Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
EPS 46 - PRIA MISTERIUS


__ADS_3

Aris mengangguk dan segera melepaskan jas yang digunakannya. Namun saat akan naik ke atas tempat tidur Aris terhenti. Dia duduk disebelah Ressa. Mengusap pipi dan keningnya.


"Maafkan aku, belum bisa jadi suami yang baik," Ucap Aris lirih, air matanua nyaris menetes. Ressa menatapnya iba. Ressa mengisyaratkan Aris untuk merebahkan diri disampingnya, mereka pun berpelukan.


"Kita jangan bahas itu dulu ya, Aku sangat lelah dan ingin tidur." Suara Ressa bergetar, Aris mengetahui pasti bahwa istrinya sedang menahan tangisnya dengan membenamkan wajahnya didada bidang Aris. Malam itu Ressa dan Aris sama sama menangis tanpa suara. Berusaha saling menyembunyikan air mata satu sama lain.


□□□□□■□□□□□□□□□□□□□■


Ini bukan terjebak, tapi memang cinta tidak semudah itu pudar. Meskipun mustahil, cinta bisa memaafkan sebesar apapun kesalahan.


□□□□□□□□□□□□□□□■□□□■


Pagi hari yang cerah, Ressa membuka matanya, mencari keberadaan suaminya Aris. Dia berpikir mungkin yang dia ingat semalam itu hanya mimpi. Dia mengedip negdipkan matanya dan mengerakkan badannya pelan.


Dia keluar kamar dan mendapati rumahnya yang sudah bersih dan rapih, Ada satu hal yanh kurang dari sana, Bunga. Ressa selalu memiliki bunga segar dirumahnya, tapi semenjak insiden dengan Indah, itu cukup membuatnya muak melihat bunga.


"Sudah bangun?" Suara itu adalah suara Aris yang sedang memasak sarapan.


"Mas? ini siapa yang membereskan rumah?" Tanya Ressa heran.


"Aku, semalam aku gak bisa tidur, jadi aku membereskan rumah dari pada bengong." Ressa tersenyum menndengarnya. Dia duduk memperhatikan Aris yang memasak.


Sudah sejak awal pernikahan, Aris lebih pintar memasak dari Ressa. Aris juga yang sering membersihkan rumah. Ressa memang sibuk dengan onlineshopnya. Hamoir 24 jam waktunya untuk onlineshop.


Tapi Aris tidak masalah dengan hal itu, dia tidak keberatan dengan semua itu karena dia mencintai Ressa. Sangat mencintainya.


"Kenapa kamu melamum?" Aris mengejutkan Ressa.


"Hmm tidak, aku hanya mengingat masa lalu." Ujar Ressa.


"Ayo sarapan dulu, dan kamu juga harus istirahat lagi." Ucap Aris mengelus kepala Ressa, dia memberikan piring berisi sarapan sayuran dan buah buahan. Aris juga menyeduhkan segelas susu ibu hamil untuk Ressa.


"Kapan kamu membeli susu itu Mas?" Tanua Ressa melihat Aris menyeduhkan susu ibu hamil rasa strawberry itu.


"Kemarin sebelum menjemput ke rumah sakit, Mas belikan susu dan kebutuhan lain, Buah buahan juga cemilan sehat buat nemenin kamu dirumah seharian." Aris membuka lemari penuh makanan itu.


"Jangan boros Mas, mending ditabung buat beli perlengkapan bayi." Kata Ressa sambil mengunyah makanannya.


"Ibunya juga harus happy dan sehat dong," Ucap Aris ceria.


Mereka sarapan bersama, setelah itu Aris pamit berangkat ke hotel. Ressa mengingat pesan pesan dokter yang membuatnya sedikit khawatir.


"Sebaiknya Bu Ressa jangan kecapekan, jangan mengerjakan hal berat jyga jangan naik turun tangga. Usahakan jangan memakai pakaian yang ketat. Kandungan Bu Ressa ini lemah dan sensitif." Tegas Dokter itu kepada Aris dan Ressa. Pasangan itu bertatapan.

__ADS_1


"Apa ada pantrangan soal makanan?" Tanya Aris.


"Usahakan makan makanan yang sehat, terutama sayur dan buah." Jawab dokter itu.


"Baiklah dokter," Jawab Aris lega.


"Satu hal lagi, sebaiknya kurangi dulu berhubungan, karena janinnya sangat lemah dan sensitif jadi sebaiknya kurangi gerakan yang berlebihan dan juga tekanan yang berat." Ujar dokter, Resse segera menolehkan wajahnya ke arah Aris. Raut wajahnya seolah kecewa. Ressa tau betul itu adalah hal vital baginya.


Ada rasa khawatir direlung hatinya jika Aris melampiaskan keinginannya dengan wanita lain, namun dia juga takit kehilangan jabang bayi yang berada didalam perutnya itu.


