
Akhirnya kami merawat spesies bernama Lolf. Iblis tipe hewan yang sangat langka. Memiliki stamina 10 kali lipat dari gajah, dapat mencium dan membedakan sekitar 50 bau yang berbeda, radiasi penciumannya hampir menyentuh 60 km, dan kami menemukan satu di hutan tropis dalam keadaan sekarat dan cacat dari lahir.
Di hari pertama kami fokus menyembuhkan luka-lukanya dan memberinya asupan makanan yang cukup. Di hari kedua akhirnya dia sudah bisa berdiri, ketika siang dia sudah bisa berlari dan melompat tanpa ada kendala apapun. Kami juga memandikannya di sungai terdekat. Aku bersyukur kalau Spesies ini tidak takut air. Sembari memandikannya, Kenji membuatkan sedel agar kita bisa menungganginya dengan nyaman.
Meskipun ketika aku melihat data Lolf kalau mereka adalah salah satu spesies buas tapi dia cukup jinak setelah kami merawatnya. Jihan lah yang paling dekat dengan hewan ini. Dari awal bertemu hingga sekarang, hewan ini yang paling menyukai Jihan. Padahal yang merawat luka dan memberinya makan adalah aku.
"Yah setidaknya dia terlihat lebih sehat dan segar sekarang. Jadi bagaimana cara menungganginya?" Tanyaku penasaran.
"Hampir sama dengan cara menunggangi kuda. Tidak perlu takut." Kenji mengulurkan tangannya untuk membantuku naik ke punggung Lolf. Jihan berada di tengah, Kenji di depan, dan aku paling belakang. Kenji pun memacu dengan pelan. Tapi diluar dugaan. Lolf malah melompat-lompat seperti kuda yang sedang mengamuk kemudian dia berlari kencang tanpa arah. Aku lupa kalau dia ini buta. Kenji yang hanya memiliki satu tangan pun kuwalahan menarik tali kengkangnya. Hewan ini tetap saja tidak mau menurut. Sifat nya menjadi berubah. Berbeda ketika dia sebelum ditunggangi.
Satu-satunya yang menikmati situasi seperti ini hanyalah Jihan. Dia malah tertawa kencang dan malah asyik sendiri ketika hewan tunggangan ini melompat-lompat dan menabrak pohon di setiap dia berlari tanpa arah.
"Bukankah ini mengasyikkan????!!!" Teriak Jihan kegirangan.
"Jelas tidak, Jihaaaaan!!!!" Balasku ketakutan. Kenji tidak mendengarkan kontes yang kami buat yaitu lomba berteriak masih berpikir dengan wajahnya yang datar bagaimana cara untuk menenangkannya.
Setelah mengalami pengalaman menunggangi kuda dengan sensasi banteng selama 2 jam aku hampir mengeluarkan seluruh isi sarapanku untuk hari ini. Dan Jihan sempat-sempatnya tertidur karena mungkin sudah kelelahan untuk menikmati situasi mengerikan seperti ini. Tanpa di sadari daging-daging iblis yang ada di tas Kenji keluar akibat guncangan selama 2 jam itu. Si Lolf pun berhenti dan kembali tenang. Dia kemudian berjalan dengan tenang ke arah daging yang terjatuh itu. Awalnya dia mengendus-endus dan memakannya dengan perlahan.
"Oh, jadi begitu ternyata." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Kenji. Apanya coba?!
Karena aku mual dan takut mengeluarkan seluruh isi perutku, maka aku lebih baik tidak membuka mulutku untuk berbicara.
__ADS_1
Setelah daging itu habis. Kenji langsung memacunya. Rasanya aku ingin mengumpat dan sumpah serapah kepada Kenji. Tapi karena terlalu mual maka aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Hewan ini pasti akan menggila lagi ketika di pacu. Tapi dugaanku salah besar.
Meskipun setelah dipacu dia berlari kencang, caranya berlari sangat stabil dan tenang walaupun sesekali berhenti mendadak. Sudah sekitar 20 menit dia berlari secara stabil, akhirnya dia berhenti di tempat yang tidak asing bagiku. Tempat didepan goa tambang dimana aku di jadikan tawanan. Kami berhenti di sekitar bangkai 2 monster raksasa yang sudah membusuk yang berada di depan mulut goa. Rasa mualku perlahan hilang walaupun masih merasakan sedikit pusing.
"Bukankah tempat ini tempat dimana kita untuk kedua kalinya bertemu. Kau sengaja membawa kita kesini? Atau karena makhluk ini?" Tanyaku penasaran.
