Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Fraksi 13 Pahlawan Mulai Bergerak


__ADS_3

Kenapa? Kenapa harus Kenji?! Kenapa selalu Kenji?! Kenapa selalu Kenji yang menjadi incaran?!!! Aku menatap Luke dengan dingin. Entah kenapa rasanya aku ingin meluapkan rasa marahku padanya. Tapi aku menyambut kertasnya dengan baik.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Katanya dengan santun. Tapi aku langsung memegang pundaknya untuk membuatnya berhenti. Kudekatkan bibirku ke telinganya.


"Jika kau berani, membahayakan Kenji, mencoba memanfaatkannya. Maka..." Aura negatif dari diriku keluar dengan hebat dan dahsyat.


"Akan kubuat kau menyesal kalau kau terlahir di dunia ini. Mengerti, pendeta?" Aku sempat melihat wajah Luke yang terkejut dan kaku. Tapi dengan cepat wajahnya kembali normal.


"Ya, baiklah. Akan kucamkan itu baik-baik, Nona Emiya. Kalau begitu, permisi." Luke menyingkirkan tanganku dengan lembut dari bahunya dan berjalan menjauh. Dia sudah kuberi peringatan.


Hari mulai gelap. Aku dan Jihan pun pulang menuju penginapan. Aku mencoba membuka pintu kamar dan masih terkunci. Apakah sampai menjelang malam ini Kenji belum juga pulang?


Aku pun membuka kuncinya dengan kunci cadangan. Ketika aku membukanya semua lampu masih dimatikan sama sebelum ketika aku menghidupkannya.


"Halo Project Grail. Aku tidak menyangka kalau project itu berhasil." Kata seseorang didekat meja. Dan dari suaranya itu jelas bukan Kenji. Kenji tidak mungkin memanggilku seperti itu.


Dengan reflek kutodongkan pistolku ke arahnya.


"Siapa disitu?!" Ancamku menodongkan pistol.


"Hoo, pistol. Kau ingin menembakku? Itu boleh." Katanya dengan sombong. Wah tentu kenapa tidak. Kutarik pelatuknya. Suaranya langsung bergema ke seluruh ruangan. Tapi ada yang aneh. Aku malah mendengar pulurunya mengenai seperti permukaan besi.

__ADS_1


Aku pun menembaknya berkali-kali hingga peluruku habis. "Kau sudah selesai. Kalau sudah, coba kau hidupkan lampunya." Aku masih berjaga menodongkan trisulaku ke arahnya dan berjalan menuju skalar lampu.


Apa?! Seorang robot?! Pria maskulin berbalut baja full set dari ujung kepala hingga ujung jari kaki. Pantas saja ketika aku menembaknya terdengar suara dentingan. Robot hitam legam dengan mata berbentuk 3 garis merah horizontal, dengan motif berwarna hijau daun, dan di belakang punggungnya terdapat banyak kabel besar yang terputus di belakangnya, tubuhnya besar sekitar 190 meter. Bagaimana dia bisa masuk.


"Kau ini.....apa?" Tanyaku dengan gugup. Aku juga sambil memeluk Jihan agar dia tetap tenang.


"Dengan melihatku yang seperti ini seharusnya kau tahu. Aku seorang cyborg. Manusia percobaan yang tubuhnya diubah menjadi metal." Katanya.


"Baiklah manusia kaleng. Apa yang kau ingin dari kami?" Tanganku semakin kencang menggenggam gagang trisulaku.


Cyborg itu pun mulai berdiri dan berjalan ke arah kami.


"Menjauh dari kami!" Bentakku. Aku ingin berteriak kalau ada orang asing di dalam kamar ini tapi aku mengurungkan hal tersebut. Di bahunya tercetak lambang militer Tandum. Besar kemungkinan dia bukan sembarang orang. Aku pun mulai bergerak perlahan ke arah kamar mandi. Sangat beruntung aku tadi tidak menutup kamar mandinya.


Aku langsung menghunuskan trisulaku ke dada cyborg itu dengan sekuat tenaga tapi tidak terkena efek apapun. Cyborg itu langsung merebut trisulaku dan membuangnya. Dengan secepat kilat dia juga berhasil mencekikku.


Rasanya sangat menyakitkan.


