
Jika seorang wanita mendengar itu dari kekasihnya mungkin akan terjadi drama ter-epic sepanjang hubungan itu berlangsung. Tapi itu tidak berlaku kepadaku meskipun cukup sulit untuk terbiasa mendengar dari mulut pedasnya.
"Kau mungkin benar kalau aku telah membohongi kalian. Tapi perasaanku bahkan tidak bisa berbohong. Aku memang menyukaimu Kenji." Kataku dengan sepenuh hati. Pria yang cocok untuk wanita yang angkuh, egois, dan pandai berbohong sepertiku adalah pria yang sangat mendominasi kehidupanku dalam segala hal, dan itu hanya pada dirimu Kenji. Selama hidupku ini aku tidak pernah menemukan pria se- luar biasa dirimu.
"Oh begitu." Kata Kenji beranjak dari tempat duduknya. Tidak seperti biasanya dia tidak menguji kebenaran dari perkataanku. Kenji pun berjalan menuju tangga dan jika tebakanku benar mungkin dia ingin ke kamarnya.
"Kau tidak meragukan perkataanku tadi?" Tanyaku dengan nada sedikit penasaran. Tapi Kenji hanya berhenti sebentar dan melanjutkan jalannya menuju kamar.
"Seperti biasa. Sangat irit bicara." Kata Hisao.
...****************...
(Keesokan harinya)
Hari kedua kami di Underground telah tiba. Setelah semua orang sarapan dan menyelesaikan semua urusan pribadinya masing-masing, kami mulai berangkat menuju tempat yang diperintahkan sesuai yang terdengar di alat komunikasi. Pakaian Hisao berubah menjadi menggunakan tank top berwarna biru tua dan mengenakan celana knickers bockers berwarna hitam gelap. Rambutnya diikat dengan gaya side ponytail yang membuatnya terkesan feminim, dan memakai sandal romawi berwarna hitam. Sedangkan Jihan menggunakan pakaian semacam peasant top berwarna merah marun dengan celana legin abu-abu dan sepatu boot hitam.
"Baiklah, sebelum kita pergi coba beritahu masing-masing peletakan tugas kalian hari ini untuk berjaga-jaga. Aku akan berada di pelatihan di bagian penembakan." Jelas Kenji yang mengumpulkan kami di ruang tamu sebelum pergi.
"Aku disuruh pergi ke tempat Laser." Kata Jihan. Sepertinya Laser akan ditugaskan untuk mengasuh anak hari ini.
"Aku akan bersama Theresa di Katedral-nya." Ujarku memberitahu.
"Aku akan bersama dengan Hunt. Dia bilang aku harus menemuinya di ruang latihan fisik." Kata Hisao. Kenji pun mengangguk.
"Untuk hari pertama ini semua orang wajib pulang ketika semua tugas kalian sudah selesai. Ini untuk memastikan keselamatan kalian." Kata Kenji memperingati.
"Kami bisa menjaga diri kami, Kenji." Ujarku. Kenji segera menoleh ke arahku dengan tatapan serius.
"Aku serius. Ini bukan masalah kalian bisa menjaga diri atau tidak. Masalahnya kalian adalah wanita. Kita tidak bisa menjamin penduduk Underground akan sangat ramah kepada kita atau tidak. Karena itu aku ingin kalian selalu waspada. Untuk Jihan, aku akan mengantarmu ke tempat Laser lalu baru akan meninggalkanmu di sana. Kalian paham? Siapapun bisa menjadi musuh. Ingat itu baik-baik." Kata Kenji. Semua orang pun mengangguk.
"Bagus, kita akan bertemu lagi nanti. Hati-hati. Ayo Jihan." Kata Kenji yang dengan segera menggandeng tangan Jihan dan keluar dari rumah.
__ADS_1
"Tidak seperti biasanya dia akan berkata seperti itu." Gumam Hisao.
"Karena dia peduli kepada kita. Ayo." Kataku berjalan keluar rumah diikuti Hisao yang mengekori ku.
...****************...
(Di Katedral.)
Aku sampai di ruangan yang dijanjikan Theresa seperti janjinya tadi malam. Ku ketuk pintunya dengan pelan.
"Permisi." Kataku meminta izin.
"Masuk." Balas Theresa dari dalam ruangan. Aku pun membuka pintu dan menemukan Theresa yang sedang mengerjakan semacam laporan di mejanya.
