Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
Eps 41 - Sendirian


__ADS_3

Ressa tertidur setelah menangis hingga matanya sembab. Dia terbangun tengah hari dan beranjak dari tempat tidur menuju ke meja riasnya. Dia duduk dan memandangi wajahnya yang bengkak karena menangis.


Ressa tidak mampu berpikir panjang, dia segera berjalan dengan gontai keluar dari komplek dan menemui Indah di toko bunganya. Sesampainya di toko bunga milik Indah itu, Ressa hanya memandanginya dari jauh, Dia melihat Indah sedang melayani pelanggan pria dengan genit.


"Memang wanita murahan!" Gumam Ressa dalam hatinya. Dia tertegun memandang dengan tatapan nanar. Berbekal Video yang dia rekam sebelumnya saat tidak sengaja melihat suaminya dan Indah bercumbu, Ressa segera inisiatif untuk merekamnya.


Ressa melangkah pasti dan tidak meragukan apapun. Dia masuk ke dalam toko bunga dan Indah secara refleks menyambutnya.


"Selamat da-tang, " Teriak Indah namun terbata karena melihat Ressa yang tampak berantakan dengan mata yang sembab. Disana ada beberapa pelanggan yang tengan memilih bunga.


"Mbak? apa yang terjadi? Kenapa Mbak bera-"


"Plakkk"


Belum sempat Indah menyelesaikan kalimatnya, tamparan Ressa lebih cepat mendarat dipipinya. Pipinya berkedut perih dan panas merasakan tamparan yang dipenuhi amarah itu.


"Apa apaan ini?" Tanya Indah berteriak kesal.


"Ini, Lihat ini!! berani beraninya kamu menggoda suamiku!!" Teriak Ressa. Dia melotot menatap Indah dengan tajam, Indah gemetar namun tetap mengelak.


"Apa maksudmu?" Tanya Indah gemetar karena terpojokkam oleh Ressa yang terus mendorong tubuhnya.


"Kau tidak mau mengakuinya?" Teriak Ressa lagi. Nafas Ressa memburu. Dia benar benar marah.


Para pelanggan toko bunga Indah hanya terdiam melihat apa yang terjadi. Keributan itu mengundang beberapa orang. Tidak sampai disitu, Ressa berbalik dan mengambil Vas bunga ukuran besar dan menghempaskannya ke lantai.


"Aaaakhh" Teriak Indah yang terkena percikan kaca vas bungan yang dilemparkan oleh Ressa.


"Mau mengaku atau tidak?" Tanya Ressa dengan sangat marah. Matanya melotot dengan air mata yang siap membasahi pipinya.


"Kamu sudah gila ya mbak?" Jawab Indah ketakutan dan naik ke meja kasir menghindari menginjak pecahan kaca dilantai.

__ADS_1


Ressa kembali mengedarkan pandangannya mencari sesuatu, matanya melihat Vas bunga yang lebih besar dan melangkah mengambilnya.


"Praanggg"


"Praanggg"


Ressa memecahkan 2 vas bunga besar sekaligus. Dia menangis sambil tertawa, Toko bunga indah berantakan. Lantainya dipenuhi serpihan pecahan kaca dan bunga yang berserakan, juga darah dari kaki Ressa yang tidak menggunakan alas kaki sama sekali.


"Apa kau masih tidak mau mengakuinya?" Teriak Ressa.


Banyak orang melihat kejadian itu diluar toko bunga yang didominasi oleh jendela kaca, Indah panik ketakutan dan tidak ada yang berani melerai karena sepertinya Ressa sangat sulit dikendalikan.


Satpam Komplek segera menghubungi Aris dan memintanya datang. Aris akan datang setelah beberapa puluh menit karena jarak rumah dengan hotel yang memang sedikit jauh.


"Iyaa aku mengakuinya. Aku menggoda suamimu, kau puas?" Isak Indah diataa meja kasir, Dia menangis ketakutan dengan tingkah Ressa yang nekad.


"Ha.. Hahahhaha" Ressa tertawa cekikikan, dia tertawa terbahak bahak membuat semua yang melihat kejadian itu mengira dia gila. Siapa yang tidak gila melihat dengan mata kepala sendiri suaminya bercumbu dengan wanita lain?


