
"Kau ingin menghentikan ritualku?! Kau sadar di derajat mana kau berada? hah!? Anjing betina sepertimu seharusnya bersyukur diselamatkan oleh makhluk agung sepertiku dan tidak berhak meminta apapun." Kata Hamato memperkencang aura penghancurnya dan membuat tanganku yang menahannya mati rasa. Kenji selalu mempertaruhkan nyawanya disetiap melindungiku. Maka aku pun akan melakukan hal yang sama.
"Kumohon, Hamato. Cuma dia yang kumiliki. Jangan kau renggut itu dariku!" Kataku masih menahan aura badai super dahsyat dari pedang hitam Hamato.
"Sudah kubilang. Keputusanku adalah mutlak. Aku tidak akan mengubahnya hanya seekor anjing betina yang menggonggong untuk majikannya." Jawab Hamato dengan sangat arogan. Sifat arogannya sangat mengerikan. Tapi itu juga sebanding dengan kekuatan yang dia miliki. Kenji, aku tahu kau akan melakukan hal yang sama jika kau diposisiku sekarang ini.
"Jadi begitu ya. Baiklah..." Kataku mulai melepaskan genggaman tanganku dari tangan Hamato yang sedang menggenggam gagang pedang. Aku mulai menjauh dari Hamato dan mendekati Kenji yang sudah sekarat. Kulihat Hamato mengeluarkan ekspresi heran dan bingung karena tindakanku ini.
Aku memeluk Kenji yang masih berwujud monster sekarat dan terikat oleh rantai emas. Aku tahu apa yang dipikiran kalian. Romantis, tidak waras, barang kali. Tapi Kenji lebih sering melakukan semua hal-hal itu daripada aku untuk melindungiku.
"Kalau begitu kau boleh menebasnya setelah menebasku." Bentakku dengan lantang. Hamato langsung menatapku dengan tatapan melotot. Matanya hampir keluar karena saking terkejutnya.
"Kau anggap hidupmu apa, anjing betina? Hidup bukanlah untuk transaksi atau barter. Karena kehidupan hanya terjadi sekali untuk setiap orang dan yang bernyawa. Dan kau malah ingin menyerahkan hidupmu untuk anjing liar ini?! Kau ingin menghina dan menodai kebaikanku atas nyawamu?!" Cecar Hamato dengan wajah merah padam. Aku bisa melihat kalau harga dirinya telah menurun hanya karena itu.
Kupeluk Kenji semakin erat. "Ya. Bukankah kami di matamu adalah anjing yang mengasihani anjing yang lain? Kau pasti akan langsung menebasku kalau aku bukan wadah cawan suci kan? Pilihanmu cuma 2 Hamato. Membunuhku dan membunuh Kenji tanpa mendapatkan cawan suci di akhir Perang Mitologi atau kau suka tidak suka menurunkan sifat aroganmu dan membiarkan kami hidup dan kita selesaikan urusan kita di akhir perang nanti jika berkemungkinan." Ancamku kepada Hamato. Kupikir Hamato akan tambah emosi dan akan melakukan hal diluar dugaan dan hal gila. Tapi aku tidak menyangka kalau Hamato akan berhenti.
"Kau mengancam makhluk agung dengan mengiming-iminginya dengan sebuah gelas kosong? Nyalimu besar juga, anjing betina. Karena kelancanganmu maka aku akan menunda eksekusimu. Setidaknya berjuanglah agar tidak terbunuh selain dengan diriku." Aku hanya bisa berpikiran positif kalau itu adalah pujian untukku. Pedang Hamato yang memancarkan hawa yang sangat mengerikan itu menghilang dan berubah menjadi kunci sebesar kunci rumah biasa. Hamato pun berjalan menjauh meninggalkan kami dan menghilang menjadi kilauan emas.
__ADS_1
Rantai-rantai yang mengikat Kenji juga ikut menghilang. Melihat tanganku dibasahi oleh darah, aku sempat panik dan langsung membaringkan Kenji. Kenji berubah menjadi wujud manusianya lagi.
Luka-luka jeratan rantai emas, tebasan di sekujur tubuh sembuh dalam hitungan detik.
Tapi Kenji tidak kunjung bangun. Kuguncangkan tubuh Kenji berkali-kali tapi dia tidak kunjung bangun juga. Kumohon Kenji bangunlah. Aku pun menjemput Jihan yang masih di dalam ransel untuk keluar. Kami merawat tubuhnya yang masih tergeletak di tanah. Siang malam kulewatkan untuk mengawasi Kenji yang masih tidak sadarkan diri. Aku masih belum berhenti berharap Kenji akan bangun. Aku selalu memegangi tangan kanannya yang kasar dan penuh bekas luka. Entah itu berasal dari luka pertarungan atau ketika pembuatan senjata.
"Apakah ayah akan membaik?" Tanya Jihan dengan wajah cemas. Aku tidak bisa menjaminnya tapi aku hanya bisa menjawabnya dengan senyuman. Jihan juga selama ini mencemaskannya layaknya seorang putri yang menunggu ayahnya pulang. Malam pun tiba. Jihan sudah terlalu mengantuk sehingga dia tertidur di perut Kenji sebagai bantalan kepalanya. Ku selimuti Jihan menggunakan mantel bulu pemberian Kenji.
