
Saat itu Ressa berfikir...
Apa memang semua ini salahku?
Apa memang aku yang tidak becus menjadi istri?
Apa aku terlalu payah?
Apa yang salah?
Apa aku salah mencintai Aris?
Apa aku salah menikahinya?
Apa karena aku jarang memasak untuknya?
Berjuta pertanyaan berkumpul didalam otaknya, berputar putar seolah siaran radio yang diulang ulang. Semua yang terjadi padanya ini, apakah memang salahnya?
Tidak, bukan aku yang salah
Bukan Aku yang berselingkuh
Bukan Aku yang berkhianat
Aku hanya tidak mengerti mengapa ini terjadi
Mata Ressa menatap mata wanita dihadapannya, tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya. Bibirnya tidak dapat mengatakan apapun, hanya suara erangan kesakitan yang keluar dari mulutnya.
Tubuh Ressa melemas dan terjatuh pingsan setelah tiba tiba terdengar suara teriakam seorang wanita yang menyebabkan Wanita dihadapannya melepaskan cekikannya.
Mata Ressa masih bisa melihat meski samar, beberapa orang masuk ke dalam rumahnya dan menolongnya. Telinganya berdengung meski terdengar suara teriakkan dan seseorang memanggil namanya, Ressa tak mampu menjawabnya.
Dunia memang sejahat itu, belum selesai rasa sakitnya dikhianati, sekarang Ressa harus menghadapi wanita gila yang berusaha membunuhnya.
__ADS_1
Malam itu Aris menuju rumah dengan membawakan kue dan buket bunga untuk Ressa, dia berharap Ressa akan pelan pelan membuka hatinya lagi untuk Aris. Setidaknya sudah sebulan lebih sejak kejadian itu, Aris yakin Ressa sudah mulai melupakannya.
Dia tiba didepan rumah dan melihat pintu masuk yang terbuka, saat akan masuk seseorang menepuk bahunya.
"Pak Aris baru pulang?" Tanya Pak RW dan Bu RW
"Ah iya selamat malam, pada abis jalan jalan ya?" Tanya Aris menyapa.
"Ah iya keliling keliling komplek aja, tapi tadi saya lihat Mbak mbak toko bunga itu masuk kerumah Pak Aris." Ucap bu RW,
"Hush, gak bokeh ikut campur" Senggol Pak RW kepada istrinya agar tidak banyak bicara.
"Hahaha tidak apa apa pak, saya ingin..."
Bruuggg
Belum selesai Aris mengatakan kalimatnya, terdengar suara keributan dari dalam rumah, mereka bertiga bertatapan dan segera berlari kedalam rumah.
"Aakkkhhhhh" Bu RW berteriak melihat apa yang terjadi didalam rumah, Indah sang pemilik toko bunga sedang mencekik Ressa, istri Aris.
Mata Aris terbelalak melihat apa yang Indah perbuat dan segera menarik cengkraman tangan Indah dileher Ressa. Indah seketika memeluk Aris ketika melihatnya, namun Aris menghempaskannya dan segera meraih Ressa yang yang terkulai lemas.
Indah menarik Aris dan berteriak seperti orang gila. Bu RW da Pak RW memegangi Indah yang sepertinya sangat stres. Aris tidak peduli dengan Indah, dia segera mengendong Ressa dan membawanya ke mobil.
"Bertahan ya sayang, aku mohon," Aris benar benar khawatir, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Sementata Indah diamankan di rumah Pak RW agar tidak kabur. Para warga juga banyak yang berkumpul dan menghakimi indah yang menangis menjerit jerit.
Indah sangat stres karena apa yang Ressa lakukan pada toko bunganya beberapa minggu yang lalu. Juga karena dia menjadi bahan ejekan dan bullyan para ibu ibu komplek yang mengatakannya sebagai pelakor.
Toko bunganya pun menjadi sepi karena setiap kali ada seseorang yang berniat membeli selalu saja dihalangi oleh tulisan tulisan didinding dan kaca tokonya.
"Toko Bunga Pelakor, Penggoda suami orang!!"
Kalimat itu tertulis dengan sangat besar didinding toko bunga indah. Bahkan anaknya yang masih duduk di bangku SD juga menjadi bulan bulanan warga yang kesal terhadap dirinya.
Meskipun video yang Ressa rekam tidak disebar luaskan, namun mereka melihat bagaimana Ressa mengamuk mengacak acak toko bunga Indah hari itu. Bahkan para warga merasa iba karena kaki Ressa bersimbah darah.
