
Meskipun kami bertemu dalam keadaan yang tidak mengenakkan. Kenji tetap tenang menghadapi situasi. Tanpa panik dia langsung melemparkan sepotong lembaran bulu yang lebar untuk menutupi tubuh telanjangku.
"Kau bisa memakai ini dulu." Katanya mencari sesuatu di setiap lemari-lemari. Aku melihat sekitarku. Aku sepertinya menjadi bahan percobaan di laboratorium ini. Tapi entah kenapa aku tidak bisa mengingat apapun.
Kenji pun kembali memberikanku pakaian. Aku pun mengenakannya di kamar mandi. Aku pun bercermin di kaca seberang pintu kamar mandi.
Seorang gadis cantik bermata ungu dengan rambut panjang pirang hingga menutupi pantat dan sedikit bercabang mengenakan kaus putih polos dengan jaket hitam bertudung dengan lengan 3/4, menggunakan hot pants hitam dan stoking hitam beralaskan sepatu boot warna abu-abu.
Aku pun keluar dari pintu kamar mandi dan menemui Kenji. "Maaf, apakah aku terlalu lama?" Aku khawatir jika aku tipe wanita yang suka lama dalam hal berpakaian. Kenji tidak terlalu mempedulikannya.
Kenji mengeluarkan sesuatu dari tas susunnya yang terbuat dari rak lemari dan tulang. "Duduklah. Aku akan mengucir rambutmu." Kata Kenji duduk di belakang menggunakan kursi.
Aku merasa sepertinya akan sangat merepotkannya. " Tidak perlu. Seperti ini tidak apa-apa." Kata ku.
"Sudahlah. Akan merepotkan jika rambutmu terurai dan tidak terawat." Katanya.
Kenji mengikat rambutku dengan cara mengepangnya. Meskipun hanya dengan tangan satu, Kenji cukup mahir dalam mengepangnya. 8 menit untuk mengepang rambut ku pun selesai. Kenji membereskan sisa barangnya dan membaca beberapa kertas yang dia pungut dari balik loker dan lemari tadi.
"Siapa namamu?" Kenji tiba- tiba menanyaiku.
"Aku tidak ingat. Aku tidak mengingat apapun yang terjadi sebelum aku tertidur." Jawabku.
"Lalu, kau ingin dipanggil apa?" Tanya Kenji lagi. Dia benar-benar tidak kehabisan topik jika sudah berbicara.
Aku pun juga tidak tahu harus menjawab apa." Kenapa tidak kau saja yang menentukannya?" Itu satu-satunya jawaban yang netral. Menyerahkan semuanya kembali ke si penanya.
"Kau pikir aku ini ayah baptismu?" Tanya Kenji. Perkataan itu membuatku sedikit terkejut.
__ADS_1
"Akan tidak nyaman juga kalau kau memanggilku dengan kata "kamu" atau "wanita"." Jawabku. Setidaknya aku memberi jawaban yang masuk akal.
Kenji pun berhenti membaca apa yang ada di tangan kanannya sejenak kemudian melanjutkan bacaannya lagi.
"Emiya. Bagaimana kalau Emiya? Ayahku sempat menamaiku itu jika aku dilahirkan dengan gender perempuan." Tanyanya. Tapi dia tidak berpaling dari kertas yang dia pegang.
"Kalau begitu baiklah. Aku akan memakai nama itu." Kataku.
Kami pun keluar dari laboratorium itu dan menuju tangga. Ketika memasuki lorong aku sangat terkejut. Banyak mayat-mayat yang bergeletakan di sekitar jalan lorong. Bau busuk dari bangkai manusia sangatlah menyengat sehingga membuatku menutup mulut dan hidungku. Tapi Kenji berjalan melalui mayat-mayat itu dengan tenang. Dia bahkan tidak menutup hidungnya akibat bau busuk dari mayat-mayat tersebut. Kenji pun berpaling melihatku yang tidak kuat menahan rasa mualku dari bau bangkai.
Kenji pun memegang tanganku lalu menggandengku. Kami pun berlari kecil melewati lorong mayat itu. "Kau tidak apa-apa?" Kata Kenji dengan tenang. Kami pun sampai ke permukaan.
"Bagaimana bisa tidak apa-apa?! Kenapa banyak mayat-mayat di lorong sana?" Tanyaku lemas. di depan pintu keluar ada sekitar 2 bayangan orang yang sempoyongan. Aku pun mengamati mereka lamat-lamat. Ketika aku ingin mendekati mereka Kenji langsung mengarahkan pistolnya dan menembak ke 2 orang yang sempoyongan itu. Keduanya terbunuh dengan tembakan di kepala.
Aku sangat terkejut. Kenapa dia melakukan hal sekejam itu? Dengan penuh amarah kuremas kerah bulunya. "Kenapa kau melakukan itu?! mereka cuma orang mabuk!" Kataku.
Kenji masih menanggapi reaksiku dengan wajah tenangnya. Dia melepaskan cengkraman ku lalu menggandengku mendekati 2 orang yang telah ia tembak. Ketika aku melihat aku sungguh tidak percaya. Kulit mereka berwarna putih pucat dengan otot dan urat yang berwarna hitam. mata mereka terbelalak seperti ingin keluar dengan pupil mata mereka yang hitam dan kecil, Mulut dan kedua tangan mereka penuh dengan darah. Yang jelas itu bukan manusia.
