Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Kami Mendapatkan Peliharaan Baru


__ADS_3

Kami pun bersiap menuju Tandum. Ya, isi kertas yang di berikan oleh slave class chariot berupa cetakan biru menuju Benteng Tandum. Kami mulai melanjutkan perjalanan di atas Gurun Sterben ini.


Meskipun cuacanya sangat panas dan sangat membakar kulit, setidaknya tidak ada bangsa iblis yang menyerang kami. Jadi satu-satunya tantangan terbesar kami adalah hawa panas yang kami rasakan di gurun. Jihan sempat menangis karena terlalu panas dan hampir pingsan di jalan, tapi Kenji langsung membantunya.


Kami merasakan panas itu kurang lebih sekitar 2 hari. Kami pun sampai di hutan tropis. Meskipun pengap tapi setidaknya tidak sepanas dan separah di gurun. Kami pun beristirahat di dekat sungai agar memudahkan kami mendapatkan air. Hening, tidak ada percakapan diantara kami.


"Emiya, jika kau benar-benar menyukai dan mencintaiku coba katakan "itu" lagi ketika kau sudah berumur 18 tahun. Maka akan kujawab pernyataanmu." Kata-kata Kenji hampir membuatku terkena penyakit jantung. Apakah aku tidak salah dengar? Seorang Kenji memulai topik pembicaraan dan topik itu masalah hati dan cinta. Tapi entah kenapa wajahku memanas dan memerah. Rasa malu bagaikan badai menyelimutiku.


"Kenapa kau malah baru membahasnya sekarang, Kenji bodoh....?" Saking tersipunya, aku tanpa sadar mengeluarkan nada seperti meminta untuk dimanja. Reflek hormon yang jelek banget. Kenji kemudian meneguk beberapa kali air dari botol minumnya lalu mengisinya kembali.


"Istirahat selesai. Ayo kita lanjutkan. Jihan, sudahi main airmu. Ayo, kita pergi." Kata Kenji tanpa melihat kondisiku yang sudah seperti terbakar rasa maluku sendiri. Jihan pun keluar dari sungai dan mulai memasang sendal kayunya lagi.


Tiba-tiba Kenji mengulurkan tangannya kepadaku. Jelas sekali dia ingin membantuku untuk berdiri. "Aku bisa berdiri sendiri." Kataku mencoba menolak ukuran tangannya dengan rasa malu yang masih tersisa. Kupikir dia akan menarik kembali tangannya tapi ternyata....


"Aku tahu itu." Kata Kenji yang membuatku tidak bisa berkata-kata lagi. Sempat-sempatnya dia bersikap dingin di saat romantis seperti ini. Akhirnya aku menerima uluran tangannya. Setelah berdiri aku pun memeluk Kenji dari depan. Dengan pelan aku mengatakannya.


"Baik, akan kukatakan itu ketika saatnya tiba."


Kami pun melanjutkan perjalanan. sudah sekitar 40 menit kami berjalan. Tak lama kemudian terdengar suara raungan yang sangat keras dan sangat menakutkan. Kenji sempat berhenti ketika mendengarnya. Kenji kemudian mendekatkan telinganya ke tanah. Memastikan jumlah dan jarak dari suara itu melalui getaran suara di tanah. Kenji kemudian berjalan kembali.


"Suara apa itu?" Tanya Jihan dengan polosnya.

__ADS_1


"Suara yang mengganggu, Jihan." Kata Kenji singkat. Kami pun berjalan hingga mendekati jurang. Kenji memegangi lenganku agar tidak terjatuh. Di bawah sana ada seekor anjing hutan raksasa sebesar dan setinggi gajah, berbulu hitam yang sedang terluka parah karena sedang diserang kawanan kadal-kadal seperti komodo zombie dengan jumlah sekitar 8 ekor.


"Jadi suara Auman itu berasal dari dia." Kataku bergumam. Kenji menatap lamat-lamat ke bawah. Dia akhirnya menurunkan ranselnya dan mengambil beberapa benda dari kantong ranselnya.


"Emiya, apapun yang terjadi nanti di bawah. Jangan sampai kau turun. Lindungi Jihan dari atas sini." Kata Kenji melompat langsung dari jurang.


Kenji pun membidik dari udara ke arah komodo-komodo tersebut. Dari 6 tembakan Kenji, dia hanya mengenai 3 komodo zombie saja dan sisanya meleset. Dengan cepat dan jitu, Kenji mendarat dengan aman dengan menggunakan pohon di sekitar sebagai media pendaratan. Tersisa 5 lagi. Kenji mengisi ulah pelurunya dengan cepat walaupun hanya dengan satu tangan. Kenji membidik lagi.


Tapi ternyata di luar perkiraan. Lidah-lidah komodo-komodo itu sangat panjang seperti sulur pohon. Mereka menyabetkan lidah-lidah mereka ke pohon-pohon Kenji mendarat. Dengan cepat Kenji melompat dan berganti pohon. Setiap Kenji ingin membidik mereka, komodo-komodo itu selalu menyabetkan lidah mereka yang penuh dengan racun ke arah Kenji.


