
Setelah melihat Ergy berjalan semakin jauh, Aira masuk ke kosan, dilantai bawah tempat para penghuni kosan makan, ada beberapa orang yang sedang berbincang dan bermain gitar, ada pula sebagian laki- laki yang bermain kartu mengisi waktu luang dihari minggu.
"Ra dari mana?" Sapa Meylani yang sedang berkumpul bersama penghuni kos lain.
"Dari luar, Aku duluan ya semuanya," Aira segera menaiki tangga dengan lesu, melihat sahabatnya terlihat sedih, Meylani berniat menyusulnya.
"Aku nyusul Aira dulu ya, kayaknya dia ada malasah deh," Pamit Meylani kepada penghuni kos lain. Meylani menyusul Aira ke lantai tiga dimana kamar Aira berada.
Aira yang sedang membuka kunci kamarnya menoleh kepada Meylani yang sedang berjalan menghampirinya. Mereka pub masuk ke kamar Aira.
"Kamu kenapa Ra? Ada masalah?" Tanya Meylani khawatir.
"Aku baik-baik saja Mey," Jawab Aira lesu.
Kemudian Aira teringan ponselnya dan segera mencari carinya diseluruh kamar, melihat Aira mencari sesuatu Meylani bingung.
"Kamu cari apa sih?" Tanya Meylani.
"Ponselku, apa kamu bisa menelpon ponselku?" Pinta Aira pada Meylani
"Baiklah sebentar," Meylani segera membuka ponselnya dan mencari kontak Aira. Kemudian segera melakukan panggilan telepon ke nomer telepon Aira. Tak lama terdengan bunyi dering telepon dari ponsel Aira yang ternyata berada dibawah tempat tidur.
"Akhirnya ketemu juga." Ucap Aira senang. Dia membuka ponselnya namun hanya ada 2 pesan dan 1 panggilan. Pesan dan panggilan itu dikirim Aris tadi malam ketika Aira sedang menelpon dengan Mamanya.
Aira terduduk lemas, kalau saja semalam dia membuka pesan dari Aris, dia tak akan seperti orang bodoh yang berjalan- jalan ditaman memakai helm pesepeda.
"Kamu baik- baik aja?" Tanya Meylani memastikan.
"Ah iya maaf ya Mey, tapi aku lelah dan ingin tidur" Ucap Aira
"Yasudah, beristirahatlah, Aku ke bawah dulu," Pamit Meylani dan kemudian meninggalkan Aira sendiri.
Aira merebahkan tubuhnya setelah sebelumnya mengganti pakaian dan membersihkan dirinya. Dia kembali meraih ponselnya dan membaca ulang pesan dari Aris. Dia membatin, urusan apa yang sangat mendesak sampai Aris membatalkan janji dengannya. Padahal ini adalah hari pertama mereka berpacaran. Namun Aris juga belum memberikan kabar apapun sampai siang ini.
Aira memutuskan untuk menelpon Aris. Namun nomer telepon Aris tidak Aktif.
◇◇◇
__ADS_1
Sementara itu dirumah sakit.
Ressa sudah siuman pagi hari dan melihat Aris tertidur disofa menemaninya. Setelah perawat mengganti perban kepala Ressa, Aris terbangun.
"Sayang, Maaf aku tertidur." Ucap Aris menghampiri Ressa
"Kenapa Mas gak angkat telepon dariku? Harusnya Mas jangan pulang telat terus dong!" Ressa kesal, karena jika saja malam itu Aris pulang cepat, dia tak akan mengalami hal buruk seperti ini.
"Mas minta maaf ya," Ucap Aris mencium kenibg Ressa.
"Yasudah, mau bagaimana lagi. Tolong ambilkan minum untukku." Pinta Ressa.
Aris mengambilkan air dan memberikannya kepada Ressa. dia meminumnya perlahan karena belum sepenuhnya pulih.
"Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam tadi?" Aris ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ressa menghela nafas panjang dan memalingkan wajahnya.
"Nanti saja, Aku lelah" Ucap Ressa mengelak.
"Jangan sembunyikan masalahmu dari Mas, sayang" Ucap Aris membelai kepala Ressa. Namun Ressan tetap terdiam dan belum ingin menceritakan yang sebenarnya terjadi.
Waktu menjelang siang, Aris mengambil ponselnya dan berniat akan menelpon ke Pak Wisnu untuk menggantikannya rapat sore dan malam nanti. Dia pun mencari kontak Pak Wisnu dan menelponnya.
