
Pagi hari yang cerah, Aira terbangun dengan bersemangat, setelah semalam bertelepon dengan Mama-nya. Dia teringat janjinya dengan Aris untuk bersepeda minggu pagi.
Aira segera bergegas menuju kamar mandi dan pergi mandi, dia berkeramas dan mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Sebelum memakai baju olah raga, Aira mencari ponselnya untuk menelpon Aris. Dia mencari dibeberapa tempat, di tempat tidur, dimeja bahkan dilemari. Namun ponselnya tak ada. Mungkin semalam dia terlalu mengantuk dan tak ingat dimana terakhir menyimpan ponselnya.
Ponselnya tak ditemukan dan jam menunjukan pukul 06.45, 15 menit lagi waktu bertemu dengan Aris. Aira segera mengganti baju dengan baju setelan olahraga miliknya berwarna abu- abu tua dan sepatu berwarna putih.
Aira berlari menuju kamar Meylani untuk memintai tolong menelpon ponselnya agar ditemukan.
"Tok tok tok" Aira mengetuk pintu kamar Meylani
"Mey.. apa kamu sudah bangun?" Tanya Aira dari luar kamar. Namun tak ada suara menyahut dari dalam. sesekali Aira melirik jam tangannya, Aira khawatir Aris sudah menunggunya di tempat mereka janjian.
"Mey.. " Teriak Aira. Namun tetap hening tak ada jawaban. Mungkin Meylani masih terlelap tidur. Karena waktu sudah sangat sempit, 5 menit lagi menuju pukul 07.00, Aira segera berlari menuruni tangga.
Dia bertemu dengan beberapa penghuni kosan yang akan sarapam bersama.
"Mau kemana Ra pagi- pagi?" Tanya Siti salah satu penghuni kosam yang sudah lebih lama tinggal dari Aira.
"Eh Mbak Siti, Saya mau bersepeda. Duluan ya Mbak," Ucap Aira terburu-buru keluar dari kosan, dia berlari menuju taman kecil depan komplek perumahan tak jauh dari kosan.
Semalam Aris dan Aira sepakat bertemu ditaman itu pukul 07.00. Dan ketika Aira sudah sampai, Jam menunjukan pukul 07.15. Dia pikir dia terlambat, namun ternyata Aris pun belum sampai.
Aira duduk di kursi taman, menghela nafasnya yang ngosngosan karena berlari dari kosan. Beberapa orang berlari pagi melewati Aira, mereka memperhatikan Aira yang memakai atribut topi dan pelindung sikut dan lutut untuk pesepeda namun dia tak membawa sepeda. Karena risih dan malu, Aira melepaskan helm dan pelindungnya.
1 jam berlalu, Aris tak kunjung datang, Matahari mulai menyinari dengan sinar yang mulai terik. Aira menghela nafas panjang. Dia tak bisa menghubungi Aris karena ponselnya entah dimana.
"Apa Mas Aris menungguku ditempat lain?" Gumam Aira.
Dia berpikir mungkin Aris menunggunya ditempat lain dan berusaha munghubunginya namun tak bisa. Dia merasa sangat menyesal karena tak menemukan ponselnya. Aira beranjak dari tempat duduknya dan menengok sekeliling, namun tak ada pertanda Aris datang.
2 jam berlalu, Aris masih tak datang. Aira mulai berputus asa. pikirannya mulai berkecamuk, mungkin Aris hanya mempermainkannya. Akhirnya Aira berjalan perlahan kembali ke kosannya karena hari sudah siang, Namun diperjalanan pulang, Seorang pria menepuk pundaknya dari belakang.
"Mas Aris?" Aira segera berbalik dan memeluk Pria itu yang memakai hoodie itu tanpa basa basi.
"Kenapa lama sekali?" keluh Aira.
"Lama?" Tanya pria itu. Menyadari suara itu bukan suara Aris, dia mendongakkan kepalanya dan melihat wajah pria itu. Pria itu tersenyum dan memang dia bukanlah Aris.
Aira melepaskan pelukannya dari pria itu.
"Ah maaf, aku kira orang lain," Aira merasa malu
"Gak apa- apa kok, Kamu menunggu yang namanya Aris itu?" Tanya Pria yang tak lain adalah Ergy teman sekampus Aira.
__ADS_1
"Iya, tapi dia tak datang lagi." Ucap Aira lesu.
"Maksudmu lagi?" Ergy heran.
"Sudahlah, aku pamit dulu," Ucap Aira lesu dan berbalik untuk berjalan pulang.
"Hey tunggu dulu, mau makan ketupat sayur?" Tanya Ergy
Perut Aira yang keroncongan menjawab ajakan Ergy, Aira kembali menoleh dan menatap Ergy lalu mengangguk. Ergy menunjukan jalan untuk menuju ke pedagang ketupat sayur. Dalam perjalanan Aira hanya menunduk menahan tangis, dia kecewa, marah dan menyesal.
"Kenapa?" Ergy khawatir melihat sikap Aira. Namun Aira tak menjawab dan hanya terdiam.
