
Ledakan dari benturan serangan Luke dan Hisao membuat seperempat gereja hancur. Setelah aku dan Jihan membereskan semua kroco-kroco bawahan Luke, aku pun membantu Kenji untuk bangun. Kondisinya cukup parah. Tapi ketika dia tersadar, Kenji segera memulihkan tubuhnya kembali dengan cepat.
"Tak kusangka akan sampai seperti ini, nak." Kata Hazard dari mulut yang muncul di pipi Kenji.
"Jika sel iblismu tidak menyembuhkanmu maka aku akan kerepotan juga." Keluh Hazard.
"Ada yang aneh dengan kekuatan dan gerakan Luke." timpal Kenji. Aku pun membantu Kenji berdiri dan memapahnya.
Dari kepulan asap ledakan, Hisao terlempar ke arah kami dalam keadaan terluka parah dan tak sadarkan diri. Aku pun segera menangkapnya dan meletakkannya ke lantai.
"Aku tidak menyangka kalau seorang pendeta akan menyakiti seorang wanita." Ejek Kenji. Luke kemudian keluar dari kepulan asap itu dengan 2 sosok di samping kanan dan kirinya. Yah, aku tahu mereka. Vlad III dan sang Chariot Medusa.
"Aku merasa iba dengan kalian tapi kalian ternyata cukup mengganggu. Jadi jangan salahkan kami." Kata Luke.
"Apakah sudah waktunya, pendeta?" Tanya Medusa menoleh ke arah Luke. Luke membalasnya dengan senyuman ramah dan mengangguk. Dari tangan kiri dan tangan kanan Luke keluar tato bercorak api menyala yang sangat mirip seperti yang ada di pelipis Kenji hanya saja ini ada ditangan.
"Dia mencoba menggunakan salah satu segel kontraknya!" Dengan cepat Tsukuyomi mengambil alih tubuhku dan menerjang ke arah Luke. Tapi dengan cepat Medusa menghalanginya.
"Tak akan kubiarkan kau mengganggu." Kata Medusa.
Luke pun merapal beberapa katalis.
"Dengan ini kulepas tali kengkangmu dan menambah tanggung jawabmu sebagai perwakilanku. Vlad III, Gunakan senjata legendamu untuk melakukan genosida di Kerajaan Tandum." Ucap Luke.
"Ap-?!!" Vlad yang belum selesai terkejut, mendadak berubah bentuk.
"Pendeta sialan! Apa yang kau lakukan?! Bukankah kontrak kita adalah dengan sepakatnya kau tidak menggunakan senjata sakralku?!" Kata Vlad dengan sangat kesakitan ketika mengalami perubahan tubuhnya.
__ADS_1
Dari punggung Vlad tumbuh sepasang sayap kelelawar raksasa, tangannnya memanjang, jaringnya dipenuhi cakar hitam dan panjang, taring dari setiap sudut mulut Vlad tumbuh menjadi sangat besar dan panjang, matanya memerah, tubuhnya juga ikut membesar. Vlad mengeluarkan aura haus akan darah.
"Pendeta SIALAN!!!!" Bentak Vlad kemudian berbalik untuk menyerang Luke. Tapi Vlad berhenti bergerak. Ada sesuatu yang menahannya.
"Cacing kelas rendah. Kau seharusnya bermain-main dan merayap di bawah tanah saja. Hingga mati." Kata seseorang dengan sifat arogan yang familiar. Hamato.
Vlad tertahan karena ada prajurit roh raksasa milik Hamato yang mencekiknya untuk menahannya. Vlad mencakar-cakar tangan pasukan itu tapi tidak berefek apapun. Prajurit roh itu pun segera membawa Vlad ke atas menjebol langit-langit.
"Tak kusangka kalau tindakanmu sampai membuat kekacauan sejauh ini." Kata Luke. Hamato hanya menatap Luke dengan tajam.
"Bukankah itu juga keputusanmu, pendeta gadungan?" Kata Hamato.
Medusa kemudian menendang Tsukuyomi mundur.
"Dengan begini distrik iblis barat menjadi milik kita." Kata Medusa.
"Luke apa gunanya melakukan genosida di Tandum?! Kau ingin melibatkan warga sipil?!!" Bentakku.
"Apa yang kau rencanakan?! Jangan-jangan..." Kali Kenji yang bertanya.
"Untuk pemikiran sekelas dirimu seharusnya kau paham, Kenji." Timpal Luke.
"Menggunakan Vlad sebagai bom untuk merubah semua manusia di distrik Iblis barat menjadi vampir." Kata Kenji.
Aku, Tsukuyomi, dan Jihan sama terkejutnya.
