
"Saya meminta maaf karena slave milik saya bertindak tidak sopan terhadap kalian. Saya sangat menyesal." Luke bahkan membungkuk ketika meminta maaf. Tapi entah kenapa aku begitu jengkel kepadanya karena seolah serangan tadi sengaja dia lakukan. Karena Kenji memiliki tingkat regenerasi yang super cepat maka aku tidak perlu bertindak lebih jauh lagi.
"Cukup basa-basinya, tuan pendeta. Aku kemari bukan untuk mendengarkan permohonan maafmu. Apa yang kau inginkan dari kami? Dan bagaimana kau bisa tahu tentang kami?" Jelas Kenji tanpa basa-basi. Luke bahkan selesai membungkuk masih tersenyum setelah mendengar kata-kata blak-blakan dari Kenji.
"Baiklah, tapi setidaknya bisakah kita membicarakannya di tempat yang lebih nyaman. Silahkan." Luke mengantar kami ke ruangan khusus menerima tamu. Awalnya aku enggan untuk menuruti perkataannya tapi karena Kenji bersikap biasa saja maka aku terpaksa mengikutinya.
Kami pun duduk di ruangan yang mirip seperti ruang tamu. Terdapat meja berbentuk oval yang terbuat dari kayu dengan pahatan motif bunga, dan 2 sofa merah yang berhadapan diantara meja. Seorang menggunakan tudung hitam membawakan kami 4 cangkir teh dengan 1 teko berukuran sedang dan wadah berisi gula berbentuk kubus.
Aku sempat curiga kalau teh yang di sajikan itu beracun tapi ketika Kenji dan Jihan tidak bereaksi apapun ketika meminumnya maka aku pun meminumnya tanpa takut keracunan.
"Langsung ke intinya saja. Aku ingin kalian berada di pihak Gereja. Tentu saja akan ada bayarannya." Pinta Luke.
"Apa karena aku seorang pemilik sah dari cawan suci?" Tanya Kenji tanpa basa-basi.
"Kalau bukan karena itu karena apa lagi, pahlawan dengan kelas Avenger?" Balas Luke.
"Kau tahu sampai sejauh apa?" Nada suara Kenji sangat jelas seperti mengancam.
"Melihat dari cara kalian bertarung, bekerja sama, dan bertahan hidup juga salah satu alasan aku menginginkan kalian. Terutama ketika kalian melawan Chariot tadi, selama perang mitologi ini berlangsung belum ada manusia yang bisa mengalahkan slave seorang diri. Sedangkan pasukan Pihak Gereja selalu saja berkurang akibat ekspedisi keluar benteng. Aku tidak ingin kehilangan anggota lebih banyak lagi." Jelas Luke. Entah kenapa arah pembicaraan ini membuatku sedikit ketakutan. Darimana dia tahu tentang kami.
"Jika kau meminta kami untuk menjadi bagian dalam organisasi pihak Gereja maka aku menolaknya. Tapi..." Kata-kata Kenji terpotong.
"Tapi...?" Timpal Luke dengan tersenyum.
__ADS_1
"Aku mau membantu selama aku mendapat bayaran." Lanjut Kenji. Luke sempat sedikit terkejut mendengarnya. Sedangkan aku sangat syok mendengarnya.
"Apa yang kau inginkan sebagai bayarannya?" Tanya Luke setelah menyesap tehnya.
"Aku hanya memberikan 2 syarat. Aku hanya ingin pulang ke dunia asalku. Itu saja. Jadi aku menginginkan semua informasi yang kau miliki sebagai ganti aku membantumu." Jawab Kenji. Luke langsung tersenyum ramah walaupun dia selalu ramah.
"Syarat keduanya, jangan sentuh mereka berdua. Karena bagaimanapun juga hanya aku yang terlibat dalam kontrak ini." Kata Kenji.
"Kau memang orang yang menarik. Berbeda dengan para pahlawan lain yang menuruti apa saja perintah dari kerajaan. Baiklah kalau begitu, aku menerima kedua syarat itu." Kata Luke.
"Jadi kau ingin aku melakukan apa?" Tanya Kenji langsung to the point. Luke kemudian mengeluarkan sebuah map dan menyodorkannya kepada Kenji.
