Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
EPS 51 - KEBOHONGAN


__ADS_3

Aira terbangun pagi hari, untuk sementara dia tinggal bersama kedua orang tuanya di griya tawang. Aira sama sekali tidak mengetahui perihal para staff yang dimarahi oleh Papanya, Terutama Ibu Sulistya.


"Ma, Papa udah turun ke kantor jam segini?" Tanya Aira yang melihat Mamanya sedang menata makanan diatas meja makan dan melirik ke arah jam dinding besar yang menghiasi ruang tengah. Waktu menunjukkan pukul 06.30.


"Iya sayang, Papa sekalian bersepeda bersama para ajudannya. Apa kamu sudah lapar?" Ucap Mama nya lembut.


Aira memonyongkan mulutnya lalu menggelengkan kepalanya, membuar rambut panjang yang tergerai itu terombang ambing ke kanan dan kiri mengikuti gerakan kepala Aira.


"Kenapa Papa tidak ajak Aira, bersepeda itu adalah kesukaanku Ma," Aira merajuk dan duduk termenung menatap keluar jendela. Dia merasa jenuh dengan kebiasaan yang dia jalani kini. Seharian terkurung diruangan mewah yang sangat pengap untuknya.


"Sayang, jangan marah seperti itu, Papa tidak membangunkanmu karena kamu tertidur lelap sekali. Jika saja kamu terbangun ketika Papa membelai rambutmu, Papa pasti akan mengajakmu bersepeda." Tutur lembut Mama Aira dengan kasih sayang membelai rambut putrinya.


"Tapi tetap saja..." Aira merasa kesal. Dia meraih ponselnya dan mencari cari kontak Aris. Beberapa saat dia menatap layar ponselnya dengan sesekali menggigit bagian dalam bibirnya. Matanya terkadang melirik ke atas seolah sedang memikirkan sesuatu yang serius.


"Kenapa? Apa kamu ingin ponsel baru?" Tanya Mama Aira melihat putrinya menatap ponsel dengan seksama.


"Bolehkah? Ira ingin sekali ponsel samyang type F Bold, yang seperti buku tulis itu Ma," Aira mengucapkannya dengan semangat. Matanya berbinar dengan penuh pengharapan. Mamanya tersenyum dan mengangguk pelan.


"Nanti siang kita beli ya sayang, sekarang kita sarapan dan bersiap. Oke Princess?" Mama Aira sangat lemah lembut. tutur kata dan tatapannya selalu penuh cinta saat memandang putrinya.

__ADS_1


Aira mengangguk dan segera bangkit berjalan menuju meja makan. Mereka berdua sarapan lalu mandi dan bersiap untuk berbelanja. Hingga tak terasa hari mulai siang dan Papa Aira juga sudah kembali.


"Mau pergi kemana sayang?" Tanya Papa Aira kemudian mengecup kening istrinya itu.


"Aira ingin membeli ponsel baru, Papa bisa antar?" Tanya Mama Aira menatap suaminya dengan manja.


"Tentu saja, kita pergi bersama. Aku akan mandi lalu bersiap." Ucapnya seraya bergegas mandi dan bersiap. Mereka pergi bersama berbelanja dan bersenang senang.


Malam harinya, Saat pertemuan bersama tallent untuk model promosi hotel. Aris mempersiapkan ruang meeting dan beberapa staf membantunya merapihkan dan menata ruang.


Ada 6 orang tallent yang diundang untuk mengikuti casting, diantaranya Ananda Nanopo, Celine Syah, Tukita Miryani, Syahlini, Luma Naya dan Natasya Dilona.


Aris mengundang mereka semua dengan undangan resmi dan special. Setelah para tamu undangan datang, Aris segera mempersilahkan mereka untuk masuk ke ruang meeting yang sudah ditata dengan serapih mungkin.


"Papa akan turun sekarang?" Tanya Aira begitu melihat Papanya hendak membuka pintu keluar. Bos Adji menoleh dan tersenyum.


"Iya sayang. Apa kamu bosan dan mau ikut?" Tanya Papanya mengajak Aira keluar.


"Gak kok Pa, Aira disini saja sama Mama." Jawab Aira tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya yang rapi.

__ADS_1


"Bilang saja kamu ingin maen game terus diponsel barumu itu," Ledek Bos Adji seraya pergi keluar dan menuju ke lift untuk turun menemui para tallent.


Sampai dilantai dasar, dia segera menuju ruang meeting bersama para ajudannya. Namun saat masuk ke dalam ruang meeting itu, Bos Adji sedikit tercengang. Dia mengkerutkan dahinya kemudian menghela nafas panjang.


Bos Adji masuk dan menyapa para tamu undangan yang memang sudha mengenalnya.


"Apa kabar Pak Adji, Lama tidak berjumpa," Sapa Celine Syah ramah dan menjabat tangan Bos Adji.


"Kabar baik Nona Celine, sekarang sibuk apa?" Bos Adji ramah dan tersenyum membalas sapaan salah satu tallent. Sesaat kemudian Aris menghampirinya dan berbisik.


"Kita mulai Bos?" Bisik Aris


"Ikut saya," Ucap Bos Adji.


Aris tertegun dan mengangguk, dia mengira rapat akan segera dimulai. Namun Bos Adji justru mengajaknya keluar dari ruang meeting.


"Permisi sebentar ya Nona Celine, saya ada perlu dulu," Pamit Bos Adji


"Silahkan Pak," Celine Syah menganggukkan kepalanya tanda hormat.

__ADS_1


Bos Adji diikuti oleh Aris dan 2 ornag ajudan keluar dari ruang meeting. Bos Adji menatap Aris beberapa saat. Dia mengemeretakkan giginya menahan amarah.


"Ini kan hanya casting, kenapa berlebihan sekali. Ini acara seolah olah mereka semua adalah tallent, kita hanya akan memilih 1 orang." Bos Adji berkata dengan kesal.


__ADS_2