
"Mari Pak, ikut saya keluar"
Pak Satpam memegangi lengan Aris dan membawanya keluar. Aris benar benar terkejut dengan apa yang Aira lakukan. Aris tertawa mengingat bahwa baru saja Aira mendorongnya keluar hingga dia tersungkur.
"Saya bisa keluar sendiri,"
"Saya harap Bapak tidak menganggu penghuni Apartement ini lagi."
"Mengganggu? Cih"
Aris pergi dengan perasaan yang sangat kesal, dia tidak terima diperlakukan seperti itu tanpa mengetahui kesalahannya. "Kamu pasti menyesal Aira!" Batin Aris sambil pergi meninggalkan Apartement itu.
Saat sampai dibasement, Aris masuk ke dalam mobilnya dan menelpon Bos Adjie. Namun teleponnya juga tidak diangkat oleh Bos Adjie.
"Ahhh sial!! Jangan sampai cuti ini gak dapet apa apa,"
Tiin tiinnn tiiiinnnnnn
Aris sangat marah dan memukul stir mobilnya beberapa kali hingga klaksonnya berbunyi kencang. Aris benar benar marah. Dia pergi mengendarai mobilnya keluar dari basement Flower Tower dan menuju ke hotel.
________________________________
Sementara itu, Aira didalam Apartemennya kembali menangis. Didalam lubuk hatinya dia merasa sakit, dia begitu mencintai Aris. Tapi apa boleh buat. Aris ternyata menipunya. Aris sudah memiliki istri yang bahkan sedang hamil.
Aira masih sangat terpukul dan butuh banyak waktu untuk berpikir. Meski waktu yang mereka jalani sudab cukup lama, namun tetap saja, Aira sangat benci bila dibodohi seperti itu.
Hari itu langit mendung, hujan rintik rintik mulai membasahi jendela besar yang ada di Apartement Aira. Aira memandang keluar. Dia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan dengan sangat berat. Beberapa kali dia ulangi agar merasa lebih baik.
Akhirnya Aira memutuskan untuk menyalakan kembali ponselnya yang dia matikan selama beberapa hari. Benar saja, beberapa panggilan dan pesan masuk segera memenuhi layar pemberitahuan diponselnya itu.
Begitu banyak panggilan masuk dari Papa dan Mamanya. Aira tersenyum karena merasa masih ada orang yang sangat mencintainya. Tanpa pikir panjang, Aira segera menelpon Mamanya.
"Hallo Ma,"
"Sayang, Baby, kenapa kamu tidak ada kabar?"
"Ah ponsel Ira jatuh di bathub, baru sempat Aira betulkan. Maaf ya Ma,"
"Kan kamu bisa menghubungi Mama dan Papa via Pak Aris."
"Dia gak dateng beberapa hari ini Ma, tapi gak apa apa ko. Aira bisa sendiri."
Aira berbincang dengan Mamanya ditelepon beberapa saat, mereka saling menanyakan kabar dan berbincang ringan dengan santai. Aira melepas rindunya dan dia berharap, bisa sedikit melupakan kesedihannya.
Saat malam hampir tiba, mereka menyudahi telepon itu dan Aira kembali murung. Aira merasa sangat bosan sendirian.
__ADS_1
"Coba kalau masih dikosan, gak akan kesepian kayak gini."
Aira merasa kesepian, karena disaat sedih seperti ini, dia tidak memiliki siapapun disisinya. Bahkan kedua orang tuanya juga sedang berada di New York.
Saat kembali membuka ponselnya, Aira melihat ada beberapa pesan dari Ergy, Aira membuka dan membaca pesan tersebut.
"Ra, Kamu baik baik saja? Kalau butuh sesuatu, telepon aku."
Setelah membaca pesan yang Ergy kirim, Aira tersenyum, "Bagaimana bisa aku telepon kamu lagi, aku malu," Batin Aira.
________________________________________
Keesokan harinya, Aris datang kembali ke Apartemen Aira, namun Aira tidak mengizinkannya masuk. Aira sudah berpesan kepada Pak Satpam agar segera mengusir Aris bila dia datang kembali.
Namun Aris tidak menyerah, dia kembali datang setiap hari, bahkan menunggu Aira di parkiran. Namun Aira tidak kunjung meninggalkan Apartemennya.
Aris sudah mencoba berbagai macam cara, hingga berpura pura menjadi pengantar makanan, namun tetap saja ketahuan oleh Pak Satpam itu.
