
Syok, kemurkaan, kecewa, dan rasa sedih tercampur aduk di dalam hatiku. Aku tidak percaya ini. Aku tidak ingin mempercayai ini. Ini tidak mungkin. Kenji tidak mungkin melakukan hal setega ini kepadaku. Lututku melemas sehingga memaksaku untuk berlutut. Kedua tanganku yang awalnya mencengkram kerah jubah Kenji melemas dan menjadi tidak bertenaga.
"Ke-..... Ke... Ken.... ji... " Aku bahkan cukup kesulitan mengucapkan satu patah kata karena parau-nya suaraku. Air mataku mulai berlinangan deras dipipiku dan tak bisa kusembunyikan. Meskipun begitu Kenji tidak bergeming sedikitpun dan masih saja memasang wajah datarnya. Apakah semua itu hanya....... aktingnya?
"Bukankah sudah kubilang untuk tidak memberitahunya tentang kesepakatan kita?!" Kata Kenji dengan sangat lugas.
"Beliau berhak untuk tahu, Kenji. Apalagi beliau adalah seorang wanita. Sebagai sesama wanita aku tidak suka kerahasiaan di belakangku." Kata Theresa. Kenji kemudian menoleh ke arahku. Cukup! Cukup sudah! Ketika aku sudah memutuskan untuk ikut dengan Kenji maka aku akan ikut! Kemana pun dia akan pergi! Itu keputusanku sendiri!
Dengan sangat cepat aku menggunakan mode Perseus dan melompat ke arah Theresa untuk menerjang nya. Aku pun berjongkok dan mendarat di mejanya. Semua penjaga yang ada di dalam segera mengepungku tapi aku sudah tidak peduli lagi. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menghentikanku.
Ku todongkan tombak bilah lengkung ku ke leher Theresa.
"Kau coba pisahkan kami. Maka aku akan memisahkan kepalamu dari anatomi tubuhmu." Kataku dengan nada penuh penekanan. Tapi ekspresi Theresa cukup biasa saja untuk orang yang diancam.
Theresa kemudian turun dari kursinya dan mulai berlutut menghadap ku.
"Sesuai keinginan anda, Ratuku." Kata Theresa dengan kepala tertunduk. Semua penjaga diruangan itu bahkan sampai terkejut melihat pemimpin mereka berlutut kepadaku.
"Kalian semua. Segera berlutut lah dihadapan pemilik kerajaan Tandum yang sesungguhnya." Perintah Theresa menyuruh semua anak buahnya untuk ikut berlutut juga. Rasa marahku menjadi sedikit reda karena bingung menilai situasi yang terjadi. Semua anak buah Theresa pun ikut berlutut mengelilingiku.
Aku pun mencoba menoleh ke arah Kenji, Jihan, dan Hisao. Kenji cuma mengangkat kedua bahunya, Jihan ketakutan melihatku marah tadi, sedangkan Hisao melongo melihatku dengan mulutnya yang terbuka cukup lebar.
TANGGAPAN KALIAN SEMUA TIDAK MEMBANTU SAMA SEKALI!!!!
"Jika aku memang ratuku maka lakukan apa yang kuperintahkan. Tarik kesepakatan itu." Kataku turun dari meja.
__ADS_1
"Sesuai keinginan anda, Yang Mulia." Kata Theresa. Theresa kemudian mengisyaratkan kepada seluruh anak buahnya. Semua anak buahnya segera menodongkan senjata-senjata mereka ke arah Kenji, Jihan, dan Hisao.
"Maaf pahlawan Avenger, seperti perintah ratuku, kesepakatannya kubatalkan." Kata Theresa berdiri dan berjalan melewati ku. Apa?! Tunggu! Bukan itu maksudku!
"Apa?!" Kataku.
Kenji kemudian menatapku sekali lagi. Tentu saja dengan wajah datarnya.
"Bagus sekali Emiya. Begini kah caramu membalasku setelah semua yang terjadi?" Kata Kenji dengan datar. Entah itu dia bercanda atau tidak ketika mengatakannya aku bahkan tidak tahu.
"Tidak! Bukan seperti-..!"
"Tembak!" Sebelum menyelesaikan kalimat ku, Theresa memerintah kan anak buahnya untuk menembaki Kenji. Apa yang telah kulakukan?! Ribuan peluru pun dimuntahkan dari setiap senjata anak buah Theresa.
Hisao dengan cepat menggendong Jihan dan dengan sangat gesit melompat mundur dan berlari di dinding menggunakan kaki monsternya untuk menghindari tembakan senapan. Sedangkan Kenji hanya membuat perisai dinding yang terbuat dari cangkang Ancient Scorpio yang terkenal sangat keras yang ukurannya sebesar baliho.
