Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Janji Baru di Gereja


__ADS_3

Akhirnya Pihak Gereja membereskan kerusakan akibat pertarungan melawan manusia kaleng tadi. Aku pun segera berlari ke kamar mandi dan memberi tahu kalau diluar sudah aman. Jihan keluar dalam keadaan menangis dan langsung memelukku dengan erat.


"Kumohon..... Jangan tinggalkan aku lagi, kak! Aku takut!" Pinta Jihan menangis dengan keras. Aku pun mengusap kepalanya untuk menenangkannya. Akan lebih beresiko kalau Jihan tertangkap dengan pria kaleng itu. Maka aku tidak ada pilihan lain selain mengamankannya di dalam kamar mandi.


"Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Jadi berhentilah menangis. Bukankah Kenji berjanji akan mengizinkanmu bermain dengan Chou setelah kita selesai di sini?" Aku mencoba menghiburnya. Jihan kemudian sedikit lebih tenang. Jika sudah seperti ini maka aku tidak memiliki pilihan lain untuk bernaung di Pihak Gereja meskipun aku tidak menyukainya.


Karena Benteng Tandum adalah markas milik Fraksi 13 Pahlawan jelas mereka menang dalam medan, waktu, dan juga jumlah pasukan. Setelah kejadian antara Luke dengan Si manusia kaleng itu pasti Fraksi 13 Pahlawan akan segera menggeledah tempat ini. Maka satu-satunya tempat yang aman adalah gereja milik Luke.


"Sudah merasa lebih baik?" Tanyaku mengusap kepala Jihan. Jihan mengangguk mengiyakan.


"Hapus air matamu. Aku tidak ingin Kenji menjadi semakin khawatir kalau mata dan pipimu basah seperti ini." Aku membersihkan air mata Jihan dengan selendang buluku.


Aku pun segera membereskan beberapa barang kami yang tersisa di penginapan dan membawanya ke gereja agar tidak di jadikan barang bukti oleh Tandum. malam pun tiba. Kami terpaksa tidur di gereja milik Luke. Kenji bahkan belum pulang subuh tadi. Apa yang membuatnya begitu lama?


Kebetulan Luke juga berada di depan mimbar gereja saat itu.


"Hoi pendeta, apa ada kabar dari Kenji?" Tanyaku dingin kepada Luke.


"Dia sempat berkontak denganku. Dia bilang dia ingin mengambil beberapa senjata yang ada di sana....." Tiba-tiba pintu Gereja terbuka. dibalik pintu ada sosok yang kukenal. Kenji.


"Ah, baru saja kami membicarakanmu..." Tiba-tiba Kenji menembakkan revolvernya ke arah dekat telinga Luke. Jelas dia sepertinya sangat marah dan tahu apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Bisakah kau menjelaskannya?" Kata Kenji dengan tatapan dingin dan dengan nada mengintimidasi. Aku mencoba untuk menghentikannya karena jika bukan karena Luke aku sudah dinyatakan tewas karena tercekik oleh si manusia kaleng tadi.


"Dialah yang menyelamatkanku Kenji? Kumohon turunkan dulu revolvermu." Aku memegangi tangannya yang bergetar dan masih mengacungkan Revolvernya ke arah Luke. Kenji pun mulai tenang dan menurunkan revolvernya.


"Bukankah aku sudah bilang untuk tidak melibatkan mereka berdua dalam kontrak kita. Atau kau sengaja memisahkan kami?" Kenji mempertegas kesepakatan yang dia buat dengan Luke.


"Aku tidak berpikir demikian. Justru ini diluar dugaanku. Aku tidak menyangka kalau Fraksi 13 Pahlawan malah mengirimkan salah satu anggotanya ke penginapan daripada untuk melindungi Raizen Brook yang mengepalai gudang senjata Tandum." Jelas Luke.


"Sepertinya mereka akan menyerang lagi ketika kalian berdua terpisah. Jadi meskipun kau memintaku untuk tidak melibatkan mereka berdua. Aku tetap saja tidak bisa melindungi mereka dari faktor eksternal seperti dari Fraksi 13 Pahlawan." Lanjut Luke. Kenji pun mulai menyarungkan kembali revolvernya.


"Baiklah kalau begitu. Aku juga tidak bisa menyalahkanmu. Aku akan memakluminya kali ini. Mana bayarannya?" Tangan Kenji terulur ke arah Luke.


