Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
SEASON 2 - EPS 6


__ADS_3

Ressa kembali dari pasar berjalan kaki, karena angkuran umu. yang dia naiki turun dijalan raya, sayang sekali rumah Ressa saat ini tidak dilalui angkutan umum.


Saat berjalan sendirian dengan dua kantong besar ditangan kanan dan kirinya, Ressa merasa kesusahan, namun tanpa disangka sebuah mobil mengklakson dari belakang.


Ressa memberikan jalan untuk mobil itu melaluinya, namun ternyata mobil itu berhenti disampingnya. Kaca mobil turun dan seorang pria tampan didalamnya tersenyum pada Ressa.


"Permisi, saya mau cari alamat Aris, ibu tahu?" Tanya pria itu.


"Aris? Aris rahman?" Tanya Ressa memastikan.


"Ya betul, ibu kenal?" Tanya Pria didalam mobil melepaskan kaca mata hitam yang dia kenakan.


"Saya istrinya," Jawab Ressa tersenyum ramah.


"Wah kebetulan sekali, ibu naik saja, biar saya antar kerumah sekalian bertemu suami ibu ya," Ucap Pria itu membukakan kunci pintu movil. Ressa mengangguk dan masuk ke dalam mobil.


"Maaf ya saya bawa belanjaan," Ucap Ressa merasa tak nyaman karena belanjaannya.


"Santai aja bu, arahnya kemana ya?" Tanya Pria itu, kemudian Ressa menunjukan jalan.


Sampai dirumah, Ressa mempersilahkan pria itu masuk untuk bertemu dengan Aris. Aris yang melihat Ressa turun dari mobil mewah segera keluar dan berniat memarahi istrinya.


"Kamu! Berani beraninya bawa pulang laki laki padahal aku ada dirumah!" Teriak Aris sebelum melihat pria yang mengantar Ressa.


"Kamu apa apaan sih Mas, dengerin dulu," Bisik Ressa, tidak ingin pria tadi mendengar. Sementara itu, Pria berkaca mata hitam belum keluar dari mobilnya dan memperhatikan Aris.


"Ternyata kamu udah gak sehebat dulu, katanya marketing hotek paling handal. Masa kaya begitu? Om Bram pasti salah orang." Batin Pria itu sebelum Aris mengetuk kaca mobilnya dan membuyarkan lamunannya.


"Keluar kamu!" Teriak Aris mengetuk tidak sabar.


Akhirnya pria itu keluar, Aris menatapnya dari atas hingga bawah, semua pakaiannya bermerk. Dia tampan terurus sama seperti dirinya saat dulu.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Satrio, keponakan Om Bram," Ucap pria bernama Satrio yang mengajak Aris berjabat tangan.


"Anda ini siapa?" Tanya Aris heran


"Pak Aris pasti tidak kenal saya, tapi mungkin ingat Om Bram, dia dulu rekan bisnis saat project hotel dimedan." Ucap Satrio mengingatkan Aris.


"Bram? Bram pemborong itu?" Tanya Aris mulai ingat.


"Nah iyaa, betul sekali." Ucap Satrio tertawa karena akhirnya Aris mau menjabat tangannya.


Setelah kesalahan fahaman kecil itu, akhirnya Satrio dipersilahkan masuk ke dalam rumah mereka. Satrio membicarakan maksud kedatangannya menemui Aris dan menceritakan apa yang dibicarakan Om Bram tentang Aris padanya.


Saat hari mulai petang, Satrio pamit pergi setelah banyak perbincangan hingga menghabiskan beberapa gelas kopi hitam.


"Terima kasih banyak Pak Aris, saya harap Bapak mau bekerja sama dengan saya dan Om Bram," Ucap Satrio menjabat tangan Aris saat berpamitan.


'Saya akan pikirkan dulu ya Pak Satrio, saya akan kabari dalam dua hari." Ucap Aris tersenyum ramah.


Saat menatap Ressa mobil Satrio meninggalkan rumah mereka, Aris merapihkan kertas yang berserakan hasil diskusi dengan Satrio. Ressa kemudian menarik tangan Aris.


"Apa?!" Gerutu Aris.


"Jangan mulai lagi, kamu mau orang orang itu datang lagi dan menghajar kamu? Bisa kan gak ngusik keluarga itu lagi?!" Ucap Ressa mulai kesal.


