
Mereka bertatapan beberapa lama, Aira segera bangkit dan berjalan meninggalkan Wanita yang sedang terduduk jatuh itu. Wanita yang Aira tabrak adalah Ressa.
Ressa segera berdiri dan mengejar Aira, Ressa menarik lengan Aira untuk menghentikan Aira.
"Kamu mau kabur lagi?" Teriak Ressa membuat pengunjung lain memperhatikan mereka berdua. Aira berbalik, matanya merah hampir menangis.
"Lepas," Aira menepis tangan Ressa yang memegang tangannya.
"Kita harus bicara," Ucap Ressa pada Aira. Mereka saling tatap sampai akhirnya setuju untuk berbicara diluar.
Aira dan Ressa berbicara didalam mobil, diluar mobil Elisa menunggu bersama 4 orang ajudannya yang tengah bermain barbie bersama sama.
Aira menatap Elisa dari dalam mobil sebelum memulai berbicara dengan Ressa.
"Apa yang ingin anda bicarakan," Ucap Aira datar
"Itu anak yang kamu kandung waktu itu? Dia sangat cantik," Ucap Ressa dengan nada yang sedih, karena sampai saat ini dia belum dikaruniai seorang anak. Raut wajahnya sedih.
"Ya, dia anak laki laki brengsek itu." Aira tidak ingin menyebutkan nama Aris.
"Kenapa waktu itu kamu pergi? Padahal Aris pasti meninggalkan aku demi kamu," Tanya Ressa pada Aira yang masih menatap keluar jendela mobil, memperhatikan putrinya.
"Dulu, saya sangat mencintai dia, saya sangat percaya dengan dia, tapi saya terlalu kecewa. Memang salah saya sendiri yang tidak mengecek kebeneran identitasnya terlebih dahulu." Ucap Aira menahan getir, luka lamanya terkorek kembali.
"Kamu tau apa yang lucu?" Tutur Ressa menahan tangis
Aira terdiam, dia menoleh dan melihat mata Ressa yang berkaca kaca.
"Aku ditinggalkan kedua kali karena alasan yang sama, yaitu kamu." Ressa tidak dapat menahan air matanya. Dia mengusap air matanya dengan kaosnya yang usang.
"Dua kali? Saya tidak mengerti," Jawab Aira bingung
"Setelah kamu pergi, Aris sangat marah padaku karena aku juga ingin menceraikannya. Dia terus datang padaku dan akhirnya justru kami tidak jadi berpisah." Ressa menghentikan ceritanya lalu mengusap pipinya yang basah.
"Aku kembali bersama dia, karier yang dia rintis didunia perhotelan hancur harena ayahmu juga bahkan memblacklist dia. Kami bangkrut dan karena dia kesal dia malah main perempuan sampai semua hartanya habis. Dan dia kembali padaku, memohon agar bisa bersama. Dia berjanji akan berubah. Tapi nyatanya..." Isak Ressa
"Nyatanya?" Aira berusaha menyambungkan apa yang Ressa belum selesai katakan.
"Dia memang tidak main perempuan, karena memang sudah tidak punya apa apa lagi, bahkan kami mengontrak, rumah disita karena gagal bayar. Dan ku pikir dia akan sadar, tapi setelah laki laki itu datang, dia malah berambisi ingin mendapatkan kamu lagi," Ucap Ressa tertunduk sambil menghapus air matanya.
"Mendapatkan aku? Sebenarnya apa yang coba kamu katakan?" Tanya Aira bingung.
"Aku gak peduli dengan apa yang terjadi sama dia, aku gak akan kembali padanya, kenapa kamu ingin bicara padaku?" Aira mulai kesal, Aira mengira Ressa menuduhnya merebut Aris.
__ADS_1
"Maksudku adalah, kamu sebaiknya berhati hati, karena kemungkinan Aris dan pria temannya punya rencana jahat. Aku juha tidak peduli lagi dengannya. Sekarang aku mau merintis hidupku sendiri. Aku hanya ingin kamu tau bahwa mereka merencanakan sesuatu padamu. Dan maaf jika aku menangis didepanmu, membuat kamu salah faham. Selama ini aku hanya menangis sendirian, aku minta maaf. Aku permisi." Ressa segera membuka pintu mobil dan ingin keluar. Tapi Aira menahannya.
"Apa kamu baik baik saja?" Tanya Aira pada Ressa.
