
Granade Launcher di tembakkan secara acak karena keberadaan Kenji yang ditutupi oleh countainer-countainer. Tapi aku melihat ada suatu kejanggalan. Kenapa makhluk itu lebih seperti menghemat pelurunya Granade Launcher-nya? Bukannya dia masih bisa menggunakan Minigun-nya yang merepotkan itu? Tapi entah kenapa aku ingin turun ke sana untuk membantu Kenji.
Aku bahkan kehilangan keberadaan Kenji dari atas sini. Makhluk itu meluncurkan Granade Launcher-nya secara membabi buta. Apakah tidak ada yang bisa kulakukan? Aku pun berpikir keras. Berpikir, berpikir, berpikir! Setidaknya aku bisa memberi peluang untuk Kenji. Tapi aku tidak bisa melibatkan diriku langsung turun kesana. Aku pun mengamati sekitar. Aku melihat kotak kayu besar yang kutemukan disaat aku mencari persediaan makanan. Ada! Aku bisa memberinya peluang.
Kubuka isi ransel Kenji yang berisi Jihan yang masih menunggu di dalam dengan wajah cemas. Jihan pun melihatku.
"Apakah ayah baik-baik saja?" Tanya Jihan dengan wajah cemas. Jelas dia sedang mencemaskan Kenji.
"Dia akan baik-baik saja. Aku berjanji. Jihan, jangan keluar dari ransel sampai aku atau Kenji yang membukakan ransel ini dan jangan banyak bergerak." Kataku. Kuraih trisulaku. Jihan mengangguk meskipun masih dengan wajah cemas. Kututup kembali ransel itu dan menepikannya ke sudut ruangan yang aman. Anak kecil tidak mungkin seberat ini. Apa sih isi tasmu Kenji!!!? Batu!? Kurogoh beberapa kantong yang ada di sisi samping tas. Aku pun menemukan yang kucari. Gass mask. Aku pun menyambar bulu mantel Kenji yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
Karena terlalu terburu-buru aku hanya sempat mengikat bulu tersebut di pundak kananku. Karena tubuh Kenji sekitar 190 cm maka jelas mantelnya sangat lebar dan panjang. Tali simpulku membentuk seperti ekor kucing karena terlalu panjang. Aku pun melompat dan mendarat di antara countainer-countainer yang sudah dilalap api. Asap begitu tebal. Jika aku tidak memakai gass mask mungkin paru-paruku sudah mengering karena terlalu banyak menghirup asap.
Aku pun berlari mencari jalan menuju kotak kayu besar tadi. Meskipun menggunakan bulu ini sangat panas tapi cukup efektif sebagai mantel anti api. Aku pun sampai ke tempat kotak kayu besar itu. Kutarik apa yang ada didalamnya. Sebuah drone darat. drone berbentuk seperti tank versi mini dengan Minigun di atasnya dan juga beberapa senjata tambahan seperti Granade Launcher berisikan sektiar 20 peluru. Itu lebih dari cukup untuk sekedar mengalihkan perhatian. Kubuka koper kecil di atas cap drone tersebut.
Sebuah laptop militer seperti DCM untuk mengendalikan drone ini. Tuan Franko juga memberitahuku tentang itu. Meskipun baru beberapa kali melihat dan memperhatokan Kenji mengotak-atik komputer bangsa Invest sudah lebih dari cukup sebagai dasar mengendalikan drone ini. Aku pun berlari kembali ke atas pesawat untuk mengendalikan drone tersebut. Aku mencoba mengotak-atik laptop tersebut. Perlu sekitar 40 menit agar aku paham cara kerjanya. Akhirnya bisa diaktifkan. Dipanel layar keluar lambang Tandum sebagai backgroundnya.
Aku pun mencoba menggerakkan drone tersebut. Ternyata cukup mudah. Aku hanya memerlukan beberapa tombol untuk mengendalikannya dan itu tidak sulit untuk dihafal. Kugerakkan drone tersebut untuk maju secara perlahan. Karena aku tidak bisa melihat drone tersebut dari atas sini maka aku menggunakan kamera yang sudah terpasang diatas drone sebagai sarana penglihatan. Aku mengendalikannya secara perlahan dan mencari jalan yang tepat agar bisa sampai ke makhluk itu.
