Alternative/Zero One

Alternative/Zero One
Keseharianku di Underground (Bagian II)


__ADS_3

Parah. BENAR-BENAR PARAH HARI INI. Aku tidak menyangka Kenji akan menipuku seperti itu. Kenapa harus dengan embel-embel kencan coba?! Kau bisa juga kan membujuk ku tanpa berbohong. Hari pertama di Underground sudah dirusak oleh Kenji. Selama Kenji memberitahuku kios mana saja yang menjual rempah-rempah, sayuran, daging, dan juga ikan aku hanya memperhatikan tanpa berucap satu patah kata pun.


"Terima kasih nyonya." Kata Kenji memberikan sejumlah uang untuk membayar 4 ikan besar. Kenji kemudian menoleh ke arahku dan menjumpai wajahku yang cemberut parah.


Kenji kemudian menghembuskan napas berat dan dengan cepat menggandeng ku untuk segera menepi dari kios ikan tersebut. Orang-orang sudah mulai ramai membeli kebutuhan sehari-hari. Rasanya benar-benar membuatku nostalgia ketika aku masih berbelanja di permukaan.


Kenji berhenti di kios es krim. Kenji membeli 2 es krim vanila dan 1 es krim cup cokelat yang sepertinya untuk Jihan nanti. Kenji menyodorkan salah satu es krim vanila nya untukku.


"Kau mau atau tidak?" Tanya Kenji. Jika dia berpikir dengan es krim aku akan baikan maka Kenji salah besar. Harga diriku tidak semurah itu. Tapi karena tidak sopan menolaknya di tempat umum maka aku menerimanya.... dengan terpaksa.


Kami pun beristirahat sebentar memakan es krim di bangku umum pinggir pasar. Kami mulai menjilati es krim kami masing-masing dalam keheningan menatap orang-orang berlalu lalang. Tidak ada percakapan diantara kami. Setelah es krim kami habis...


"Kenapa kau marah?" Tanya Kenji dengan datar. Itu membuatku sedikit tersentak.


"Iya, karena kau membohongi ku-.. " Kataku dengan tanpa menatap Kenji.


"Dimana letak kebohonganku?" Sergah Kenji tiba-tiba. Ketika aku ingin menyembur perkataannya tiba-tiba aku jadi sadar akan sesuatu dan seketika juga aku seperti di bungkam.


"Kita berduaan saja tanpa diganggu oleh siapapun, aku menggandeng tanganmu agar kau tidak hilang dan tersesat, Aku membelikan es krim kepadamu secara cuma-cuma. Jika kau tadi menikmatinya kau akan merasakan arti kencan tapi kau malah melewatkannya dengan merajuk sepanjang kita berkeliling di pasar tadi. Sekarang aku tanya sekali lagi. Dimana letak kebohonganku, Emiya?" Tanya Kenji. Orang ini selalu saja di atas angin jika beradu logika denganku. Aku tidak bisa membantahnya. Kemarahanku kepada Kenji menjadi tidak beralasan. Aku benar-benar terkena checkmate.


"Aku.....aku minta maaf." Kataku dengan suara bergetar.


"Aku tidak butuh maafmu, Emiya. Jawab pertanyaanku sebelumnya. Dimana letak kebohonganku?" Tanya Kenji kali ini dia lebih menekan. Tidak hanya di pertempuran, Kenji juga pandai membuat lawan bicaranya terkena serangan mental. Air mataku menetes sekalipun tidak membuatnya berhenti untuk mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


"Ti... dak...." Kataku dengan suaraku yang mulai pecah.


"Aku tidak bisa mendengarmu." Kata Kenji.

__ADS_1


"TIDAK ADA!" dengan cepat Kenji meraih pundakku dan merangkulku untuk memelukku. Saat itulah aku menangis tersedu-sedu. Terkadang kita manusia buta akan kebenaran dan lebih mengedepankan emosi dan perasaan kami. Di saat itu juga aku juga sadar kalau Kenji melakukan semua ini untuk mengajariku untuk menghilangkan sifat cacatku ini.


Sudah sekitar 30 menit aku menangis. Aku mulai melepaskan pelukanku dari Kenji. Mataku merah dan bengkak dengan wajah yang berantakan akibat air mataku sendiri.


"Cucilah wajahmu kemudian kita pulang." Kata Kenji. Aku pun mengangguk dan mencari wastafel umum untuk mencuci wajahku. Setelah selesai membersihkan dan merapikan wajahku kami pun pulang. Kenji tampak mengalami sedikit kesulitan ketika mencoba mengangkat belanjaan. Yah mengingat fakta kalau tangan kirinya ia potong.


"Biarku bantu. Kemarikan belanjaannya." Kataku mengambil beberapa kantong belanjaannya. Kenji juga tidak mengeluh ketika aku membawakan belanjaan kami.


