Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
SEASON 2 - EPS 1


__ADS_3

"Tunggu, kamu Aira kan? benar kan?" Ucap seorang laki laki yang terkesima melihat wanita cantik dengan pakaian branded dihadapannya itu. Tapi wanita itu hanya menatapnya dengan tatapan datar seolah tak peduli.


Wanita berpakaian branded dan harum semerbak itu berjalan meninggalkan laki laki yang menyapanya. Dia sama sekali tidak peduli.


"Aira ini aku, Aris, apa kamu tidak ingat?" Laki laki itu mengejar Aira dan menarik lengannya hingga Aira hampir tersungkur. Dua bodyguard segera menghadang laki laki yang menarik Aira, namun Aira mengibaskan tangannya agar kedua Bodyguardnya tidak melakukan apapun pada laki laki itu.


Aira menurunkan sedikit kacamatanya dan menatap Aris dengan tajam. Matanya menelusuri Aris dari ujung kaki hingga ujung kepala, sandal lusuh, kaos dan jeans yang sudah usang, wajah yang kusam serta rambut yang berantakan. Aira kembali menaikkan kacamatanya.


"Permisi," Suaranya tegas, lalu hendak melanjutkan berjalan namun Aris kembali menghadangnya.


"Ya? kamu ingatkan?" Mata Aris berbinar dengan semangat.


"Saya tidak kenal anda, jadi bisa tolong minggir?!" Ucap Aira ketus.


Aris terpaku mendengar ucapan Aira yang dingin, "Apa mungkin aku salah orang? Apa dia memang bukan Aira yang aku kenal?" Batin Aris sambil menatap Wanita itu dari belakang.


"Tunggu!!" Teriak Aris, Aira berhenti namun tidak membalikkan badannya.


"Ya, kamu memang bukan Aira yang aku kenal, karena Aira-ku itu wanita yang lembut dan penuh kasih sayang, rupamu memang sama, tapi hatimu berbeda," Teriak Aris ditengah keramaian itu.


Aira mendengus, dia melepaskan kacamatanya dan berbalik.


"Aira-ku? Aira yang kamu maksud itu sudah mati!!" Tegas Aira kemudian segera berlalu naik ke mobil yang sudah dibuka-kan pintunya oleh supir pribadinya.


"Brruuummmmmmmm"


Mobil yang dinaiki Aira bersama para bodyguard yang gagah itu segera meninggalkan halaman lobby hotel yang baru saja diresmikan. Hotel Air. Hotel yang dikelola langsung oleh Aira sebagai Direktur utama.


Hotel yang memiliki konsep air, didesign khusus oleh designer ternama dan dirikan dengan air terjun dari lantai 30 hingga lantai dasar dibagian depan lobbynya. Hotel ini menjadi perbincangan dan viral di media social karena konsepnya yang nyentrik dan unik. Hotel ini juga dikelilingi oleh taman yang dialiri sungai kecil yang jernih serta ikan hias berwarna kuning yang berenang didalamnya.


Hari ini, adalah tanggal 20 April 20xx, tepat 4 tahun setelah kejadian menyedihkan yang Aira alami.


"Mama?" Seorang anak kecil membuyarkan lamunan Aira, gadis cantik yang duduk disamping Aira didalam mobil sambil memakan snack buah menatap Aira dengan mata yang sedih, mungkin dia khawatir mamanya terlihat tidak baik baik saja.


"Sayang, maaf ya mama ngelamun, enak gak buahnya?" Aira mencium putrinya, dan mengelus rambut putri kecilnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mama mau?" Ucap anak itu menyodorkan garfu plastik yang diujungnya ada buah strawberry kesukaannya pada Aira.


"No, Baby, buat kamu aja," Aira menolak dengan tersenyum


"Please..... Kata Oma, kalau makan strawbelly bisa bikin happy, jadi mama makan ini aja, bial jadi happy," Ucap gadis itu dengan suaranya yang lucu, serta pengucapannya yang masih belum lancar.


Aira tertawa dan akhirnya memakan strawberry yang diberikan gadis itu. Saat ini, mereka dalam perjalanan pulang. Dan sesampainya dirumah, Mereka disambut oleh Oma dan Opa dari gadis kecil itu.


