Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Cawan yang Kosong Mulai Terisi


__ADS_3

Peluru pun termuntahkan dari pistol Magnum nya. Melesat dengan cepat. Kupikir disaat itulah kematianku, tapi ternyata tidak. Peluru dengan cepat melintas tepat di samping telinga kananku yang mengakibatkan makhluk rawa tersebut yang terkena tembakkan Kenji tepat dibagian dada kiri bagian atas. Monster rawa itu pun melepaskanku. Dengan cepat Kenji menarik tanganku dan memelukku. Sang monster rawa kesakitan dan mundur secara perlahan menjauhiku, dengan santai Kenji mengambil tas camping yang sangat besar dan mantel bulu singanya kemudian memakainya dan menutupiku.


"Sampai jumpa, Lumpur rawa." Kata Kenji menyeringai. Kenji melemparkan flash bang. Bom flash bang pun meledak dan membutakan semuanya. Karena seluruh tubuhku tertutup oleh mantel bulu maka aku tidak bisa melihat apa yang terjadi. Aku hanya terus memeluk Kenji dengan erat. Tak lama kemudian Kenji membuka jubahnya untuk mengeluarkan ku. Aku tidak tahu sihir apa yang digunakan Kenji tapi yang jelas kami sudah tidak berada di candi arena itu lagi. Kami berada di hutan belantara.


"Bagaimana bisa?" Tanyaku sangat takjub.


Kenji hanya diam. Dia menurunkan tas seperti tas camping yang besarnya hampir sama dengannya.


"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau kembali?" Tanyanya mengeluarkan beberapa barang.


Aku langsung merasa bersalah. Tentu saja, karena aku belum sempat berterima kasih kepadanya. Tapi aku malah merepotkannya sampai menjadi seperti ini. Aku tidak bisa berkata apa-apa.


"Woi sandiwaramu jelek banget nak. Bukankah aku sudah menjelaskannya kepadamu. Kau adalah "pemilik sah" nya. Sama halnya dengan Slave, sejauh apapun kalian terpisah pasti akan dipertemukan lagi." Kata si mulut yang berada di pipi Kenji. Sesering apapun aku melihatnya aku tetap tidak bisa terbiasa.


"Pemilik sah? Ada juga yang bilang begitu kepadaku. Dia sempat menanyakannya dimana "pemilik sah". Apa maksudnya?" Tanyaku.

__ADS_1


"Hmm...... sepertinya aku harus bercerita." Kata si mulut.


"Mari kita mulai dari Perang Mitologi. Perang Mitologi adalah senjata yang sangat mematikan yang dibuat oleh para dewa, raja iblis, dan juga makhluk agung lainnya untuk membunuh sosok bernama OVERLORD. OVERLORD adalah makhluk yang tidak seharusnya ada di dunia ini. tidak, maksudnya di seluruh singularity. Tentu saja membunuh sesuatu yang rumit memerlukan senjata yang rumit juga. Yaitu menggunakan jiwa-jiwa para pahlawan dan suci dari berbagai zaman dan manusia-manusia yang masih hidup untuk berlomba-lomba untuk memburu dan membunuh sang OVERLORD."


"Nah, jiwa-jiwa dari berbagai zaman yang kumaksud itu bernama Slave. Dan manusia-manusia yang masih hidup yang kumaksud adalah para Ousama yang menjalin kontrak dengan Slave. Setiap pasangan Ousama dan Slave akan akan saling membunuh dengan pasangan lainnya dan memburu sang OVERLORD seperti battle royale, siklus itu akan terus ada hingga sang OVERLORD mati. Dan kau gadis kecil. Adalah wadah untuk menampung jiwa para peserta perang cawan suci baik itu jiwa para Slave maupun jiwa para Ousama yang mati ketika Perang Mitologi untuk membentuk OVERLORD yang baru. Dan yang di maksud dari "pemilik sah" adalah pemilik sah dari cawan suci." Jelas si mulut.


"Jadi aku....." Aku sangat syok. mulutku bergetar seperti orang yang ingin menangis.


"Ya, kau adalah cawan suci itu. Itulah kenapa kau tidak memiliki ingatan. Itulah kenapa kau tidak bisa mengingat apapun apa yang terjadi di masa lalumu. Kau hanyalah alat yang digunakan para OVERLORD terdahulu dalam Perang Mitologi." Kata Kenji dengan dingin. Dia masih saja membaca kertas-kertas yang mungkin dia kumpulkan dari tempat-tempat jarahannya.


