Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
EPS 30 - KASIH SAYANG ORANG TUA


__ADS_3

Aris terkejut mendengar apa yang Mimi ucapkan, namun belum sempat Mimi menjelaskan lebih detail, dokter yang menangani Meylani keluar dari ruangan tindakan.


"Itu Dokternya keluar," Ucap Silla menunjuk pada pintu ruangan yang terbuka, disusul beberapa orang yang merupakan Dokter dan Beberapa Perawat.


Aira segera berdiri dan menghampiri Adrian yang sudah berdiri didepan pintu sedari tadi. Mimi dan Silla juga bergegas menghampiri dan berharap Meylani baik baik saja.


Dokter berhenti dan menatap sekeliling sambil bertanya,


"Keluarga Saudari Meylani?" Tanya Dokter dnegan suara lantang.


"Saya," Ucap Adrian sigap


"Keadaan Saudari Meylani masih belum stabil, dia kehilangan cukup banyak darah dan kesadarannya belum pulih. Kami membutuhkan donor darah dengan golongan darah AB, apa ada yang segolongan darah?" Tanya Dokter tersebut.


"Saya AB, bisa ambil darah saya saja." Ucap Mimi menawarkan diri.


"Baik, segera ikutin Suster untuk segera donor karena pasien tidak bisa menunggu lama. Pasien bisa ditengok diruang perawatan namun belum sadar. Saya permisi dulu." Pamit Dokter dan Perawatnya diikuti dengan Mimi yang akan berdonor darah untuk Meylani.


"Mbak donor dulu, kalian tunggu saja diruangan Mey," Ucap Mimi kepada Silla, Aira dan Adrian. Mereka mengangguk serentak.


"Ra, maafkan aku, aku harus segera pergi ke toko, Bosku sudah menelpon beberapa kali," Ucap Silla dengan menyesal sambil memegang tangan Aira, Aira mengangguk dan tersenyum.


"Iya pergilah, biar aku yang menjaganya, Mas Adrian juga kalau mau ke kantor pergilah, aku bisa sendiri. Lagi pula ada Mbak Mi disini." Ucap Aira yang mulai tenang.


"Baiklah, kami pamit dulu. Jika butuh bantuan apapun, hubungi saya." Ucap Adrian singkat dan segera pergi bersama Silla.


Aira berjalan menuju Loket Administrasi dan menyelesaikan pembayaran perawatan Meylani, Aira memesan kamar VVIP untuk Meylani agar dapat beristirahat dengan nyaman. Setelah beberapa saat Aira teringat ponselnya dan dia lupa membawa pengisi dayanya.


Aira menghela nafas dan tertegun beberapa menit di ruang tunggu. Lalu dia segera menuju ruang perawatan Meylani. Ketika Aira masuk ke kamar itu, Meylani belum sadarkan diri, dia masih memejamkan matanya dan luka ditangannya sudah dibalut dengan perban.


Meylani tampak sangat pucat. Sesaat Aira terpikir, mungkin Meylani sangat terpukul dengan kabar yang menimpa kedua orang tuanya. Meylani juga tak sanggup melihat mayat kedua orang tuanya sehingga mungkin dia putus asa.


"Mey, jangan takut. Masih ada aku yang akan membantumu," Gumam Aira pelan sambil menatap Meylani yang terbaring lemas dengan wajah yang sangat pucat.


Aira duduk di sofa yang berada diruangan itu dan menyalakan televisi. Aira sangat hafal kalau Meylani senang sekali menonton kartun. Dan Aira segera mencari program televisi yang sedang menayangkan kartun.


Setelah 2 jam berlalu, Mimi datang keruang rawat Meylani dan mendapati Aira tertidur di sofa sambil menonton acara kartun. Mimi membangunkan Aira terburu buru.


"Ra, bangun Ra," Ujar Mimi mengguncangkan tubuh Aira agar terjaga dari tidurnya. Aira membuka mata perlahan dan terkejut melihat Mimi, dan segera duduk.

__ADS_1


"Maaf Mbak Mi, Ira ketiduran." Ucap Aira menahan kantuknya.


"Ponsel kamu tidak aktif ya?" Tanya Mimi dan duduk disamping Aira.


"Iya Mbak, Baterainya habis, aku lupa bawa pengisi daya." Jawab Aira sambil menguap.


"Nih Mbak bawa, pakai dulu saja. Sekalian kamu kabarin dosen, kalian hari ini tidak libur kan?" Ucap Mimi sambil memberikan pengisi daya miliknya dan kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Betul juga, aku lupa hari ini ada beberapa mata kuliah, pinjam dulu ya Mbak Mi," Jawab Aira segera mengisi daya ponselnya yang mati dan kemudian menyalakannya sambil mengisi daya.


Ketika ponsel itu menyala ada 17 panggilan tak terjawab dan 5 pesan singkat. Melihat itu Aira terkejut dan segera melihat history panggilan.


10 panggilan tak terjawab dari Papa


5 panggilan tak terjawab dari Ergy


2 panggilan tak terjawab dari Aris


Papa telepon sebanyak ini? Ada apa? gumam Aira didalam hatinya. Kemudian dia teringat telepon Papanya tadi pagi ketika masih diruang tunggu Unit Gawat Darurat.


