Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Keseharianku di Underground (Bagian I)


__ADS_3

Karena kemampuan aneh dari Euphyllia, Hisao mengalami semacam demam ketika sampai ke rumah tempat tinggal kami. Kenji hanya bisa memberinya pertolongan pertama dan mengistirahatkan nya ke dalam kamar.


"Apakah kak Hisao akan baik-baik saja, ayah?" Tanya Jihan dengan khawatir.


"Dia akan baik-baik saja. Dia hanya mengalami demam dengan pusing yang ringan." Kata Kenji meletakkan kompres ke dahi Hisao yang sudah tertidur.


"Ketika kompres nya sudah mulai dingin masuk kan kembali kedalam air hangat, lalu diperas dan letakkan di dahinya dengan rapi. Kau paham Jihan?" Kenji mencoba menjelaskan cara meng kompres orang demam kepada Jihan.


Jihan mengangguk dengan antusias


"Baik, ayah." ujar Jihan dengan antusias. Kenji pun berjalan menuju ke arahku tepatnya ke arah mulut pintu.


"Kau sudah selesai mandi?" Tanya Kenji kepadaku. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan pelan.


"Begitu ya. Gantikan Jihan jika dia sudah mulai mengantuk. Aku mau mandi." Kata Kenji.


"Baiklah." kataku. Ketika aku ingin berjalan menuju ranjang Hisao, tangan kanan Kenji memegangi pundakku untuk menahanku.


"Kau pasti sedang berpikir kalau ini semua salahmu karena Euphyllia sampai marah tadi dan membuatnya menggunakan kekuatannya kepada Hisao?" Tanya Kenji. Seperti biasanya, meskipun wajah datar nya selalu juara tapi kepekaan nya terhadap orang lain juga tinggi dan itu membuatku sedikit tergelitik untuk tersenyum tipis.


"Kau selalu saja bisa membaca pikiranku, Kenji. Bagai-... " Sebelum aku menyelesaikan perkataanku Kenji menyempurnakan kalimat ku yang terpotong.


" "Bagaimana cara menyelesaikannya secara pribadi?" Begitu kan? Untuk masalah itu cobalah selesaikan sendiri. Karena itu sudah menyangkut dengan masalah pribadi. Aku hanya bisa memberimu saran." Jelas Kenji. Untuk pertama kalinya Kenji menolak untuk menolongku. "Kenji bukanlah Tuhan yang bisa kumintai setiap aku mengalami kesulitan" Itu yang ada di pikiranku setelah mendengar penjelasannya.


Ada saatnya dimana ada masalah yang hanya bisa ku selesaikan sendiri. Dan itu adalah sekarang.


"Ya, aku tahu. Ada saatnya aku harus menyelesaikannya sendiri. Sudah cukup buruk aku merepotkanmu di perjalananmu. Maaf ya." Kataku mencoba untuk refleksi diri.

__ADS_1


" Jangan pernah lepaskan tanganmu dari Euphyllia. Itu saranku untuk masalahmu ini. Soal metodenya tergantung pada imajinasi dan usahamu." Kata Kenji yang berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Heh?!! DIA JELAS-JELAS SEDANG MEMBENCIKU WOI!!! INGIN CARI MATI APA MENGAJAK ORANG YANG SEDANG SANGAT MEMBENCIMU UNTUK BERJABAT TANGAN??!!!!! Entah itu sebuah candaan atau bukan aku juga tidak tahu karena ekspresi Kenji selalu datar baik itu ketika serius maupun bercanda. Tapi bisa jadi itu adalah petunjuk, lebih baik aku ingat itu baik-baik.


Aku pun segera menggendong Jihan ke tempat tidur diruang sebelah, lebih tepatnya kamarku. Karena pembagian kamar dari Kenji, aku ditempatkan satu kamar dengan Jihan. Kuletakan Jihan di atas ranjang kasur lalu menyelimuti nya dan kembali ke kamar Hisao.


Aku meraih kursi di dekat ranjangnya lalu duduk diatasnya.


"Aku tahu kau masih bangun." Kataku memeriksa keadaan Hisao.


"Terlalu pusing untuk tidur. Membuat kepalaku terasa nyeri bahkan sampai ke level demam ringan." Keluh Hisao menutupi kedua matanya menggunakan lengannya. Melihat kondisinya yang seperti ini membuatku semakin merasa bersalah karena kebencian Euphyllia kepadaku membuat Hisao terkena imbasnya.


"Maaf sudah membuatmu terlibat." Kataku dengan penuh sesal.


