
Papa Aira terlihat marah, beberapa kali dia menghela nafas panjang meredam amarahnya. Lalu dia segera mengambil ponselnya.
"Rapat jam 8 pagi, 15 menit lagi saya tiba di hotel." Tegas Om Adji menelpon dengan suara tegas. Dia menghela nafas lagi, lalu tersenyum tipis pada Ergy dan Meylani.
"Terima kasih sudah jadi teman yang baik untuk anak Om, Ayo kita masuk lagi, nanti Aira mencari kalian." Om Adji menepuk pundak Ergy mengajaknya dan Meylani kembali ke dalam ruangan.
Mereka masuk bersamaan, Aira tengah makan disuapi oleh Mamanya.
"Papa," Teriak Aira kegirangan ketika Papanya menghampiri, Aira memeluk Papanya yang duduk disampingnya. Mereka berpelukan melepas rindu. Ergy dan Meylani memperhatikan dan saling menyenggol dan berbisik.
"Aira disayang banget ya, beruntung sekali," Gumam Meylani merasa iri. Dia teringat kebersamaannya bersama kedua orang tuanya. Sadar Meylani sedikit bersedih Ergy merangkulnya.
"Gak usah sedih kan ada aku," Ucap Ergu menepuk nepuk pundak Meylani yang hampir menangis.
"Pa, proyek disamarinda gimana? Emangnya tidak apa apa ditinggalkan begitu saja?" Tanya Aira karena merasa tidak enak membuat kedua orang tuanya sering bulak balik naik pesawat.
"Kamu jangan pikirin itu sayang, sekarang itu yang penting kamu sembuh dulu, Mama dan Papa gak akan kemana mana sebelum kamu benar benar sembuh." Ucap Mama Aira.
"Tapi Ma.." Aira merengek
"Betul apa yang Mama bilang. Yang penting itu kesembuhanmu dulu. Papa tadi sudah bertemu suster dan katanya kamu kenal typus, akibat sering telat makan, kelelahan, dan juga kurang tidur. Apa yang terjadi?" Tanya Papa Aira heran.
"Aira cuma bersemangat bekerja saja Pa, Aira senang kok mengerjakam semuanya." Ucap Aira membela diri.
"Yasudah, kalau kamu senang kamu harus segera sembuh untuk kembali bekerja. Papa akan ke hotel untuk evaluasi sebentar. Mama disini saja ya." Kata Papa Aira mengelus rambut putrinya itu. Aira mengangguk dan membiarkan Papanya pergi bersama beberapa ajudannya, dan ajudan yang lain berjaga didepan ruangan rawat Aira.
"Oh ya, Tante bawa makanan juga untuk kalian, tante hampir lupa," Mama Aira mengeluarkan makanan dari dalam kotak besar, Dia menyajikan berbagai macam makanan.
"Mamaku jago masak, ayo dicobain," Ucap Aira saat Mamanya menata makanan diatas meja.
"Wah tante ini banyak sekali," Ucap Meylani senang melihat makanan enak dihadapannya.
__ADS_1
"Silahkan dimakan ya," Ucap Mama Aira lembut.
Mereka pun makan bersama dan berbincang ringan. Meylani menceritakan kelucuan Ergy dan Niko serta keseruan mereka dikampus. Mama Aira bersyukur Aira memiliki kawan kawan yang baik dan peduli padanya.
Aira juga menceritakan sikap aneh kawan kawannya dan saling meledek satu sama lain, Mereka tertawa tanpa ada sekat pembatas. Meski Aira dari keluarga yang kaya raya, namun dia tidak membatasi diri untuk bergaul dengan siapa saja.
◇◇◇◇◇◇◇
Bos Adji tiba dihotel bersama para ajudannya. Staff hotel sudah bersiap dan berbaris menyambutnya. Dia berjalan dengan tegap diikuti oleh para ajudan dan staff menuju ke ruang rapat yang sudah dipersiapkan.
Rapat itu langsung dimulai setelah Bos Adji tiba. Yang dia kumoulkan hanya para Manager dan itu merupakan Rwpat ekslusive.
"Saya ingin kalian semua melaporkan ringkasan laporan kerja 3 bulan ke belakang dan 3 bulan kedepan saat ini. Laporan tertulis saya tunggu via email. Saat itu silahkan laporkan dengan singkat saja." Ucap Papa Aira dengan lantang dan berkharisma. Para Manager berbicara melaporkan semua pekerjaan mereka secara ringkas dan jelas. begitupun dengan Aris yang merupakan Manager Pemasaran.
