
Seminggu berlalu sejak Aris berangkat ke Samarinda. Seharusnya hari ini dia kembali. Namun Aris masih belum memberikan kabar apapun, Pesan yang Aira kirimkan juga tidak ada balasan. Aira semakin gelisah dan cemas.
Dia tidak nafsu makan, bahkan untuk sekedar keluar dari kamarnya pun dia segan. Mual mual hebat hingga muntah beberapa kali. Aira masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Aira juga tidak membalas pesan yang dikirimkan Ergy maupun Meylani. Dia mengunci dirinya didalam kamar. Tak ingin diganggu siapapun.
Sampai Akhirnya suara dering ponsel Aira berbunyi, dan itu adalah panggilan yang dia tunggu tunggu.
"Mas Aris," Gumam Aira melihat kontak panggilan yang ada dilayar ponselnya. Dia senang dan segera duduk kemudian menerima panggilan itu.
"Halo Mas, Mas kenapa.." Ucapan Aira terhenti.
"Halo," Suara seorang wanita disebrang sana.
"I-ini siapa?" Tanya Aira.
"Kamu siapa?" Tanya wanita itu.
"Kenapa kamu pakai ponsel Mas Aris?" Tanya Aira dengan hati bergemuruh.
"Karena kamu terus terusan kirim pesan, jadi aku menelponmu." Ucap Wanita itu santai. Suara wanita itu terdengar lembut.
"Kamu siapa??!!" Teriak Aira, dia mulai terisak.
"Loh kok nyolot sih, biasa aja dong," Ucap Wanita itu meremehkan Aira.
"Tuut tuut tuut"
Aira mematikan teleponnya dan menangis terisak. Dia membenamkan wajahnya pada bantal agar suara tangisannya tidak jelas terdengar keluar.
Tangannya meremas bantal sekuat tenaga, dia menggigit bibirnya, hatinya sakit. Air matanya membasahi kain sarung bantalnya. Hatinya benar benar hancur. Pikirannya kacau balau. Dia tidak bisa berhenti memikirkan hal hal buruk yang mungkin Aris lakukan.
Setelah beberapa saat Aira kembali membuka ponselnya karena mendengar suara notifikasi pesan masuk. Dan ternyata yang mengirim pesan itu adalah Aris.
Aira membuka pesan itu, Tangisnya makin menjadi dan dia berteriak histeris. Pipi dan hidungnya memerah menahan amarah. Aira menutup mulutnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
Aira menangis sejadi jadinya. Sampai dia tidak sadar bahwa beberapa penghuni kosan berkumpul didekat kamarnya. Meylani juga ada disana. Semua penghuni kosan meminta Meylani untuk masuk dan membantu Aira jika Aira sedang kesusahan.
Akhirnya setelah mereka rasa Aira mulai sedikit tenang. Meylani mengetuk pintu kamar Aira.
"Ra, Aku masuk ya," Meylani mengetuk pintu kamar Aira. Namun Aira tak menjawab dan terus menangis. Mbak Mi juga naik ke atas dan berkumpul bersama penghuni kos lainnya.
Akhirnya mereka bersepakat untuk tidak mengganggu Aira dulu, setidaknya untuk satu jam kedepan. Jika dalam satu jam Aira masih histeris, Mereka akan membuka paksa kamar Aira dengan kunci cadangan.
Namun belum satu jam, Aira membuka pintu kamarnya. Dia membiarkan pintu kamarnya terbuka.
"Ra? kamu kenapa?" Meylani khawatir.
Aira tak menjawab pertanyaan Meylani, dia hanya terdiam dengan tatapan kosong. Matanya sembab, rambutnya kusut dan bahkan pakaiannya tidak rapi.
"Kita bicaea didalam ya," Ucap Meylani merangkul Aira kembali ke kamarnya, Dia menuntun Aira duduk dipinggir tempat tidurnya. Meylani mengambilkan segelas air dan memberikan minum pada Aira.
Setelah minum beberapa teguk air, Meylani mengusap punggung Aira dan menatapnya dalam. Aira benar benar terlohat kacau. Bahkan matanya yang sembab masih berlinang air mata.
Tatapan Aira kosong seolah sangat putus asa. Meylani menatapnya iba, namun dia penasaran dengan apa yang terjadi pada Aira.
