
Sinar matahari hari itu terasa sangat terik sampai menusuk kulit. Aira memakai kaca mata hitam dengan bingkai keemas-an untuk mengurangi silaunya. Saat turun dari mobil, Pak Broto memayungi Aira dan Elisa dengan payung besar.
“Mama, Elisa mau icecleam stlawbelly,” Rengek Elisa yang sepertinya merasa sangat kepanasan hingga meminta Mamanya untuk memberikan Icecream kesukaannya.
“Iya sayang, nanti kita makan didalam ya,” Jawab Aira menggendong putrinya agar bisa berjalan lebih cepat. Elisa menutup matanya yang terasa silau, karena halaman depan Hotel Air didominasi oleh kolam kolam kecil sehingga pantulan cahaya matahari membuatnya lebih bercahaya.
“Pak, tolong belikan Ice Cream Strawberry untuk Elisa ya, sama buat karyawan lain juga.” Aira memberikan kartu debit kepada Pak Salim agar membelikan Ice cream.
“Baik Nyonya, untuk karyawan dibelikan semua?” Tanya Pak Salim.
“Iya, Telepon dulu Bu Martha untuk tanya jumlah karyawan Hotel, jangan sampai ada yang tidak kebagian.” Ucap Aira dengan ramah, Pak Salim mengangguk dan segera pergi untuk melaksanakan perintah Aira.
Setelah sampai diruangannya, Aira menemani Elisa menggambar sambil menyuapinya makan siang sebelum nanti Elisa akan memakan ice cream. Namun tiba tiba, Seoang pria masuk ke ruangannya diikuti oleh Bu Martha.
“Mohon maaf Bu, laki laki ini memaksa masuk.” Ucap Bu Martha karena merasa bersalah tidak berhasil melarang pria itu masuk ke ruangan Aira.
“Panggil Pak Broto sekarang!” Tegas Aira.
“Baik Bu,” Bu Martha segera kembali keluar dan menelpon Pak Broto.
Aira menatap Pria itu, dia Aris. Namun bukan Aris lusuh yang dia temui sebelumnya. Dia Aris yang elegan yang dulu pernah Aira sangat sukai. Aris memakai setelan jas mahal berwarna biru tua dan rambutnya memakai pomade hingga terlihat sangat tampan.
“Bagaimana? Sudah pantaskah aku untuk menemuimu?” Ucap Aris menyeringai.
Aira berdiri didepan Elisa, berusaha menyembunyikan Elisa dari Aris.
“Anak itu…. “ Kata Aris lagi berusaha untuk bisa melihat Elisa.
“Pak Broto!! Security!!” Teriak Aira.
“Hey, tenang saja, kenapa kayanya aku ini orang yang sangat jahat? Aku ini pria yang mencintaimu. Masih sangat mencintaimu,” Aris mulai mendekat pada Aira dan Elisa.
“Keluar!!” Teriak Aira dengan mata melotot.
__ADS_1
Aris tidak menghiraukan, dia justru duduk dengan santai di sofa dan meminta Aira untuk duduk juga. Aira menggendong Elisa dan keluar dari ruangannya, dan dia bertemu dengan Pak Broto dan Bu Martha dan beberapa staff keamanan yang hendak masuk keruangannya.
“Tolong bawa Elisa ke tempat lain,” Aira menitipkan Elisa pada Bu Martha.
“Pak Broto dan yang lain ikut saya,” Aira kembali masuk ke ruangannya.
Aris yang melihat Aira masuk kembali bersama beberapa pengawal terlihat senang, dia tertawa meremehkan, kemudian Aira duduk dihadapannya dengan para pengawal dibelakangnya. Aris menatap Aira dengan senyuman, berusaha untuk menggoda Aira, namun yang dia lihat Aira justru menatapnya dengan tajam.
Hening, Aira menunggu Aris mengucapkan sesuatu, namun yang Aris lakukan hanya menatap Aira. Sambil sesekali sudut bibirnya tersungging. Aira tak berubah, dia tetap menatap dengan wajah yang datar.
“Bagaimana bisa, gadis yang polos dan ceria itu jadi wanita yang sangat angkuh hanya dalam waktu sekejap,” Gumam Aris menatap mata Aira dalam.
“Apa maumu?” Tanya Aira tegas.
“Aku hanya rindu saja pada sikapmu yang manis dulu,” Ucap Aris menggoda Aira.