Pertanyaan itu seperti pedang yang ditusukkan ke dada Ressa, setelah sekian banyak masalah yanh dihadapinya. Tidak ada yang pernah bertanya, apakah dia baik baik saja. Air mata Ressa kembali mengalir, namun dia menganggukan kepalanya.
"Semoga saja," Ressa menjawab dengan suara yang serak menahan tangisan. Segera meninggalkan Aira didalam mobil. Ressa berjalan kembali sambil menangis dan naik ke angkutan umum untuk kembali pulang.
Aira termenung, dia memikirkan ucapan ucapan Ressa, dia sampai tidak sadar Elisa sudah masuk mobil dan menatapnya dengan aneh.
"Mama?" Elisa menyentuh pipi Aira, membuyarkan lamunannya.
"Sayang, ada apa?" Tanya Aira terkejut
"Mama kenapa melamun? Tante itu bikin Mama sedih?" Ucap Elisa memegang kedua pipi Aira dan menatapnya.
"Nggak Kok Sayang," Ucap Aira lembut
"Mama jangan sedih, kan ada Elisa," Ucap Elisa sambil tersenyum lebar. Aira tersenyum mendengarnya dan memeluk Elisa.
"Kita pulang Pak," Ucap Aira pada ajudannya yang akan mengendarai mobil.
Aira dan Elisa berpelukan didalam mobil dan saling bercanda sambil memainkan boneka barbie yang baru saja dibeli Elisa. Aira sejenak melupakan perbincangannya dengan Ressa.
Tring
Ponsel Aira berbunyi, ada pesan masuk.
"Apa aku boleh bertemu lagi sama kamu?"
"Tentu saja," Balas Aira
"Aku akan kerumahmu sekarang,"
"Oke, aku tunggu," Balas Aira
Dikontrakan Ressa
Ressa baru saja sampai dan dia segera mandi. Setelah selesai mandi, dia merebahkan badannya.
"Aku gak nyangka bakalan ketemu wanita itu lagi, sekarang dia tambah cantik, sementara aku makin lusuh. Dulu dia seperti gadis polos sekarang dia seperti wanita sosialita. Rupanya istilah roda berputar itu tidak untuk semua kalangan," Gumam Ressa di dalam hatinya.
__ADS_1
Hari itu sudah malam, Ressa memejamkan matanya berusaha untuk melupakan sejenak beban yang dipikulnya.
Dirumah Aira
Aira sedang mandi busa bersama Elisa, sebelum Oma Elisa memanggilnya karena ada tamu datang.
"Sayang, itu ada tamu. Mandinya kok lama banget," Ucap Oma
"Ini Elisa gamau naik Ma, omelin Ma," Gerutu Aira sambil menaruh buih busa diatas kepala Elisa, Elisa tertawa dan menyipratkan busa kepada Aira yang hendak beranjak dari bak mandi.
"Yaudah Elisa sama Oma, biar Mama ketemu temannya dulu ya," Ucap Oma dengan lembut.
"Om ganteng yang malem itu ya Oma?" Tanya Elisa polos
"Oalah Elisa emang tau apa itu ganteng?" Tanya Aira sambil mengeringkan badannya.
"Tau dong, hehehe," Ucap Elisa sambil tersenyum lebar memamerkan giginya yang masih jarang
" Mama turun dulu, nanti Elisa nyusul ya," Ucap Aira.
"Iya Ma, " Jawab Elisa.
Aira segera berganti pakaian menggunakan piyama kimono bahan satin berwarna biru terang. Rambut pendeknya memakai jepit sedikit kebelakang.
Dia segera turun menemui teman lamanya Ergy. Ternyata Ergy tengah minum kopi bersama Opa Elisa atau Bos Adjie.
"Elisa mana sayang?" Tanya Opa karena melihat Aira turun sendirian
"Elisa gak mau naik dari mandi busa Pa, " Aira tersenyum mengangguk pada Ergy.
"Yasudah, Om tinggal dulu ya Ergy, Sayang Papa naik dulu liat Elisa ya," Ucap Bos Adjie
"Ya Om," Jawab Ergy.
Mereka ditinggalkan berdua, setelah beberapa hari sebelumnya bertemu dirumah dan langsung memeluk Ergy, saat ini Aira merasa canggung.
"Maaf ya kemarin aku gak bisa lama lama karena baru balik juga," Ucap Ergy memecah keheningan.
"Gak apa apa kok," Aira tersenyum menatap Ergy
__ADS_1