"Ck, ck, ck.... Oh tidak, tidak boleh." Kata seseorang dibelakangku yang kemungkinan dari suaranya adalah suara wanita dan aku menoleh ke arahnya. Seorang wanita berambut hitam panjang belah tengah dengan kulit sawo matang tapi berwajah manis, menggunakan pakaian ketat berwarna putih dengan energi manna yang mengelilinginya yang sepertinya digunakannya untuk terbang. Di punggungnya terdapat sebuah pedang dan sepasang sayap putih yang terbuat dari energi manna. Aku bisa merasakan betapa banyaknya energi manna yang dia miliki sampai-sampai dengan menggunakan konsentrasi manna saja bisa menahan tombak ku dengan mudah.
Dengan singkat, wanita itu mengikat ku dengan semacam tali yang terbuat dari manna yang keluar dari tangannya.
"Tidak boleh ada kekerasan di sini." Kata wanita itu. Aku mencoba memberontak tapi ikatannya begitu kuat.
"Menyerahlah, maka kau tidak akan disakiti." Katanya menyuruhku untuk menyerah.
"Kurasa tidak." Aku pun mengganti wujudku menjadi mode Tsukuyomi. Tali-tali manna yang mengikat ku pun perlahan mengelupas dan putus. Ternyata tali ini lemah dengan manna dewata.
__ADS_1
"Lumayan juga, gadis kecil. Tapi ini belum berakhir." Si wanita itu pun membuat bilah pedang dengan manna nya yang panjangnya sekitar 90 cm. Sebelum dia menerjang ku aku pun segera menerjang nya dan mendorongnya untuk menjauh.
Ku tabrakkan wanita itu ke dinding yang bahkan dindingnya meninggalkan cekungan yang sangat besar. Kupukuli wajah wanita itu beberapa kali. Tapi ketika pukulan kelima ingin ku lancarkan aku merasakan ada hawa keberadaan yang mencoba membunuhku dari belakang. Ku urungkan niatku untuk memukul wanita itu, sebagai gantinya ku lemparkan wanita yang kupukuli ke arah belakangku.
Benar dugaanku ternyata ada seseorang dibelakangku dan orang itu terhantar oleh tubuh wanita berkulit sawo matang itu.
"Mencoba menyerang ku dari belakang? Tidak akan semudah itu." Kataku kepada mereka.
"Sini biar kubantu." Kata wanita berkulit sawo matang itu kepada laki-laki yang terhantar oleh tubuhnya tadi. Laki-laki berusia sekitar 40 tahunan dengan gaya rambut panjang disisir kebelakang dan jenggot yang tebal. Menggunakan pakaian ketat berwarna cokelat tua dengan ditutupi jaket kulit berwarna merah. memakai sarung tangan hitam tanpa jari, memakai boot berwarna abu-abu seperti sepatu yang berdebu, dan di tangannya membawa machete energi berwarna biru terang.
"Apakah prajurit laki-laki di underground sepengecut itu sampai harus menyerang seorang wanita dari belakang?" Ejek ku. Ku keluarkan pedang raksasa ku yang biasa kupakai.
"Mungkin lebih bisa disebut taktik." Kata laki-laki itu memasang kuda-kuda.
"Siap?" Tanya wanita di sampingnya.
"Kapanpun!" Mereka pun menerjang bersamaan. Kami pun saling bertukar serangan berupa tebasan, pukulan, dan tendangan dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Jujur saja, aku sempat terkejut sekaligus kagum kalau ada manusia yang bisa mengimbangi kecepatan seperti ini. Apakah mereka benar-benar manusia?
Disaat itu lah aku terhempas akibat tendangan dari mereka berdua yang sangat kuat. Benar-benar tendangan yang luar biasa kuat sampai aku menabrak tembok hingga hampir hancur. Jika aku tidak menggunakan wujud Tsukuyomi aku pasti sudah mati karena tendangan itu.
"Sepertinya ini akan cukup sulit." gumamku mengusap wajahku yang kotor akibat debu disekitar.
"Tukar kesadaran kita. Biar aku yang mencobanya. Lagi pula ada sesuatu yang ingin kupastikan dari dugaanku ketika melihat mereka bertarung." Kata Tsukuyomi dari alam bawah sadarku. Aku pun menyetujuinya dan kami pun bertukar.
__ADS_1
"Ronde 2? Baiklah." Kata si laki-laki yang bersenjata machete. Dan pertandingan kedua pun dimulai antara Tsukuyomi dengan sepasang antek-antek dari Theresa.