
Aira mendorong tubuh Aris hingga hampir tersungkur. Setelah terlepas dari pelukan Aris, Aira bergegas pergi menuju pintu Apartemennya dan segera masuk sebelum Aris bangkit.
"Ra, biarkan Mas jelasin dulu,"
Bruug bruuggh brugh
"Aira!! Buka pintunya sayang, Mas mohon,"
Aris terus saja mengetur pintu Apartement Aira dengan kencang tanpa henti. Seolah tidak terjadi apa apa, Aira mengabaikan suara Aris, dia membersihkan diri dan pergi berendam dengan tenang.
Sementara itu, Aris tak langsung menyerah. Dia memang pergi, namun dia terlihat lebih gigih lagi. Aris mengambil ponselnya dan menelpon seseorang sambil turun je basement.
"Aku kesana sekarang, kita perlu bicara,"
Aris pergi mengendarai mobilnya keluar dari kawasan Flower Tower itu, Aris menuju ke rumah ibunya. Dia menemui istrinya, Ressa.
__________________________________
Malam itu, Aris bicara berdua dengan Ressa yang sebenarnya masih masa pemulihan pasca operasi pembersihan rahim. Ressa masih sangat murung dan lemas, bahkan untuk makan pun Ressa tidak bernafsu.
"Bagaimana keadaan kamu?"
"Aku ingin kembali kerumah, aku tidak ingin merepotkan Ibumu terus."
"Tapi kamu jangan sendirian, kalau ada apa apa bagaimana?"
"Aku ingin sendirian Mas,"
Ressa mengatakan keinginannya untuk kembali kerumah mereka, Ressa merasa butuh waktu sendirian untuk menerima kenyataan bahwa dia kehilangan bayinya.
"Mas ingin tahu, bagaimana bisa kamu jatuh seperti itu?"
"Karena kamu,"
"Kenapa jadi karena Mas? Mas kan tidak ada,"
__ADS_1
"Ya justru itu, Mas selalu gak ada disaat aku membutuhkan Mas, sebenarnya aku ini istri Mas atau bukan? Semenjak kejadian Indah, Mas bukannya lebih baik padaku, Mas justru makin sibuk,"
Aris tertunduk, dia menyadari betul bahwa apa yang Ressa ucapkan benar adanya. Dia sangat menyadari kalau sikap acuhnya pada Ressa semakin menjadi jadi.
Entah bagaimana keadaan menjadi tidak terkendali, Aris menyadari kalau dia sedang mengejar hal yang seharusnya tidak dia kejar. Semua yang dia inginkan terlalu berlebihan. Seharusnya, dia tidak begitu serakah.
Aris meraih tangan Ressa, kemudian dia mencium tangan Ressa. Aris menatap Ressa dalam dengan matanya yang berkaca kaca. Ressa balas menatap mata Aris. "Apa sebaiknya kita berpisah saja?" Batin Aris sambil menatap mata Ressa. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya ucapan maaf, bibirnya terlalu kelu untuk mengatakan perpisahan.
"Maaf, Mas benar benar minta maaf,"
"Sudahlah Mas, aku ingin pulang besok,"
Ressa melepaskan genggaman tangan Aris, hatinya benar benar hancur. Kejadian yang bertubi tubi, mulai dari usahanya yang mengalami down, lalu teror keluarganya, belum lagi perselingkuhan Aris dan juga kehilangan bayi dikandungannya. Ressa benar benar merasa putus asa.
"Mas, kamu gak akan mengerti bagaimana perasaanku. Kamu harusnya mengerti, tidak mudah memaafkan orang yang sudah mengkhianati dan kembali bersama. Setiap hari, setiap saat kita bersama, aku masih selalu terbayang saat kamu juga bersama wanita itu. Ini sulit Mas, hatiku sesak tiap kali mengingat kamu bercumbu dengan wanita itu. Aku tidak masalah harus kehilangan semua bisnis onlineku. Tapi perbuatan kamu dan kehilangan bayi dikandunganku, benar benar membuatku hancur. Rasanya bahkan hidupku tidak berarti lagi. Aku benar benar tidak tahu harus bagaimana."
Ressa membatin dengan air mata yang berlinang, dia berbaring membelakangi Aris, agar Aris tidak menyadari tangisannya. Ressa menangis tanpa suara. Hatinya benar benar sakit hingga terasa begitu sesak.
Aris menatap tubuh Ressa yang berbaring membelakanginya. Dia kemudian berbaring juga dibelakangnya dan memeluk Ressa dari belakang.