"Iya Pak Aris, ada yang bisa saya bantu?" Jawab Pak Wisnu disebrang telepon
"Saya ada urusan keluarga mendadak, Saya minta tolong untuk handle meeting nanti sore dan meeting dinner nanti malam." Ucap Aris
"Baik Pak, akan saya urus." Ucap Pak Wisnu
"Oke terimakasih, hari ini saya tidak masuk dulu." Ucap Aris mengakhiri pembicaraan dan kemudian mematikan telepon. Mendengar suaminya akan izin tak masuk kerja, Ressa merasa bersalah.
"Mas, jika mau berkerja, bekerjalah, aku tak apa- apa sendirian," Ucap Ressa pada Aris. dia terdiam dan menatap Ressa, kemudian duduk disamping tempat tidur Ressa.
"Mas kerja buat kamu, jadi kamu itu lebih penting dari pekerjaan Mas." Ucap Aris sambil menatap dalam mata Ressa. Mereka bertatapan beberapa saat hingga keduanya saling tersenyum. Aris menggenggam tangan istrinya seolah memberikan kekuatan agar dia segera pulih.
Perut Aris berbunyi menandakan kalau dia lapar.
"Mas laper ya?" Ucap Ressa yang juga mendengar suara perut Aris yang keroncongan.
__ADS_1
"Ah kamu tau aja," Jawab Aris sambil mencubit hidung Ressa.
"Mas izin ya cari makanan diluar, tapi Mas gak akan lama. Mas cuma beli makanannya dan akan makan disini sama kamu. Sebentar lagi juga jam makan siang, pasti makanan untukmu segera diantar." Tutur Aris
"Iya Mas, sekalian kalau boleh Aku titip beliin ikat rambut sama sisir. Rambutku terasa tak nyaman." Pinta Ressa.
Aris meninggalkan Ressa sebentar untuk mencari makan dan menuju ke minimarket membeli pesanan Ressa. Tak lama dia mendengar bunyi dari ponselnya. menandakan baterai ponselnya habis. Aris lupa tak membawa charger ponselnya.
Aris memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Sesaat setelah ponsel itu mati, Aira menelponnya. Namun Aris tak mengetahuinya dan hanya fokus pada menjaga istrinya saat ini.
◇◇◇
Dikosan Aira.
Aira merasa kesal karena tak dapat menghubungi Aris. Dia curiga namun juga khawatir terjadi sesuatu yabg buruk. Aira belum tau bagaimana kegiayan Aris biasanya. Jadi dia belum tau apakah Aris memang terbiasa menghilang seperti ini.
Mondar mandir didalam kamar, akhirnya Aira mendapatkan ide. Dia kemudia menelpon hotel milik keluarganya itu. Dan yabg mengangkat telepon adalah Jessica.
"Hallo, Bisa bicara dengan Pak Aris?" Tanya Aira tanpa basa basi
"Selamat siang, dengan siapa saya berbicara?" Jawab Jessica
"Ehmm, Saya.. Aira," Jawab Aira ragu- ragu
"Ada keperluan apa Bu Aira?" Tanya Jessica sopan
"Saya ingin bicara dengan Pak Aris." Ucap Aira mulai kesal
"Mohon maaf Bu Aira, Kami informasikan bahwa Pak Aris sedang tidak berada di tempat. Beliau sedang cuti. Ada pesan yang ingin saya sampaikan kepada Pak Aris nanti?" Jawab Jessica dengan lembut.
"Tak ada. Terima kasih. tuut" Aira langsung mematikan teleponnya.
Sebenarnya ada apa? Aira bertanya-tanya dalam hati. Merasa sangat kesal akhirnya Aira menyalakan musik jazz kesukaannya dan berbaring di tempat tdiurnya. Dia memikirkan segala kemungkinan dan berusaha untuk berprasangka baik pada Aris.
Mungkin nanti ketika dia tak sibuk, dia akan menghubungiku. Batin Aira.
Waktu berjalan tanpa terasa Aira tertidur beberapa jam. Dia terlelap karena lelah menunggu kabar dari Aris. Saat terbangun waktu sudah menunjukan pukul 17.15.
__ADS_1
"Wah lama banget aku ketiduran, udah mau gelap aja." Gumam Aira. Dia segera mengambil ponselnya dan memeriksa barang kali ada pesan atau panggilan dari Aris. Namun ternyata nihil. Tak ada kabar apapun dari Aris walaupun hanya sekedar pesan singkat.
Hingga seminggu berlalu dan Aris tak kunjung memberikan kabar apapun pada Aira. Membuat Aira merasa tak berarti.