
Setelah menerima telepon dari Bos Adji, Aris merasa senang. Gajinya akan dinaikkan 3x lipat hanya dalam 2 minggu saja. Ini merupakan keuntungan besar baginya.
"Dapet jackpot, bisa main main sama Aira selama 2 minggu dan dapet duit juga, bener bener bagus proyek kali ini. Aku bisa beli motor yang aku incar 2 minggu lagi, Yeay!" Batin Aris sambil mengepalkan tangannya dengan bersemangat.
Sesaat dia teringat pada Aira, sudah beberapa hari dia tidak menghubunginya. Aris membuka ponselnya dan menepuk jidatnya.
"Waduh, nomer Aira juga hilang. Nomernya diponsel yang lama." Aris menepuk nepuk ponselnya. Dia berfikir beberapa saat, kemudian segera mengambil jasnya dan pergi keluar kantor mengendarai mobilnya.
Aris menuju kosan Aira, dalam perjalanan dia mampir ke sebuah minimarket dan membeli beberapa cemilan. Setelah sampai ke depan kosan, Aris masuk tanpa ragu.
Suasana kosan sepi karena mayoritas penghuni kosan pergi bekerja dan kuliah. Aris tidak mengetahui kamar Aira, kebetulan ada Silla yang akan keluar kosan.
"Om mau ke siapa?" Tanya Silla
"Kamar Aira sebelah mana ya?" Tanya Aris tanpa ragu. Silla tak langsung menjawabnya, dia menatap Aris dari atas hingga bawah, Pakaian rapih, rambut berpomade, parfum khas pria maskulin disertai dengan sepatu yang mengkilap.
"Orang kaya nih pasti," Batin Silla.
"Dek? Kok diam saja?" Tanya Aris heran
"Ah maaf om, Kamar Aira dilantai 3 nomer 4 ya, saya pamit dulu," Ucap Silla segera pergi.
Aris segera menaiki tangga menuju kamar Aira, Dia mencari nomer 4 dilantai 3. Setelah menemukan kamarnya, Aris mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok
"Siapa?" Teriak Aira dari dalam kamar.
Aris diam, dia ingin memberikan kejutan pada Aira. Sesaat kemudian Aira membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Aris ada didepan kamarnya.
"Mas Aris?" Teriak Aira sumringah. Dia langsung memeluk Aris tanpa ragu. Aris membalas pelukannya dan mengangkat tubuh Aira masuk ke dalam kamar.
"Mas kangen banget sama kamu Ra," Ucap Aris memeluk erat Aira.
Aira terdiam, seketika dia teringat foto yang dikirimkan Aris tempo hari. Dia melepaskan pelukannya dan menghindari Aris. Dia tidak mau menatap Aris.
"Ada apa?" Tanya Aris bingung
"Aku benci sama Mas," Ucap Aira dengan mata berkaca kaca. Hatinya sesak dan pedih. Dia menangis tersedu.
"Ada apa?" Tanya Aris lagi, dia kebingungan dengan apa yang terjadi. Aira menangis tersedu tanpa menjawab pertanyaan Aris. Aira bahkan menepis tangan Aris yang hendak memeluknya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa Mas melakukan kesalahan?" Tanya Aris berusaha tetap tenang menghadapi Aira.
"Mas masih bertanya?!" Tanya Aira ketus.
"Mas tidak mengerti, sebenarnya ada apa?" Tanya Aris tambah bingung.
"Lihat ini," Aira menyodorkan ponselnya. Memperlihatkan pesan teramhir yang diterimanya. Aris menatap ponsel Aira dengan geram.
"Jessica!!" Gumam Aris marah.
"Jessica? Siapa wanita itu?" Tanya Aira dengan nada tinggi.
"Di-dia hanya partner kerja dihotel saja. Bukannya kamu juga mengenalnya?" Tanya Aris berusaha tetap tenang meski dia sangat geram dengan apa yang Jessica lakukan.
"Oh bu Jessica yang sangat cantik itu? Yang bodynya seperti gitar spanyol?" Ucap Aira dengan nada tinggi dan melotot dengan mata yang basah dengan air mata.
"Sayang, tenang dong, jangan berisik. Gak enak kan sama orang lain," Aris berusaha mendekap Aira agar dia bisa sedikit melunak. Namun Aira justru mendorongnya.
"Jangan sentuh aku!!" Teriak Aira.
"Bagaimana ini? Biasanya Ressa akan mereda setelah ku peluk beberapa saat saja. Kenaoa dia malah mendorongku? Apa yang harus aku lakukan?" Batin Aris bingung.
Aira menangis semakin histeris. Dia bahkan melemparkan gelas kaca ke arah Aris. Tapi untung saja Aris bisa menghindarinya, dan gelas itu pecah.
