Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
SEASON 2 - EPS 4


__ADS_3

Di Caffe Baba,


Sesaat sebelum kedatangan Aira,


Meylani sampai di Caffe Baba terlebih dahulu, dia segera mencari tempat duduk yang nyaman untuk melepas kangen dengan kawan lamanya itu.


Meylani melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 18.45, masih ada waktu 15 menit sampai waktu janjiannya dengan Aira. Meylani berusaha menelpon seseorang. Tapi tidak ada jawaban. Meylani menarik nafas panjang. Dia sepertinya sedang cemas.


Tidak lama Meylani melihat sedikit keributan didepan Caffe Baba, dan tidak lama Meylani melihat seorang wanita cantik dengan tampilan highclass memasuki Caffe dan menjadi pemandangan yang tak biasa, semua mata tertuju padanya. Bahkan Meylani sendiri berguman betapa cantiknya wanita itu.


"Airaaa," Teriak Meylani.


Aira menghampiri Meylani dan segera memeluknya. Beberapa saat mereka berpelukan melepas kangen.


"Long time no see, Mey, kamu tambah cantik dan dewasa sekarang. " Ucap Aira menatap Meylani.


"Kamu tuh yang makin berkilauan, emang dari dulu kamu udah cantik banget sih, dan sekarang makin kaya berlian aja." Kata Meylani terkagum kagum. Mereka berbincang dan menertawakan masalalu tentang beberapa kejadian lucu yang pernah mereka lewati bersama.


Sampai saatnya Aira menyinggung Ergy, Meylani seketika terdiam.


"Mey, sebenarnya Ergy kenapa?" Tanya Aira penasaran.


"Kamu beneran gak tahu masalah Ergy?" Meylani penasaran.


"Aku gak tahu apapun soal kalian semenjak pergi ke Newyork, ponsel lamaku Papa buang dan bahkan semua medsosku juga Papa hapus account dan menggantinya dengan yang baru." Ucap Aira pada Meylani.


"Lalu, bagaimana soal... Maaf, bayimu waktu itu," Ucap Meylani ragu ragu. Aira tersenyum dan mengambil ponselnya didalam tas.


"Sekarang dia sudah jadi gadis cantik, namanya Elisa," Ucap Aira menunjukan video dan foto Elisa pada Meylani. Mereka melihatnya bersama dan menertawakan tingkah lucu Elisa didalam video yang Aira tunjukkan.

__ADS_1


"Gemes banget, kenapa kamu gak bawa dia kesini?" Tanya Meylani terlihat sangat tertarik bertemu dengan Elisa.


"Next time, tadi aku juga mau ajak dia, tapi dia ingin sepeda-an dengan Opanya." Ucap Aira tertawa kecil dan kembali memasukan ponselnya kedalam tas.


"Oh ya, bagaimana tentang Ergy, aku benar benar ingin bertemu dengannya." Ucap Aira kembali membahas Ergy.


"Sebenarnya aku juga gak tahu alasan pastinya. Tapi semenjak kamu pergi ke Newyork, Ergy juga berhenti kuliah. Terakhir bertemu saat Ayahnya meninggal. Dan setelah itu, aku selalu berusaha menghubunginya. Tapu dia tidak pernah menjawab. Aku sudah kirim pesan, telepon, surat kerumahnya, tapi dia tetap gak pernah membalas. Bahkan terakhir aku kerumahnya, rumah itu sudah dijual." Ucap Meylani sedih.


"Jadi selama 4 tahun belakangan kamu juga tidak berhubungan dengan Ergy?" Tanya Aira meyakinkan.


Apa yang Meylani ceritakan membuat Aira penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada Ergy. Padahal terakhir bertemu dibandara waktu itu dia baik baik saja. Bahkan sebelum ponsel Aira dibuang oleh Papanya, Aira masih sempat berhubungan dengan Ergy.


"Oh ya, kamu sekarang kerja atau gimana Mey?" Tanya Aira mengalihkan pembicaraan pada topik lain, dia tidak ingin suasananya menjadi sedih karena membicarakan Ergy.


"Aku penganggurang dong hehe, kamu gak tahu ya, sekarang susah banget cari pekerjaan." Ucap Meylani sambil menyeruput orange jus yang dia pesan sebelumnya.


"Yah benar juga sih, atau kamu mau kerja di Hotel Air?" Tanya Aira menawarkan pekerjaan pada Meylani. Tentu saja Meylani sangat berminat dan raut wajahnya sangat senang begitu mendengar penawaran Aira.


