Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
SEASON 2 - EPS 11


__ADS_3

Aris mengerutkan dahinya dengan matanya menatap satrio serius, seolah akan marah. Namun tiba tiba dia tersenyum licik sambil mendekatkan dirinya ke Satrio.


"Lebih dari luar biasa, dari semua wanita yang pernah ku temui, dia paling indah, rupa suara dan rasa semua sangat hebat." Bisik Aris berusaha menggambarkan Aira dengan kata kata.


Satrio yang mendengarnya seketika tertawa dan menatap Aris dengan senang. Mereka membicarakan beberapa pengalaman bercinta masing masing dalam perjalanan menuju hotel Air.


Setelah beberapa jam perjalanan, mereka tiba dihotel Air dan menemui resepsionist. Mereka berdua segera mengatakan tujuan mereka untuk bertemu dengan Aira, namun sayangnya Aira belum tiba dihotel Air.


"Bisa saya bicara dengan sekretaris Bu Aira?" Tanya Satrio pada resepsionis itu.


"Maaf Pak, untuk itu Bapak bisa tinggalkan kartu nama atau nomer telepon yang bisa dihubungi kembali. Karena harus buat janji dulu " Terang resepsionist cantik dengan ramah.


"Baiklah, ini kartu nama saya. Katakan saya ingin membicarakan penawaran bisnis," Ucap Satrio dengan sopan, lalu menghampiri Aris yang ternyata sedang menatap air yang mengalir seperti air terjun didinding hotel Air.


"Memang selera yang unik, jika di dukung dengan modal keuangan akan menjadi sesuatu yang hebat bukan?" Gumam Aris pada Satrio yang juga menatap keindahan air yang mengalir didinding itu.


"Benar, beruntung sekali wanita itu punya orang tua yang hebat. Kalau gitu, gimana kalau kita survey tanah yang sebelumnya sudah saya ceritakan?" Ajak Satrio pada Aris untuk segera meninggalkan hotel Air. Aris mengangguk dan mengikuti Satrio berjalan keluar hotel.


Namun, baru saja mereka sampai pintu depan, mobil Aira tiba didelan lobby hotel. Ajudannya membukakan pintu mobil dan Aira bersama Elisa putrinya. Mereka memakai baju berwarna hitam senada dengan kaca mata hitam pula, namun yang membuat mereka terlihat mencolok adalah ikat rambut berwarna merah cerah.


Aris baru kali itu melihat jelas wajah Elisa, Dia terdiam menatap Elisa beberapa saat, hatinya terasa berdesir. Apalagi melihat Elisa tersenyum pada Mamanya, Aris merasa berdebar.


Aira menuntun tangan Elisa masuk ke Hotel, dia segera sadar bahwa Aris dan teman lelakinya sedang menatapnya, awalnya Aira terdiam, namun dia segera kembali berjalan dan menghiraukan Aris yang masih terpaku karena melihat Elisa.


Satrio segera berusaha menyapa Aira, namun dihalangi oleh ajudannya. Aira terus berjalan masuk bersama Aira dan beberapa ajudan yang lain.


"Bu Aira, saya mau bicara tentang penawaran bisnis," Ucap Satrio dengan lantang, dia berharap Aira mau berbicara dengannya meskipun hanya sebentar saja.


Aira berhenti berjalan, kemudian berbalik menoleh pada Satrio, dia kemudian berbisik pada salah satu ajudannya dan kemudian lanjut berjalan menuju lift.


Setelah pintu lift tertutup, ajudan Aira menghampiri Satrio. Satrio optimis dia terlihat senang saat ajudan Aira menghampirinya dan membisikkan sesuatu, namun seketika raut wajahnya berubah drastis. Aris melihat itu dan mengerti, bahwa Aira sudah pasti mengusir mereka berdua.


Ajudan Aira menunjukan pintu keluar dengan sopan pada satrio dan Aris, tebakan Aris benar, Aira meminta ajudannya untuk menyuruh Satrio dan Aris pergi tanpa membuat keributan, karen tidak ingin tamu hotel merasa tidak nyaman.


Trntu saja dengqn sikap itu, Satrio merasa terhina. Raut wajahnya sangat marah saat masuk ke mobil bersama Aris.


"Kenapa? Apa yang dikatakan Laki laki kekar itu?" Tanya Aris penasaran sambil menepuk pundak Satrio yang tengah geram sambil meremas kemudi mobil.


"Dia bilang apa coba kau tebak?" Satrio sinis, melihat itu Aris terkekeh.


