Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Mencari Kebahagiaan


__ADS_3

Sudah tiga bulan semenjak aku memasuki benteng Tandum. Suasananya sangat damai, tenang, dan nyaman. Entah karena memang terlalu nyaman untukku atau karena aku lupa akan ingatanku di masa lalu sehingga aku lupa rasanya kedamaian dan kenyamanan seperti ini. Aku tinggal di bagian barat bersama prajurit tua yang menemukanku di bagian barat luar benteng.


Prajurit tua itu bernama Franko Albert. Berumur sekitar 50 tahun. Istrinya meninggal akibat kanker paru-paru 20 tahun yang lalu, anak laki-lakinya tewas ketika misi pertamanya di militer. Meski begitu, tuan Franko tetap sabar dan bahagia dalam menjalani kehidupannya.


Tapi meskipun di dalam sini sangat tenang, entah kenapa hatiku tidak tenang. Selalu dihantui rasa bersalah dan penyesalan. Penyesalan dan rasa bersalahku terhadap Kenji. Dia sudah menyelamatkanku tapi aku malah berpaling darinya di saat kami berpisah.


Matahari pun terbit. Aku pun segera bangun dari tidurku dan menyiapkan sarapan untuk Tuan Franko.


"Emiya, aku ada shift malam hari ini. Kau tidak perlu menunggu sambil bergadang lagi. Itu tidak baik untuk kesehatanmu." Kata tuan Franko menyesap teh buatanku.


"Justru itu yang kukhawatirkan. Sudah tua masih saja bergadang untuk bekerja. Kenapa tidak menikmati waktu pensiunmu? Kalau masalah uang aku bisa mencarinya." Kataku mencoba menasehatinya.


"Jika tubuh tua ini tidak sering bekerja maka akan mudah sakit-sakitan. Itu akan menambah bebanmu juga kan. Kau lupa pesan Kenji kepadamu?" Perkataan tuan Franko langsung membuat mengigit bibirku sendiri. Ya, Kenji menginginkanku agar hidup dengan damai dan bebas. Karena itu aku ditinggalkannya. Dan itu serasa tidak adil bagiku. Aku bahkan belum sempat mengucapkan "selamat tinggal" kepadanya saat itu


Kami pun selesai sarapan. Tuan Franko mengenakan seragam prajuritnya lalu mulai berjalan menyusuri rumah-rumah tetangga sekitar untuk pergi ke post penjagaannya, yaitu post barat. Sedangkan aku di rumah membersikan rumah, mencuci alat makan yang telah kami pakai dan pekerjaan rumah tangga lainnya.


Aku pun pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk dimasak nantinya untuk makan malam. Aku memutuskan untuk memuat sup daging sapi malam ini. Ketika aku dalam perjalanan pulang, Aku selalu melewati gereja yang berada tepat di kiri pasar. Gereja itu seperti gereja-geraja biasanya. Aku sempat heran, kenapa gereja ini sangat sepi? padahal sangat terawat dan bersih. Aku memandangi gereja itu cukup lama.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Seseorang yang tiba-tiba menanyaiku. Dan itu membuatku sedikit terkejut. Aku pun menoleh ke kanan.


"Anda ingin masuk?" Tanya orang tersebut yang ternyata adalah pendeta gereja tersebut. Awalnya aku menolak tapi karena dia pemuka agama disini akan kurang sopan jika menolaknya maka aku mengikutinya. Kami pun masuk kedalam gereja.


"Gereja yang indah." kataku memecah keheningan ketika kami duduk berseberangan.

__ADS_1


"Ah benarkah? Terima kasih. Tapi sebersih apapun aku membersihkannya dan membuatnya menjadi indah tetap saja hanya beberapa orang yang memasukinya." Jelasnya.


Lengang beberapa detik.


"Oh iya, saya lupa mengenalkan diri. Saya penjaga gereja di sini. Nama saya Luke." Pendeta itu pun memberitahu identitasnya. Umurnya sepertinya lebih muda dariku. berambut abu-abu berantakan, matanya berwarna cokelat cerah.


"Nama saya Emiya. senang berkenalan dengan anda." Aku pun menjabat tangannya. Karena perasaanku saja atau bagaimana wajah Luke langsung tegang ketika menjabat tanganku. Tapi dia langsung tersenyum dan melepas tanganku dengan pelan.


"Emiya ya? Saya tidak pernah melihat anda. Apakah anda pindahan?" Tanyanya.


Meskipun dia seorang pastur Tuan Franko menyuruhku agar tidak memberitahu siapapun darimana asalku siapapun dia. Aku akan berada masalah jika melakukannya.


"Iya, saya pindah baru 3 bulan yang lalu." Jawabku. Kurasa itu jawaban paling netral.


