Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Kau Orang Baik Bagiku


__ADS_3

"Mereka melarikan diri ya..." Kata Kenji berjalan mendekat. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan kemampuan regenerasinya, semua lukanya sembuh tak tersisa. Jika itu orang biasa jelas akan mati akibat tulang patah dan gagar otak.


"Ayah baik-baik saja?" Tanya Jihan yang sangat khawatir kepada Kenji.


"Untuk saat ini." Jawab Kenji singkat dan menggandeng Jihan dengan tangannya. Kenji juga mengambil mantel ungunya lalu memakainya.


"Haruskah kita memenuhi undangan mereka?" Aku meminta pendapat dari Kenji dengan wajah pucat. Penyebabnya jelas karena tempat yang dimaksud di kertas ini. Aku pun memberikannya kepada Kenji.


"Ternyata Pihak Gereja benar-benar sudah sejauh ini." Kata Kenji melihat isi kertasnya. Kenji kemudian melihat wajahku yang tampak ketakutan dan cemas.


"Kau tampak pucat." Kenji mungkin mencoba mempedulikanku. Tapi aku tidak ingin membebaninya karena perasaan takutku. Aku mencoba menarik napas panjang dan menghembuskannya.


"Kalau kau kelelahan kita bisa ke sana ketika kau siap dan sehat. Ayo kita istirahat." Kata Kenji sampai-sampai aku belum sempat membalasnya. Jihan yang melihatku tidak karuan langsung menggenggam tanganku.


"Kakak tidak apa-apa? Aku yakin selama ayah melindungi kita, semuanya pasti akan baik-baik saja." Katanya. Aku pun menjadi sedikit lebih tenang.


Kami pun mencari dataran tinggi dan luas agar tidak muda di serang gerombolan iblis. Kenji kemudian membuat tenda yang cukup besar. Sepertinya bahan pembuatannya berasal dari kulit dan tulang-tulang iblis yang Kenji bantai.


Malam pun datang menyelimuti gurun Sterben dan daerah dataran tinggi yang dipenuhi bebatuan ini. Kami pun memakan makanan yang aku kumpulkan di tasku.


"Kau seharusnya tidak memakannya." Kenji masih saja memakan daging-daging iblis yang dia bunuh dan disimpan di salah satu bagian ranselnya.

__ADS_1


"Karena aku satu-satunya yang kebal akan racun dan efek asam dari daging-daging iblis, aku ingin menghemat jatah makanan kalian. Untuk ke tempat itu lagi kita perlu waktu sekitar seminggu perjalanan." Jelas Kenji memanggang satu gumpalan daging monster.


"Tapi walaupun begitu..." Kataku terpotong. Aku tidak berhak menentukan. Kenji lah yang berhak. Sebagai tebusan untuk mengikutinya maka aku tidak memiliki kebebasan untuk melarangnya. Kenji pun mulai menggigit daging monster yang sudah matang tersebut.


"Jika kau tidak ingin pergi ke tempat yang ada di kertas itu. Setidaknya temuilah pak tua itu. Aku yakin dia pasti merindukanmu. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk ikut ke tempat itu." Kata Kenji tanpa menatap ke arahku. Aku menggigit bibirku. Aku terlalu takut membayangkan apa yang akan terjadi ketika Kenji ke sana tanpa aku. Bagaimana kalau dia tidak ada perlindungan?


"Tapi... aku..." Kataku terbata-bata.


"Pasti ada sesuatu yang membuatmu takut untuk kesana. Kalau kau takut, kau tidak perlu ikut. Aku bisa menanganinya sendiri." Kata Kenji sambil mengunyah daging monster yang tampak renyah baginya.


"Jika di sana terdapat slave yang menyerangmu, siapa yang akan melindungimu, Kenji?!" Kataku dengan ketakutan. Air mataku pun membanjiri pipiku.


Kenji pun menoleh ke arahku untuk pertama kalinya. Ada sedikit ketegangan yang ada di wajahnya.


"Akulah yang menembaknya hingga dia terjatuh ke sungai. Ketika menggunakan mode demi-slave, aku langsung menyadarinya auranya. Sebagai cawan suci, kau menampung semua roh legenda yang telah terbunuh ke dalam dirimu dan semua roh itu bisa kau pakai sebagai perlindungan. Dan wanita berambut hitam itu adalah seorang Dewi. Dewi mitologi dari Jepang. Tsukuyomi. Dia adalah seorang slave yang berupa wasit dari perang mitologi ini. Dan demi hak milik cawan suci itu berada di tanganku maka aku membunuhnya." Jelas Kenji. Wajahku semakin pucat. Bahkan lebih pucat dari perut ikan mati.