"Yang Mulia, silahkan duduk." Kata Theresa tanpa menoleh. Tanpa sungkan pun aku segera duduk di seberang Theresa. Para pelayan dengan cekatan menyiapkan secangkir teh kepadaku kemudian membungkuk hormat dan pergi.
"Bagaimana hari pertama anda di sini. Saya harap Yang Mulia menyukai tinggal di bawah tanah." Kata Theresa berbasa-basi.
"Mohon maaf Yang Mulia. Saya kelepasan saat itu." Jawab Theresa.
Dengan reflek, ku pasang wajah cemberut dan sebalku.
"Dasar pembohong." Kataku dengan sebal.
"Yang Mulia sendiri juga berbohong kepada mereka. Terutama kepada Tatsumaki Kenji. Anda pikir dengan membohonginya bisa membuat anda berada di atas angin di hadapannya. Sayangnya anda tertinggal satu langkah darinya." Jelas Theresa.
"Jangan membaca pikiranku, Thers. Itu membuatku malu." Kataku memalingkan wajah. Kupikir dengan berpura-pura lupa ingatan akan membuatnya luluh ternyata tidak.
"Jadi apa yang anda suka darinya?" Tanya Theresa. Seketika wajahku semerah dan meledak percikan api mercon. Padahal aku sudah berusaha melupakan alasannya.
"Sikap dinginnya... " gumamku dengan suara lirih dan pelan.
__ADS_1
"IYA?" Dengan sangat bersemangat Theresa memajukan kursi dan wajahnya ke arahku yang membuatku hampir terdorong dan terjatuh dari kursi.
"Aggh! Bukan apa-apa!" Imbuhku cepat-cepat. Cepatlah ganti topik pembicaraan ini, ya ampun...
"Saya senang anda bisa menikmati waktu anda bersamanya. Semenjak kudeta saat itu saya sudah berpikiran kalau anda tidak akan memiliki penerus tahta karena anda benar-benar pemilih." Kata Theresa dengan nada menggoda.
"Astaga Thers...." Kataku terpotong kemudian Theresa membungkuk untuk segera memohon maaf.
"Mohon maaf atas kelancaran saya tadi. Saya akan berhati-hati lain kesempatan." Kata Theresa. Aku hanya bisa memijat kepalaku dengan menarik napas dalam-dalam.
"Ya sudah, kumaafkan. Astaga, salah satu bawahanmu itu kenapa sih? Entah kenapa dia begitu membenciku. Memang apa telah kulakukan kepadanya atau keluarganya?" Tanyaku dengan heran.
"Siapa? Oh dia." Kata Theresa. SIAPA COBA?!!
"Kau bicara seolah tahu siapa yang membenciku dan alasannya." Sindirku menyilangkan kaki.
"Euphyllia yang anda maksudkan? Saya tahu betul kenapa dia membenci anda." Kata Theresa. Jadi dia tahu. Tentu saja, kemungkinan Theresa juga lah yang merekrut Euphyllia untuk bergabung ke Underground.
"Apakah kau punya laporan riwayat miliknya?" Tanyaku langsung ke poin utamanya.
"Saya bukan tipe orang yang suka merusak kesenangan orang lain. Jadi silahkan Yang Mulia cari sendiri. Ini bisa jadi latihan dasar dalam memahami rakyat anda di masa depan kelak." Jawab Theresa. Yah sudah kuduga Theresa akan bilang seperti itu.
"Cih.. Baiklah, akan kucari sendiri." Kataku dengan sedikit rasa kecewa. Aku pun beranjak dari tempat duduk ku.
"Anda ingin menanyakannya secara langsung?" Tanya Theresa dengan nada tanya sarkastik.
"Senang sekali punya bawahan yang paham akan cara dan kebiasaanku. Karena ini masalahku maka aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri." Aku pun berjalan menuju pintu masuk ku tadi.
"Saya doakan keberhasilan anda." Kata Theresa melambaikan tangan yang pada akhirnya tidak kugubris sama sekali.
Dan kebetulan yang sangat kebetulan terjadi. Tepat setelah aku menutup pintu dan keluar aku bertemu dengan orang yang ingin ajak ku bicara barusan.
__ADS_1
"Kebetulan, aku ingin bicara denganmu, Euphyllia." Kataku. Yup orang yang kutemui secara kebetulan dan ingin kutemui adalah Euphyllia.