Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Halo Dunia Bawah (End)


__ADS_3

Aku pun menjatuhkan diri dari punggung Chou untuk berlari memasuki gerbang tembok Tandum. Aku berlari sekuat tenaga untuk menuju ke tempat tuan Franko. Dengan cepat Kenji memegang tanganku untuk membuatku berhenti.


"Kenapa kita lari?!! Kita harus menyelamatkan mereka!! Tuan Franko juga ada disana!!!" Bentakku dengan suaraku yang pecah akibat memahan tangis.


Kenji hanya diam mematung memandangiku sambil menahan tanganku dengan genggamannya yang kuat.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Lagipula aku tidak bisa mempertaruhkan hidupku untuk orang asing." Kata Lenji dengan dinginnya. Amarahku pun meledak dihadapannya.


"Lalu....ketika di reruntuhan itu.......KAU ANGGAP DIRIKU INI APAAA?!!!!!" Bentakku dengan sangat lantang. Bahkan Chou sempat melompat kecil karena terkaget akan kerasnya bentakanku. Kusentakkan tanganku dari genggamannya. Kali ini dia tidak memegangiku.


Tapi Kenji tidak breaksi sedikitpun. Wajahnya masih saja datar dan dingin menatapku.


"Jawabannya kuserahkan kepada imajinasi dan sudut pandangmu. Aku juga tidak peduli seberapa buruknya kau melihatku. Tapi akan kulakukan apapun agar bisa selamat dan pulang dari dunia ini." Kata Kenji. Kenji pun berbalik menuntun Chou melalui tali kengkangnya.


"Kenapa kau selalu begitu? Selalu egois....." Aku tanpa sengaja menumpahkan kekesalanku melalui kalimat itu. Kenji sempat berhenti berjalan.


"Emangnya kau yang tidak mengingat apapun bisa tahu apa tentang aku?!" Kata Kenji dengan nada suaranya yang tiba-tiba meninggi.


"KAU YANG DARI AWAL SENDIRIAN DAN TIDAK MEMILIKI APAPUN DI MASA LALUMU, TAHU APA SOAL AKU DENGAN MIYUKI, HAH?!!!!" Untuk pertama kalinya aku melihat emosi Kenji. Tapi sayangnya itu emosi berupa kemarahan. Kemarahan yang murni.


"Diacuhkan, dihina, dibenci, tidak disukai selama hidupku ini membuatku belajar betapa busuknya kehidupan. Kalau kehidupan adalah sebuah kejahatan. Maka Miyuki lah yang menyangkal semua hal itu dariku sehingga aku bisa sampai di titik ini." Kenji yang sudah berekspresi murka seperti bahkan tidak menyelesaikan kata-katanya. Wajahnya kembali normal. Tangannya meraup wajahnya dari atas hingga kebawah.


"Ayah..." Panggil Jihan dengan pelan. Wajahnya penuh dengan kecemasan melihat Kenji yang baru saja marah.


"Maaf." Kata Kenji singkat.


Kenji pun mulai berjalan ke arah kanan memutari tembok Tandum. Hisao pun turun dari atas punggung Chou dan menarik tanganku.


"Ayo." Katanya.

__ADS_1


Aku pun mengusap air mataku dan mulai berjalan. Selama perjalanan kami semua saling diam. Tidak ada yang berbicara. Bahkan saking sunyinya perjalanan kami suara angin sampai bisa terdengar merdu di telinga.


Selama setengah hari perjalanan yang kami lakukan hanyalah memutari tembok Tandum ke arah kanan dari Distrik Iblis barat. Aku cukup penasaran kemana kami akan pergi dan tuju. Tapi melihat Kenji yang begitu marah kepadaku membuatku malas dan enggan untuk berucap dan bertanya.


Selama perjalanan, kami tidak diserang oleh satu pun bangsa iblis. Aku sempat membaca beritanya di koran yang terbang mendekatiku. Para pahlawan dan para kesatria elit berhasil menemukan salah satu sarangnya dan membasmi semua bangsa iblis di dalamnya. Meskipun bangsa iblis belum sepenuhnya lenyap tapi itu sudah menjadi kemajuan untuk umat manusia. Sekitar 50 km dari sini sudah mulai dibentuk beberapa kamp militer untuk mengawasi dan menjaga pembangunan dinding baru. Sekitar 2000 pekerja di kirim untuk mengerjakannya.


Kenji pun berhenti bergerak. Dia melihat ke sekelilingnya. Arah matahari, bayangan dinding, kenampakan alam seperti bebatuan dan gundukan pasir yang menggunung. Semua Kenji perhatikan dengan teliti dan hati-hati.


"Kita berkemah dan beristirahat disini. Meskipun tidak ada zombie ataupun bangsa kategori berapapun kita harus tetap waspada." Kata Kenji yang mulai menurunkan Jihan dari atas punggung Chou.


Semuanya menuruti Kenji tanpa ada yang membantah. Kami mendirikan 2 tenda. 1 untuk Kenji dan satu lagi untukku, Hisao, dan Jihan. Kenji juga menutupi Chou menggunakan mantel gelap raksasa dan menutupinya dengan pasir sehingga terlihat seperti gundukan pasir.