__ADS_1
Indah sangat tertekan dengan lingkungan yang meyudutkannya. Bahkan dia sudah tidak bisa membuka toko bunganya lagi karena merasa sangat malu. Dia sering kai menjelaskan pada ibu ibu yang menyindirnya bahwa Dia tidak menggoda Aris, Dia meyakinkan bahwa Dia dan Aris saling mencintai, dan Aris yang pertama mendekatinya.
Namun tetap saja, dia hanya pihak ketiga yang tentu saja bersalah, Apapun alasannya, perselingkuhan tetap saja salah. Tidak ada yang mau mendengarkan penjelasannya. Justru dia semakin dibenci dan media socialnya dipenuhi hujatan ibu ibu komplek yang justru semakin menyebar ke semua lingkungan, bahkan lingkungan ibu ibu sekolah anaknya. Sehingga anaknya juga mengalami pembullyan disekolahnya.
Indah terisak berlutut dirumah Pak RW. Dia dikurung sendirian didalam kamar. Khawatir dia akan kabur karena telah melakukan pencobaan pembunuhan. Indah teringat saat pertama kali mengenal Aris.
Sore hari itu hujan mengguyur bumi begitu deras, toko bunganya didatangi seorang pria tampan dan atletis masuk dengan keadaan basah kuyup.
"Selamat sore, maaf apa saya bisa ambil pesanan istri saya Ressa." Tanya Aris sambil menahan rasa dingin yang menyerangnya.
"Wah rangkaiannya belum selesai, Silahkan ditunggu dulu ya." Indah tersenyum, dia terkesima melihat Aris yang tampan.
"Baiklah kalau begitu, saya boleh pinjam handuk?" Tanya Aris
"Boleh," Indah meminjamkan handuknya dan mereka pun berbincang ditengah hujan deras sambil merangkai bunga.
Awalnya Indah dan Aris tidak melakukan hal apapun, hanya saja semakin hari, Aris semakin sering datang ke toko bunganya hanya untuk menyapa.
Indah memang memiliki tubuhny yang bagus, lekukan tubuhnya seperti gitar spanyol. Bagian tubuhnya lebih besar setelah melahirkan dan menyusui anaknya.
Indah juga bercerita tentang perceraiannya dengan suaminya yang disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga. Aris merasa iba dan membelai rambutnya malam itu.
Ya, malam itu awal mula perselingkuhan mereka dimulai. Malam dimana Ressa meminta Aris mengambilkan pesanan bunganya setelah pulang kerja sebelum ke rumah.
Malam itu juga hujan deras, namun toko bunga itu hangat bahkan nyaris panas dengan aktifitas Indah dan Aris. Suara jeritan tertahan dari Indah malam itu tidak terdengar sama sekali keluar toko karena hujan yang deras.
Indah sangat menikmatinya, karena sudah sangat lama sejak terakhir kali dia bercinta. Indah merasakan setiap sentuhan itu memberikan getar yang membangkitkan deru nafas yang tidak teratur.
Sejak saat itu, Indah sering kali berharap Aris mampir ke tokonya untuk sekedar membelainya. Aris selalu berkata kata manis dan tidak pernah berkata kasar kepadanya. Sikap Aris yang lemah lembut membuat Indah semakin jatuh hati.
Meski Indah tau Aris adalah Suami dari Ressa, pelanggan tetapnya, Indah tidak peduli, karena dia yakin Aris juga mencintainya karena sikapnya yang memperlakukan Indah dengan baik.
Setidaknya begitu pemikiran Indah sebelum badai ini melanda. Sekarang hidupnya berantakan. Dia pikir Aris akan membelanya, namun justru Aris meninggalkannya dan lebih memilih istrinya Ressa.
Indah menangis sesenggukan di pojok kamar itu.
__ADS_1
"Aku pikir Mas mencintaiku, Aku pikir Mas mencintaiku, Kamu jahat Mas, Aku sangat mencintaimu Mas, pantas saja selama ini kamu tidak pernah lupa memakai pengaman dan memberiku pil KB, itu karena kamu tidak ingin bersamaku. Padahal katamu istrimu mandul, aku bisa memberikan anak berapapun kamu mau, Tolong jangan tinggalkan aku Mas. Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku, Kalau tidak, aku akan membunuh istrimu," Ceracau Indah
"Aku akan bunuh istrimu....!!" Teriak Indah sambil menangis sendirian didalam kamar yang terkunci itu. Mata Indah terbelalak melihat ke sekelilingnya seperti orang gila. Tidak. Dia benar benar sudah gila.