"Aira, tenang sayang!! Mas bisa jelasin ini kok." Ucap Aris berusaha menenangkan Aira.
"Jelasin apa? Jelasin kalau Mas tidak menghubungiku karena sibuk dengan Bu Jessica? Iya?" Teriak Aira dengan kesal.
"Bu-bukan begitu Ra, Ponsel Maa hilang. Lihat ini, ponsel Mas ganti baru, Mas baru beli kemarin." Ucap Aris.
Mendengar itu Aira mulai mereda, dia duduk ditepi temoat tidur dan menarik nafas panjang. Aris duduk disampingnya dan menggenggam tangannya.
"Jangan salah faham ya, Mas itu hanya cinta sama kamu," Ucap Aris dengan lembut.
"Benarkah?" Aira menatap Aris dengan sungguh sungguh. Aris mengangguk dan menatap dalam mata Aira. Mereka berpelukan beberapa saat hingga Aira merasa lebih baik.
Aris mengelus rambut Aira dan mengecup keningnya. Aira tersneyum tipis dan mengambil gelas air minum diatas meja. Aira sudah merasa lebih baik.
"Kita ke salon yuk, atau ke mall?" Tanya Aris mengalihkan perhatian Aira.
"Kenapa? Kok tumben?" Tanya Aira heran.
__ADS_1
"Biar kamu merasa lebih happy," Ucap Aris tersenyum. Aira mengangguk dan menyetujui tawaran Aris. Mereka pun pergi ke salon dan Aira menikmati perawatan wajah dan perawatan seluruh tubuh. Aris menemaninya dengan senang.
"Aku harus membuat Aira terlihat fresh selalu, Kalau ornag tuanya melihat Aira seperti tadi, kusut dengan mata sembab. Mereka pasti akan bertanya dan Aira akan menceritakan semua ini pada orang tuanya." Batin Aris
Meskipun menunggu hingga sore hari setelah Aira selesai perawatan, Aris tidak mengeluh sedikitpun. Dia bahkan tertidur diruang tunggu salon sambil menikmati pijatan kaki.
"Mas, Bangun.. Ira sudah selesai." Ucap Aira.
Aris membuka matanya, Terlihat Aira dihadapannya dengan penampilan yang baru, rambut pendek sebahu, wajahnya bersinar dan aroma tubuhnya wangi. Kuku jemarinya juga terlihat cantik berwarna merah muda.
"Kamu siapa ya? Kok cantik sekali?" Tanya Aris menggoda Aira.
"Apaan sih Mas bisa aja," Ucap Aira malu malu.
"Serius, kamu cantik sekali," Ucap Aris menatap Aira.
"Yasudah, sekarang kita ke mall ya, Kan tadi Mas sudah janji." Ucap Aira menggandeng tangan Aris.
"Ayo berangkat," Jawab Aris riang. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Aira sangat senang sehingga dia selalu tersenyum dan tertawa.
Didalam mobil saat perjalanan ke mall, Aira bernyanyi bersama Aris dan ternyata lagu kesukaan mereka sama, Mereka pun menyanyikan lagu itu bersama sama.
Mata Aris tidak bisa terlepas dari Aira, tanpa disadarinya setiap kali Aira tertawa lepas, jantung Aris berdegup kencang. Bahkan suara nyanyian Aira yang serak juga terdengar indah ditelinganya.
Setelah sampai di mall, Aira tururn dari mobil dan segera menggenggam kembali tangan Aris. Tangan Aira terasa hangat. Mereka berjalan bersama masuk ke dalam Mall.
"Rasanya, dulu dengan Ressa aku jarang sekali bergandengan seperti ini, Ressa selalu menolak jika aku ingin menggandengnya." Batin Aris.
Aira tersenyum lebar melihat toko pakaian favoritnya, dia segera menarik lengan Aris mengajaknya ke toko pakaian tersebut. Aris mengikutinya tanpa paksaan.
"Mas, baju ini pantas gak buat aku?" Tanya Aira mengambil satu setelan dan bergaya didepan cermin.
"Cocok, atau kamu mau coba dulu?" Tanya Aris.
"Gak ah, nanti saja coba dikosan, Aku ambil ini sama yang ini, sama yang ini juga." Ucap Aira sambil mengambil beberapa baju. Aris hanya mengikutinya.
"Kamu gak lihat dulu harganya?" Tanya Aris.
"Memangnya perlu?" Tanya Aira heran.
"Mas cuma takut nanti kamu kaget pas bayar dikasir hehe," Ucap Aris menggoda Aira.
__ADS_1
"Kan aku bayar pakai debit card Mas, jadi gak usah khawatir." Ucap Aira santai.
"Enak sekali ya, Bisa belanja tanpa lihat harga. Kalau aku bisa menikah dengan Aira, sepertinya hidupku akan sangat indah." Batin Aris dengan senyum menyeringai.