
Aku pun dengan nekat meluncur ke bawah. Sebisa mungkin, selama mungkin aku harus mengulur waktu untuk Kenji.
"Ada orang lain yang melihat kita! Bunuh semua saksi mata!" Kata slave yang membawa tombak. Mata tombaknya berbentuk melengkung seperti sabit. Tombak itu dia lempar ke arah Kenji. Kulempar juga tombakku sehingga tombak kami terbentur. tombak kami pun terjatuh.
"Siapa di sana?!" Tanya slave pemilik tombak tersebut. Aku pun mengambil tombak putihku dan berjalan ke arah mereka. Cahaya lampu mulai menerpaku di hadapan mereka sehingga mereka bisa melihat sosokku.
"Slave? Tidak bukan. Aku mencium bau manusia dari tubuhnya." Kata Slave yang membawa pedang. Aku bahkan masih merasa takut dan sedikit menyesal karena melakukan ini. Tapi setidaknya aku bisa membalas kebaikan Kenji.
" 3 lawan satu juga tidak masalah bagiku." Kataku menodongkan ujung tombakku ke arah mereka. Dengan reflek yang cepat, kutangkis tombak yang tiba-tiba berputar kembali ke slave pemilik tombak tadi.
"Reflekmu cukup bagus. Kau dari kubu mana? Aku bahkan tidak menerima pesan empati dari Ousama-ku kalau ada Slave liar di sini." Kata Slave pemilik tombak tersebut.
Tapi bukannya membantu 2 slave di belakang slave pengguna tombak ini malah berjalan menjauh.
"Apakah kalian ingin melarikan diri? Pertarungan kita tadi belum selesai. Aku tidak masalah harus melawan kalian bertiga di sini bersamaan." Kata slave pengguna tombak.
"Ousama kami menyuruh kami untuk mundur. Mungkin cukup sampai sini saja hari ini." Slave satunya kemudian bersiul dengan keras. Tiba-tiba dari sampingnya muncul kereta beserta 3 kuda yang keluar dari retakan dimensi akibat siulan itu. 2 slave itu akhirnya pergi menggunakan kereta tersebut dan menghilang.
"Sepertinya tersisa kau dan aku, manis. Setidaknya aku bisa membawa pulang kepalamu sebagai oleh-oleh dari perang ini." Kata slave tersebut dan kemudian menyerangku dengan brutal. Kutangkis semua serangannya meskipun aku sedikit kuwalahan.
Aku juga merasa tombak itu memiliki aura yang sangat kuat. Dan entah kenapa instingku mengatakan jika mendapat luka dari tebasan tombak itu akan berefek sangat berbahaya.
__ADS_1
Tapi orang ini sangat mahir ketika menggunakan tombaknya. Aku hampir tidak menemukan celah. Dengan cepat slave itu memutar-mutar tombaknya seperti sebuah kayu ringin sehingga menciptakan serangan bertubi-tubi dan memaksaku ke mode bertahan, dengan cepat di melompat kesana kemari dan setiap dia mendarat dia mencoba menebasku. Slave ini mengincar titik butaku.
Dengan cepat akhirnya dia menemukan titik butaku dan menendang perutku hingga membuatku terseret ke belakang dan menabrak salah satu countainer hingga jebol. " Tak kusangka kau akan semudah ini dikalahkan, wanita." Katanya dengan nada kecewa. Slave itu pun mendekatiku dan meletakkan bilah tombaknya di leherku. aura mengerikan keluar dari bilah lengkung tersebut.
Ledakan pun terjadi. Ketika aku membuka mataku aku melihat sosok roh milik Hamato yang melindungiku dan sedang membelakangi ku. Tapi tak lama kemudian roh tersebut menghilang menjadi kilauan emas.
"Cih! Mengganggu saja! Jika kau masih ingin bertarung maka lakukan secara jantan, sialan!" Slave itu mengumpat. Terdapat luka goresan di lengannya. Dia sempat lengah. Kenapa Hamato masih melindungiku dari kejauhan? Jika dia tahu aku adalah cawan suci, maka akan lebih mudah jika dia mengambil paksa diriku dari Kenji.
"Mari kita lanjutkan." Kata Slave tersebut dan mulai mengambil posisi kuda-kuda. Aku pun segera berdiri dan berposisi untuk bertarung.
Kami pun beradu tombak kembali. Entah kenapa aku mulai terbiasa dengan pola serangannya. ketika dia mencoba menebasku secara vertikal, kugunakan ujung gagang tombakku untuk menge-blok serangannya. Ketika terbentur, dia sedikit terpental ke belakang. Kugunakan kesempatan itu untuk menusuknya. Tapi roh legenda tidak akan kalah hanya dengan gerakan semudah itu. Dia menggeser setiap bilah tombakku menghunusnya. Tapi kulakukan hingga terus menerus hingga membuatnya menjadi kualahan dan berhasil melukainya di kedua lengan atasnya.
Tapi dengan cepat dia membalasnya. Slave itu langsung bergerak dengan cepat memaksaku ke posisi bertahan lagi. Daripada harus terkena goresan dari tombak itu maka aku putuskan untuk berlari. Slave itu mengejarku. Karena tempat ini seperti labirin maka aku memanfaatkan setiap liku-likunya untuk membuatnya bingung. Sudah sekitar 5 kali aku berbelok dan dia pun mulai menjauh dan kehilangan jejakku.