"Sebuah pembunuhan kecil. Kau bisa melihat detailnya di dalam map itu." Kenji kemudian membuka map tersebut dan membaca secara ringkas. Dari mimik wajah Kenji, sepertinya tidak ada masalah sedikitpun.
"Baiklah, akan kuterima." Kenji kemudian memasukkan kembali kertas-kertas itu ke dalam map-nya dan menaruhnya di dalam tasnya. Kami pun keluar dari gereja tersebut melalui pintu depan.
"Aku harap kontrak kita bisa berlangsung lama, Tuan Kenji." Luke membungkuk memberi salam perpisahan kepada Kenji. Kenji kemudian hanya melambaikan tangannya dan langsung memakai tudungnya.
Kami pun berjalan di keramaian kota mencari sebuah tempat tinggal lebih dulu. Hari mulai malam, kami akhirnya menemukan sebuah penginapan di sekitar daerah pasar dan mall. Sepertinya kita tidak akan kesulitan ketika membaur di tempat ramai.
"Aku ingin menyewa 1 kamar. Berapa harganya?" Tanya Kenji. Penjaga penginapan itu sempat ketakutan melihat betapa besarnya Kenji.
"Sehari semalam 7 keping sirkuit hijau." Jawab si penjaga penginapan dengan kelagapan karena ketakutan. Kenji kemudian memberikan uang yang pas. 7 keping sirkuit hijau.
__ADS_1
"Ini tuan, kuncinya." si penjaga penginapan memberikan kunci kamar kepada kami.
Kami pun segera mencari nomor kamar yang sesuai dengan nomor gantungan yang terdapat di kunci itu. Kami segera masuk dan meletakkan barang-barang kami di dalam kamar. Kenji kemudian membuka tudungnya.
Aku langsung terkapar di kasur yang sangat empuk di dalam kamar. Tentu saja, sudah lama sekali aku tidak tidur diatas kasur semenjak aku memutuskan meninggalkan Tandum dan mulai mengikuti Kenji.
Kenji menatap keluar jendela. Menatap keramaian kota yang lampu masih berkelap-kelip. Aku pun juga ikut melihat keluar jendela. Aku melihat panel-panel wajah para pahlawan yang terdapat di panel-panel besar di sana.
"Mereka teman-temanmu ya? Apakah kau merindukan mereka?" Tanyaku.
"Aku tak pernah menganggap mereka adalah temanku. Lagipula tidak ada satu pun dari mereka yang menghawatirkanku ketika kejadian sekitar 2 bulan yang lalu itu." Jelas Kenji.
"Ah...aku minta maaf. Seharusnya aku tidak menanyakan hal itu." Aku lupa kalau Kenji menjadi seperti ini karena salah satu dari mereka.
"Tapi, aku sedikit merindukan salah satu dari mereka." Timpal Kenji segera. Aku jadi teringat perkataan tuan Franko. Bahwa ternyata Kenji memiliki hubungan keluarga dengan salah satu pahlawan yang lain.
"Nona Miyuki ya?" Ucapku pelan memastikan. Kenji hanya diam. Tapi karena sudah lama aku bersama dengan Kenji, aku jadi tahu setiap tingkahnya. Jelas diamnya itu berarti iya.
"Lebih kau tidur. Sudah terlalu larut sekarang." Kata Kenji menjauhi jendela dan menutup tirainya. Aku pun langsung menaati perintahnya karena aku sudah mulai mengantuk. Tapi Kenji malah membuka ranselnya dan sepertinya mulai mengerjakan sesuatu.
"Kau tidak tidur?" Tanyaku mulai memeluk Jihan yang dari awal masuk kamar sudah terlelap ketika menaiki kasur ini.
"Aku tidak mengantuk. tidurlah." Balasnya dengan singkat.
__ADS_1
Target kali ini langsung seekor ikan yang besar. Raizen Brook, salah satu family dari salah satu anggota fraksi 13 Pahlawan yang bertanggung jawab atas perkembangan senjata yang ada di daerah barat Tandum. Pria yang merepotkan. Dengan membunuh dan mengambil semua data darinya dapat meningkatkan kekuatan untuk Pihak Gereja. Berbeda dengan Pihak Gereja yang berupa organisasi rahasia, Fraksi 13 Pahlawan adalah organisasi yang memihak kepada kerajaan. Sepertinya di perang mitologi ini akan ada dua kubu yang berseteru.