
Aira menggandeng lengan Meylani dengan tersenyum berharap Meylani bisa melewati masalah ini dengan tegar. Mereka berjalan menuruni tangga, sudah ada beberapa penghuni kos yang mulai makan dan menyambut mereke berdua.
Meylani tersenyum tipis, meski dipaksakan namun Meylani mulai merasa baik baik saja. kosan itu seperti keluarganya juga. Meskipun belum genap 3 bulan tinggal disana, Meylani sudah akrab dengan para penghuni kos yang rata rata adalah mahasiswa juga.
"Sini Mey, makan dulu," Ucap Mbak Mi melambaikan tangan.
"Maaf ya Mbak semalam aku bikin keributan, jadi bikin semuanya repot." Ucap Meylani pelan dengan senyum getirnya.
"Gak apa apa Mey, kalau butuh bantuan Mbak, tinggal bilang saja tak usah sungkan." Ujar Mbak Mi tersenyum menyemangi Meylani.
"Iya Mey, santai aja. Kalau butuh pengawal kabarin saya," Ucap Aziz, seorang mahasiswa yang sudah tinggal 2 tahun di kosan itu. Dia menepuk pundak Meylani, juga memberika semangat.
"Makasih ya semuanya," Ucap Meylani segera mengambil piring dan mengisinya dengan makanan.
Aira hanya terdiam memperhatikan Meylani, dia merasa beruntung tinggal di kosan itu, ternyata penghuninya sangat peduli satu sama lain. Tak seperti yang dia bayangkan pada awalnya. Kekeluargaan begitu kental disini, bahkan tak ragu untuk menolong satu sama lain.
"Ra, kok ngelamun?" Tanya Silla yang mengantre untuk mengambil makanan dibelakang Aira.
"Ah iya maaf ya," Aira segera mengambil makanan dan menyusul Meylani yang sudah duduk dimeja makan bersama penghuni kos yang lain.
Suasana di kosan pagi itu ramai seperti biasa, namun yang berbeda adalah Meylani yang tak banyak berbicara, dia hanya menunduk dan sesekali menyuapkan nasi ke mulutnya dengan lemas seolah tak bernafsu untuk makan.
Aira memperhatikan Meylani, lalu dia menegurnya pelan.
"Mey, ayo dihabiskan, kita segera pergi kerumah sakit ya," Ucap Aira pelan.
"Aku bokeh antar? Naik mobilku saja." Ucap Andrian yang makan semeja dengan Aira dan Meylani. Andrian juga merupakan penghuni kosan yang sudah bekerja, namun dia berasal dari kota lain.
Andrian seorang pria yang baik, dia santun dan ramah. Kebiasaannya hanya bekerja dan main game online. Wajahnya cukup tampan dan kulitnya putih.
__ADS_1
"Makasih ya Mas, tapi apa gak ngerepotkan? Mas pasti kerja kan?" Ucap Meylani pelan dan tersenyum getir.
"Tidak ko, Mas bisa izin. Jam 8 kita berangkat ya," Ucap Adrian,
"Jangan nolak Mey, lebih enak ada yang antar biae cepet sampe," Ucap Aora meyakinkan Meylani yang sepertinya bingung dan canggung dengan tawaran Adrian.
"Baiklah, terima kasih ya Mas Adrian." Ucap Meylani tersenyum tipis.
"Sama sama, saya siap siqp dulu, permisi." Adrian pamit dan segera naik kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap. Aira dan Meylani juga sudah menyelesaikan sarapannya dan kembali naik ke kamar Meylani.
"Mey, aku ke kamar dulu ya, aku mau mandi dan ganti baju, nanti kita ke rumah sakit bersama." Pamit Aira dan dijawab dengan anggukan pelan oleh Meylani.
Aira meninggalkan Meylani sendirian dikamarnya untuk bersiap mandi dan berganti baju. setelah sampai dikamarnya Aira segera pergi mandi tanpa berendam terlebih dahulu seperti biasanya. Dia hanya mandi sesingkat mungkin agar tak terlalu lama meninggalkab Meylani yang sedang kalut.
Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambutnya, Aira segera mengambil bajunya didalam lemari. Kali ini dia memakai kaos panjang berwarna putih dengan celana jeans. Setelah dirasa siap Aira mengikat cepol rambutnya agar lebih ringkas.
Saat berjalan menuju kamar Meylani, Aira bertemu Silla yang akan berangkat ke toko tempatnya bekerja.
"Sil, sudah mau berangkat?" Sapa Aira yang melihat Silla keluar dari kamarnya dan akan mengunci pintu.
"Ah iya Ra, Kamu mau antar Meylani ke rumah sakit?" Tanya Silla. Aira mengangguk pelan dan tersenyum.
"Iya Sil, doakan ya semoga Meylani kuat dan tabah," Ucap Aira memohon doa pada Silla, Silla juga mengangguk dan menepuk pundak Aira.
"Oh ya, kemarin aku mendengar sedikit obrolan antara Meylani dan Pamannya yang datang kesini," Bisik Silla pelan supaya ucapannya tak didengan oleh Meylani yang berada dikamar samping kamar Silla.
"Obrolan soal apa?" Tanya Aira penasaran. Silla tidak langsung menjawabnya, justru menarik lengan Aira untuk sedikit menjauh dari kamar Meylani.
"Orang tuanya kemungkinan meninggal karena dibunuh. dan pamannya minta Meylani memberikan rumah warisan orang tuanya untuk pamannya sebagai ganti rugi karena sudah merawatnya beberapa tahun." Bisik Silla pada Aira yang mengkerutkan dahinya berusaha mencerna apa yang Silla katakan.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin itu terjadi?" Ucap Aira tak percaya apa yang Silla katakan, Silla mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala.
"Aku tak tahu pasti, tapi coba nanti kamu cari tahu dan bantu Meylani. Aku ingin ikut tapi aku tak bisa meninggalkan pekerjaan, karena ini satu satunya mata pencaharianku." Ucap Silla.
Aira mengangguk anggukkan kepalanya meski tak begitu faham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ra, sudah siap?" Panggil Adrian dari lantai bawah yang melihat Aira dilantai 2 bersama Silla. Aira menoleh sekitar dan mencari asal suara itu, dan menemukan Adrian yang sudah siap dengan setelan kemeja berwarna abu abu.
"Ah iya Mas sebentar, aku panggil dulu Meylani." Jawab Aira dengan sedikit berteriak.
"Silla maaf ya nanti kita bicarakan lagi, Mas Adrian sudah menunggu, aku jemput Meylani dulu." Pamit Aira pada Silla dan Silla pun menjawabnya dengan anggukkan kepala.
Aira bergegas menuju kamar Meylani dan mengetuk kamarnya memanggil nama Meylani.
"Mey apa kamu sudah siap? Mas Adrian sudah menunggu." Panggil Aira. Meylani tak menjawab dan justru kamarnya hening tidak ada suara.
"Mey, apa kamu baik baik saja? Aku masuk ya," Ucap Aira dengan suara yang lebih lantang. Namun tetap saja Meylani tak menjawabnya. Silla yang belum pergi dan memperhatikan dari depan kamarnya menghampiri Aira.
"Gak ada jawaban Ra?" Tanya Silla, dan mengetuk pintu kamar Meylani lebih kencang.
"Apa mungkin dia berangkan sendiri?" Guman Aira menebak kemungkinan yang terjadi.
" Tak mungkin, Aku tak melihatnya lewat depan kamarku, dari tadi kamarku terbuka." Ucap Silla membuyarkan kemungkinan yang Aira pikirkan.
Aira berusaha membuka pegangan pintu, dna ternyata pintunya tidak terkunci dari dalam. Mendapati pintu tak terkunci Aira dan Silla segera masuk ke dalam kamar Meylani.
Mbak Mi dan Adrian yang sedang berbincang di lantai bawah endengar keributan didepan kamar Meylani dan segera naik tangga menuju kamar Meylani untuk memastikan apa yang terjadi.
Aira dan Silla masuk ke dalam kamar Meylani dan terkejut dengan apa yang mereka lihat.
__ADS_1