"Ah pasti Papa khawatir ya tadi aku nangis," Ucap Aira tersenyum kecil karena merasa beruntung masih memiliki orang tua yang sangat menyayanginya.


Tak kehabisan akan Aira menelpon Mamanya, namun lagi lagi ponsel Mamanya juga tidak aktif. Ada apa ini sebenarnya? pikir Aira.


Namun, belum sempat Aira menelpon kembali kedua orang tuanya, Panggilan masuk muncul, Ponsel itu menunjukan bahwa panggilan itu dari Ergy. Aira segera menerimanya.


"Halo, Ra? kamu dan Meylani gak kuliah?" Tanya Ergy di sebrang sana.


"Meylani dirawat dirumah sakit Gy, Aku minta tolong izinin ke Dosen ya? Aku menemani Meylani disini." UCap Aira pada Ergy. Mendengar apa yang Aira ucapkan Ergy terkejut.


"Ada apa? Kamu berada dirumah sakit mana?" Tanya Ergy singkat


"Di RS xxxxx, Nanti akan ku ceritakan detailnya. Aku minta tolong ya Gy," Ucap Aira lemas, membuat Ergy semakin khawatir dam cemas.


"Okay, tapi please terus kabarin aku perkembangannya ya," Ucap Ergy.


"Okay," Jawab Aira menyudahi panggilan dengan Ergy.


Setelah itu Aira membuka pesan, dan semua pesan itu ternyata dari Aris. Aira membacanya dengan senang.

__ADS_1


"Aira apa yang terjadi?"


"Kenapa tidak aktif?"


"Jawablak jika kamu sudah baca pesan ini,"


"Kamu dimana?"


"Aira, tolong kabari Mas segera,"


Pesan pesan yang singkat, namun karena Aris yang mengirimkannya cukup membuat Aira merasa terhibur. Dia senyum senyum dan segera menggerakkan jemari lentiknya untuk mengetik pesan balasan untuk Aris.


"Aira baik baik saja Mas,"


Aira mengirim pesan singkat itu dan menyalakan mode getar pada ponselnya agar tak mengganggu. Dia menyimpan ponselmya dimeja lalu menghampiri Mbak Mi yang sedang menonton televisi.


"Mbak, Ira agak lapar dan mau beli makanan, Mbak mau ikut atau menunggu disini?" Tanya Aira kepada Mimi yang hampir memejamkan matanya karena efek obat penambah darah yang barusaja dia minum setelah donor darah.


"Mbak titip saja, Mbak agak lemas, Maaf ya," Ucap Mimi. Aira mengangguk dan segera pergi keluar dari ruang rawat. dia menuju kantin untuk membeli beberapa makanan dan minuman.


Setelah selesai berbelanja Aira segera kembali ke ruang rawat membawa 2 kantong belanja berisi beberapa makanan dan minuman. Didalam Ruang rawat ternyata sudah ada Dokter dan 2 ornag perawat yang sedang memeriksa kondisi Meylani dan juga memasangkan donor yang sebelumnya sudah diberikan oleh Mimi.


Aira segera bergabung dan mendengarkan penjelasan Dokter. Dan ternyata Meylani sudah siuman. Melihat itu Aira tersenyum senang.


"Jangan biarkan pasien sendirian, dia sangat tertekan. Pastikan jangan mengungkit hal hal yang mungkin bisa membuat pasien terlalu sedih, terlalu marah, atau terlalu bahagia pun jangan. Usahakan emosinya tetap stabil." Terang Dokter dijawab dengan anggukan kepala oleh Mbak Mi.


Dokter beserta kedua perawat itu kemudian meninggalkan ruangan setelah selesai berbincang sebentar dengan Mimi didepan pintu keluar. Aira segera menghampiri Meylani.


"Mey, kamu mau makan?" Ucap Aira dengan ceria melihat sahabatnya sudah siuman.


"Tidak, aku ingin minum aja," Ucap Meylani pelan karena masih merasa lemas. Aira segera mengambilkan air minum dan memberikam sedotan agar Meylani mudah untuk meminumnya.


"Terima kasih ya Ra, Maafkan aku karena merepotkan semuanya." Ucap Meylani sedih, Aira menghela nafas dan tersenyum.


"Kamu ngomongin apa sih Mey, Aku ada buah anggur, kamu mau?" Tanya Aira mengalihkan pembicaraan agar Meylani tak membahas soal percobaan bunuh dirinya itu.


Mimi memperhatikan mereka dan takjub dengan kebaikan Aira. Meski masih sangat muda, Aira mengerti untuk tidak membiarkan Meylani membahas hal yang akan membuatnya merasa tertekan lagi.


Mimi bergabung dan makan anggur bersama Aira dan Meylani sambil berbincang ringan dengan menceritakan cerita lucu ketika Mimi masih kuliah.

__ADS_1


Tidak terasa waktu berlalu. Hingga pesawat yang dinaiki kedua orang tua Aira sudah tiba.


__ADS_2