Tangan hancur hingga diatas sikunya. Meneteskan darah merah yang begitu kental. dengan cepat makhluk itu menghancurkan drone-ku menggunakan Minigun di tangannya. Drone darat itu hancur dan meledak membuatnya tercerai berkeping-keping. Tapi kenapa Kenji tidak segera mengakhirinya? Kenapa dia tidak kunjung keluar dari countainer-countainer? Atau jangan-jangan dia terjebak di puing-puing countainer sehingga tak bisa kemana-mana?! Pikiran mulai mengamuk. Tanpa pikir panjang aku turun dan mencari Kenji di setiap tempat. Ku teriakkan namanya berkali-kali. Tapi aku tidak kunjung mendapat respon darinya.
__ADS_1
Ledakan terjadi tepat di beberapa meter didekatku dan membuatku terpental beberapa meter. Di saat aku berteriak tadi makhluk itu juga melacakku. Minigun-nya mengeluarkan asap seperti menguap. Aku bisa melihat aliran-aliran listrik keluar dari Minigun tersebut seperti terjadi kerusakan. Aku sangat ketakutan saat itu. Karena ledakan tadi membuatku terluka di bagian yang tidak tertutupi bulu dan aku tidak bisa berkonsentrasi untuk berubah ke mode Demi-Slave. Api sudah merambat hingga ke atas countainer bagian atas dan penopangnya tidak lagi kuat. Makhluk itu tertimpa beberapa countainer tepat di depanku. Aku pun mencoba untuk mengatur napasku dan mengendalikan ketakutanku.
Aku baru paham kenapa makhluk itu selalu mengganti senjatanya dalam jeda waktu tertentu. Aku baru menyadarinya ketika melihat Minigun-nya menguap. Overheat. Jika senjata terlalu sering digunakan maka akan overheat dan malah akan menghancurkan komponen-komponen penting didalamnya. Karena itu makhluk pengguna Minigun ini mengganti senjatanya agar tidak terjadi overheat. Kulihat dibahu kiriku. Ternyata terdapat luka yang cukup parah di situ. Aku menggigit bibirku sendiri karena kesakitan.
Tapi setidaknya makhluk itu mati tertimpa countainer-countainer ini. Ledakan terjadi lagi di depanku. Ternyata ini belum berakhir atau bahkan bisa dibilang baru saja dimulai. Makhluk itu berubah menjadi monster raksasa setinggi 10 meter, menumbuhkan 2 tangan di bawah ketiaknya dengan setiap jarinya berhiaskan cakar sepanjang 1 meter, kepalanya menjadi seperti raptil tanpa mata dengan lidah belut yang sangat panjang, di punggungnya tumbuh sirip dan 4 kaki seperti laba-laba yang menjijikan, kedua tangan aslinya kembali melakukan regenerasi dan membentuk tangan baru, dari pinggang ke bawah wujud monster ini yaitu tentakel-tentakel seperti gurita.
Monster ini makin lama makin gila dan mengganas. Makhluk itu mungkin buta tapi sepertinya bisa merasakan hawa panas di sekitar sebagai ganti dari matanya. Monster itu melilitiku dengan lidah belutnya. Aku tidak bisa bergerak sedikitpun. Lidah belut ini seperti memerasku dan membuat luka di tangan kiriku bertambah parah. Kumohon Kenji........... tolong aku.
Seperti kilat, Ada sesuatu yang memotong lidah belut yang melilitiku. Aku pun terjatuh dari ketinggian 3 meter. Tapi rasa sakitku tidak sebanding dengan sosok yang ada di depanku. Monster dengan rambut putih lebat, berlapiskan zirah hitam, hanya tangan kanannya yang sempurna dan itu bukan tangan manusia, tangan berlapiskan cangkang zirah hitam dengan sebuah bilah pedang melintang dan jari-jari yang yang bercakar,memiliki 2 ekor seperti naga, wajahnya tidak terlihat karena tertutupi cangkang zirahnya sendiri dan hanya menyisakan matanya yang terlihat.
__ADS_1
"Ke-Kenji?" Tanyaku kepada makhluk itu.