"Tidak......mungkin...." Aku tidak dapat menahan air mataku. kututup mulutku dengan kedua tanganku. Aku tidak percaya kalau aku hanyalah bagian dari Perang cawan suci.


"Hmm..... Aku tahu bersikap terus terang adalah hal alamimu dan aku menyukainya. Tapi bukankah itu terlalu berlebihan?!" Kata si mulut.


"Berlebihan? Kurasa dunia ini yang berlebihan. Pahlawan? Jangan becanda! Dongeng-dongeng dan cerita fiksi itu hanyalah ilusi, sekedar hiburan untuk masyarakat. Jika aku di beri pilihan sekalipun, seseru apapun, semenarik apapun takdirku di dunia ini. Aku lebih memilih menjadi orang biasa dan normal yang hidup damai di dunia asalku. Karena itu aku hanya ingin pulang ke duniaku. Aku menjadi pahlawan pun bukan karena aku menginginkannya. Jangan kau pikir hanya kau saja yang tertimpa nasib yang kejam." Kata Kenji. Dia mulai membereskan barang-barangnya.

__ADS_1


Bahkan menjadi sosok positif saja belum tentu ada yang menginginkannya. Aku hampir lupa hal seperti itu. Tidak semua yang dimata orang lain itu positif bagi kita dan begitu pula sebaliknya. Dibandingkan dengan keadaanku, perjuangan Kenji dalam memperjuangkan kehidupannya sampai ke titik ini bahkan jauh lebih menyakitkan dibandingkan aku. Dia tidak menangis dan tidak pula mengeluh yang dia bisa hanyalah berusaha sebisa mungkin. Sedangkan aku tidak ada apa-apanya.


"Kalau begitu bawa aku, Kenji. Kemanapun kau pergi. Kau benar. Aku hampa dan kosong layaknya cawan tanpa ada air yang mengisinya. Kau boleh menggunakanku apapun yang kau inginkan. Mungkin itu yang bisa kulakukan untuk mengisi kekosongan dan kehampaanku. Biarkan aku membalas kebaikanmu pada saat kau menyelamatkanku." Aku akhirnya membulatkan tekad. Tidak masalah kalau aku kosong, tidak masalah kalau aku cuma alat, selama ada orang yang bisa tersenyum, bisa lega, bisa terbantu, karena aku maka itu sudah lebih dari cukup kalau keberadaanku ada nilainya dan berarti meskipun hanya untuk satu orang.


"Terserah kau saja." Kata Kenji kemudian mulai melanjutkan perjalanan. Aku pun segera menghapus air mataku dan mulai mengikutinya dari belakang.


"Oh iya, Kenji. Kau benar-benar menembakku tadi...." Kataku agak kesal.


"Bukankah kau sendiri tadi yang meminta?" Jawab Kenji dengan singkat. Nih orang punya hati tidak sih nembak perempuan seenaknya.


"Tanpa ragu?" Tanyaku. Kenji kemudian menolehku. Kukira dengan wajah bersalah.


"Akurasiku cukup bagus. maka dari itu aku tidak ragu menembakkannya. Lagi pula akan lebih efisien kalau menembaknya dari dekat. makanya kumanfaatkan dramamu tadi ketika kau menyuruh dan memohon kepadaku untuk menembakmu agar monster rawa yang mengendalikanmu mendekat." Jawabnya tanpa rasa bersalah.


Entah kenapa walaupun alasannya masuk akal tapi aku tetap merasa kesal. Bisa-bisanya menggunakan tangisanku tadi di arena hanya untuk membunuh monster rawa itu. Tapi mau bagaimanapun reaksiku atau perasaanku kepadanya tidak akan membuatnya melunak. Sebagai orang yang berhutang budi dengannya juga aku tidak berhak mengatakan atau mengeluh dalam bentuk apapun.

__ADS_1


"Maka dari itu...." Kenji mendekatiku. Kupikir dia akan melakukan sesuatu padaku. Dia menutupi seluruh tubuhku dengan bulu singanya sehingga aku tidak terlihat.


"Jangan mempersulit perjalananku dengan membuat dirimu tertangkap oleh musuh. Jadi tetaplah didekatku." Kata Kenji. Yah, meskipun begitu, sikapnya yang keras, blak-blakan, terkadang nekat dan kejam. Kenji tetap memiliki sisi lembut dan pedulinya kepadaku meskipun aku hanyalah gadis cawan kosong.


__ADS_2