Aira mulai terisak kembali dan memeluk Meylani erat. Dia menangis hingga sesenggukan.
"Mey, dia-dia selingkuh," Ucap Aira terbata ditengah tangisannya.
"Selingkuh? Ya ampun, yang sabar ya," Meylani menepuk nepuk punggung Aira pelan.
"Gawat, kalau Aira putus sama pacarnya, Bisa bisa Ergy dan Aira jadian. Gak. Ini gak bisa aku biarin" Batin Meylani.
Aira menangis tersedu, hatinya sakit sekali. Meylani berpikir keras bagaimana untuk menyelesaikan masalah ini.
"Kamu tahu dari mana kalau pacarmu selingkuh?" Tanya Meylani memastikan
"Aku berusaha menghubunginya seminggu ini, dia tidak pernah membalas pesanku ataupun mengangkat telepon dariku. Tapi tadi tiba tiba dia telepon, dan yang bicara justru seorang perempuan." Aira bercerita dengan air mata yang berlinang tak berhenti membasahi pipinya.
"Sudah sudah, kamu jangan nangis terus, mungkin saja itu hanya rekan kerjanya." Meylani berusaha menenangkan Aira dengan memberikan kemungkinan baik agar Aira tak berpisah dengan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Ta-tapi dia kirim foto ini," Aira menunjukan pesan terakhir dari nomer Aris. Dia mengirimkan foto dengan latar Aris yang tengah tertidur bertelanjang dada sambil bergenggaman tangan dengan wanita. Namun wajah wanita itu tidak ada dalam foto. Yang terlihat dari wanita itu hanya tangannya yang putih bersih dengan cat kuku berwarna merah cabe.
Meylani melihat foto itu dan terkejut, itu benar benar keterlaluan. Namun Meylani tidak ingin membuat suasana semakin memanas. Dia berusaha berfikir untuk membuat Aira sedikit merasa lebih baik.
"Ra, ini kan fotonya pacar kamu lagi tidur, mungkin saja dia bahkan tidak sadar kalau difoto. Mungkin saja wanita itu hanya iseng, atau dia ingin menghancurkan hubunganmu." Ucap Meylani.
"Tapi Mey, mana mungkin dia bisa masuk ke kamar Mas Aris? mana mungkin bisa buka ponselnya?" Aira tak ingin mendengar pembelaan dari Meylani. Jelas jelas dimatanya Aris melakukan kesalahan besar.
"Iya Ra, tapi sebaiknya kamu telepon lagi, hingga bicara langsung dengan Pacar kamu. Biar dia jelasin dulu." Ucap Meylani kukuh.
"Apalagi yang perly dijelasin Mey? Itu semua sudah jelas, Foto itu sudah menjelaskan segalanya." Ucap Aira terisak.
"Ya sudah, sekarang kamu tenang dulu ya," Ucap Meylani tidak ingin berdebat. Dia mengerti bahwa saat ini Aira sangat shock melibat foto yang dikirimkan wanita itu menggunakan nomer telepon Aris.
Aira menangis dipelukan Meylani beberapa saat, sampai akhirnya dia lelah dan merasa tak sanggup menangis lagi. Meski sudah tidak menangis, Aira lebih banyak diam dan tidak ingin berbicara dengan orang lain.
Ergy menanyakan kabar Aira pada Meylani via telepon, karena telepon dan pesannya sama sekali tidak dibalas oleh Aira.
"Mey, Aira gimana?" Tanya Ergy saat Meylani menerima teleponnya.
"Aira aira melulu, baru diangkat udah nanyain Aira." Gerutu Meylani dalam hatinya.
"Mey? Kok diam? Hallo?" Ergy bingung.
"Ah iya, dia baik baik saja kok, Dia cuma malas main ponsel katanya." Ucap Meylani mengada ngada.
"Syukurlah kalau dia baik baik saja," Ucap Ergy lega.
"Iya, besok kita ke perpustakaan yuk," Ucap Meylani riang.
"Boleh, ajakin Aira juga yah, biar dia gak diem dikamar terus." Jawab Ergy.
" Iya iya nanti ku ajak kalau dia mau!" Meylani berdecak kesal.
"Ya sudab aku mau tidur dulu!" Meylani menutup telepon Ergy dengan ketus. Dia kesal karena Ergy sangat memperhatikan Aira.
__ADS_1