"Bau." Kata Kenji. Jelas aku tidak paham maksudnya.
"Bau?" Tanyaku kembali.
"Karena dia ini buta, otomatis dia harus mengandalkan indera yang lain agar bisa bertahan hidup. Salah satunya adalah penciumannya. Ketika daging yang berada di tas tadi terjatuh, Lolf ini langsung merespon dengan telinganya dan mencari menggunakan hidungnya. Kemudian dia memakan daging yang jatuh itu hingga habis. Aku sempat berasumsi. Kemudian aku mencoba memacunya lagi untuk membuktikan teori asumsiku, dan ternyata benar." Entah karena aku masih sedikit pusing atau karena penjelasannya kurang jelas membuatku belum memahaminya.
"Intinya?" Tanyaku.
"Dan daging itu adalah daging dari salah satu dari bangkai monster besar ini." Timpalku. Kenji pun mengangguk.
"Tapi bagaimana cara kita mengarahkannya? Akan sangat menyulitkan kita apabila kita menggunakan aroma acak agar dia mau bergerak." Kataku. Kenji pun turun dan memasangkan sesuatu di mulut Lolf itu. Sebuah masker yang terbuat dari besi.
"Bukankah dengan begitu dia akan buta tanpa penciumannya?" Tanyaku dengan heran.
"Justru itu lebih baik daripada melihat banyak warna aroma sehingga membutakan penciumannya dan membuatnya bingung." Jawab Kenji. Kenji pun melompat dan kembali ke atas sedelnya. Kenji pun memacu tali kengkangnya. Lolf ini pun berlari stabil tanpa kendala. Bagaimana bisa?
__ADS_1
"Sebenarnya ini hanya masalah pembiasaan. Jika dia sudah terbiasa untuk menuruti tali kengkangnya maka dia bisa membawa kita kemana yang kita inginkan. Dengan menuntunnya menggunakan hentakan tali kengkang sebagai peringatan dan penunjuk arah maka dia tidak akan menjadi gila seperti tadi." Jelas Kenji. Aku mengerti maksud Kenji.
Prinsipnya seperti tongkat yang digunakan oleh tunanetra sebagai antisipasi sekaligus penunjuk arah mereka. Hari pun mulai gelap. Kami sudah berada di reruntuhan kota mati dimana aku dan Kenji pertama kali bertemu. Kami mencari tempat yang aman dan nyaman untuk bermalam dan terhindar dari para zombie. Setelah 2 bulan lebih, tempat ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Kenapa? Para zombie bahkan tidak terlihat dari sisi manapun.
"Sepertinya setelah aku dinyatakan mati oleh kerajaan dan menghilang, para pahlawan panggilan yang lain sukses melakukan ekspedisi di tempat ini." gumam Kenji. Aku hanya bisa menatap Kenji dari belakang.
Kami pun menemukan tempat yang cocok untuk bermalam. Di sebuah bangunan rumah sederhana yang separuh atapnya hancur dan berlubang. Aku hanya tidak enak saja menyinggung masa lalu Kenji karena tempat ini.
"Aku jadi teringat dengan pertemuan pertama kita." Kataku memecah lengang. Kenji menatapku dengan tatapan menyebalkan.
"Kau masih mengingat pertemuanmu denganku dalam keadaanmu yang seperti itu?" Tanya Kenji dengan menatapku seolah aku ini kotoran yang menjijikkan.
"Apa maksudmu coba?!" Tanyaku dengan kesal.
"Kau bahkan tidak sadar kalau pertemuan pertama kali kita, kau itu dalam keadaan telanjang." Jawab Kenji. Ketika aku mengingat kembali.....
Wajahku langsung memerah, rasa malu langsung meledak seperti mercon. Kulempar Kenji dengan balok kayu yang besarnya sebesar bata dengan sangat kencang. Dengan mudah Kenji menangkisnya. Bukannya marah, Kenji malah tersenyum lembut. Itu pertama kalinya aku melihat senyum tulus dan kebahagiaan dari Kenji.
"Jika saat itu aku adalah diriku yang dulu. Aku jelas langsung jatuh cinta padamu." Katanya dengan tersenyum dan menatapku.
"Berhenti menatapku dengan wajah seperti itu, kau membuatku menjadi tidak berkutik dengan tatapan itu." Kataku dengan nada pelan.
__ADS_1
Dan malam itu juga, untuk pertama kalinya kami berbincang tanpa canggung.