"Opaaaa,,, Omaaaa,,, I'm home,"


"Elisaaa sayang, gimana? seru tadi ikut Mama acara?" Tanya Bos Adjie sambil menggendong cucunya.


"Happy, tadi banyak balun walna walni." Ucap Elisa menceritakan apa yang dia lihat di acara peresmian hotel dengan semangat.


"Gimana sayang? acaranya lancar?" Tanya Oma pada Aira sambil merangkul putrinya membiarkan Elisa bersama dengan Opanya bermain sepeda diruang keluarga yang cukup luas.


"Yeah, everythings gonna be okay Mom, but.. " Ucapan Aira terputus. Dia ragu apakah harus menceritakan pertemuan dengan Aris yang tiba tiba itu atau tidak.


"Why? kamu bisa cerita sama Mama," Ucap Oma pada Aira.


"Okay, terus dia ngapain? Dia lihat Elisa?" Tanya Oma mulai khawatir.


"Nggak kok Ma," Ucap Aira tersenyum getir.


Mama Aira tahu betul, bahwa hati Aira masih sakit. Meski Aira berusaha menutupinya selama ini, tapi Mama Aira bisa mengetahuinya dengan sangat jelas. Karena ikatan batin seorang ibu.


"Aira ke kamar dulu ya Ma, Aira ingin mandi. Pa, titip Elisa ya," Aira segera masuk ke kamarnya dan pergi mandi.


Lobby Hotel Air


Aris duduk dikursi taman, melihat semua orang yang berkumpul untum sekedar berfoto didepan lobby hotel dengan air terjun kebiruan yang indah.


"Harusnya dulu aku menikah dengan Aira, pasti sekarang hotel itu milikku," Batin Aris sambil menatap Hotel Air yang tengah ramai.


Aris saat ini benar benar hancur, Bos Adjie memecatnya 4 tahun lalu, dan memblokirnya dari pekerjaan hotel, Bos Adjie dnegan sengaja meminta rekan rekan bisnis perhotelannya untuk tidak menerima Aris bekerja dihotel manapun. Hingga akhirnya Aris menganggur belakangan ini.

__ADS_1


Tiba tiba ponsel Aria berdering, telepon dari istrinya Ressa.


"Apalagi?" Teriak Aris.


"Kamu gila ya? Cepat pulang!!" Teriak Ressa marah.


"Heuh dasar bego, ngapain juga waktu itu aku tidur lagi dengan dia sih!!" Teriak Aris sambil mengacak ngacak rambutnya dengan kesal.


4 tahun yang lalu


"Jadi apa keputusan kamu sayang?" Tanya Bos Adjie pada Aira yang saat itu tengah mengandung.


"Aira akan merawat bayi ini, tapi Aira janji akan tinggalkan Mas Aris." Ucap Aira dengan air mata yang berlinang membasahi pipinya.


"Sayang, kamu masih terlalu muda untuk jadi seorang ibu," Tegas Bos Adjie tidak menyetujui keinginan Aira.


"Tapi Pa, Bayi ini gak bersalah, Aira yang bersalah. Airaa yang seharusnya dihukum bukan dia," Ucap Aira dengan memeluk perutnya sambil memohon kepada orang tuanya agar tidak menggugurkan kandungannya.


"Apa kamu yakin akan menjadi seorang ibu? itu gak mudah sayang, apalagi ibu tanpa suami, Mama dan Papa hanya takut kamu semakin terluka." Ucap Mama Aira dengan mata yang berkaca kaca.


"Aku bisa, pasti bisa. Asal ada Mama dan Papa disisiku," Ucap Aira memeluk Mamanya. Mama dan Papa Aira hanya saling menatap dan akhirnya mendukung apa yang Aira telah putuskan.


"Yasudah, kalau ini memang keputusanmu, Papa dan Mama akan mendukung sepenuhnya."


________________________________________


Hallo para pembaca,


Maaf banget karena season kedua ini butuh waktu lama sekali untuk update, jujur saja, saya mengalami writers block, merasa putus asa dan merasa gak berbakat menulis novel.


tapi karena melihat komentar kalian semua yang menyemangati saya lagi, akhirnya saya memutuskan untuk kembali menulis..


terima kasih banyak ya para pembaca, kalian selalu jadi semangatku


with love ♡

__ADS_1


__ADS_2