Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Hamato


__ADS_3

Kanibal, salah satu jenis dari bangsa iblis tipe 3. Berbeda dengan zombie atau zombie runner, kanibal memiliki kecerdasan hampir sama dengan manusia sehingga memungkinkan mereka menggunakan senjata dan alat-alat lainnya. Mereka sangat menyukai makanan berupa daging-daging manusia. Setahuku itu yang Tuan Franko katakan kepadaku tentang Kanibal. Tak kusangka aku akan menghadapi mereka disini.


Para kanibal mulai menyerangku menggunakan alat-alat yang seharusnya digunakan untuk kerja bakti. Tapi kelemahan mereka adalah gerakan mereka terlalu lambat seperti orang yang sedang mabuk. Memudahkanku menyerang organ vital mereka. Kugunakan trisulaku untuk menusuk dan mengoyak tubuh salah satu dari mereka. Meskipun mereka lambat dan mudah ditebak mereka bahkan tidak mati meskipun aku menghujam jantung mereka sama seperti kakek kanibal yang kutembak tulang belakang nya tadi. Mereka sepertinya juga tidak merasakan sakit sedikitpun.


Aku pun mulai kuwalahan karena jumlah mereka yang sangat banyak. "Apakah mereka abadi?" Kataku keheranan masih menghujamkan trisulaku ke salah satu kanibal ibu-ibu. Karena terlalu dalam dan sepertinya tersangkut di tulang rusuknya aku kesulitan menarik trisulaku. Dari samping kananku ada satu kanibal ingin menebasku menggunakan celurit. Aku sempat menghindarinya tapi bilah celurit itu sempat mengenai lengan atasku. Aku salto ke belakang untuk menjaga jarak tapi ternyata di belakangku juga ada kanibal yang sudah siapa menyerangku. Dengan sigap kuambil pistolku dan reflek menembak kepalanya. Kepalanya pun pecah seperti telur yang hancur. Tubuhnya pun kolaps dan mati.


Aku pun menyadari sesuatu. Kelemahan mereka terdapat pada kepala mereka. Kutembakkan setiap kepala kanibal di sekitarku. Karena terlalu fokus kepada kanibal, aku pun kehabisan peluru. Tidak sempat untuk mengganti magazine, kuambil pisau dapur milik salah satu kanibal yang tertancap di tanah dan menusukkannya ke kepala salah satu kanibal. Jika aku menggunakan trisulaku maka akan lebih mudah. Tapi trisulaku tersangkut di tubuh salah satu tubuh kanibal yang berada di belakang gombalan kanibal yang begitu banyak. Para kanibal semakin mendekatiku. Aku hampir kehilangan harapan. Aku pun kolaps tiba-tiba dan tidak sadarkan diri. Mungkin karena celurit yang melukaiku tadi sudah dilumuri racun. Aku hanya bisa pasrah dan menutup mataku yang sangat berat untuk kubuka.


Dalam mimpiku, Di ruang hampa berwarna putih aku bertemu dengan seorang wanita. Wajahnya familiar. Wanita cantik berambut hitam panjang dan terdapat selendang bulu yang sangat tebal yang terikat di bawah ketiaknya di bahu kanannya. wanita tersebut tersenyum kepadaku dan mengulurkan tangannya kepadaku tanpa alasan yang jelas aku pun mengulurkan tanganku dan menjabat ukuran tangannya.


Aku pun terbangun. Kepalaku sedikit pusing. Aku mencoba mengingat apa yang barusan terjadi tapi aku tidak bisa mengingatnya. Ketika aku melihat sekitarku semua kanibal sudah mati terbunuh dengan tubuh mereka yang tercabik-cabik. Dan ketika aku terbangun tanganku sudah menggenggam trisulaku kembali. Begitu banyak darah dan potongan daging kecil yang tersangkut di bilahnya. Aku semakin takut apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun ingat satu hal. Wanita yang ada di dalam mimpiku tadi sangat indentik dengan wanita yang menghilang menjadi kilauan emas yang kutemukan di sungai tadi.