"Kusarankan kalian mundur. Kenji, Tsukuyomi, Hisao, dan Jihan. Jika tidak ingin genosida ini berlanjut bukankah kalian harus bertindak?" Kata Luke.
__ADS_1
"Bukankah kau punya kenalan di distrik iblis barat, Emiya? Seorang veteran tembok tua yang tinggal beberapa blok dari sini." Kata Luke.
Seketika aku teringat. Tuan Franko tinggal didistrik ini. Pikiranku menjadi kacau dan sangat bingung. Perasaanku tercampur aduk tak karuan. Aku ingin segera keluar dan menyelamatkan tuan Franko selagi sempat.
"Jihan, tiup peluit pemberianku itu!" Perintah Kenji. Jihan dengan sigap meniup sesuatu. Bunyinya seperti peluit anjing. Kenji dengan cekatan melempar 3 flash bang ke arah Luke dan melempar granat ke salah satu tiang. ledakan flash bang dan Granat itu terjadi bersamaan. Tiba-tiba Chou datang mendatangi kami.
Kenji segera melempar Jihan ke atas Sedel, Tsukuyomi menggendong Hisao dan melompat ke atas sedel pelana Chou di susul dengan Kenji.
"Tak akan kubiarkan!" Medusa segera mengejar kami. Kenji akhirnya menemukan revolvernya langsung mengambilnya dan menodong Medusa. Tapi tembakkannya kali ini tidak seberuntung yang dulu. Ya, Kenji meleset.
Medusa yang mengetahui tembakkan Kenji meleset dengan cepat menyerang Kenji dan membuatnya terjatuh ke lantai. "Game-mu berakhir, pewaris sah. Kau terpojok." Kata Medusa dengan senang yang posisinya sedang menindih Kenji.
"Menurutmu begitu? Coba lihat belakangmu." Kata Kenji yang masih dengan tenangnya. Medusa yang kebingungan pun melihat kebelakang. Medusa begitu terkejut melihat sesuatu di belakangnya. Kenji dengan segera menendang Medusa untuk menjauh. Sebuah tiang ambruk menimpa Medusa. Ya, dari awal Kenji memang tidak berencana menembak Medusa. Dia memang mengincar tiang itu yang sudah rapuh karena sudah ia ledakkan menggunakan granat tadi. Asap megepul begitu tebal. Cukup tebal sehingga kami bisa kabur dari Gereja Luke.
Ketika kami keluar, pemandangan begitu mengerikan terjadi. Banyak warga-warga menjadi vampir dan menyerang warga yang melarikan diri. Rumah-rumah dan bangunan terbakar dan hancur, asap hitam mengepul begitu tinggi di langit yang biru menciptakan suasana yang mengerikan. Aku bahkan tidak sengaja melihat anak kecil yang sudah dikepung oleh 3 vampir. Jeritan anak kecil begitu nyaring ketika para vampir menghisap darahnya. Begitu juga seorang wanita yang berusaha keluar dari rumahnya tetapi tertahan karena rambutnya ditarik oleh 1 vampir dibelakangnya.
"Kita harus pergi dari sini." Kata Kenji.
"Apa katamu?! Kita harus menyelamatkan mereka yang belum menjadi vampir!" Bentakku secara frontal.
"Jihan, arahkan Chou pergi keluar dari tembok. Tsukuyomi, jangan biarkan Emiya bertukar kesadaran denganmu." Kata Kenji. Jihan yang melihat pemandangan seperti ini menjadi ragu untuk melakukannya. Aku begitu syok mendengar ucapan Kenji barusan. Kenji benar-benar tidak ada niatan untuk menyelamatkan seorang pun di sini.
"Tapi, Ayah..." Jihan masih ragu untuk melakukannya. Tiba-tiba ada seseorang yang memegang tali kekang Chou.
"Baiklah. Nak, lakukan apa yang dia katakan." Kata Hisao dengan sekarat.
"Para pahlawan dan fraksi 13 Pahlawan akan menangani hal ini. Kita tidak perlu bertindak sejauh itu. Mereka yang menjadi vampir hanya sedang tidak beruntung. Ayo kita pergi." Kataku. Hisao dan Tsukuyomi mengangguk setuju. Hisao dengan sisa tenaganya mengarahkan Chou untuk berlari menuju gerbang dunia luar. Dunia luar dinding.
__ADS_1
Setelah keluar dari tembok. Aku berhasil merebut kesadaranku. Tapi itu sudah terlambat. air mataku begitu deras membasahi pipiku.
"TUAN FRANKOOOOO!!!!!!!" Jeritku dari kejauhan.