Ressa berjalan mendekati Indah dengan kakinya yang bersimbah darah. Indah ketakutan dan berteriak.


"Kau akan mendapatkan balasannya." Bisik Ressa dengan tatapan yang nanar. Dia berjalan keluar dari toko bunga. Semua orang melihatnya heran, dia tidak peduli, saat itu Aris tiba dan melihat kaki istrinya bersimbah darah penuh serpihan kaca.


Ressa hanya menoleh dan kemudian berjalan kembali menuju rumahnya. Aris menghampirinya dengan ragu.


"Kenapa? kamu urus saja wanita murahan itu. Jangan kembali ke rumahku." Ucap Ressa dingin.


Aris terkejut mendengar apa yang Ressa ucapkan, dia hendak mengatalan sesuatu namun Ressa tidak memberikan kesempatan.


"Aku akan buang barang barangmu jika kau tidak mengambilnya didelan rumahku sampai nanti malam." Ucap Ressa dingin.


Dia kembali berjalan dengan lemas dan berlinang air mata. Kakinya yang bersimbah darah memang terasa sakit, tapi lebih sakit hatinya. Dia merasa hancur sehancur hancurnya. Meski Ressa merupakan wanita mandiri, namun dia tidak memiliki sanak saudara.

__ADS_1


Sampai dirumah dia segera mengeluarkan semua pakaian Aris dan barang barang milik Aris. Dia melemparkannya ke halaman rumah. Aris tiba dengan mobilnya dan segera menghentikan apa yang Ressa lakukan.


"Kita obati dulu lukamu, setelah itu aku akan pergi," Ucap Aris menghentikan Ressa dengan memegang tangannya.


"Jangan sentuh aku!" Teriak Ressa menghempaskan genggaman tangan Aris. Ressa menangis air matanya tidak berhenti mengalir. Dia menatap mata Aris, seolah mencari sesuatu didalamnya.


"Mas minta maaf, Mas mengaku salah," Ucao Aris mengakui kesalahannya dan memohon pada Ressa.


"Maaf? kamu bilang maaf?? hah.." Ressa tertawa dalam tangisannya lagi. Dia tidak berhenti mengeluarkan semua barang milik Aris.


"Sayang," Panggil Aris dengan lirih


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" Teriak Ressa dengan suara yang serak. Dia tidak memberikan Aris kesempatan untuk mengatakan apapun.


"Maaf Sayang," Ucap Aris memohon.


Ressa terdiam lalu membalikkan badannya menghadap Aris. Dia meilhat Aris dan tersenyum mengejek. Ressa segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumahnya.


"Bruk bruk bruk, Sayang maafkan aku," Aris mengetuk pintu dengan keras beberapa kali, dia terus memanggil Ressa dan meminta maaf. Ressa menutup telinganya dan segera masuk ke dala. kamar mandi.


Dia menyalakan shower dan membiarkan air mengguyur tubuhnya. Ressa meringkuk dilantai memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya. Dia menangis. Sendirian.


Harinya sakit, baru saja kemarin dia ingin memoerbaiki hubungannya dengar Aris. namun saat ini semua itu menjadi sia sia. Darah mengalir dari luka di kakinya. Ressa segera membersihkan lukanya dan mengeluarkan serpihan kaca yang menancap dikulitnya.


Namun ternyata lukanya serius, sehingga dia merasa harus pergi ke rumah sakit. Dia memesan taksi online dan segera bersiap setelah mandi. Ressa memakai pakaian senyaman mungkin tanpa berhias seperti biasanya.


Saat akan keluar dari rumah, Ressa melihat Aris masih menunggunya didepan rumah. Aris sedang berbicara dengan Bu RW dan beberapa warga lainnya.


Ressa tidak peduli, saat taksi online itu tiba Ressa keluar dan segera naik kedalam mobil. Aris mengejarnya dan menghentikannya dengan memeluknya secara tiba tiba.


"Maaf, Maafkan Mas, kamu jangan pergi." Lirih Aris, dia meneteskan air mata namun Ressa tidak bergeming dan justru melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Kamu mqu kemana?" Tanya Aris saat Ressa masuk ke dalam mobil. Ressa tidak menjawab dan meminta supir taksi online segera berangkat.


Ressa merasa sesak didadanya namun dia sedang tidak ingin melihat Aris.


__ADS_2