Aris berbisik lembut, dia memeluk Ressa erat. Tentu saja, ucapan Aris membuat Ressa semakin bersedih. Ressa ingin berteriak, namun dia tidak ingin Ibu mertuanya mendengar dan akhirnya mengetahui permasalahan dalam rumah tangganya. Sebisa mungkin Ressa menahan suara tangisannya agar tidak didengar siapapun, bahkan oleh Aris yang saat itu sedang memeluknya erat.
Keesokan harinya, Aris terbangun melihat Ressa sedang merapihkan pakaiannya ke dalam koper. Terlihat mata Ressa sembab, dia menangis semalaman hingga tertidur sambil menangis.
Aris menghela nafas panjang. Dia bangkit dan mengambil handuk, Aris pergi mandi. Ressa melirik sesekali pada suaminya itu. Pagi hati itu mereka awali tanpa saling sapa sepatah kata pun.
"Nak, ayo sarapan dulu,"
"Iya Bu, sebentar ya bu, Mas Aris sedang mandi dulu."
Ibu Aris mengetuk pintu dan mengajak anak dan menantunya untuk sarapan bersama. Ressa seledai merapihkan pakaiannya ke dalam koper dan berniat keluar dari kamarnya untuk sarapan, namun tiba tiba Aris memeluknya.
"Mas, lepas, badan kamu masih basah,"
"Sebentar saja sayang,"
__ADS_1
Aris memeluk Ressa dan menciuminya. Pagi itu hasrat Aris untuk bercinta, Dia melepaskan pakaian istrinya itu. Namun Ressa meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Aris.
"Mas, ja-jangan. Aku belum siap,"
"Aku ini suamimu."
Ressa berusaha menolak, namun nafsu Aris sudah diubun ubun. Dia tidak bisa melawan dan akhirnya mengikuti keinginan suaminya itu. Meski sebenarnya Ressa tidak menikmatinya, dia berusaha mengatakan pada dirinya bahwa ini adalah kewajibannya.
Sudah lama Aris tidak berhubungan intim, dan bisa saja dia minta berhubungan beberapa kali lagi jika sudah lama tidak berhubungan intim. Namun sebelum Aris kembali terbangun, Ressa segera memakai kembali pakaiannya dan keluar dari kamar dan meninggalkan Aris yang masih merasa lemas.
Entah kenapa, Ressa merasa sedih, dia tahu betuk itu adalah hak Aris dan kewajibannya untuk melayani Aris, tapi rasanya, dia tidak terima digauli Aris. Tiba tiba saja Ressa ingat bagaimana Aris bercumbu dengan Indah ditoko bunga itu.
"Kenapa tiap kali ingat itu, dadaku terasa sesak sekali," Batin Ressa.
Ressa menarik nafas panjang, melatih raut wajahnya dengan tersenyum beberapa kali, agar dia bisa bersikap biasa saja didepan Ibu Mertuanya.
"Bu, Ressa mau pamit, hari ini Ressa mau kembali kerumah,"
"Kenapa? kamu kan belum sembuh Nak, apa Ibu membuatmu tidak nyaman tinggal disini?"
Wanita paruh baya dengan mata teduh itu menatap Ressa penuh kasih sayang, Ressa berlutut didepan Ibu mertuanya itu, kemudian dia menyandarkan kepalanya dipangkuan Ibu mertuanta itu.
"Maafkan Ressa Bu, Ressa banyak salah sama Ibu,"
"Justru Ibu yang minta maaf, anak Ibu tidak sempurna, meski begitu dia pasti sangat sayang sama kamu,"
Ressa mulai menangis dipangkuan Ibu Mertuanya. Wanita itu membelai rambut Ressa yang terurai dan dia ikut menangis. Hati seorang Ibu tidak bisa dibohongi. Meski Anak dan menantunya itu tidak menceritakan apa masalah mereka, Sang ibu mengetahui hanya dari tatapan kedua anaknya itu.
Aris keluar kamar dan melihat pemandangan itu, dia tahu betul, Ibunya sangat menyayangi Ressa bahkan sepertinya lebih sayang pada Ressa dibanding padanya.
"Loh, ada apa ini kok pada nangis?"
"Ressa pamit sama Ibu, apa kalian benar benar akan kembali kerumah?"
"Itu keputusan Ressa, Bu. Doakan saja yang terbaik untuk kami,"
__ADS_1
Ressa mengangkat kepalanya dan menatap Ibu mertuanya. Mereka berpelukan beberapa saat. Lalu kemudian sarapan bersama sebelum kembali ke rumah.