"Zombie. Mayat hidup. Iblis tipe 2. Mereka dulunya manusia, semenjak terinfeksi darah dari bangsa Invest mereka menjadi makhluk pemakan daging manusia." Jelas Kenji. Entah kenapa aku menjadi takut dan lemas.
"Terinfeksi?" Aku masih bingung untuk menanggapinya.
Para Zombie pun datang dari kiri dan kanan kami. Mereka mulai berlari dan mengejar kami. Dengan cepat Kenji menggendongku dengan satu tangannya dan langsung berlari kencang memasuki gang bangunan yang sepi. Bagaimana bisa manusia berlari secepat ini?!
Kami pun memasuki sebuah gedung dan mencapai rooftop. Kenji pun menurunkanku dari gendongannya. Aku masih sangat terkejut akan refleknya ketika menggendongku tadi. Ketika aku melihat kaki Kenji aki lebih terkejut lagi. Bukannya dia tadi menggunakan sepatu boot hitam. Atau karena gelap sehingga aku tidak melihat kaki monsternya yang penuh dengan cakar. Aku mencoba menenangkan diriku terlebih dahulu agar tidak salah menilai situasi.
"Tak kusangka. Kau bisa mengeluarkannya. Efek terpojok dan melindungi wanita ini?" Suara aneh terdengar dan itu bukan suara Kenji.
__ADS_1
Ketika tidak sengaja melihat wajah Kenji aku sangat terkejut. Terdapat mulut bersisik dan bertaring di pipi kanannya.
"Oh tenang. Aku monster yang baik. Aku tidak akan menggigitmu." Kata si mulut itu. Kenji menampar pipi kanannya untuk membungkam si mulut.
Kenji pun mengulurkan tangannya kepadaku. Entah kenapa aku langsung reflek menjauhinya. Aku sangat ketakutan. Melihat tubuh Kenji yang ternyata seperti itu. Apakah dia bukan salah satu dari monster yang dia bicarakan tadi? Atau dia ingin diam-diam memakanku seperti para zombie ketika aku lengah?
Kenji juga sudah tahu kalau reaksiku akan seperti ini. "Kalau kau menganggapku monster maka tak apa." Katanya sambil berbalik. Entah kenapa aku menjadi merasa bersalah karena bersikap seperti itu? Dia juga yang menyelamatkanku dari para zombie. Aku memang bodoh. Tidak ada monster yang melakukan hal seperti itu kepada wanita asing yang pertama kali dia temui.
"Tunggu...." Aku mengejar Kenji dan tidak sengaja menarik jubah bulunya. Tangan kiri Kenji hilang hingga diatas sikunya. Aku merasa tambah bersalah. Tapi Kenji tidak mempedulikannya. Malam pun tiba. Aku tidak dapat tidur. Bukan karena ketakutan ku akan serangan zombie ketika malam hari tapi karena rasa sangat bersalahku terhadap Kenji. Ketika aku mengintipnya dari belakang, Kenji tampak sedang mempersiapkan alat-alat dan senjata-senjatanya. Dia rela berjaga malam agar aku tetap aman. Rasa bersalahku makin bertambah.
Pagi pun tiba. Kami segera turun dari gedung dan melanjutkan perjalanan. Kenji berjalan di depanku sekitar 3 langkah. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menyampaikan permintaan maaf ku kepadanya.
Kami berjalan sudah sekitar 30 menit. Di depan kami terdapat benteng raksasa yang panjangnya sejauh mata memandang. Benteng itu tampak kokoh dan tidak tertandingi. Kenji pun mendekati pintu gerbangnya. Dia menatapku.
"Di sini kita akan berpisah. Kau tidak akan ketakutan lagi. Di dalam benteng ini sangat aman dan terlindungi. Carilah kebahagiaanmu di dalam benteng ini. Sampai jumpa." Katanya. Kenji berpaling menjauhi benteng.
Tiba- tiba pintu gerbang sedikit terbuka. Ada satu prajurit tua yang menghampiri kami.
"Kalian pahlawan yang baru selesai dari misi? Kenapa tidak lewat gerbang utama?" Tanyanya.
"Aku cuma ingin mengantar wanita ini saja. Lagi pula aku bukan pahlawan lagi." Kata Kenji tanpa berpaling.
"Suara itu........ kau bocah yang menyelamatkan kakakmu dari misi pertama para pahlawan, kan?" Tanya sang prajurit.
"Nona Miyuki pasti akan senang melihatmu selamat. Silahkan segera...." Sebelum kalimat prajurit itu selesai Kenji memotongnya.
"Paman....Terima Kasih. Bisakah kau tidak memberitahu yang lain, terutama Miyuki?" Kenji pun melanjutkan perjalanannya. Menjauhi benteng.
__ADS_1
"Kau tidak masuk, Kenji?" Akhirnya aku bisa berbicara padanya.
"Tempatku bukanlah di tempat yang damai." Kenji tidak berhenti dan terus berjalan meninggalkanku di depan pintu gerbang bersama prajurit tua itu. Dan tiba-tiba air mataku menetes tanpa kusadari.