"Tidak perlu. Aku bereaksi seperti tadi karena efek parasit yang ada di jantungku. Itu bukan murni dari diriku langsung. Tolong jangan mengajakku berbicara, setiap kata yang kuucapkan membuat kepalaku sakit." Kata Hisao menahan pusingnya. Bahkan meskipun ruangan ini gelap aku bisa melihat air mata Hisao yang menetes karena menahan sakit kepalanya.


Itu membuatku marah sekaligus merasa bersalah disaat bersamaan. Jika Euphyllia benar-benar membenciku karena suatu alasan pribadi maka seharusnya dia memberikan sesuatu yang menimpa Hisao diarahkan kepadaku saja. Tapi di saat yang bersamaan mentalku tidak cukup kuat untuk mengambil tindakan. Itu yang membuatku lemah.


...****************...


"Emiya, bangun. sudah pukul 05.00 pagi. Bangunlah." Seseorang menggoyangkan bahuku dengan lembut. Dari suaranya sepertinya suara Kenji. Meskipun terasa enggan tapi aku mencoba untuk bangun.


"Kenji?" Kataku menggosok mataku.


"Bangun dan bersihkan dirimu. Aku akan mengajakmu kencan." Kata Kenji.


"Oh.... kencan... HAA--!?" sebelum aku menyelesaikan kalimat ku yang bisa bikin heboh satu komplek Kenji membekapku dengan tangannya.

__ADS_1


"Iya, kencan. Kau mendengarku kan? Makanya segera bersiaplah. Kutunggu kau di bawah." Kata Kenji yang kemudian meninggalkanku di kamar Hisao. Aku hanya bisa melihat Kenji keluar dari kamar Hisao dengan wajah bodoh alih+alih bingung.


"Kenji kesurupan apa sih sampai ngajak kencan?" Gumamku tak percaya.


Dengan cepat aku mandi dan mengepang kembali rambut pirangku. Karena pakaianku dari Tuan Franko sudah kotor dan tidak layak pakai maka aku mau tidak mau mengganti pakaianku. Aku mencoba mengecek lemari pakaian apakah ada yang bisa dipakai atau tidak. Aku menemukan kaos lengan panjang dengan lengan manset berwarna putih, Jaket tipis dengan ekor yang panjang sampai ke lutut dan bertudung dengan warna merah darah, celana hitam panjang berbahan jeans. Untuk alas kaki aku masih menggunakan sepatu bootku yang lama karena aku tidak menemukan alas kaki di lemari ku.


Setelah mengenakan semuanya aku pun segera turun aku juga tidak lupa menggunakan selendang wol yang berasal dari kulit curse beast yang Kenji berikan ketika kami di banker 69.


"Maaf membuatmu menunggu." Kataku melihat Kenji dengan penampilan yang juga sudah berubah. Mengenakan jaket hitam dengan ekor jubah yang panjang dengan motif bergaris berwarna putih, celana taktikal berwarna hitam, dan menggunakan pelindung tulang kering dan sepatu boot yang masih sama ketika kami pertama kali bertemu.


Kenji menatapku lamat-lamat setelah melihatku yang juga sudah berganti penampilan. Aku yang dilihat seperti merasa malu.


"A-ada apa? Apakah aku terlihat aneh?" Kataku dengan menahan malu. Tanganku tidak bisa berhenti memainkan rambutku.


"Tidak. Kau terlihat berbeda saja." Kata Kenji dengan datar.


YA IYALAH, WAJAH DATAR! PAKAIANKU SAJA SUDAH LAIN!!!


Jerit ku dalam hati. Orang ini benar-benar tidak bisa memuji ya?!


"Sangat cocok denganmu. Kau terlihat cantik." lanjut Kenji membuka pintu dan keluar dari rumah.


Pas ketika pintu tertutup wajahku memerah layaknya tomat yang matang. KENAPA KAU SELALU SEPERTI ITU?!! SELALU SAJA MENYERANGKU DISAAT AKU LEMAH. DASAR CURANG!!!! Setidaknya biarkan aku menggodamu juga, ya ampun...


Aku pun berjalan mengekori Kenji dari belakang. Kami memasuki komplek-komplek yang sangat tidak asing suasananya. Bau ikan yang menyengat hidung, sayur-sayuran yang terjejer di setiap meja kios, suara orang-orang menawar harga dari benda yang mereka ingin beli. Apalagi kalau bukan pasar.


"Tunggu, kau mengajakku pagi-pagi untuk kencan di pasar?" Aku kebingungan.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, aku mengajakmu keluar pagi-pagi ke pasar untuk mengajarimu dalam membeli sesuatu di pasar. Kencan hanya kedokku saja." Kata Kenji tanpa rasa bersalah.


KENJIIIIIIIII!!!!!!!!!!!!!! Teriakku dalam hati karena sudah merasa dipermainkan oleh nya.


__ADS_2