"Jadi luka itu..." Kataku terputus.


"Ya. Itu adalah luka dari bekas tembakan dari revolver ini." Kata Kenji.


"Emiya, dengarkan aku. Aku bukanlah orang yang baik seperti yang kau pikirkan. Aku menyelamatkanmu hanya karena kebetulan. Kau tidak mungkin menaruh hati kepadaku jika bukan dari pertemuan kebetulan itu. Aku hanya seorang mahasiswa yang terteleport ke dunia dengan alasan yang samar-samar. Aku juga orang yang egois, aku bahkan tidak segan menggunakanmu sebagai alat agar aku bisa pulang ke dunia asalku. Jadi kau tidak perlu untuk terus ikut bersamaku." Kata Kenji.

__ADS_1


"Sudahlah tidak apa-apa. Tidurlah selagi bisa. Ini sudah larut malam. Kita akan berangkat ketika subuh." Kata Kenji memalingkan badannya membelakangiku. Jihan yang tadi sudah tertidur di dalam tenda, membuatku mengantuk. Aku pun memasuki tenda. Seharusnya aku tidak mempertanyakan hal itu kepada Kenji. Aku seharusnya sebagai cawan sucinya cukup diam dan menurutinya. Sama seperti slave.


"Apakah itu benar? Tsukuyomi?" Tanyaku di dalam mimpi. Tsukuyomi hanya tertunduk dan membisu. Jelas dia tidak ingin membahasnya.


"Aku tidak menyangkalnya. Fakta tentang aku terbunuh oleh pria itu adalah benar." Akhirnya Tsukuyomi berbicara.


"Tapi... Tidak apa-apa. Lagi pula, aku hanyalah seorang wasit di perang mitologi ini. Kami para slave hanya bisa membantu manusia dari balik bayangan. Karena itu aku tidak menyesali kematianku." Jelas Tsukuyomi. Aku masih membisu tanpa bisa berkata apapun.


"Emiya. Tapi kau berbeda. Meskipun kau ditakdirkan menjadi wadah dari cawan suci kau tetaplah manusia. Karena itu, kami berharap kepadamu untuk selalu mengikutinya dan melindunginya." Kata Tsukuyomi. Dia memelukku sekarang.


"Kenapa kau begitu menaruh harapan kepadanya?" Tanyaku penasaran.


"Kau juga akan tahu alasannya suatu saat nanti." Kemudian semuanya bercahaya. Aku pun terbangun dari mimpiku. Jihan masih tertidur. matahari sebentar lagi terbit. Aku pun segera membangunkan Jihan dan membongkar tenda. Ketika keluar, Kenji masih duduk melihat ke cakrawala. Aku yakin dia terjaga semalaman agar tidak ada bangsa iblis yang mendekati tenda.


Aku melihat ada sekitar 10 bangkai iblis berwujud seperti tikus tanah zombie yang besarnya sebesar kedai dekat rumah tuan Franko. Dan sepertinya Kenji sudah menguliti mereka dan mengambil bongkahan dagingnya.


Aku langsung reflek memeluk Kenji dari belakang dengan sangat lembut. Aku pun berbisik kepadanya.


"Meskipun begitu kau tetap saja mau melindungiku, tidak memaksa kondisi fisik lemahku, tidak menjadikanku sebagai umpan untuk monster, dan yang membuatku terheran-heran kau bahkan tidak mengambil keperawananku setiap aku tertidur. Itu sudah jadi bukti kalau kau orang yang baik." Kataku berbisik pelan di dekat telinganya.


"Kau sudah mulai berani ya....melakukan ini. Sudah kubilang, itu pun karena..." Kata-kata Kenji terpotong karena satu kata yang terucap dari bibirku.

__ADS_1


"Bagiku." Timpalku segera. Kenji kemudian terdiam.


"Kau orang yang baik, bagiku." timpalku segera. Tanpaku sadari tangan kanan Kenji menyentuh lenganku yang mengapung di lehernya.


__ADS_2