"Iya aku serius kok, kalau gitu besok drop CV kamu ke Hotel Air ya." Ucap Aira.


Tanpa terasa waktu berjalan cepat hingga waktu sudah menunjukka jam 10 malam, Aira merasa harus pergi karena sudah pasti Elisa menunggunya pulang.


"Kita berpisah sekarang ya, Elisa pasti menungguku." Ucap Aira berpamitan pada Meylani.


"Iya Ra, makasih ya udah luangin waktu buat ketemu," Kata Meylani memeluk Aira lagi.


"Jangan sungkan Mey, yasudah see you tomorrow, bye," Ucap Aira segera berjalan menuju kasir dan membayar semua tagihan mereka berdua.


Aira berjalan keluar dan Pak Broto segera membukakan pintu mobil untuk Aira. Saat dalam perjalanan pulang, Aira ingat orang yang sebelumnya menghadang Aira ketika masuk ke Caffe Baba.

__ADS_1


"Oh ya, Pak Broto, tadi siapa yang menghadang saya?" Tanya Aira pada Pak Broto yang duduk dikursi depan disebelah Pak Salim.


"Mungkin hanya orang iseng, Nyonya. Dia bilang kenal betul dengan Nyonya." Ucap Pak Broto tak ingin membuat Aira khawatir


"Siapa namanya?" Tanya Aira.


"Namanya Aris. Tapi sudah saya bawa ke kantor polisi untuk diamankan.


"Oh baiklah," Jawab Aira singkat. Aira menghela nafas panjang. Dia tak menyangka kalau Aris akan mengganggunya lagi setelah mengetahui dia kembali ke Indonesia.


Aira menyadari betul, kalau ini adalah resiko yang harus dia jalani karena kembali ke tempat ini. Tapi jika tidak begini, Aira akan menjalani hidup dengan rasa sedih terus menerus. Bukankan segala masalah itu harus dihadapi?


Saat tiba dirumah, Elisa ternyata sudah tertidur dikamar Opa dan Omanya. Aira menghampiri Mamanya yang sedang menonton televisi sambil menunggunya pulang.


"Elisa mana Ma?" Tanya Aira pada Mamanya


"Sudah tidur sama Papa, dia tadi ngajak Opanya main dikamar dan minta dibacakan buku cerita. Eh malah ketiduran dua duanya," Kata Mama Aira menertawakan suami dan cucunya.


"Ya ampun, maaf ya Ma, jadi ngerepotin. Papa pasti capek," Ucap Aria.


"Gak apa apa sayang, kamu kan selama ini ngerawat dia sendirian, bahkan pake suster saja kamu gak mau, Mama dan Papa yang harusnya minta maaf, seharusnya gak sering sering ninggalin kamu waktu itu di Newyork. Makanya sekarang Mama dan Papa memutuskan buat nemenin kamu dan Elisa terus." Ucap Mama Aira sambil memegang tangan Aira.


Selama di Newyork, memang Aira merawat Elisa sendiri, dia bahkan tidak keberatan membawa Elisa saat harus kuliah dan kursus. Aira selalu membawa Elisa kemanapun dia pergi karena harus menyusui Putri kecilnya itu. Aira selalu menolak saat Mama dan Papanya menawarkan jasa suster untuk membantunya merawat Elisa.


Itu sebabnya Aira sangat sibuk dan hampir tak memiliki waktunya sendiri. Dia sibuk mengurus Elisa, belajar, kursus dan membangun relasinya.


Untung saja, di Newyork memiliki anak tanpa suami bukan hal yang membuat orang membicarakanmu dibelakang. Aira justru mendapat kemudahan dengan selalu membawa Elisa kemanapun, seperti mendapat kursi di bus atau kereta, didahulukan dalam antrian dan lain lain.


"Aira gak apa apa Ma, justru Elisa yang bikin Aira bisa jadi seperti sekarang. Kalau Elisa gak ada, Aira gak tahu bakalan gimana sekarang," Ucap Aira menyandarkan kepalanya dibahu Mamanya yang juga mulai menua.

__ADS_1


"Yaa Mama ngerti Nak, sama seperti kamu, kamu sangat berharga bagi Mama, dan Elisa juga sangat berharga bagi kamu. Seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya yang dia cintai," Ucap Mama Aira merangkul putrinya.


__ADS_2