Kami pun sampai ke rumah. Jihan tampak sedang bermain boomerang di ruang tamu.


"Jihan, jika kau ingin bermain dengan boomerang, bermainlah di halaman belakang. Kau akan mengenai barang-barang nanti." Kataku memperingatinya dengan halus sambil menata belanjaanku dengan Kenji.


"Aku tidak mau. Aku maunya di dalam." Kata Jihan tidak mau mendengarkan perkataanku. Jihan pun melempar lagi boomerang nya dan arah berputarnya mengarah ke jendela kaca.


Dengan sigap Kenji menangkap boomerang Jihan yang tinggal beberapa centi lagi mengenai kaca.


Ken, jika kau berencana melakukan hal yang sama kepada Jihan aku rasa itu bukan ide bagus. Dia masih anak-anak woi!!! Jerit dalam hatiku. Kenji berjalan mendekati Jihan, Jihan sempat mundur beberapa langkah untuk menjauhi Kenji. Ketika Kenji berjarak satu langkah dengan Jihan. Kenji mengusap kepala Jihan dengan lembut.


"Bukankah lebih baik kalau kau mendengarkan apa yang dikatakan Emiya. Jangan bermain boomerang di dalam rumah. Mainlah diluar." Kata Kenji. meskipun Kenji menatap Jihan dengan tatapan datar tapi nadanya jauh lebih lembut dibandingkan saat bicara denganku di pasar tadi. Kenji kemudian memberikan kembali boomerang Jihan.


"Mengerti? Ini peraturan baru di rumah. Tidak ada yang boleh melempar-lempar barang di rumah ini. Semua orang tanpa terkecuali. Jika ada yang melakukannya dia tidak akan dapat makan malam." Kata Kenji mengusap-usap kepala Jihan sekali lagi. Jihan mengangguk.


"Baik, ayah." Kata Jihan.


"Bagus. Selesai makan siang nanti aku akan main denganmu." Kata Kenji. Jihan mengangguk antusias kemudian berlari ke halaman belakang dan bermain di sana.


"Kau selalu lembut ya jika dengan Jihan?" komentarku atas Kenji yang memperlakukanku dengan berbeda dari Jihan.

__ADS_1


"Kau berumur 16 tahun sedangkan Jihan baru 10 tahun. Apakah aku harus memperjelas maksudku?" Ujar Kenji duduk di sofa.


"Hei! Itu jika dilihat secara fisik. Aku bahkan baru memiliki kenangan sekitar 3 bulan terakhir ini. Seharusnya kau lebih lembut kepadaku." Protes ku.


"Untuk orang yang keras kepala, emosi labil, dan tidak sabaran sepertimu cukup sulit untuk dididik secara halus. Jika kau ingin diperlakukan lebih lembut maka atur dulu emosimu itu." Kata Kenji. Kampret memang. Seperti biasa mulutnya tidak ada filter. Tapi karena sudah terbiasa jadi tidak masalah bagiku.


"Jika kau pria lain aku sudah menamparmu. Bersyukurlah." Sindirku.


"Terima kasih atas pujiannya. Soal bersyukur sudah kulakukan dari dulu." Kata Kenji dengan melambaikan tangannya kepadaku.


ITU SINDIRAN DASAR!! JANGAN DIAPRESIASI!!!


"Oh iya, aku penasaran dari mana kau dapat uang sebanyak itu untuk membeli tadi?" Tanyaku penasaran sambil memasak.


"Oh, ini. Ketika barang-barang kita yang disita dikembalikan. Aku menemukan kantong yang disisipkan di tasku dan ketika aku membukanya dan ternyata kantong itu berisi sejumlah uang. Theresa yang menyisipkan nya." Kata Kenji mulai memakan es krim kemasan cup yang seharusnya untuk Jihan. Dasar, pada akhirnya buat dia sendiri.


"Dari mana kau bisa tahu itu dari Theresa." Tanyaku.


"Dia juga menyisipkan catatan di dalamnya. di situ tertulis "Jika ingin lebih bekerjalah. Untuk hari ini kalian libur dahulu. Mulai besok kalian akan ditugaskan secara terpisah tapi tenang saja ada saatnya kalian akan bekerja dalam satu squad nanti. Untuk hari ini nikmati liburan kalian. Untuk rinciannya kalian bisa mendengarkan melalui alat-alat yang aku berikan kepada kalian." Begitu katanya. Benar-benar sindiran yang menyakitkan." Jelas Kenji.


"Mana alatnya?" Tanyaku.


"Nih." Kenji melemparkan semacam penyumbat telinga berwarna hitam kepadaku.


"Itu jauh lebih praktis daripada harus datang ke gedung katedral jauh-jauh." Kata Kenji.


Jadi hari sebenarnya di Underground dimulai besok.

__ADS_1


__ADS_2