Entah berapa banyak keberuntungan slave ini. Dia masih sempat menghindar dan aku hanya menghancurkan tangan kanannya. Tangan kanannya terpotong hingga bahu dan membuat tombak lengkungnya terlepas. Kutangkap tombak lengkung tersebut.
Efek fl**ash bang pun berakhir. Slave memanglah hebat. Mereka bahkan tidak buta terkena efek dari flash bang milik Kenji yang kuambil tadi di kantong tas pinggangnya.
"Cukup pintar, kau bahkan bisa membuat strategi seperti itu di saat terdesak. Aku sampai harus kehilangan tombak dan tangan kananku." Kata slave tersebut.
"Selama kehidupanku sebagai pahlawan Yunani aku tidak pernah kalah. Tapi di kehidupanku keduaku sebagai slave aku malah dikalahkan dengan trik sederhana dari seorang gadis kecil." Kata sang slave memujiku. Slave berlutut dengan memegangi tangan kanannya yang masih tersisa dalam keadaan berlutut. darah dari tangan kanannya membanjiri lututnya.
__ADS_1
"Bunuh aku. Jika kau tidak membunuhku aku akan terus menjadi musuhmu di perang mitologi ini." Pinta si slave. Aku pun mengambil tombak milikku yang tergeletak tak jauh dari tempat dia berlutut.
Itu yang tidak bisa kulakukan. Selama ini aku hanya membunuh bangsa iblis. Aku tidak pernah sedikitpun membayangkan diriku akan membunuh manusia. Tanganku bergetar hebat melihat darahnya yang berceceran, tenggorokanku menjadi kering dan tak bisa berkata apapun, air mata mulai membasahi pipiku. Kuberanikan diriku untuk mengangkat tombak lengkung tersebut untuk memenggal kepalanya.
"Memang seperti ini perang mitologi. Mereka yang sudah mati pun tetap terikat dengan takdir yang kejam seperti ini. Tapi jika kau diberi kesempatan di kehidupan kedua seperti ini kau tidak seharusnya menyia-nyiakannya, terutama dari musuhmu." Kata slave tersebut.
Meskipun dia sebentar lagi mati kehabisan darah dia masih saja menasehatiku. Dia benar. Aku menang dan dia kalah, itu sudah biasa di dalam peperangan. Kubulatkan tekadku dan mengencangkan genggamanku.
"Sebelum kau mati. Aku ingin bertanya. Siapa namamu ketika menjadi seorang pahlawan?" Tanyaku. Akhirnya aku bisa mengeluarkan suaraku.
"Namaku adalah Perse-..." Belum selesai dia berbicara cipratan darah mengenai wajahku. Orang itu mati sebelum memberitahu namanya dengan luka tembakan tepat ditengah kepalanya. Aku bahkan tidak bisa bereaksi sedikitpun. Seseorang dari belakang mendekatiku. Kenji lah yang membunuhnya.
"Namanya Perseus. Pahlawan Yunani yang mengalahkan Gorgon sang Dewi ular dan menyelamatkan istrinya Andromeda yang ditawan oleh monster laut kiriman dari Dewa Poseidon." Jelas Kenji. Walaupun aku diselamatkan kenapa aku begitu sangat marah ketika Kenji dengan santainya membunuh Perseus.
"Kenapa kau melakukannya?!" Aku hampir tak terkendali dan menarik kerah mantel bulu milik Kenji. Seperti biasa dia masih saja terlihat tenang dan dingin.
"Apa bedanya jika kau yang membunuhnya? Mati karena kehabisan darah, mati karena kau yang memenggalnya, mati karena tembakanku mengenai otaknya. Mati tetaplah mati." Kata Kenji dengan tenang dan membuatku terdiam. Tak kusangka Kenji akan mengatakan itu.
"Tapi tak seharusnya kau membunuh manusia!! Itu salah!!!" Aku mulai berteriak tak terkendali. Aku harap Jihan tidak terbangun dari tidurnya karena teriakanku.
"Apa ada alasan kau harus membunuhnya!!!?" Jeritku mulai pecah. Aku mulai menggoncang kan tubuh Kenji begitu kencang.
__ADS_1
"Aku tidak ingin kau yang melakukannya. Itu saja." Jawab Kenji. Lagi-lagi aku terdiam karena jawabannya. Aku berusaha mencerna jawaban Kenji tadi.
"Tidak seharusnya seorang gadis sepertimu membunuh orang. Maka aku yang menggantikanmu untuk melakukannya." Jawab Kenji. Dia berbalik dan meninggalkanku dengan mayat Perseus yang akhirnya memudar menjadi kilauan emas. Kilauan emasnya masuk ke dalam tubuhku. Perlahan aku mengenakan baju tempur dan pakaian Perseus. Menggunakan baju ketat hitam tanpa lengan dengan pola berwarna putih yang menghiasinya menggunakan sepatu boot abu-abu dengan garis berwarna merah, memakai sarung tangan hitam tanpa jari, dan menggunakan kain putih kusam yang menutupi separuh tubuhku.