Ressa mengelus perutnya dan kemudian masuk kembali kedalam kamar dan memutuskan untuk menonton televisi didalam kamar saja.


Sementara itu dihotel, Aris bertemu dengan Jessica didepan lift. Bersaam dengan Aira yang baru saja tiba. Aira melihat Aris dan Jessice tengah berbincang dengan seru. Aira melihat Aris tertawa lepas, tidak seperti saat sedang bersamanya, Aris sangat jarang tersenyum.


"Selamat pagi," Sapa Aira pada Aris dan Jessica.


"Selamat pagi bu Aira," Jessica tersenyum manis. Aira tertegun sesaat, Jessica memang sangat cantik, tubuh yang tinggi ramping, kulit yang bersinar karena dia merupakan keturunan belanda.


Pagi juga Bu Aira," Aris tersenyum ramah.


Aira meliriknya sinis dibelakang Jessica.


"Dia bilang pacaran, tapi cuek sekali, bahkan telepon atau sekedar oesan singkat saja tidak," Gerutu Aira didalam hatinya.


"Maaf Bu, bokeh saha bertanya?" Tanya Aira pada Jessica.


"Apa anda punya pacar?" Tanya Aira terus terang.


"Ah tentu saja tidak, saya punya seorang suami." Ucap Jessica tertawa kecil.


Entah mengapa Aira merasa lega mendengarnya. Ternyata Jessica sudah menikah dan mungkin hari itu dia memang hanya memberikan laporan pada Aris.


Mereka masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai 10 yang dikhususkan untuk kantor. Mereka menuju ruangan masing masing dan mulai bekerja.


Hari ini cukup sibuk bagi Aira yang masih pemula dan dia banyak diberikan pengetahuan dan pelatihan. Sampai saat menjelang malam, Aira akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya.


Saat akan pulang, Aira melihat Aris juga hendak pukang.


"Mas," Panggil Aira.


Aris menoleh dan melihat Aira melambaikan tangannya kepada Aris. Dia tersenyum lebar dan memeluk Aris tiba tiba. Aris merasakan hangat tubuh Aira, dan membiarkannya memeluk beberapa saat.


"Jangan seperti ini dikantor dong," Ucap Aris mencubit hidung Aira.

__ADS_1


"Mas, aku sekarang bemar benar merindukanmu," Ucap Aira.


"Benarkah?" Jawab Aris meledek.


"Kenapa sepertinya Mas tidak percaya," Ujar Aira kesal.


"Apa buktinya?" Tanya Aris.


Aira terlihat kebingungan dan tidak tau harus menjawab apa. Aris memintanya masuk ke dalam mobil Aris. Mereka pergi bersama.


"Mau kemana Mas?" Tanya Aira senang.


"Mau minta bukti bahwa kamu merindukanku," Tanya Aris menyeringai.


"Hahaha buktiinnya gimana Mas?" Aira tertawa karena melihat ekspresi wajah Aris yang menyebalkan.


"Apa Mas boleh menyentuhmu?" Tanya Aris.


"Tapii.." Aira terlihat takut namun ragu untuk menolak.


"Yasudah Mas tidak akan memaksa, berarti kamu berbohong kalau kamu merindukan Mas," Ucap Aris dengan nada datar


"Aku serius kok, dan aku juga tidak melarang Mas menyentuhku. Aku cuma belum siap jika kita melakukan seperti waktu itu lagi. Rasanya menyakitkan." Gerutu Aira pelan.


Aris justru tertawa mendengar apa yang Aira ucapkan. Aira heran sekali dengan apa yang membuat Aris tertawa.


"Kenapa Mas tertawa? Apa yang lucu?" Tanya Aira kesal dan malu.


"Tidak apa apa, kamu hanya belum terbiasa dan belum bisa menikmatinya," Ujar Aris dengan santai.


"Tapi Mas, Jessica itu cantik ya," Kata Aira ingin melihat pendapat Aris.


"Tidak juga, Menurut Mas lebih cantik kamu ko," Jawab Aris menggombal sambil menyetir mobilnya yang hampir sampai ke kosan Aira.


"Oh masa? Mas gombal banget sih," Ucap Aira mencubit lengan Aris.


"Nah sudah sampai." Aris tertawa karena cubitan Aira terasa geli.


"Mas?" Panggil Aira pelan.


"Hmmm?" Aris menolehkan wajahnya dan menatap Aira.


"Kita pelan pelan saja ya," Ucap Aira setelah mengecup bibir Aris, lalu segera keluar dari mobil.

__ADS_1


Dia melambaikan tangan begitu Aris pergi dan berjalan masuk ke arah kosan. Namun dia melihat sesosok pria berpakaian hitam yang sepertinya memegang kamera disebrang jalan sana.


"Siapa itu? Malam malam begini ingin memotret?" Gumam Aira dalam hatinya. Namun dia tidak menghiraukannya dan segera masuk ke dalam kosan.


__ADS_2