"Nona Emiya. Hati-hati. Ingat, tidak ada yang bisa menolak kebahagiaan meskipun itu menyakitkan. Itu berlaku untuk semua orang termasuk saya." Kata Luke tersenyum lembut. Meskipun aku senang mendengarnya tapi kata-kata Luke seperti mengandung banyak arti. Ketika aku berbincang padanya tadi meskipun aku sangat menikmatinya tapi aku merasa ada hawa intimidasi yang sangat mengerikan dibalik senyum Luke.


Aku tidak menceritakan kejadian pagi itu kepada tuan Franko. Tapi sepertinya tuan Franko membaca raut wajahku. "Ada apa, Emiya?" Tanya Tuan Franko.


"Ah tidak. Aku hanya berpikir besok kita sarapan apa..." Jelas aku berbohong kepadanya. Tuan Franko pun meletakkan sendoknya.


"Reaksi seperti itu adalah tanda kebohonganmu. Tapi tumben sekali kau terlihat resah seperti itu ketika membahas topik selain Kenji? Apa yang terjadi?" Tanyanya sekali lagi. Aku memang pembohong yang buruk. Meskipun baru 3 bulan bersama tuan Franko, dia sudah tahu cara berbohong ku.


Aku menceritakan semua kejadiannya secara runtut dan rinci. Tuan Franko sangat antusias mendengarnya. Tentang pendeta Luke, Gerejanya, semuanya.

__ADS_1


"Aku ingin kau tidak memasuki gereja itu lagi. Akan sangat berbahaya jika kau terlalu terlibat dengannya." Dari nadanya mungkin biasa tapi ada hawa intimidasi dari suaranya. Aku juga tidak berani bertanya alasannya. Tuan Franko biasanya sedang marah dan serius jika sudah seperti itu.


"Mungkin sudah waktunya. Aku tidak menyangkal perkataan si pendeta Luke itu. Kau sudah belajar banyak hal selama 3 bulan ini. Mencari kebahagiaan tidak selalu dari cara yang mudah. Maka itu terserah kepadamu." Kata Tuan Franko.


"Tuan mengizinkanku?" Tanyaku untuk memastikan.


"Aku bukan Tuhan yang menetapkan hukum untuk manusia, Emiya. Manusia cenderung memberontak karena ego-nya. Karena Manusia memiliki hawa nafsu. Selama kau bahagia aku tidak akan menghalanginya." Katanya.


Hari esoknya Ketika aku ingin pergi ke pasar Tuan Franko sudah membeli bahan-bahannya untuk makan siang dan malam kami. Itu menandakan dia benar-benar serius. Dia tahu aku selalu melewati gereja itu ketika selesai dari pasar.


Suara Lonceng terdengar. Waktu dimana para pahlawan memasuki gerbang. Di depan rumah tuan Franko adalah jalan utamanya untuk para pahlawan lewat. Aku mendengar rumor kalau mereka adalah utusan para dewa untuk menyelamatkan dunia ini dari bangsa iblis dan mereka benar- benar sangat kuat dan hebat.


Dari balik kaca jendela rumah, aku melihat satu pahlawan yang sangat cantik, Nona Miyuki. Berpakaian Putih berjubah dengan plat baja yang melindungi dada, punggung tangan, dan tulang kering di kakinya, rambutnya hitam lurus dan panjang. Wajahnya sangat cantik dan anggun. Bersenjatakan pedang lengkung yang di sebut katana. Tuan Franko juga pernah bercerita kalau Nona Miyuki juga pernah di selamatkan oleh Kenji.


Aku ingin sepertinya. Menyelamatkan banyak orang, menjadi pahlawan. Dimana aku bisa melindungi semua senyum dan tawa. Malam pun tiba.


Aku dan tuan Franko pun makan malam bersama. Kami menikmati ayam panggang yang tuan Franko beli tadi di pasar tadi. Aku ingin membicarakan keinginanku tentang "mencari kebahagiaan dan kebebasanku." yang Kenji katakan padaku.


"Tuan Franko. Aku ingin menyusulnya. Mungkin saja itu keputusan yang salah atau mungkin keputusan yang benar. Tapi aku ingin bisa berterima kasih padanya. Dia sudah menjadi pahlawan sendiri untukku yang membuat hidupku menjadi lebih berarti. Maka dari itu aku ingin mengikutinya. Jika bukan karena dia, aku mungkin masih tertidur di dalam reruntuhan itu." Kataku dengan penuh tekad.


Tuan Franko melihat mataku cukup lama. Kemudian dia tersenyum lembut kepadaku.


"Kalau begitu kejarlah. Akan selalu ada jalan. Takdir mungkin akan mempertemukan kalian. Jika itu kebahagiaanmu maka kejarlah Emiya." Kata Tuan Franko mengelus rambutku.

__ADS_1


Dengan ini aku memulai petualangan ku menuju neraka penuh iblis. Meskipun aku harus merasakan semua rasa sakit yang ada di dunia ini. Tapi keputusanku tidaklah keliru.


__ADS_2