"Tak kusangka anjing betina yang cantik sepertimu bisa memiliki gerakan seperti itu ketika bertarung." Aku mendengarnya sangat jelas. Aku pikir karena terlalu pusing sehingga aku seolah berhalusiansi mendengar suara manusia di sekitar sini. Tapi ternyata tidak. Benar- benar ada seseorang yang berada di atas salah satu kerangka yang menyangga atap peternakan tersebut.


"Siapa kau?" Tanyaku curiga.

__ADS_1


Aku merasakan hawa yang tidak mengenakkan dari orang tersebut. Hawa membunuhnya sangat besar. Pria berambut hitam putih dengan gaya rambut seperti di tarik kebelakang, menggunakan anting-anting emas di kedua telinganya, berwajah angkuh, bermata merah, dengan baju zirah berwarna putih berukiran tulisan dan gambar kuno berwarna kuning emas yang menghiasi seluruh permukaan zirahnya.


Pria itu mendekatiku. Dia melihatku seolah aku adalah hal yang menarik perhatiannya. Aku pun perlahan mundur tanpa kusadari hingga sampai ke tembok kandang. Keringat dingin mulai membasahi leherku. Pria itu menyeringai.


"Tak kusangka kau yang terpilih. Pantas saja aku sangat tertarik kepadamu." Katanya.


"Apa maksudmu?" Kataku sedikit terbata-bata. Aku tidak paham apa maksud dari perkataannya tadi.


"Tapi sepertinya masih belum penuh ya? Tapi tidak apalah. Dimana pemilik sahnya?" Tanyanya. Aku semakin tidak paham arah pembicaraannya. Apanya yang "penuh"? Apanya "pemilik sah"?


Tapi mereka semua terbunuh seketika sebelum mencapai kami.


"Aku tidak mengundang kalian ke sini, Anjing-anjing gila. Sadarilah derajat kalian."


Sosok roh kesatria memakai baju zirah kuno yang berjumlah 3 oranglah yang membunuh mereka, menebas leher para kanibal berkepala karung tersebut. Perasaanku mulai tidak karuan tapi aku mencoba untuk tenang. Pria ini bahkan membunuh 3 kanibal tanpa menyentuhnya. Aku memerintahkan tubuhku untuk bergerak meskipun itu sangat sulit. Pria itu pun kembali memandangku.

__ADS_1


"Hoo... Baru pertama kalinya dari kehidupan pertama dan keduaku aku di ancam seperti ini. Keberanian dari seekor anjing sepertimu seharusnya dibalas dengan kematian." Kata pria tersebut dengan tersenyum kejam.


Kuacungkan trisulaku ke arah lehernya. Meskipun tanganku sangat bergetar. "Meskipun cuma anjing betina, kau lumayan juga. Belum pernah ada yang berani mengarahkanku senjata selama hidupku." Katanya. Pandanganku bahkan mulai kabur dan hampir pingsan karena ketakutan, tapi aku harus bisa menahannya.


"Pantas saja kau sangat membuatku tertarik." Tangannya mulai mengarah ke pipiku. Tapi tiba-tiba tangannya tersentak menjauh. Pria itu pun mundur beberapa langkah dariku.


"Dia bahkan sampai menggunakan segel kontraknya. Dasar menyebalkan, tapi tidak masalah." Pria itu berpaling dan berjalan menjauh.


"Si....apa......kau?" Bahkan karena terlalu ketakutan aku hampir lupa bagaimana cara berbicara. Suaraku sedikit berat seperti habis tercekik.


Pria itu menoleh ke arahku dengan tatapan angkuh.


"Anjing betina sepertimu tidak layak mendengar nama ku. Tapi baiklah. Kalau kita memang ditakdirkan maka kita akan ketemu lagi. Namaku Hamato." Kata pria yang mengaku namanya adalah Hamato kemudian menghilang.


Udara menjadi segar kembali. Pernapasanku menjadi ringan. Aku tidak habis pikir dengan pria tersebut. Semua kata-katanya tadi tidak masuk akal dan tidak bisa kupahami. Aku pun berlutut karena lemas. Bukan karena pertarungan dengan para kanibal, tapi karena sosok bernama Hamato yang sangat mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2