Malam pun tiba. Entah kenapa malam ini sangat dingin dibandingkan malam-malam yang lalu. Aku pun keluar dari tenda. Aku cukup heran, kenapa Kenji tidak menyalakan api unggun malam ini?


Seperti biasa, Kenji masih sibuk mengotak-atik senjata-senjatanya yang hanya bermodalkan cahaya rembulan yang kebetulan begitu terang dan sedang purnama malam ini. Aku awalnya begitu takut untuk memulai percakapan dengan Kenji karena sebelumnya sudah menyinggungnya. Aku pun berjalan perlahan mendekatinya.


"Kenapa kau masih bangun? Bukankah sudah larut malam?" Kata Kenji tanpa menoleh ke arahku. Aku cukup terkesan sekaligus terkejut. Aku tidak menyangka kalau Kenji yang bakal memulai percakapan setelah kami tadi beradu mulut.


Cukup lama Kenji untuk menjawabnya. Setelah selesai mengotak-atik revolvernya. Kenji beralih ke katananya dan mulai mengelapnya dengan perlahan.


"Tepat di bawah kita ini terdapat jalur masuk menuju kota bawah tanah." Jawab Kenji.


"Karena diatas permukaan aku tidak mendapat banyak informasi maka aku memutuskan untuk pergi ke dunia bawah." Jelas Kenji. Aku cukup heran. Darimana dia tahu dunia bawah tanah Tandum?


"Lalu apa hubungannya dengan tidak membuat api unggun?" Tanyaku sekali lagi. Kenji pun menghembuskan napas berat.


"Para penjaga kota bawah tanah akan menyadarinya kalau kita ada tepat di dekat pintu mereka menuju dunia atas melalui panas api unggunnya. Hanya melalui perbedaan suhu saja mereka bisa tahu. Mereka bahkan lebih terlatih dari yang kita duga." Jelas Kenji.


"Dan kami sudah menyadarinya melalui suara." Kata seseorang entah darimana suaranya. Kenji yang menyadari Sesuatu segera melompat sambil menggendongku. Ledakan dahsyat tepat di bawah kami. Hisao yang juga terbangun ikut melompat sambil menggendong Jihan. Begitu juga dengan Chou. Puluhan tali tambang keluar melalui celah celah pasir. Mengikat Chou dengan sangat cepat. Bahkan ikatannya juga sangat kencang sehingga membuat Chou tertarik dan terbanting ke permukaan pasir.

__ADS_1


"Chou! tidak!" Jihan dengan reflek yang cepat melemparkan boomerangnya ke arah tali-tali tambang tersebut sehingga membuat sebagian tali tambang yang mengikat Chou terputus. Chou pun segera membebaskan diri. Kenji yang melompat bersama denganku setinggi 5 meter bahkan sempat terikat tali tambang tersebut. Kenji yang sempat meraih katananya sebelum ledakan terjadi segera memotong tali tambang yang mengikat kakinya.


Kami pun mendarat dengan aman. Barang-barang kami menjadi berantakan akibat ledakan tadi. dari bawah permukaan muncul beberapa prajurit dan kesatria yang sepertinya menggunakan pakaian ghili suit segera menodongkan senjata mereka ke arah kami.


Kami kalah jumlah, kalah strategi, kalah posisi. Kami benar-benar terkepung.


"Baiklah kami mungkin tidak ingin menyakiti kalian. tapi kami tidak keberatan untuk melakukannya." Kata salah satu dari mereka yang berada di depan kami.


Tanpa kuduga. Kenji mengangkat tangannya ke atas yang menandakan tanda menyerah. Aku bahkan sempat mempelototinya sebentar kemudian aku mengikutinya.


"Tunggu sebentar pak." Kata salah satu prajurit mendatangi prajurit yang ada didepan kami.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Menurut data seharusnya pahlawan bernama Tatsumaki Kenji dinyatakan tewas. Tapi...." Prajurit itu menunjukkan sesuatu yang membuat prajurit satunya cukup terkejut.


Ya, kartu stat milik Kenji. Kartu yang hanya dimiliki oleh pahlawan yang ia geledah di tumpukan barang-barang kamivyang sedang dalam proses pengamanan.


"Level 125?!" Gumam si prajurit dengan terkejut.


"Bagaimana anda..." Kata si prajurit itu dengan terbata-bata melihat sosok Kenji yang mereka lihat kondisinya yang seharusnya sudah mati malah masih hidup dihadapan mereka.


"Aku pun sebenarnya keberatan untuk membunuh kalian karena mencoba melakukan keramahan ini kepadaku. Tapi aku tidak keberatan untuk melakukanya." Kata Kenji dengan tenang dan menurunkan tangannya.


"Bawa aku ke dunia bawah. Aku ingin bertemu dengan Theressa sang ahli Segel." Kata Kenji dengan lantang.


Meskipun sempat ragu. pada akhirnya mereka menurunkan senjata mereka.


"Bagaimana anda juga bisa?!....tahu nama itu... Prajurit! Hentikan pengepungan. Bawa tamu kita ke kota bawah tanah." Kata Prajurit tersebut.

__ADS_1


( Coming Soon in Alternative : Zero One vol 2)


__ADS_2