
Belum pernah aku bertemu orang yang memiliki aura seperti itu. Penuh intimidasi, hasrat membunuh yang tinggi, hawa keberadaan yang begitu besar, dingin dan tidak berperasaan. Itu yang kubayangkan dari orang bernama Hamato tadi. Meskipun perlu beberapa waktu untuk menenangkan diri tapi tetap saja membuatku sulit untuk berjalan normal.
Kuambil buku yang tadi belum sempat kubaca karena ada seorang bapak-bapak kanibal hampir menusukku dengan garpu rumput. Kubaca isinya. Di buku menjelaskan bahwa setiap berapa kali dalam seminggu para penduduk desa akan masuk ke dalam kuil atau gereja untuk melakukan suatu ritual. Ritual itu sudah menjadi adat tersendiri di desa ini. Sebenarnya aku tidak mempedulikannya karena tujuanku adalah mencari Kenji tapi, Jika Kenji menuju ke arah barat jelas dia akan menemukan desa keramat ini. Dia pasti akan mencari tahu apa yang terjadi di desa ini juga. Maka kuputuskan untuk mendatangi gereja tersebut.
Aku mulai berkeliling lagi ke seluruh wilayah desa. Suasananya sangat mati seperti kuburan. Aku melihat ada bangunan yang mirip seperti gereja tepat di depanku. Pintunya tertutup rapat dan seperti juga terkunci. Mungkin para kanibal tadi adalah orang-orang yang dulu melakukan ritual aneh yang ada dibuku karenakan itu mereka tidak ikut ke dalam gereja. Aku hanya bisa berasumsi. Aku melihat sekeliling bangunan gereja dari depan hingga belakang nya. Aku tidak menemukan apapun. Tapi aku melihat ada atap yang berlubang. Sepertinya cukup untuk dimasuki satu orang.
Aku pun menaiki menuju atap tersebut menggunakan beberapa latihan memanjatku. Cukup melelahkan, tapi membuahkan hasil. Kulihat apa yang ada didalamnya.
__ADS_1
Apapun yang kulihat saat itu tidak mungkin nyata. Terlalu sulit untuk diterima.
Semua orang yang berada didalam gereja terbantai dan dibunuh. Darah menggenang, potongan tubuh dan daging berceceran dimana-mana, aroma terbakar dan bubuk mesiu tercium sangat jelas. Syukur lah langit-langit gereja tidaklah tinggi hanya sekitar 4 meter sehingga memudahkan untuk langsung terjun ke bawah. Kuperiksa salah satu mayat yang ada di gereja. Aku sangat terkejut, meskipun mereka manusia secara fisik. Tapi
dari leher ke atas adalah tentakel- tentakel daging yang sepertinya panjang setiap tentakel bisa mencapai 3 meter.
Dan memiliki mata seperti siput tapi jumlahnya sekitar ada 4 mata. Di setiap ujung tentakel mereka terdapat seperti bilah pisau yang sangat tajam yang menurut perkiraan ku adalah senjata mereka. Aku belum pernah tahu ada iblis yang seperti ini. Kuperiksa kembali tubuhnya dengan lebih rinci. Tubuh ini memiliki luka yang sangat dalam tapi berupa luka bekas tembak di ulu hatinya. Dari diameter dan besar kerusakan pada tubuhnya aku berani menebak kalau iblis ini dibunuh menggunakan senjata revolver atau Magnum. Aku juga mengecek mayat-mayat iblis yang lain, tapi rata-rata semua iblis dibunuh menggunakan senjata tajam, dari bekas nya seperti bekas tebasan dan tikaman pedang. Aku menemukan selongsong peluru Magnum yang berceceran di sekitar lantai. Bau aroma gosong dan terbakar berasal dari 3 ledakan granat yang di lempar secara bersamaan.