Aku pun berusaha berkonsentrasi agar bisa berubah ke mode Demi-Slave. Dan berhasil, aku langsung menggunakan mode Perseus. Kutendang manusia kaleng itu dengan sekuat tenaga tapi dia masih belum melepaskan tangannya dari leherku. Maka aku menggunakan cara yang lebih kasar. Kujadikan wajahnya sebagai pijakan agar aku bisa terbebas dari cekikannya. Meskipun memerlukan perjuangan, tapi itu membuahkan hasil. Aku langsung bersalto kebelakang untuk mengambil trisulaku.


"Untuk ukuran percobaan kau tergolong sukses. Tapi...." Kata cyborg itu yang dengan cepat menghilang dari pandanganku. Dengan cepat aku langsung menggunakan kasur penginapan sebagai perisai. Dan yang benar saja, cyborg benar-benar ingin memukulku dengan sekuat tenaganya. Bahkan kasur setebal 50 cm saja tembus dan hancur karena tonjokkannya. busanya langsung berhamburan.

__ADS_1


Trisulaku langsung berubah menjadi tombak bilah lengkung seperti yang digunakan Perseus. Ini kesempatanku! Selagi dia tidak melihatku akibat penglihatannya terhalangi oleh kasur. Aku langsung melompatinya dan mencoba menebas kabel-kabel yang terurai di bagian punggungnya. Tapi aku kalah cepat. Leher cyborg itu berputar 180 derajat sehingga bisa melihatku yang sedang ada di belakangnya. Cyborg itu langsung menendangku dengan sangat kencang sehingga tubuhku terpelanting dan menabrak tembok dengan sangat keras.


"Bagaimana pun juga kau tetaplah manusia. Terbentuk dari seongkok daging dan susunan tulang. Sangat rapuh dan mudah di hancurkan." Kata cyborg itu mendekatiku. Aku masih batuk-batuk karena tubuhku terpelanting tadi. Cyborg itu kemudian mengeluarkan semacam senapan kecil di punggung tangannya. Dia mengarahkan ujung senapan itu ke kepalaku.


"Cawan suci sudah jatuh ke tangan Pihak Gereja. Maka tidak ada pilihan lain selain menghancurkannya. Ada kata-kata terakhir?" Tanya cyborg itu. suara mesin sudah mendesing. Senapan itu siap menembakkan pelurunya.


"Kau sendiri....... ada kata-kata terakhir?" Suara dingin dari sosok yang dibelakang Cyborg itu terdengar. Aku mengira itu adalah Kenji tapi aku salah. Dia adalah Luke.


Cyborg itu langsung mengarahkan senapannya ke arah Luke. Tapi belum sempat menembak, tangan cyborg itu sudah tergeletak di lantai. Secepat apa Luke memotong tangannya.


"Hoo.... Anggota Pihak Gereja. Pendeta Luke. Aku tidak menyangka kau sendiri yang akan terjun kemari untuk menjaga cawan suci tersebut." kata Cyborg itu dengan kagum. Aku bahkan tidak tahu kalau reputasi Luke sebagai anggota Pihak Gereja sangatlah tinggi.


"Ini perang Mitologi. Aku tidak mesti menyuruh slave-ku untuk membunuhmu." Balas Luke dengan ramah. Atmosfer yang mereka hasilkan sangatlah berbeda. Mereka bahkan mengeluarkan aura yang mirip seperti Kenji. Karena itu aku salah menduga kalau Luke tadi adalah Kenji.


"Kau juga cukup berani datang kemari tanpa membawa slave. Apakah kau ini tolol atau terlalu percaya diri?" Ejek si cyborg.


"Kau sendiri pun juga sama. Setelah kehilangan slave demi mengambil cawan suci di reruntuhan beberapa bulan lalu. Kau berani memasuki daerah pihak Gereja?" Balas Luke. Lengang 10 detik diantara percakapan mereka.


"Sepertinya melanjutkan ini terlalu jauh akan merugikan kami. Bagaimana kalau kita anggap hari ini impas?" Tanya si cyborg.


"Baiklah, tidak masalah." Cyborg itu langsung menghilang seperti bunglon, seperti kamuflase. Luke langsung menyarungkan pedangnya dan mengulurkan tangannya kepadaku.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanyaku penasaran dan masih saja heran.


"Karena beberapa laporan dari pasukan Pihak Gereja kemarin ada yang mengawasi kamar ini. Maka dari itu aku sendiri yang turun tangan yang menanganinya. Dan dugaanku benar. Sepertinya Fraksi 13 Pahlawan sudah mulai melancarkan gerakan yang cukup berani dengan ingin mengambil cawan suci secara paksa dari pemilik sahnya." Jelas Luke.


__ADS_2