"Aku sudah memberikannya kepada Nona Emiya. Jadi mintalah kepadanya." Jawab Luke dengan tersenyum lagi. Luke pun pergi menuju lorong meninggalkanku dengan Kenji.


"Dia sudah tertidur di salah satu kamar gereja." Jawabku.


"Begitu ya. Emiya berikan bayarannya." Pinta Kenji mengulurkan tangannya kepadaku.


"Kenapa kau berbohong di dalam surat itu?" Tanyaku. Suaraku mulai pecah.


"Kau bilang ingin mengambil sesuatu disana! Tapi buktinya kau berhasil mengirimkan foto mayat Raizen Brook kepada Luke. Kenapa kau berbohong ?!!!" Aku secara reflek mencekram kerah mentelnya.

__ADS_1


"Bukankah kita sudah terikat dengan apa yang melekat di kedua pelipismu itu?! Tapi kenapa kau masih saja tidak percaya kepadaku?!!! Kenapa kau masih saja menanggung tanggungjawab sebesar itu?!" Aku tanpa sadar menaikan suaraku hingga beberapa oktav. Kenji masih saja tidak menjawab.


"Sebenarnya aku menyetujui kontrak itu bukan karena keputusanku seorang. Aku juga mendiskusikannya dengan Hazard. Setelah menimbang-nimbang Hazard menyarankanku untuk menyetujui kontrak ini. Awalnya aku menolak karena itu akan membahayakanmu dan Jihan tapi karena tekadku untuk mencari segala informasi agar aku bisa pulang maka aku menyetujuinya dan memberi Luke beberapa syarat." Kenji akhirnya menjelaskan.


"Kenapa kau sampai sejauh ini?" Kataku dengan perau. Kenji tidak menjawab apapun.


"Aku melakukan semua ini hanya untuk keegoisanku. Itu saja. Dan aku tidak akan melibatkan siapapun didalam egoku." Balas Kenji.


Aku langsung mendorong Kenji hingga terjatuh di atas kursi gereja. Tetesan air mataku menetes di wajah Kenji. Melihat wajahnya yang masih datar dan dingin menghadapi wajah wanita yang menangis benar-benar luar biasa. Dan entah kenapa aku begitu menyukainya.


"Kenji, aku rela melakukan apapun untukmu. Sekalipun itu adalah pembunuhan. Aku bahkan tidak mempermasalahkan kalau aku harus mengandung anakmu jika kau menginginkannya. Tapi kumohon, janganlah bertindak sendirian. Karena kau tidak akan sendirian. Itulah takdir kita dari pemilik cawan dan cawan suci." Kataku.


"Baiklah, sekarang bisakah kau menyingkir dariku wahai bejanaku? Kau sangat berat." Pinta Kenji.


"Tidak sopan ya. Padahal ketika kau ingin melakukan hal itu terkadang para wanita yang harus berada di bawah." Kataku mencoba menggoda Kenji. Tapi aku masih saja terkesan dengan pria ini. Dia masih saja berwajah datar tanpa menunjukkan ketertarikan sedikitpun.


"Cukup adil juga." Balas Kenji.


"Ingin melakukannya sekarang?" Tanyaku mencoba untuk menggodanya lagi. Tiba-tiba kepala dipukul menggunakan tangan kosong Kenji.


"Sudah ku bilang, tunggu sampai kau berumur 18 tahun. Saat itu tiba coba kau katakan lagi kepadaku." Kata Kenji mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusirku dari atas tubuhnya. Akhirnya aku pun menyerah dan menyingkir dari atas tubuhnya.

__ADS_1


"Entah kenapa aku bisa menyukai pria datar dan dingin sepertimu?" Aku menghela napas kecewa. Kenji kemudian memelukku dari belakang. Dan entah kenapa itu membuatku kaget dan terkejut sehingga mengeluarkan suara seperti tikus yang berdecit.


"Dan entah kenapa tubuh mungilmu, wajah imut, cantik dan manismu membuatku sangat nyaman dan tentram. Rambut pirangmu yang berantakan juga sangat wangi ketika aku di dekatmu." Sialan, kenapa setiap Kenji menggoda membuatku semakin berpikiran kemana-mana. Habisnya dia berwajah datar terus! Aku tidak bisa membedakan mana dia yang serius mana dianya yang sedang bercanda. Dan tanpa kusadari wajahku sudah memerah seperti petasan banting karena saking malunya diriku ini.


__ADS_2