Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Pendeta Pihak Gereja


__ADS_3

Semalaman, Kenji membuat sesuatu dari tulang iblis. Kalau dilihat dari bentuknya benda itu bukanlah senjata. Kenji hanya bilang kepadaku "untuk berjaga-jaga."


Paginya kami mempersiapkan segalanya untuk menuju reruntuhan yang berada di barat Benteng Tandum. Ya, cetakan biru yang diberikan oleh Chariot adalah cetakan biru dari ruang bawah tanah Benteng Tandum. Tapi di saat menegangkan seperti ini, Jihan malah...


"Kenapa kita tidak boleh membawa Chou?!" Jihan menarik-narik mantel Kenji dengan mata berkaca-kaca. Dan sejak kapan dia memberi nama makhluk ini menjadi bernama Chou? Kenji hanya menghela napas panjang. Akhirnya Kenji berlutut dan menghadap ke arah Jihan.


"Kita tidak akan meninggalkannya selamanya. Cuma untuk beberapa hari. Kita tidak bisa membawa Chou ke dalam karena dia termasuk dari bangsa iblis. Jika kita membawanya dia akan ditangkap atau lebih buruknya akan dibunuh. Jadi lebih baik kita meninggalkannya untuk sementara waktu. Aku juga sudah menyediakan makannya untuk seminggu dan 5 air drum untuk dia minum." Jelas Kenji. Apa?! Sejak kapan dia bisa bertingkah laku seperti ayah sungguhan di depan Jihan.


"Tapi dia akan kesepian...." Jihan masih belum bisa menerima penjelasan dari Kenji. Kukira Kenji akan marah, tapi dia malah...


"Setelah kita selesai urusan di dalam sana, kau boleh bermain dengan Chou satu hari." Mendengar tawaran Kenji senyum Jihan terlihat dari bibirnya.


"Benarkah? Asyik!" Jihan kemudian memeluk Kenji dengan erat. Jadi ini sisi baik Kenji? Tapi entah kenapa aku merasa sedikit cemburu melihat perlakuan Kenji terhadap Jihan. Kenji melirikku dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa?" Tanyanya dengan wajah datar dan polos. Jangan menatapku seperti itu! Itu yang membuatku malu.


"Tidak apa-apa." Jawabku memalingkan wajahku.


"Wajahmu terlihat memerah. Kau sakit?" Kenapa dia bisa tahu?!


"Aku bilang aku baik-baik saja!" Tanpa sadar aku membentaknya. Ya ampun kenapa aku ini?! Aku segera keluar dari bangunan rumah itu untuk menghindari kontak mata dari Kenji kalau tidak dia akan mengejekku seperti ketika di banker.


Kami berangkat menuju salah satu reruntuhan yang sesuai pada cetakan biru tersebut. Dan bangunan reruntuhan itu tidak asing bagiku.

__ADS_1


"Tempat ini kan?..." Iya tempat dimana aku dan Kenji pertama kali bertemu.


"Ayo." Kata Kenji mulai memasuki bangunan itu. Lorong, tangga, dinding, semuanya tampak meninggalkan kenangan tersendiri di sini. Kami pun sampai di ruangan dimana aku di temukan Kenji. Bahkan lingkaran sihir dimana aku masih tertidur saja masih terlihat sangat jelas. Aku pun melihat sekitar, semuanya berantakan. Meja hancur, lantai hancur seperti terjadi penggalian di bawahnya. Bahkan ada banyak bekas cakar di setiap tiang beton.


"Apakah para pahlawan lain sempat bertarung di sini setelah kau membawaku pergi?" Tanyaku melihat sekitar.


"Entahlah. Mungkin..." Kenji mencoba meraba-raba dinding. Tangannya menyapu seluruh permukaan dinding tersebut.


"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku mendekati Kenji. Kenji masih fokus meraba-raba.


"Seharusnya jalan menuju tempat itu ada disini." Kata Kenji. Jihan tanpa sengaja mendorong satu bata yang menonjol. Tiba-tiba pintu terbuka lebar didepan Kenji. Kenji hanya bisa melongo melihat fakta kalau dia kalah cepat dengan anak kecil berumur 10 tahun. Bisa dibilang itu prestasi.


"Jihan, bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Kenji masih setengah syok.


"Owh, aku hanya berpikir kalau orang yang membuat jalan ini cukup takut kehilangan letak tombol pintu rahasianya sehingga dia membuat salah satu bata keluar dari sisi dinding sebagai tombolnya. Meskipun bangunan ini sudah lama tapi arsiteknya tidak mungkin bodoh, tidak mungkin arsiteknya membiarkan satu batu bata pada pondasi bangunannya menonjol keluar dari dinding." Kata Jihan dengan wajah polosnya. Kenji langsung mengelus kepalanya dengan tersenyum.