Bos Adji terkenal sangat tegas dan tidak mentoleransi kesalahan kerja, semua harus tampak sempurna. Semua laporan sudah hampir selesai, hinggal saatnya Bu Sulistrya yang merupakan Manager Operasional melapor.
"Semua sudah saya laporkan Bos," Ucap Bu Sulistya.
"Oke cukup, Tapi kenapa Operasional pelaporan laundry masih belum lengkap?" Tanya Bos Adji pada Bu Sulistya.
"Apa maksudnya tidak mampu?" Bos Adji menyelidik.
"Mohon maaf pak, maksud saya mungkin Bu Aira masih harus banyak belajar." Jawab Bu Sulistya merasa tak nyaman karena seluruh manager menatapnya tajam.
"Ibu tau Aira itu anak saya?" Tanya Papa Aira dengan nada sedikit ketus.
"I-iya pak," Jawab Bu Sulistya gugup.
"Saya sudah bilang, bantu Aira belajar! Bukan malah membebaninya dengan banyak pekerjaan yang dia belum pelajari. Saya hanya ingin dia bersenang senang. Bukan betul betul bekerja. Dia anak saya, dan kalian harus tau posisi kalian. Meskipun dedikasi kalian sudah bertahun tahun di hotel ini, saya tidak akan segan memecat siapapun yang membuat putri saya kesusahan." Bos Adji benar benar emosi, tangannya mengepal dan sesekali memukul meja pelan.
Dia benar benar sedih melihat anaknya terbaring sakit, terutama mendengarnya lembur hingga kurang tidur dan telat makan karena saking sibuknya.
__ADS_1
"Mohon maaf Bos, ini kesalahan saya," Ucap Pak Arman.
"Ini peringatan tegas untuk kalian semua, Perlakukan Aira dengan baik, dia hanya perlu hadir dan mempelajari yang dia mau. Jangan berikan beban berlebihan." Bos Adji melirik Bu Sulistya tajam.
"Maafkan saya Bos," Ucap Bu Sulistya hampir menangis, dia sangat takit dipecat.
"Baiklah, saya tidak mau kejadian seperti ini terulang kembali." Ucap Papa Aira sambil beranjak. Semua orang berdiri dan membungkukkan punggung mereka ketika Bos Adji keluar dari ruangan.
Pak Arman mengikuti dan berjalan disamping Bos Adji.
"Sudah siapkan apa yang saya minta?" Tanya Bos Adji dengan suara pelan hampir berbisik.
"Sudah, Saya akan kirim filenya via email setelah ini." Ucap Pak Arman.
"Baiklah, saya akan ke rumah sakit lagi. Tolong siapkan kamar griyatawang. Saya akan tinggal beberalama disini hingga putri saya benae benar pulih." Ucap Papa Aira singkat. Pak Arman mengangguk dan membukakan pintu untuk majikannya itu.
Pak Arman segera kembali ke dalam hotel dan menuju ke ruangan Bu Sulistya.
"Apa apaan kamu ini? Jangan cari masalah dengan bu Aira!!" Pak Arman menegur keras Bu Sulistya yang tengah membuat laporan yang diminta Bos Adji.
"Maafkan saya, Bu Aira itu terlalu menyebalkan, Dia cantik dan kaya raya, juga masih muda." Ucap Bu Sulistya ketus.
"Itu sudah takdirnya, kalau kamu tidak mau kehilangan pekerjaan sebaiknya kerjakan tugasmu dengan baik." Pak Arman menegaskan agar Bu Sulistya tidak semena mena lagi pada Aira.
Aris berada diruangannya, Jessica masuk kedalam ruangan Aris. Dia memberikan laporan yang Aris minta.
"Bukankah kamu dekat dengan anaknya Bos Adji?" Tanya Jessica penasaran.
"Iya, memangnya kenapa?" Tanya Aris.
"Hey bisa minta tolong dekatkan aku dengannya? Biar bisa cepet naik jabatan hehee kan anak kesayangan Bos Adji, pasti semua keinginannya diturutin," Ucap Jessica tertawa kecil.
__ADS_1
"Ngaso aja kamu, sana pergi aku lagi ingin sendiri." Ucap Aris. Jessica pergi dan meninggalkan Aris yang termenung sendirian diruangannya.
"Benar juga apa yang Jessica bilang, mungkin saja Aira nanti mau memberikan hotel ini padaku jika aku memiliki Aira." Pikir Aris dalam hatinya.