"Kamu tenang saja, aku bukan mau mengusik, cuma ingin mengembalikan apa yang sudah mereka ambil dariku," Kata Aris menatap Ressa tajam.


"Terserah, tapi kalau kamu mau berusan sama mereka lagi, jangan bawa bawa aku. Tinggalkan aku." Ucap Ressa mulai terisak. matanya berkaca kaca.


Ressa memang masih sangat mencintai Aris, meskipun keadaan Aris saat ini sedang sulit, Ressa tetap menemaninya. Bahkan saat Aris dicari cari oleh orang suruhan Bos Adjie untuk menagih uang yang dia gelapkan, Ressa rela menjual pabriknya dan kehilangan bisnisnya untuk menutupi kesalahan Aris.


Beberapa tahun belakangan ini sangat sulit, belum lagi Ibu Aris meninggal karena shok berat mendengar Aris yang akan dipenjara karena penggelapan dana.

__ADS_1


Ressa kehilangan segalanya, dan berharap Aris berubah setelah melalui semua ini, tapi ternyata semakin buruk. Aris justru seperti sampah yang hanya menjadi penghias tempat tidur. Dia hanya datang saat ingin kebutuhannya terpenuhi, setelah itu dia tidak peduli oada kewajibannya terhadap Ressa.


Meski berat, Ressa tetap bertahan. Meski Aris hanya membuatnya emosi setiap hari, Ressa tetap mencintainya. Ressa tetap mencuci pakaiannya, memasak untuknya, merapikan rumah, mencari nafkah dengan buka warung kecil bahkan melayani kebutuhan biologisnya setiap kali Aris memintanya.


Ressa ingin mendengar apa yang akan Aris ucapkan, Ressa berharap Aris berhenti dan menerima keadaan mereka saat ini. Setidaknya mulai berbuat baik lagi pada Ressa seperti awal pernikahan mereka.


"Yaudah, aku bakalan pergi dari rumah ini, kamu gak usah nyariin." Tegas Aris ketus. Seketika hati Ressa terasa sakit, dadanya sesak. Ternyata memang Aris sudah tidak mencintainya lagi.


"Mungkin aku ini hanya pembantu dan pelacur gratis bagi kamu Mas," Batin Ressa sambil menahan tangis dan segera masuk ke kamar.


Ressa benar benar sakit hati, sedari tadi dia mendengarkan apa yang dibicarakan Aris dan Satrio, dia tidak ingin Aris hancur kedua kalinya. Tapi Aris tidak mau mendengarkannya. Aris malah mau meninggalkan rumah. Lagi lagi Ressa kecewa.


Aris duduk didepan warung dan memikirkan rencana yang akan dia susun bersama Satrio.


"Memang benar relasi itu sangat penting, untung saja aku berhubungan baik dengan Pak Bram waktu itu." Batin Aris samvil tersenyum penuh pengharapan. Aris menatap kartu nama yang diberikan Satrio.


Satrio Pamungkas Santoso


CEO Hotel Kharisma Indonesia


Aris mengetik nomer telepon yang tercantum di kartu nama itu kedalam ponselnya dan menyimpan nomer telepon Satrio.


"Rencana ini harus benar benar matang, jika saja rencana ini berhasil, aku bisa menemui Aira dan anakku dengan bangga, gak akan malu seperti ini. Dan mungkin aku juga gak akan diusir sama bodyguard bodyguard sialan itu." Batin Aris tersenyum licik.


Aris sama sekali tidak peduli bahwa istrinya menangis didalam kamar, bahkan dia tidak menyadari Ressa belun keluar kamar semenjak sore tadi. Aris menutup warung saat pukul 8 malam.


Saat melihat meja makan yang kosong, Aris baru sadar kalau Ressa tidak keluar kamar. Aris mencari Ressa kedalam kamar, namun Ressa tidak ada disana. Aris berjalan menuju kamar mandi dengan tergesa gesa, disana juga tidak ada Ressa. Aris mencari ke seluruh ruangan didalam rumah, tapi Ressa tetap tidak ada.


"Kemana sih? Bukannya masak malah ngilang," Gerutu Aris mencaei Ressa keluar rumah. Namun karena hari sudah gelap, Aris memutuskan untuk kembali kerumah.


"Nanti juga pulang kali," Ucap Aris kembali kerumah.

__ADS_1


__ADS_2