
Aira berteriak dan air matanya mengalir tanpa sadar, melihat Meylani yang terbaring diatas tempat tidur dengan pergelangan tangan yang bersimbah darah. Meylani berusaha bunuh diri.
Silla berteriak minta tolong sambil berlari keluar dan mendapati Mbak Mi dan Adrian yang tengah menuju kesana.
"Ada apa Silla?" Tanya Adrian berusaha menenangkan Silla yang panik
"Mey-Meylani bu-bunuh diri," Silla menjawab terbata bata karena terkejut dengan apa yang dilihatnya. Mendengar jawaban Silla, Mbak Mi dan Adrian segera masuk ke kamar Meylani.
Didalam kamar Aira berusaha menghentikan pendarahan dipergelangan tangan Meylani dengan mengikatnya dnegan kain yang dia temukan disana. Meski matanya basah dengan air mata, Aira tetap gesit berusaha menolong Sahabatnya itu.
"Minggir Ra," Ucap Adrian meminta Aira untuk sedikit bergeser agar Adrian bisa menggendong Meylani dan segera membawanya ke rumah sakit.
Adrian bergegas menggendong Meylani keluar dari kamar dan menuruni tangga. Diikuti dengan Aira, Silla dan Mbak Mi. Mereka semua naik ke dalam mobil Adrian dan berangkat bersama ke UGD.
Dalam perjalanan Aira masih terus menangis sambil menepuk nepuk pipi Meylani agar sahabatnya itu tersadar.
"Mey, kenapa kamu kayak gini," Isak Aira yang sangat sedih melihat apa yang dilakukan Meylani. Silla juga meneteskan air mata sambil berusaha menenangkan Aira dengan merangkulnya.
Perjalanan cukup lama ke rumah sakit terdekat, namun Adrian mengendarai mobilnya dengan cepat agar bisa sampai di rumah sakit lebih cepat.
Mereka sampai dirumah sakit setelah 20 menit dan segera memarkirkan mobik didepan unit gawat darurat. Adrian segera turun dari mobil dan menggendong Meylani kembali.
Perawat rumah sakit segera menghampiri dan dengan sigap menangani pertolongan pertama pada Meylani.
"Bapak ibu mohon menunggu diluar ya," Ucap perawat itu memibta Silla, Aira, Mbak Mi dan Adrian untuk menunggu diruang tunggu sementara dilakukan pertolongan pada Meylani.
Mereka menurut dan akhirnya menunggu diruang tunggu rumah sakit. Adrian dan Aira yang tak bisa tenang, mundar mandir dan sesekali menengok ke ruang tindakan meskit sebenarnya mereka tak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi.
pada saat itu ponsel Aira berdering, dan panggilan itu dari Papanya. Aira segera mengangkat tekepon itu dan terisak mengadu kepada Papanya.
"Papa, huaaaa," Aira mengangkat telepon dengan menangis membuat Papanya terkejut.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu menangis seperti itu?" Ucap Papa Aira khawatir dan cemas pada putri semata wayangnya itu.
"Aira dirumah sakit Pa, Aira..." Tuuuttt ponsel Aira mati karena kehabisan baterai. Aira masih terisak dan Mbak Mi berusaha menenangkannya.
__ADS_1
"Sudah Ra, kita doakan yang terbaik untuk Meylani." Ucap Mbak Mi menenangkan Aira.
Mereka berempat menunggu dengan sabar perkembangan Meylani. Bahkan Silla pun lupa dia harus bekerja menjaga toko dna Adrian pun mengabaikan panggilan dari kantornya.
Sementara itu, Papa Aira yang cemas segera menghampiri Mama Aira yang sedang menyiapkan sarapan.
"Ma, pesan tiket pesawat sekarang, penerbangan paling cepat." Ucap Papa Aira dengan nada cemas kepada istrinya yang sedang menata meja makan.
"Memangnya kita mau kemana Pa?" Tanya Mama Aira dengan santai tanpa melihat wajah suaminya yang benar benar sedang cemas.
" Barusan Papa telepon Aira dan dia menangis." Mama Aira segera membalikkan badannya menghadap kepada suaminya saat mendengar tentang Aira.
"Aira bilang dia di rumah sakit, tapi kemudian teleponnya terputus." Tambah Papa Aira.