Tiba tiba Bos Adjie menelpon Aris, tangan Aris gemetar karena dia takut Bos Adjie marah padanya. Namun dia juga tidak berani jika sampai mengabaikan panggilan itu.
"Ha-Halo Bos, Saya Aris,"
"Mana Aira, Saya mau bicara!"
"Baiklah,"
Aris terpaksa berbohong, dia tidak mau sampai kehilangan bonus apalagi pekerjaannya karena hal yang dia tidak mengerti sebabnya. "Aku harus bujuk Aira." Batin Aris.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitu kata pepatah. Kebetulan sekali Aira keluar dari lift berjalan menuju mobilnya. Aris tidak ingin menyia nyiakan kesempatan itu untuk bicara dengan Aira. Dia segera menghampiri Aira.
"Ra, tunggu dulu!"
Begitu mendengar suara Aris, Aira menoleh dan segere bergegas menuju mobilnya, tapi langkah Aris lebih cepat. Aris meraih tangan Aira.
"Kamu kenapa sih? Ada apa? Bilang sama Mas,"
"Lepasin Mas,"
"Jawab dulu, Mas bakalan pergi setelah tahu alasan kamu bersikap begini sama Mas,"
Aira menghela nafas panjang, dia menatap Aris tajam.
"Aku ngikutin Mas ke Rumah Sakit Kasih Bunda hari itu,"
"Apa??"
__ADS_1
"Jadi Mas sudah tahu kan? Lepaskan"
Aris menurut, dia melepaskan genggaman tangannya pada tangan Aira. Aris merasa lemas. Hancur sudah harapannya untuk menjadi pemilik hotel.
Aira menatapnya sinis, lalu segera pergi meninggalkan Aris dengan sikap yang sangat cuek. Padahal sebenarnya, setelah memacu mobilnya meninggalkan Parkiran, air mata Aira mulai mengalir lagi.
"Aku kangen kamu Mas, tapi aku gak mau jadi perebut suami orang."
Aira snagat sedih, dia begitu mencintai Aris, bahkan setelah apa yang Aris lakukan untuk menipu dan memperdayanya, Aira tetap mencintainya. Meskipun sudah beberapa hari berusaha menetralkan perasaannya dengan tidak menemui Aris dan berhubungan dengannya, seketika usaha itu hancur setelah kembali bertemu dengan Aris.
Aira mengendarai mobilnya menuju Caffe Coffee untuk menemui Meylani. Dalam perjalanan Aira menyalakan musik yang ringan agar suasana hatinya membaik.
Setelah sampai di Caffe Coffee, Aira menunggu Meylani yang ternyata belum tiba didalam Caffee, Setelah beberapa lama, Meylani tiba dan ditemani dengan Ergy.
"Maaf ya, kita telat,"
"Kok kamu ajak Ergy?"
"Ketemu didepan Kosan, aku ajakin aja. Gak apa apa kan?"
"It's okay, Mau pesen apa?"
Mereka bertiga memesan minuman dan berbincang ringan. Setelah hampir 1 bulan tidak bertemu, Meylani juga merindukan Aira yang ceria. Meylani sedikit merasa bersalah karena sudah membuka rahasia sahabatnya itu hanya karena dia menyukai Ergy.
Waktu berjalan sangat cepat saat kita bahagia. Tidak mereka sadari, hari sudah mulai larut malam. Akhirnya mereka berpisah dan berjanji akan bertemu lagi besok dikampus karena libur telah usai.
Aira kembali ke Apartemennya dan mendapati mobil Aris masih berada dibasement itu. Tanpa pikir panjang, Aira segera menuju ke Apartemennya dilantai 25 dan berusaha untuk tidak bertemu dengan Aris lagi.
Namun ternyata Aris menunggunya didepan pintu Apartemennya. Aira merasa takut dan segera menelpon Pak Satpam agar segera naik untuk mengusir Aris.
"Ra, Mas minta maaf,"
"Sudahlah, lebih baik Mas pergi, ini sudah malam,"
"Mas gak peduli, yang penting kamu maafin Mas,"
Aris memohon pada Aira sambil memegang kedua tangan Aira. Tangan Aris terasa dingin, entah karena cuaca atau memang suhu tubuhnya seperti itu.
"Mas, Beri aku waktu,"
"Gak bisa, Mas sayang banget sama kamu,"
Aris memeluk Aira sangat erat hingga Aira merasa sesak.
"Mas, le-lepasin,"
__ADS_1