Kami pun mulai menyusuri lorong yang hanya di terangi dengan obor-obor berjarak 3 meter. Hawanya juga tidak mengenakkan. Setelah sekitar 10 menyusuri lorong, kami pun sampai di anak-anak tangga yang menjulang ke atas. Kami pun melanjutkan langkah kami dan menaiki tangga tersebut.


Karena di bawah tadi cukup silau, maka perlu waktu beberapa detik agar mata kami terbiasa dengan keadaan luar lagi. Kami berada di sebuah ruangan yang seluruh dindingnya terbuat dari batu. Ketika aku ingin melangkah lebih jauh, Kenji menghentikanku dan menyuruhku tenang. Lengang selama 12 detik.


Mata Kenji menjadi tajam dan sangat awas akan bahaya. Dengan secepat kilat Kenji menjegalku dan mendorong Jihan sehingga membuat kami berdua terjatuh ke dasar tangga. Tapi dengan reflek, aku langsung memeluk Jihan agar tidak terluka sedikitpun ketika kami jatuh. Syukurlah tidak ada luka sedikitpun pada Jihan. Tapi sepertinya bahuku terkilir. Tapi aku tidak mempedulikannya. Apa yang terjadi di atas sana?!


Tiba-tiba wajahku terkena cipratan darah. Aku langsung berpikiran kemana-mana setelah memastikannya dengan mengelap wajahku dengan telapak tanganku. Tanganku gemetaran, jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. Bukan karena takut, tapi khawatir apa yang terjadi pada Kenji sewaktu aku dan Jihan terjatuh tadi.

__ADS_1


Aku langsung berubah ke mode Tsukuyomi dan melompat ke atas. Aku melihat Kenji yang tangannya tengah berdarah hebat akibat sebuah pisau yang menembus tangan kanannya. Di ujung gagang pisau tersebut terdapat rantai yang menjulur panjang ke arah ujung ruangan tersebut. Aku melihat sosok tidak asing dari orang yang melemparkan pisau rantai itu kepada Kenji, Chariot.


Kupotong rantai itu segera dengan pedangku dan langsung menyambar revolver yang ada di hostler milik Kenji. Kutembak Chariot sebanyak tiga kali tapi dengan mudah Chariot menghindarinya. sebagai kelas Chariot, dia sangatlah lincah. Aku langsung menerjangnya dan menyabetkan pedangku ke arah batang lehernya. Chariot memblokirnya dengan mudah bahkan dengan 1 tangannya. Padahal aku menggunakan seluruh kekuatanku dan tumpuanku ke kedua otot tanganku. Lantai pijakan langsung hancur seperti kaca pecah.


"Kau menjebak kami !?..." Bentakku kepada Chariot tapi dia hanya membisu.


Kusabet-sabet pisau rantai tersebut agar terjatuh sehingga aku bisa menjadi leher Chariot sebagai sarung pedangku, tapi pisau itu sudah seperti magnet ditangannya dan sulit untuk di singkirkan.


Aku pun mundur dengan bersalto beberapa kali ke belakang. Aku langsung mengambil kuda-kuda seorang pengguna tombak. Senjataku langsung berpendar sangat terang mengeluarkan warna putih. Area di sekitar mulai menggelap seperti malam hari. Aku melihat Chariot kebingungan melihat area sekitar menjadi gelap seperti ketika malam.


"Pusaka Sakral? Atau...... Kokina Tochi? " Gumam Chariot.


"Baiklah kalau begitu." Chariot mulai membuka penutup matanya. Aura gelap dan merah mulai keluar dari sela-sela penutup matanya. Tiba-tiba semburan Manna gelap keluar dari mata tersebut. Namun tiba-tiba dia berhenti. Apa yang terjadi? Aura putih sangat terang yang bilah pedangku pun memudar.


"Kau tak seharusnya berlebihan apabila sedang menyambut tamuku, Medusa." Kata seseorang di balik lorong.


"Akan kerepotan kalau tamu kita terluka dan merasa tidak nyaman."


Sosoknya mulai terlihat ketika dia sudah mendekati bibir lorong. Apa yang kutakutkan memang benar-benar terjadi.


"Dan sudah lama kita tidak bertemu, Nona Emiya. Kamu masih mengenaliku?" Pria itu tersenyum kepadaku yang justru membuatku semakin takut. Sosok berambut abu-abu dengan pakaian serba hitam dan mengenakan mantel berwarna putih dengan motif berwarna putih.


"Jadi kau yang mengundang kami kemari, pendeta?" Tanya Kenji.

__ADS_1


"Iya, itu benar. Sebelum itu, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya adalah Luke. Pemilik gereja ini." Katanya dengan sopan.


Aura yang kurasakan ketika bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu ternyata berasal dari slave miliknya. Ya, Luke ternyata seorang Ousama dari Pihak Gereja.


__ADS_2