"Ira kenapa Pa? Aira kenapa?" Mama Aira juga panik dan mengguncangkan tubuh Papa Aira.
"Papa belum tau, sekarang Mama pesan tiket pesawat yang tercepat, kita segera kesana." Mama Aira mengangguk dan segera memanggil sekretaris mereka.
"Ada apa nyonya?" Tanya Patrick sopan
"Pesankan tiket pesawat tercepat, saya mau ketemu Aira," Ucap Mama Aira singkat dan dijawab dengan anggukan oleh Patrick yang segera memesankan tiket.
Papa Aira yang masih gelisah mondar mandir, sementara Mamanya menyiapkan beberapa barang yang akan dibawa. Setelah beberapa saat Patrick kembali menghampiri Mama Aira.
"Nyonya tiket sudah saya pesankan, kita berangjat 3 jam lagi, mari segera menuju bandara jika nyonya dan tuan sudah siap." Ucap Patrick sopan kepada Mama Aira, dan hanya di jawab dengan anggukan pelan. Patrick segera kembali ke depan dan memberitahukan supir untuk bersiap.
"Pa, coba papa telepon orang kepercayaan Papa dan tanyakan sebenarnya apa yang terjadi, Mama belum tenang." Ucap Mama Aira pada suaminya yang sedang tertegun menatap keliar jendela.
Papa Aira menoleh dan menatap istrinya, kemudian memeluknya.
"Papa sangat takut terjadi hal buruk pada Aira Ma, tadi dia menangis tersedu dan mengatakan bahwa dia berasa dirumah sakit, Papa tidak suka melihat dia menangis, tapi Papa sangat cemas," Ucap Papa Aira dalam pelukan istrinya. mereka berpelukan beberapa saat dan saling menenangkan satu sama lain.
Setelah merasa lebih baik, Papa Aira mengambil ponselnya dam segera memanggil Aris.
__ADS_1
"Hallo Pak Bos, Selamat pagi," Ucap Aris dibalik telepon dengan nada yang ceria dan sopan.
"Sebenarnya kamu ini mengawasi anak saya dengan baik atau tidak?" Tanya Papa Aira dengan nada tinggi.
"Maksudnya bagaimana Pak Bos?" Jawab Aris dengan kebingungan.
"Anak saya menangis dan berada di rumah sakit, tapi kamu tidak memberitahu saya?!" Papa Aira emosi karena sangat mencemaskan putri tersayangnya.
"Sa-saya tidak tau Pak, saya akan cari tahu sekarang dan segera kabari Pak Bos," Ucap Aris menutup teleponnya.
Papa Aira sangat sensitif dengan apapun hal tentang putrinya. Papa Aira menarik nafas panjang dan segera duduk disamping istrinya yang mulai menangis.
"Sudah Ma, Aira baik baik saja." Papa Aira berusaha menenangkan Istrinya yang panik.
"Tapi, tadi staff Papa juga tak tau apa yang terjadi pada Aira," Ucap Mama Aira.
Sementara itu Patrick menghampiri kedua majikannya.
"Tuan, Nyonya, Mobik Sudah siap, kita bisa berangkat sekarang." Ucap Patrick sopan sambil berbungkuk. Mereka berdua segera beranjak dan kemudian menuju bandara.
------------
Aris gemetar setelah menerima telepon dari Bosnya yang merupakan Papa Aira, dari nada bicaranya Papa Aira sangat marah. Sebenarnya ada apa yang terjadi dengan Aira, dari semalam dia tak menjawab telepon dari Aris maupun membalas pesannya.
Aris segera memanggil Aira, namun ponselnya tidak aktif, Aris juga cemas dan segera menuju ke kosan Aira. Dalam perjalanan menuju kosan Aris menelpon Aira beberapa kali namun nomer telepon Aira masih tetap tidak Aktif.
Akhirnya Aris menelpon Mimi atau Mbak Mi, dan Mbak Mi menerima panggilan itu dari Aris.
"Hallo ada apa Ris?" Tanya Mbak Mi,
"Maaf aku mau tanya, Apa Aira ada dikosan?" Tanya Aris tanpa basa basi.
"Tidak ada Ris, Aira sedang dirumah sakit bersamaku," Jawab Mbak Mi pelan.
"Apa? Apa yang terjadi?" tanya Aris terkejut
__ADS_1