"Laki- laki itu jangan ditunggu. Kalau dia benar- benar cinta, tanpa kamu minta dia akan menjaga perasaanmu." Ucap Ergy dingin
"Cinta itu apa?" Tanya Aira sambil menoleh dan menatap Ergy
"Apa?" Tanya Ergy balik. Mereka bertatapan beberapa saat.
"Kenapa kamu bertanya cinta itu apa?" Tanya Ergy sekali lagi
"Aku tak mengerti apa yang kamu ucapkan. Jika dia benar benar cinta, menjaga perasaanku, Sedangkan, Cinta itu apa?" Tanya Aira mulai meneteskan air matanya.
"Hey jangan menangis," Ucap Ergy tak mengerti ucapan dan alasan Aira menangis. Mereka berhenti berjalan dan Aira menutup wajahnya yang menangis.
Mungkin orang lain tak mengerti alasannya menangis, namun Aira sendiri pun tak mengerti. Mengapa air matanya tumpah saat berbicara dengan Ergy. Rasanya hatinya sakit dan sesak sekali.
Beberapa saat Ergy membiarkan Aira menangis dan menutupi wajah Aira dengan hoodienya yang sebelumnya sudah dia buka. Sampai akhirnya Aira mulai tenang ditandai dengan suara tangisannya yang sudah tak terdengar.
Aira membuka hoodie Ergy dan mengusap wajah nya yang basah karena air mata dengan hoodie Ergy.
"Yuk makan," Ajak Ergy. Tanpa mendengar jawaban Aira, Ergy menggandeng tangannya dan berjalan lagi menuju pedagang ketupat sayur.
Setelah sampai Ergy menyuruh Aira menunggu dan duduk dikursi yang disediakan. Ergy pergi dan memesan 2 porsi ketupat sayur untuk mereka berdua sambil mengambilkan air minum untuk Aira.
"Nih minum dulu," Ergy menyodorkan segelas air kepada Aira. Namun bukannya meminum air itu, dia justru menatap Ergy dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hiks," Aira mulai akan menangis lagi
"Stop, Ayo minum dulu," Ergy menggenggamkan gelas itu ke tangan Aira agar dia segera minum dan merasa lebih baik.
Tak lama, Pedagang ketupat sayur mengantarkan pesanan mereka. Melihat mata Aira yang sembab, pedagang itu menasehati Ergy.
"Den, mohon maaf ini ya bukan maksud ikut campur, anak gadis itu jangan dibikin nangis, kasian sembab gitu. boh dihibur dikasih hadiah, dibahagiain." Kata pedagang sambil menepuk pundah Ergy kemudian kembali membuat pesanan pelanggan yang lain.
__ADS_1
Mendengarnya Aira tertawa kecil, dia merasa lucu karena Ergy dimarahi disebabkan oleh matanya yang sembab.
"Nah gitu ketawa, kan cantik," Ucap Ergy.
"Apaan sih," Aira malu.
"Yaudah makan dulu, biar semangat dan bertenaga nangisnya," Ledek Ergy sambil tertawa kecil.
"Apaan sih nyebelin banget," Aira cemberut, sambil mulai memakan ketupat sayur yang sudah tersaji dihadapannya.
Ergy selesai makan lebih dahulu sebelum Aira, dia menatap Aira, hidungnya merah dan beringus karena menangis tadi, namun itu tak mengurangi kecantikannya.
Aira hanya menatap makanannya dan menyantapnya perlahan, seolah malas makan padahal sebetulnya perutnya merasa lapar. Sadar diperhatikan oleh Ergy, Aira melotot menatap Ergy.
"Apa liat- liat?" Ucap Aira dingin
"Pede banget," Ucap Ergy mengelak dan tertawa kecil.
"Aku sudah selesai makan, Yuk pulang," Rengek Aira
"Yaudah ayo,"
Aira berjalan terlebih dahulu namun setelah melihat sekitar, ternyata dia tak mengenal lingkungan itu, dia berbalik menoleh ke belakang. Ergy tersenyum padanya.
"Ciye gak inget jalan pulang ya?" Ledek Ergy
"Ih kemana arahnya?" Ucap Aira
"Yuk ikutin aku," Ucap Ergy
Dalam perjalanan pulang mereka banyak berbincang tentang kehidupan masa SMA, Aira menceritakan sekolahnya dulu dan begitupun juga dengan Ergy. Mereka mulai akrab.
Setelah sampai didepan kosan, Ergy pamit.
"Yaudah aku pulang dulu ya, selamat istirahat, jangan nangis lagi hehe," Ledek Ergy
"Ih dasar, udah sana pulang," Aira mengusir Ergy. Mereka tertawa bersama. Akhirnya Ergy berbalik dan berjalan pulang.
"Ergy," Panggil Aira
Ergy menoleh
"Makasih ya," Ucap Aira, Ergy mengangguk dan tersenyum. dia melambaikan tangannya dan berjalan pulang.
__ADS_1