Aira menoleh pada Pak Broto dan mengangguk pelan, seketika Staff keamanan itu menghampiri Aris dan akan menyeretnya keluar.
“Hey hey, tunggu dulu, aku bisa keluar sendiri,” Aris bangkit dan merapikan jasnya.
"Aku masih sangat mencintaimu Ra, sedetikpun aku tak pernah berhenti memikirkan kamu, bahkan aku membiarkan Papa-mu menghancurkan aku, agar aku bisa bertemu lagi denganmu," Aris mengenggam tangan Aira dengan lembut.
"Menghancurkan? Apa maksudmu?" Ucap Aira menarik tangannya dari genggaman Aris.
"Aku kehilangan segalanya, tapi aku masih tetap mencintai kamu," Jawab Aris bangkit dan berjalan pergi.
"Tunggu, maksud perkataan kamu apa?" Tanya Aira masih dalam duduk tanpa berbalik pada Aris yang sudah berjalan hampir ke pintu keluar ruangannya.
"Tanyakan saja pada Papamu," Seringai Aris. Dia pergi setelah membuat hati Aira kembali berdebar. Aira juga penasaran dengan ucapan Aris, sebenarnya apa yang terjadi?
Aira termenung beberapa saat setelah kepergian Aris, Pak Broto dan bagian keamanan memastikan bahwa Aris benar benar pergi dan tidak kembali mengganggu Aira.
Aira mengangkat ponselnya dan menelpon Bos Adjie.
__ADS_1
"Hallo sayang, ada apa?"
"Apa yang sebenarnya Papa lakukan dulu sama Mas Aris?" Tanya Aira tiba tiba, matanya berkaca kaca.
"Apa maksud kamu sayang, Papa tidak mengerti." Jawab Bos Adjie kebingungan.
Mata Aira berkaca kaca, entah kenapa hatinya terasa sangat sakit. Aira segeta menutup teleponnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia mulai terisak menangis.
"Kenapa hatiku sakit sekali, rasanya sesak," Batin Aira.
_________________________________________
"Halo Pak Satrio, saya sudah bertemu dengan Aira, Direktur utama Hotel Air. Rencana kita akan segera dimulai." Aris berbicara dengan Satrio via telepon.
"Tentu saja, saya pastikan rencana kita akan berhasil, Pak," Ucap Aris lagi pada Satrio, lalu mematikan teleponnya dan naik ke mobil yang dipinjamkan Satrio.
Aris mengendarai mobilnya dengan santai dia benar benar puas setelah terakhir kali sebelum pergi dia melihat raut wajah Aira yang terlihat sangat bingung atas apa yang dia ucapkan.
"Tunggu saja Aira sayang, kamu pasti bakalan balik lagi jadi milikku." Ucap Aris dengan bangga.
Aris sangat percaya diri dengan apa yang dia rencanakan dengan Satrio. Dan memang benar, Aira saat ini sedang kalut, padahal yang Aris ucapkan belum tentu benar adanya. Tapi dalam hati Aira, dia sedikit merasa bersalah.
Saat Aira masih melamun, Elisa dibawa kembali ke ruangan Aira oleh Bu Martha. Elisa melihat Mamanya bersedih, dia segera menghampiri Aira dan menatapnya dengan tatapan iba.
"Mama? Kenapa Mama cedih?" Pertanyaan Elisa membuat Aira mengangkat kepalanya dan tersenyum lirih memeluk putri kecilnya itu.
"Mama gak apa apa kok sayang, Mama cuma mau dipeluk Elisa." Ucap Aira sambil memeluk Elisa.
"Mama jangan cedih, Elisa ada dicini bawa esklim," Aira terkekeh mendengar ucapan Aira.
Aira melepaskan pelukannya dan kemudian menatap mata Elisa yang berbinar. Aira tersenyum dan mengendong Elisa agar duduk disampingnya. Mereka berdua memakan eskrim yang sebelumnya sudah dibelikan oleh Pak Salim.
"Enak eskrimnya?" Tanya Aira pada Elisa yang makan eskrim strawberry dengan lahap.
__ADS_1
"Enyak Ma, Elisa jadi happy," Elisa berkata dengan mulut penuh eskrim, membuat Aira tertawa. "Mama beruntung banget punya kamu, Elisa," Batin Aira.