"Memangnya apa?" Tanya Aris tertawa melihat Satrio yang kesal


"Bagaimana bisa saya bekerja sama dengan orang yang senang membuat keributan? lebih baik pergi dan buktikan anda pantas," Ucap Satrio menirukan apa yang diucapkan Aira pada ajudannya.


"Dia bilang begitu? Wah benar benar hebat!" Aris tertawa kagum

__ADS_1


"Hebat? Itu bukan hebat, tapi sombong!!" Gerutu Satrio memukul kemudi mobilnya, "Aku merasa terhina sekali," Tambahnya.


"Aku tidak menyangka Aira akan jadi wanita hebat seperti ini, terlepas dia kaya raya, aku pikir dia hanya anak manja yang cuma bisa merengek sama Mama Papanya yang punya segalanya.




Sementara itu dikantor Aira, elisa berlarian riqng diruangan Aira yang luas.



"Sayang, kalau Elisa lari larian terus nanti Elisa terjatuh," Baru selesai Aira mengatakannya, benar saja Elisa terjatuh karena tersandung kaki meja.



"Mana yang sakit?" Tanya Aira menghampiri Elisa yang terdiam sambil duduk memegangi jemari kakinya.



"Jari Elisa sakit Ma," Elisa tidak menangis, namun terlihat jelas sekali kalau dia menahan air matanya dengan menggigit bibir bawahnya.




"Kalau Elisa mau nangis, nangis aja gak apa apa sayang. Kalau merasa sakit terus menangis itu boleh kok." Ucap Aira lembut mengecup kening putrinya.



"Elisa ingin seperti Mama yang gak cengeng," Jawab Elisa polos, mendengar apa yang Elisa katakan, Aira juga ingin menangis. Kemudian memeluk Elisa, Aira menggigit bibir bawahnya menahan diri agar tidak menangis.



Saat itu Aira sadar, bahwa apa yang Elisa lakukan adalah meniru dirinya. Elisa kecil mungkin sering melihatnya menahan tangisan dengan menggigit bibir bawahnya.



"Elisa mau makan buah?" Aira berusaha mengalihkan pikiran Elisa dari rasa sakit di kakinya serta rasa pilu yang ada dihatinya. Elisa menjawab dengan menganggukan kepalanya.



"Ini strawberry kesukaan Elisa," Ucap Aira pada Elisa sambil membukakan kotak bekal yang dibawanya dari rumah.


__ADS_1


Elisa girang dan segera memakan strawberry itu dengan lahap, Qira merasa lega dan berjalan ke meja kerjanya, dia duduk disana melihat ada beberapa file yang harus dia tinjau. Aira memperhatikan Elisa sambil meninjau file yang menumpuk didepan matanya.



Setelah hari mulai gelap, Aira membawa Elisa pulang dari kantor. Namun dalam perjalanan Elisa ingin mampir ke pusat perbelanjaan. Aira meminta ajudannya untuk menuju pusat perbelanjaan.



"Nanti Elisa mau beli barbie sama telepon ya Ma," Ucap Elisa meminta pada Mamanya.



"Kan Elisa sudah punya banyak barbie sayang," Jawab Aira sambil mengelus kepala putrinya itu.



"Tapi Elisa mau barbie yang warna biru, Elisa belum punya," Rengek Elisa dengan tatapan mata yang tidak bisa Aira tolak.



"Baiklah, Elisa boleh beli barbie lagi, tapi barbie yang lama nanti dikasih ke anaknya mba ya?" Ucap Aira, Elisa mengangguk.



Sesampainya di pusat perbelanjaan Aira menuntun Elisa berjalan jalan melihat lihat, ajudannya mengikuti dibelakang mereka. Namun tiba tiba Elisa berlari saat melihat barbie yang dia inginkan.



"Elisa sayang, jalannya pelan pelan dong, Mama ketinggalan." Teriak Aira sambil berlari kecil mengikuti Elisa. Namun karena kurang hati hati, dia menabrak seseorang tanpa disengaja.



"Bruughhh,"



Wanita itu tersungkur, Aira tidak fokus karena takut kehilangan jejak Aira. Ajudannya dengab sigap mengejar Elisa sementara Aira akqn menolong wanita yang dia tabrak.



"Maaf ya saya tidak... sengaja," Ucapan Aira terputus beberapa saat, dia bertatapan dengan wanita yang ditabraknya itu.



"Ka.. kamu.." Ucap wanita itu terbata.

__ADS_1


__ADS_2