__ADS_1
Dari semua ini aku yakin kalau Kenji lah yang membunuh mereka semua. Aku pun semakin bersemangat. Dengan begini kesempatan bertemu Kenji menjadi bertambah. Ku masuki pintu ruang bawah tanah tersebut lalu mulai menyusurinya. Gelap, lembap, dan berbau tanah. Dalam waktu 3 menit aku pun keluar dari ruangan gelap tersebut. Aku melihat sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari batu di depanku, kiriku berupa danau, dan samping kananku berupa jalan setapak menuju hutan. Yang lebih mengejutkannya lagi, Aku menemukan 2 bangkai yang sangat besar. 2 bangkai yang memiliki tinggi jika berdiri sekitar 7 meter ke atas bertanduk seperti kerbau, bermata satu tapi kedua matanya hancur yang sepertinya karena bekas tembak, memakai pelindung berupa besi yang melindungi lengan bawah dan tulang kering, memiliki ekor seperti kadal dan berduri. Sepertinya termasuk kategori iblis tipe 6. Kuperiksa kembali 2 bangkai tersebut. Ada yang aneh sekarang, sebagian tubuh mereka hilang seperti habis dimangsa oleh sesuatu.
Aku pun memeriksa keadaan gerbang tersebut. gerbang sedikit terbuka yang cukup untuk di masuki satu orang. Aku pun mulai memasuki gerbang tersebut. Karena hawa membunuh dan yang tidak mengenakkan lebih terasa di bandingkan di tempat yang tadi yang telah kulewati maka kusiapkan pistolku untuk berjaga-jaga. Di dalamnya terdapat banyak jenis logam. Aku pun mulai berkeliling ke sekitar dan membawa obor yang sudah disediakan. Terdapat peralatan untuk menambang, meja yang terdapat banyak blue print diatasnya. Kulihat berkas-berkas blue print tersebut. Banyak sekali rancangan pembuatan senjata. Seperti pembuatan Magnum Revolver, peluru, bahkan pedang. Ternyata di sini mungkin tempat pembuatan senjata, alat-alat dan pertambangan ketika zaman sebelum zaman iblis. Dan sekarang ditinggalkan.
Sepertinya Kenji juga yang membuat senjata senjata ini di sini. Aku pun segera keluar dari tempat itu setelah memeriksanya. Setelah keluar dari tempat tambang aku memutuskan untuk ke arah jalan setapak yang menuju hutan. Aku melihat bekas sepatu boot mengarah ke hutan. Mungkin itu tepak sepatu boot Kenji. setelah menelusuri hutan lebih dalam aku menemukan sebuah reruntuhan candi yang sangat besar.
Aku tidak menyangka bakal menemukan yang seperti ini di sini. Terdapat ukiran-ukiran sejarah perjuangan manusia, serangan iblis, dan juga peperangan yang terukir di setiap permukaan candi Ketika aku menjelajahinya. Tidak ada hawa membunuh, tenang, bahkan aku bisa merasakan tiupan angin sepoi-sepoi dari hutan. Bentuk candinya seperti donat melingkar dan sangat luas. Ketika melihat ke dasar bagian dalam candi tersebut. Entah aku harus senang atau panik. Aku melihat Kenji sedang bertarung oleh Kadal-kadal raksasa di bawah sana. Tidak mungkin ada kadal yang tingginya 2 meter dengan panjang sampai 10 meter. Dan aku melihat dibibir dalam candi banyak sekali yang menontonnya. Ini seperti arena pertandingan.
__ADS_1
Karena panik aku tanpa sengaja meneriakkan nama Kenji sangat keras. Bodohnya aku! Aku seharusnya menyelamatkannya dari sana. Para iblis penjaga candi berdatangan mengepung ku. Kukeluarkan trisulaku untuk bertarung. Mereka ternyata cukup terlatih. Dan dari wujud senjata-senjata yang mereka pakai, sepertinya berasal dari pembuatan di tambang itu. Mereka menang jumlah dibandingkan aku. Ternyata candi ini sudah menjadi bahan hiburan untuk para penduduk iblis disini.
Karena lengah dan panik ada membekapku dari belakang. Aku mencoba memberontak tapi dia lebih kuat dari yang kuduga. Pandanganku mulai kabur akibat tidak bisa bernapas. Aku pun menutup mataku yang sangat berat untuk kubuka.