Kenji semakin terpojok. Salah satu lidah sempat mengenai dahan pohon pijakan Kenji dan membuat Kenji terjatuh ke tanah.


"Sekitar 6-7 meter ya. Karena tidak ingin mangsa mereka kabur, komodo-komodo itu tidak bergerak sedikit pun dari tempat mereka. Jarak Kenji dengan para komodo itu sekitar 20 meter. Meskipun tidak dalam jangkauan lidah mereka tapi tingkat akurasi Kenji menjadi lebih buruk karena jaraknya yang lumayan jauh.


Kenji kemudian melempar flash bang sejauh-jauhnya agar bisa tepat jatuh di depan komodo-komodo itu. flash bang pun aktif. Cahayanya begitu menyilaukan meskipun aku melihatnya dari atas. Komodo-komodo itu akhirnya buta. Kenji pun menembak mereka satu persatu tepat di kepala mereka. Semua komodo pun mati. Kenji kemudian mendekati anjing hitam yang masih kesakitan dan sekarat itu. Racun jelas yang membuatnya sekarat. Kenji kemudian mengambil beberapa daging dan di olesi semacam cairan di situ. Kenji melemparkannya anjing sekarat tersebut.


Aku pun menuruni tebing itu dengan menggunakan mode demi-slave dan menggendong Jihan. Ketika aku melihat anjing itu aku cukup terkejut. Matanya buta dan tidak bisa melihat. Luka lecet dan bulu-bulu yang berantakan. Benar-benar mengenaskan. Anjing itu kemudian memakan daging yang di lempar Kenji dengan sangat lahap meskipun sambil sekarat.


"Apa itu?" Aku menanyakan botol kaca yang Kenji pegang.


"Obat racikanku. Agar menghindari kemungkinan keracunan dan daya tahan tubuh rendah. Aku membuatnya dengan bantuan Hazard yang menentukan bahan-bahan dan komposisinya." Jelas Kenji dan melemparkan botolnya ke tanah.

__ADS_1


Anjing itu masih terkapar dan bersandar di dinding tebing. Jihan turun dari gendonganku dan mencoba berjalan mendekati anjing malang itu. Aku sempat bersiap mengeluarkan pedangku tapi Kenji menghalangiku. Jihan sampai di kepala anjing itu. Dia mengelus-elus kepalanya hingga tenang. Kenji kemudian mengambil beberapa botol lagi dan memberikan 2 botol kepadaku.


"Selagi dia tenang dan bernapas teratur, kita oleskan obat-obat ini ke lukanya." Kata Kenji.


"Kau yakin dia tidak akan menyerang?!" Aku sempat tidak percaya.


"Apa yang bisa dia lakukan? menggigit Jihan saja tidak bisa." Kata Kenji mulai menaiki tubuh anjing itu dan mulai menuangkan obatnya ke tubuh anjing itu. Awalnya anjing itu sedikit meronta. Tapi karena Jihan mengelus kepalanya, maka anjing itu kembali tenang. Aku pun mulai ikut menuangkan obat itu ke tubuh anjing itu. Setelah semua lukanya diberi obat kami beristirahat di dekat anjing itu. Awalnya aku merasa tegang tapi melihat Jihan yang dengan asyiknya malah bermain dengan anjing itu maka aku menjadi tenang.


"Apakah butanya di karenakan serangan flash bang? atau karena serangan lidah komodo-komodo zombie itu?" Tanyaku penasaran.


"Dia di buang oleh kawanannya karena dia buta dari lahir." Jawab Kenji.


"Bagaimana kau tahu?" Tanyaku sedikit heran.


"Bola matanya. Jika terkena efek flash bang warna matanya seharusnya tidak berwarna abu-abu seperti itu. Dan jika terkena serangan dari lidah komodo-komodo zombie seharusnya matanya tidak utuh dan hancur." Jelas Kenji.


Yang membuatku lebih penasaran adalah. Kenapa Kenji menyelamatkannya? Apa untungnya untuk Kenji menyelamatkan binatang cacat seperti ini?


"Kenapa kau ingin menyelamatkannya? Bukankah seharusnya kau membunuhnya juga agar mengakhiri penderitaannya karena kondisi sekaratnya itu?" Tanyaku.


"Itu karena dia bisa berguna sebagai tunggangan kita. Meskipun buta, bagaimana dia bisa bertahan hidup tanpa penglihatan? Jelas dengan indra yang lain. Yaitu hidung, telinga, dan lidahnya sebagai ganti penglihatannya. Dan dia juga spesies yang langka. Ketika aku membaca setiap laporan yang kutemukan di laptop setiap beristirahat menjelaskan kalau spesies ini hanya memiliki musim kawin sekitar 10 tahun sekali. Jelas populasinya sangat sedikit. Karena matanya buta, hidungnya menjadi sangat tajam sehingga dapat mencium sampai ribuan kilometer jauhnya." Kata Kenji.

__ADS_1


__ADS_2