aris yang mencumbunya dengan terburu buru.
"Ayolah, Mas tidak mau makan, Mas mau kamu," Ucap Aris yang justru kembali memeluk Ressa dan berusaha membuka gaun tidurnya.
"Mas, aku gak bisa, besok saja ya. Aku sangat lelah," Tolak Ressa dengan lembut.
Aris berhenti dan seketika pergi ke dalam kamar tanpa memandang wajah istrinya itu. Ressa mengerti Aris kecewa dan berusaha mengejarnya namun Aris segera menutup pintu kamarnya tanpa memberikan Ressa kesempatan untuk menceritakan apa yang selama ini dia kerjakan.
Ressa menghela nafas panjang, dia benar benar lelah dan tidak bertenaga. Ressa memberanikan diri masuk kedalam kamar menemui Aris. Saat itu Aris sedang membuka kemejanya.
"Mas, jangan marah," Ucap Ressa memohon
"Kenapa setiap kali Mas ingin, kamu selalu menolak. Kamu selalu beralasan lelahlah, capeklah, halanganlah, Kamu sudah tidak mau memenuhi kewajibanmu sebagai istri?" Tanya Aris dengan kesal sambil memunggungi Ressa. Terkejut dengan apa yang suaminya katakan, Ressa segera memeluknya dari belakang.
"Bukan begitu Mas, dengarkan aku dulu," Ujar Ressa merasa bersalah.
"Coba kamu ingat, kapan terkakhir kali kita berhubungan? Kamu pikir rumah tangga itu hanya soal uang uang uang! yang kamu perhatikan hanya uang. menikah saja dengan uang jika memang kamu begitu mencintainya!!" Aris dipenuhi amarah, dia menepis lengan Ressa yang memeluknya dari belakang.
"Mas..." Ressa mulai terisak.
__ADS_1
"Gak perlu nangis, kalau kamu sudah tidak mau jadi istriku, kita berpisah saja." Ucap Aris dengan lantang dan pergi meninggalkan Ressa untuk mandi.
Ressa berlutut merasakan lututnya lemas. Dia mulai menangis tersedu, hatinya sesak dan sakit menyeruak ke rongga dadanya.