Tanpa sadar air mataku menetes. Aku sempat bingung. Kenapa aku menangis? Apakah karena aku sangat mengkhawatirkan Kenji? Apa ini? Aku tidak mengerti. Meskipun setiap hari kami tidak terpisahkan, tapi jantungku tidak bisa berhenti berdebar-debar ketika bersamanya. Aku masih bingung. Perasaan apa ini? Kenapa aku tidak ingin dia mati? Kenapa hatiku terasa sakit ketika dia terluka dan terancam? Sampai sekarang aku belum mengerti.
Ku genggam tangan kanan Kenji erat-erat. Air mataku sudah membanjiri pipiku. "Aku jatuh cinta dengan orang sedingin dia? Seleraku buruk sekali. Dia lebih tua dariku sekitar 7 tahun selisihnya, wajahnya menyeramkan, tatapannya setajam duri es, rambutnya mirip dengan jambul ayam, sifatnya sangat buruk dan tidak ada filter ketika berbicara. Dan hatiku telah direbut olehnya? Aku pernah mendengar dari tuan Franko kalau cinta itu buta lagi membutakan. Awalnya aku tidak mengerti maksudnya. Tapi aku hanya bisa pasrah ketika aku merasakannya. Kau membutakanku Kenji." Aku malah ngedumel didepan Kenji yang tidak sadarkan diri dan terbaring lemas. Aku kemudian tertawa kecil meskipun sedikit susah ketika melakukannya sambil menangis.
"Itu ciuman pertamaku Kenji. Aku bahkan memberikannya kepadamu. Jadi kumohon, bangunlah. Woi dasar pedopil psikopat! Bangun!" Kataku dengan lirih. Air mataku menetes tanpa henti.
"Kau harus bertanggung jawab! Kau yang membuatku jatuh cinta kepadamu! Kau harus bertanggung jawab untuk menjawab ciuman pertamaku tadi!" Bentakku dengan lirih. Syukur tidak membangunkan Jihan. Wajahku jelas berantakan.
"Siapa yang kau sebut pedopil....... sialan....Jika kau menyukaiku maka berhentilah menangis...cengeng..." Aku mendengar suara yang sangat familiar dan entah kenapa aku jengkel entah kenapa semua yang kukatakan tadi serasa sesuatu kebohongan.
__ADS_1
"Kau bahkan curhat sampai-sampai membuatku susah untuk tidur. Ocehanmu rata-rata menghinaku semua. Tidak ada satu titik kebaikan yang membuatmu menyukaiku. Aku bahkan sempat heran dan mengira kalau kau sempat kerasukan. Ternyata tidak." Suara itu semakin membuatku jengkel. Padahal aku sudah memberikan ciuman pertamaku kepadanya dan menjadi orang pertama yang jatuh cinta kepadanya. Dan balasanmu untukku adalah mimpi ini?
"Ah! Ya sudah! Kalau aku-..." Ternyata itu bukan mimpi. Dia benar-benar mengatakan semuanya tanpa filter. Mataku terbelalak melihat sosok yang sudah bangun. Entah harus menonjoknya atau memeluknya aku sekarang jadi bingung. Meskipun aku ingin menampar mulut sialannya tapi aku malah memeluknya. Sangat erat.
"Kalau kau sudah bangun seharusnya kau membuka matamu, bodoh." Kataku.
"Habisnya kau ngoceh terus. Apalagi tentang perasaanmu tadi. Aku tidak menyangka kau bakal selebay itu. Harusnya aku merekamnya." Mendengar perkataan nglantur Kenji yang begitu blak-blakkan tapi itu juga kebenaran yang membuatku malu setengah mati. Berarti sejak aku mulai ngedumel tadi dia sudah sadar hanya saja dia tetap menutup matanya.
"Jadi kau mendengarnya? semuanya?" Tanyaku memastikan.
"Banget." Kenji tanpa basa-basi. Wajahku langsung memerah seperti mercon. lengang 7 detik.
"Tapi apakah kau yakin? Menyukai orang sepertiku?---" Sebelum Kenji melanjutkan omongannya yang melantur aku menciumnya untuk kedua kalinya. Tapi ekspresi Kenji masih saja luar biasa. Datar.
"Aku menciummu dua kali, memelukmu dalam jangka waktu lebih dari 10 detik. Apakah itu masih kurang meyakinkan?" Tanyaku yang masih menahan malu setengah malu.
"Semua wanita ditempat prostitusi juga bisa melakukannya kepada pelanggan mereka. Hadeeh." Kata Kenji. lagi-lagi tanpa filter. Aku sampai bingung harus membantahnya dengan apa lagi. Karena yang dia katakan juga ada benarnya.
__ADS_1
"Tapi, terserah kau saja. Tapi jika aku memiliki wanita yang umurnya jauh lebih muda sepertinya tidaklah buruk. Kalau kau memang menginginkanku maka aku tidak masalah." Jawabnya dengan tersenyum. Pertama kalinya aku melihat Kenji tersenyum bahagia. Tanpa sadar ternyata Jihan melihat apa yang kami lakukan dari awal hingga akhir.